Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Sebuah ide yang sangat konyol


__ADS_3

Suasana pagi hari di kediaman Dave, terlihat sangat ramai karena pagi-pagi sekali orang tua dari Sabrina datang bersama asisten rumah tangga yang akan bekerja di rumah mewah berlantai 2 itu. Sementara itu, Sabrina yang tidak tahu-menahu tentang perihal tersebut, hanya diam dan mendengarkan sang mama yang sudah mengoceh tidak karuan ketika melihat kulkas yang kosong. Hanya ada telur dan salad, serta sisa buah-buahan yang semalam dibeli oleh Dave.


"Untung tadi Mama mampir ke pasar dulu bersama bibik untuk membawakan semua kebutuhan dapur untukmu, Sabrina. Jika tidak, hari ini kamu pasti akan pesan makanan lagi karena malas memasak efek kehamilanmu," ucap mama Sabrina yang saat ini tengah menggendong cucu kesayangannya dan menyuruh asisten rumah tangga untuk memasukkan semua barang belanjaan ke kulkas dan memasak untuk sarapan.


Sabrina yang pagi-pagi sekali sudah bangun karena muntah-muntah lagi, tadi langsung mengecek dengan testpack yang semalam dibeli oleh Dave. Sebenarnya tanpa ia mengeceknya, sudah bisa memastikan bahwa tanda-tanda yang dirasakannya adalah ciri-ciri wanita hamil. Namun, ia tetap mengeceknya dan tentu saja hasilnya positif.


Ia melampiaskan amarahnya dengan memukuli lengan Dave yang tengah tertidur dan membuat sang suami terbangun. Tidak hanya itu, karena Sabrina menyuruh pria yang masih mengucek kedua matanya setelah tersadar dari alam bawah sadarnya untuk membelikan nasi uduk dengan lauk rendang. Karena merasa sangat lemas setelah muntah-muntah dan ia sangat lapar.


Sabrina yang saat ini tengah duduk bersantai sambil berselonjor kaki di atas sofa, menikmati salad buah buatan Dave sambil menunggu pria itu kembali membeli makanan pesanannya. Selama 1 minggu belakangan ini, ia benar-benar malas memasak dan setiap hari selalu menyuruh Dave untuk membeli makanan. Sehingga saat sang mama yang memang 2 minggu belakangan tidak datang, melihat isi kulkas yang kosong, mengomel kesana-kemari.


"Mama pagi-pagi mengomel melulu, awas cepat tua, lho. Bukankah selama ini aku sudah menjadi istri dan ibu yang baik. Jadi, Mama jangan mengomel terus. Namanya juga bumil, apalagi ini di trimester pertama. Rasanya aku benar-benar sangat tersiksa, Ma. Makanya aku ingin tidur seharian. Mama tiap hari ke sini untuk membantuku menjaga Arya, karena aku tidak bisa menjaga putraku seperti biasanya."


Mama Sabrina mendaratkan tubuhnya di atas sofa dan memangku cucunya karena ia baru saja membuatkan susu. "Ini susunya, Cucuku."


Bocah berusia 2 tahun itu, langsung meraih botol susu dan menikmatinya sambil duduk bersandar di pangkuan neneknya.


"Tentu saja Mama tiap hari akan datang karena kasihan melihat suamimu yang kamu siksa atas nama mengidam. Jangan seenaknya pada suamimu, Sabrina. Nanti kamu kena karma, baru tahu rasa. Jangan sampai karena kesal, Dave berselingkuh di belakangmu dengan wanita yang lebih bisa menghormatinya. Apa kamu mau itu terjadi?"


Mama Sabrina berusaha untuk menyadarkan sikap seenaknya putrinya yang selalu bersikap berani pada Dave. Karena hanya dengan menakut-nakuti putrinya, ia berharap bisa merubah sifat buruk Sabrina yang memang dari kecil adalah gadis manja karena anak tunggal.


Refleks Sabrina langsung tersedak buah-buahan yang dikunyahnya, begitu mendengar kalimat bernada menakutkan yang barusan dikatakan oleh mamanya. Bahkan setelah ia meresapi kalimat bernada ancaman itu, membuat ia menjadi cemas dan sedikit ketakutan. Apalagi ia tahu bahwa teman SMA dari suaminya sampai sekarang belum menikah juga setelah 2 tahun berlalu.


