Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Apa yang kalian lakukan?


__ADS_3

Selama di dalam mobil, Queen tidak berhenti untuk bergelayut manja di lengan Aditya. Tentu saja karena ia merasa bahagia karena mendengar ayat-ayat cinta yang keluar dari pria tampan tersebut. Bukan tanpa alasan, meskipun suaminya itu terlalu lembek dan tidak bisa bersikap tegas, tetapi ia sangat menyukai kelembutan dan ketaatan dari suaminya. Yang berhasil membuatnya menjadi seorang istri lebih baik dan tentu saja belajar agama dari sang suami sholeh yang menjadi imamnya tersebut.


Sementara itu, Aditya yang saat ini masih bersikap sangat tenang, hanya diam dan tengah memikirkan sesuatu hal. Yaitu, perihal sikap Queen nanti jika ia berhadapan dengan Sabrina ketika berada di perusahaan.


"Kira-kira nanti istriku bisa mengontrol amarahnya atau tidak saat bertemu dengan Sabrina?" gumam Aditya dengan perasaan yang tidak menentu.


Queen yang bersandar di dada bidang Aditya, terlihat mendongak untuk menatap ke arah sang suami. "My hubbiy, kamu marah?"


Aditya hanya menggelengkan kepalanya untuk menanggapi pertanyaan dari Queen. Sejujurnya ia ingin memberikan sebuah nasihat untuk sang istri, tetapi ia tidak ingin membuat wanita yang sibuk mengendus aromanya itu kembali murka.


Dengan alasan ingin rumah tangganya tenteram tanpa pertengkaran. Meskipun ada yang mengatakan bahwa sebuah pertengkaran adalah bumbu dalam berumah tangga. Akan tetapi, ia tidak menyukai bahasa klise tersebut. Karena lebih suka dengan rumah tangga yang damai tanpa ada sejuah pertengkaran. Menurutnya, pertengkaran kecil pun bisa berubah besar jika kedua belah pihak tidak mau mengalah dan merasa benar. Dan bisa berubah fatal dan berujung pada perceraian.


Hal itulah yang membuatnya menjadi sangat berhati-hati untuk menjaga keutuhan rumah tangganya dan mempunyai harapan hanya maut yang bisa memisahkan dirinya dengan sang istri. Karena ingin menikah satu kali seumur hidup.


Merasa sangat tidak puas dengan jawaban gelengan kepala dari sang suami, tentu saja membuat Queen langsung bergerak menjauh, agar bisa melihat wajah tampan tersebut. "Aku tidak suka jawaban hanya gelengan kepala, My hubbiy."


Aditya hanya terkekeh menanggapi ketidakpuasan dari Queen. "Aku tidak marah, Sayang. Bagaimana? Apakah kamu sudah puas?"


Sekarang gantian Queen yang menggelengkan kepalanya, "Belum."


"Lalu? Aku harus berkata apa, Sayang?" tanya Aditya yang masih terus menatap intens ke arah Queen.

__ADS_1


"Ya, setidaknya bicara apa lah. Masa cuma gelengan kepala saja," tandas Queen dengan bibir mengerucut 2 centi.


Dan berhasil membuat Aditya kembali terkekeh, "Bener nih? Sejujurnya, aku ingin bicara padamu, Sayang. Akan tetapi ...." Aditya sengaja tidak melanjutkan perkataannya untuk membuat sang istri merasa penasaran dan merengek untuk diberitahu. Karena ia sudah sangat hafal dengan sikap sang istri yang selalu kepo dan rasa keingintahuannya yang tinggi.


Dan benar saja, Queen tanpa membuang waktu langsung mengarahkan tangannya untuk mencubit paha pria disampingnya, karena merasa sangat geram jika ada seseorang yang menggantung pembicaraan.


"Nih, rasakan! Aku paling tidak suka ya, pada orang yang membuat penasaran. Cepat lanjutkan! Atau aku akan mencubitmu lagi," ujar Queen dengan wajah masam.


"Beneran, kamu penasaran? Aku tadi hanya tidak ingin membuatmu marah lagi, karena ini tentang Sabrina." Aditya menatap ekspresi wajah dari wanita yang kini terdiam dan seolah ingin mencerna arti dari ucapannya. Sehingga ia hanya menunggu sampai sang istri berbicara, untuk menanggapi kalimatnya barusan.


"Sabrina, kenapa lagi dia? Apakah ada yang belum My hubbiy ceritakan padaku?" tanya Queen dengan tatapan menyelidik.


Mobil mewah marcedez Benz e-class yang membawa Queen dan Aditya telah berbelok ke perusahaan. Sang supir pun mematikan mesin mobil setelah selesai memarkirkan kendaraan di tempatnya.