Meskipun wanita bernama Desy itu tidak pernah satu kali pun datang ke rumahnya, tetapi ia merasa takut jika sang suami bertemu di luar tanpa sepengetahuannya.


"Mama apa-apaan sih! Malah nakut-nakutin putrinya sendiri. Kejam sekali, mana aku lagi hamil anak dia. Jika sampai dia macam-macam dengan berselingkuh, aku benar-benar akan memotong burungnya!" Sabrina menutup mulutnya saat melihat sosok pria yang baru saja dibicarakannya itu baru saja terlihat memasuki ruang tamu. "Kamu sudah pulang, Sayang?"


Dave yang membawa makanan pesanan sang istri, tentu saja bisa mendengar perkataan bernada vulgar dari Sabrina. Sehingga ia hanya geleng-geleng kepala dan beralih menyapa mertuanya. "Sudah lama, Pa, Ma?" Mencium punggung tangan mertuanya yang duduk berdampingan sambil bermain dengan putranya.


"Mungkin sekitar setengah jam, Dave. Putriku pasti sangat merepotkan, ya?" tanya papa Sabrina yang menepuk pundak Dave saat mencium punggung tangannya.


Dave melirik ke arah Sabrina yang sudah membuka makanan pesanannya. "Mana ada istri yang merepotkan, Pa. Namanya juga wanita hamil. Ini tidak seberapa jika dibandingkan perjuangannya saat mengandung selama 9 bulan. Oh ya, maaf, Pa, Ma. Aku tadi cuma membeli sarapan untuk 2 orang. Aku akan keluar dulu untuk membeli lagi."

__ADS_1


"Tidak perlu, karena Mama sudah menyuruh bibik untuk memasak. Jadi, Papa dan Mama bisa sarapan masakan bibik, Sayang. Duduklah di sini. Aku ingin menanyakan sesuatu." Sabrina menepuk sofa di sebelahnya dan mengarahkan dagunya untuk memberikan sebuah kode pada sang suami agar duduk di sebelahnya.


"Oh ... terima kasih, Pa Ma. Syukurlah ada asisten rumah tangga yang nanti akan meringankan pekerjaan istriku. Dia harus banyak beristirahat dan tidak boleh terlalu capek." Mendaratkan tubuhnya di samping Sabrina, "Memangnya kamu mau menanyakan tentang apa, Sayang? Apa ini ada hubungannya dengan burung yang dipotong?" Tersenyum menyeringai pada sang istri yang langsung mencubit lengan kekarnya.


"Iya, kalau kamu berani macam-macam di belakangku. Karena tadi mama bilang kalau kamu mungkin saja akan berselingkuh karena aku yang bersikap seenaknya saat hamil. Menurutmu, bagaimana, Sayang?" Sabrina menatap tajam wajah dengan rahang tegas yang menaikkan kedua alis hitam tebalnya.


Mama Sabrina langsung geleng-geleng kepala dan buru-buru untuk menghentikan kesalahpahaman yang mungkin saat ini tengah dirasakan oleh menantunya.


"Jangan salah paham, Dave. Istrimu ini benar-benar mau dijitak kepalanya. Tadi, Mama bilang padanya agar merubah sifat buruknya yang selalu sewenang-wenang padamu. Daripada nanti kena karma dan Mama memberikan sebuah contoh, mungkin kamu akan mencari sebuah kenyamanan dari wanita lain."


Dave yang mulai mengerti arah pembicaraan tersebut dan menyangkut-pautkan burungnya, melirik sekilas ke arah wanita yang terlihat tengah menunggu jawabannya. "Oh ... jadi karena itulah, kamu jadi takut, Sayang. Tenang saja, aku adalah tipe suami yang setia dan cinta keluarga. Lagipula, aku sangat mencintaimu dan menyayangi anak kita. Jika aku berselingkuh dan berani berbuat macam-macam, kamu bebas melakukan apapun padaku. Bagaimana? Apa sekarang kamu sudah tenang?"


Sabrina yang sudah menikmati sarapannya karena merasa sangat lapar, menganggukkan kepala dan menatap ke arah orang tuanya. "Papa dan Mama sarapan saja. Aku mau di sini karena malas untuk berjalan ke ruang makan. Rasanya sangat tidak adil aku makan, sedangkan kalian hanya melihatnya. Biar Arya sama papanya."


Papa dan mama Sabrina bangkit dari sofa, karena memang sudah lapar dan belum sarapan. "Kalian berdua sarapan saja di sini. Biar Mama yang menyuapi Arya di ruang makan."


"Iya, biar Papa yang menyuapi Mama nanti," ucap papa Sabrina yang sudah mengedipkan sebelah matanya pada sang istri.


"Iish ... apa-apaan, Papa ini. Malu sama menantu, sudah tua malah masih lebay." Mama Sabrina yang merasa malu pada menantunya, sudah berjalan meninggalkan ruang tamu sambil menggendong cucunya. Dan diikuti oleh sang suami yang berjalan mengekor di belakangnya.


"Papa dan mama sangat romantis, Sayang. Padahal mereka sudah lama menikah, patut dicontoh itu. Kamu pun jangan galak-galak, biar kita bisa seperti mereka hingga tua nanti." Dave merapikan anak rambut Sabrina dengan menyelipkannya di balik daun telinga. "Lihatlah rambutmu terlihat sangat berantakan. Biar aku ikat rambutmu, sini! Pakai tali bekas makanan itu saja, daripada aku harus naik ke atas untuk mengambil ikat rambutmu."


Sabrina yang memang tadi pagi membiarkan rambutnya tergerai karena masih basah, kini membiarkan jemari tangan dengan buku-buku kokoh itu sudah sibuk dengan rambutnya. "Aku sampai tidak menyadari rambutku sudah kering. Gara-gara muntah yang terkena rambutku tadi, membuatku harus keramas pagi-pagi. Padahal aku rasanya hanya ingin tiduran saja tanpa mandi."


Dave yang sudah berhasil mengikat ke atas rambut panjang Sabrina meskipun tidak rapi, tetapi setidaknya tidak akan menggangu saat menikmati makanannya. "Maaf, Sayang. Kamu jadi begini karena ulahku."


Mendadak Sabrina merasa sangat tidak enak begitu mendengar permintaan maaf yang sebenarnya tidak perlu dikatakan. Rasa bersalah yang mulai menyeruak di dalam hatinya, membuat Sabrina refleks langsung memeluk erat tubuh kekar pria yang selama ini memperlakukannya dengan sangat baik.


"Sayang, maafkan aku jika selama ini keterlaluan padamu. Apalagi semalam menyuruhmu untuk membeli salad, sedangkan aku malah tertidur setelah kekenyangan makan bakmie. Aku lupa belum mengucapkan terima kasih padamu. Untung ini hari Minggu, jadi habis ini kamu bisa istirahat sepuasnya. Karena semalam cuma tidur beberapa jam saja. Kamu pasti sangat mengantuk, kan?" tanya Sabrina yang saat ini menatap intens wajah Dave dengan seulas senyum.


Dave saat ini merasa sangat senang ketika Sabrina sudah menyadari kesalahannya, "Tidak perlu meminta maaf, Sayang. Karena aku tidak membutuhkan itu. Jadi, sekarang burungnya aman dan tidak terancam karena tidak akan dipotong."

__ADS_1


Sabrina hanya tertawa dan mencubit roti sobek yang ada di perut berotot Dave. "Kalau itu sih, tetap berlaku jika kamu macam-macam di belakangku, Sayang. Karena itu benar-benar akan terjadi jika sampai kamu berselingkuh. Ingat itu baik-baik, oke!"


Dave hanya terkekeh geli melihat ekspresi wajah yang terlihat sangat lucu itu. "Iya, Sayang. Aku akan selalu mengingatnya. Aku lapar, ayo kita makan nasi uduk ini. Biar anak kita tidak ngences setelah dilahirkan."


"Suapi, aku mau disuapi." Sabrina menyerahkan nasi bungkus yang ada di meja pada Dave.