Queen hanya mengarahkan tangannya lurus ke arah depan, seolah ingin memberitahukan bahwa ia sudah tahu dan akan turun sebentar lagi. Kemudian, ia menagih jawaban dari sang suami dengan mengarahkan dagunya ke depan. "Kenapa dengan Sabrina? Apakah ada sesuatu yang My hubbiy tutupi dariku?"


"Bukan seperti itu, Sayang."


"So?" Queen menatap menelisik ke arah Aditya.


"Akan tetapi, aku ingin kamu bersikap biasa padanya. Karena apa? Karena aku tidak ingin kamu mempermalukan dirimu sendiri jika sampai selalu marah-marah pada Sabrina. Kalau menurut kacamata para staf perusahaan, yang berhak marah adalah Sabrina. Kamu paham maksudku atau tidak?" sahut Aditya yang tidak ingin membuat kesalahpahaman dari perkataannya.

__ADS_1


"Karena aku yang merebutmu dari Sabrina dan malah memutarbalikkan fakta dengan menyebutnya keong racun kan?" sahut Queen yang mulai mengerti arti pembicaraan dari pria tampan yang masih belum beranjak dari tempat duduknya. Dan perkataannya tersebut berhasil membuatnya menyadari kesalahannya, bahwa di sini yang patut disalahkan adalah dirinya sendiri. Dengan menjadi orang ketiga di antara hubungan masa lalu suaminya.


Aditya yang kini menirukan gerakan dari Queen dengan cara mengangkat ibu jarinya ke arah sang istri. "Alhamdulillah, akhirnya tuan putriku memahami maksudku dan tidak salah paham lagi. Kalau begitu kita turun sekarang, karena istriku sudah mengerti dan tidak mungkin akan berbuat hal yang akan mempermalukannya sendiri."


Tanpa menunggu jawaban dari Queen, Aditya membuka pintu mobil dan beranjak turun, serta menunggu wanitanya keluar. Bahkan ia sudah mengulurkan tangannya untuk menyambut sang istri, agar seperti film-film romantis yang pernah ia tonton dulu bersama teman-temannya saat SMA di bioskop.


Karena ia bersahabat dengan para laki-laki yang tidak mempunyai pacar dan memilih menghabiskan waktu luang belajar. Akan tetapi, saat merasa bosan, salah satu temannya mengajak pergi ke bioskop.


Saat itu, ia bersama 2 sahabatnya duduk di kursi bagian tengah dan suasana penuh sorak-sorai saat ada adegan romantis. pasangan kekasih yang terlihat bermesraan tanpa fokus menatap ke arah layar lebar berukuran raksasa tersebut, karena sibuk membuat film sendiri. Semua itu bisa dilihatnya dengan jelas, karena ia duduk di sebelah paling tepi.


Queen terlihat berbinar begitu menyambut uluran tangan dari pria tampan yang menurutnya adalah laki-laki paling romantis sepanjang sejarah. "Terima kasih, My hubbiy."


Hanya sebuah anggukan kepala yang mewakili jawaban dari pertanyaan sang istri, hingga ia pun mulai berjalan masuk menuju lobby perusahaan yang merupakan tempat mencari nafkah selama 5 tahun belakangan dan mempunyai banyak kenangan bersejarah di sana. Selain bisa mendapatkan rezeki, ia mempunyai rekan-rekan kerja yang baik dan terakhir adalah mengenal wanita cantik yang ingin dinikahi.


Keduanya mulai berjalan memasuki lobby dengan posisi tangan yang saling bertautan, seolah tidak akan pernah terpisahkan dan mengungkapkan kebahagiaan yang dirasakan oleh mereka setelah menikah.


Dan benar saja, begitu orang-orang melihat pasangan suami istri yang berjalan memasuki perusahaan, tentu saja membuat semua orang merasa iri pada keberuntungan seorang mantan pegawai biasa dari perusahaan bisa menikah dengan seorang nona muda dari keluarga berada yang sangat terkenal.


Semua staf perusahaan membungkuk hormat saat melihat pasangan yang terlihat sangat mesra tersebut. Sedangkan Aditya merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap para staf perusahaan yang dikenalnya terlihat berlebihan padanya. Sejujurnya, ia lebih nyaman jika orang-orang tidak merasa sungkan padanya. Agar bisa berbicara secara luas tanpa memikirkan rasa sungkan padanya.


Aditya dan Queen sudah sampai di depan lift dan menunggu hingga pintu kotak besi itu terbuka. Beberapa saat kemudian, pintu tersebut terbuka. Aditya membulatkan kedua matanya begitu melihat pemandangan di depannya. Begitu juga dengan Queen yang membekap mulutnya.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian berdua lakukan?" hardik Queen pada 2 orang yang di dalam lift.


TBC ...


__ADS_2