"Apa ini mengidam lagi, Sayang?" tanya Dave yang sudah menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke mulut sang istri.


Sabrina yang langsung membuka mulut dan mengunyah makanannya, refleks menggelengkan kepala. "Bukan mengidam, ini murni keinginanku karena aku sangat malas untuk makan sendiri. Sekali-kali nggak apa-apa, kan, minta disuapi sama suami."


Dave menggelengkan kepala untuk menegaskan bahwa keinginan dari Sabrina yang berubah sangat manja setelah hamil anak kedua, bukan masalah untuknya.


"Ya tidak apa-apa, Sayang. Kehamilan kali ini, sepertinya jauh berbeda dengan saat kamu hamil Arya, Sayang. Dulu, kamu selalu bilang bisa sendiri dan tidak mau dibantu. Bahkan kamu dulu sangat rajin memasak dan sama sekali tidak mengeluh apapun. Apakah kali ini anak kita perempuan? Karena ciri-cirinya kan beda dengan saat kamu hamil anak laki-laki."


Sabrina hanya mengendikkan bahu karena memang dirinya tidak tahu bagaimana ciri-ciri jika hamil anak perempuan. "Aku tidak tahu, Sayang. Akan tetapi, jika anak ini benar-benar perempuan, aku sangat senang sekali. Karena aku ingin memiliki anak perempuan yang cantik seperti Princess. Bukankah Princess benar-benar sangat cantik dan menggemaskan? Aku bahkan sering melihat foto-fotonya di sosial media milik nona muda Queen."


Dave masih sibuk dengan tugasnya menyuapi Sabrina. Namun, ia sama sekali tidak pernah menyangka jika sang istri selama ini mengikuti perkembangan dari putri nona mudanya.


"Benarkah, Sayang? Jadi, kamu menyukai nona kecil Princess? Anak itu masih berusia 2 tahun, tetapi daya tariknya sangat luar biasa. Karena sudah menjadi salah satu berita yang selalu dicari oleh para awak media."


"Iya, kamu benar, Sayang. Princess benar-benar sangat menggemaskan. Tiba-tiba aku ingin menemuinya," lirih Sabrina yang merasa ragu saat mengatakan keinginannya. Karena ia sangat malu pada Queen dan Aditya jika pergi menemui mereka ke Mansion.


Dave mengamati ekspresi wajah dari Sabrina yang terlihat sangat kebingungan. "Kalau begitu setelah sarapan, kita datang saja ke sana bersama papa dan mama, Sayang. Kita beralasan saja kalau orang tuamu ingin datang berkunjung karena sudah lama tidak ke Mansion. Bagaimana?"


Ide yang sangat menarik dari Dave, tentu saja membuat Sabrina merasa sangat tertarik. Sehingga ia langsung menganggukkan kepala.


"Kalau begitu, nanti aku bilang sama papa dan mama dulu biar mereka bilang seperti itu pada tuan Abymana dan nyonya Qisya. Aku ingin mencubit pipi cabi Princess nanti. Oh ya, biar nanti dia bermain bersama Arya. Bukankah mereka belum pernah bertemu?"


"Iya, semoga keduanya cocok dan tidak bertengkar. Yang paling penting adalah Arya jangan sampai nakal pada nona kecil. Jika sampai putra kita nakal, bisa-bisa, nona muda Queen akan murka nanti. Jadi, kita harus sangat berhati-hati, Sayang." Dave yang merasa sangat khawatir, mengingatkan Sabrina untuk kesekian kalinya demi sebuah kebaikan.


Karena ia tidak ingin sampai 2 mama-mama yang sama-sama memiliki sifat arogan itu saling berebut benar karena membela anaknya masing-masing.

__ADS_1


"Semoga saja nanti tidak terjadi perang dunia di Mansion antara Queen dan Sabrina. Lagipula saat ini istriku sedang sensitif karena efek kehamilannya. Aku pun sangat bodoh, kenapa juga aku malah memberikan sebuah ide yang sangat konyol. Bisa-bisa, aku yang pusing sendiri," gumam Dave di dalam hati.


TBC ...


__ADS_2