
Sabrina yang daritadi selalu mengikuti pria yang baru saja memutuskan hubungan dengannya, kini terlihat tengah menunggu di depan butik yang di ketahuinya bahwa pria yang masih sangat di cintainya itu sedang fitting gaun pengantin. Ia hanya bisa melihat dari kejauhan serta menunggu dan menunggu kesempatan untuk bisa berbicara dengan pria yang sangat di cintainya.
"Kenapa mereka tidak selesai juga mencoba gaun pengantinnya? Aku harus segera berbicara dengan Mas Aditya, aku tidak percaya jika Mas Aditya mencintai Nona muda itu. Pasti ada sebuah kesalahpahaman disini, dan aku tidak akan mudah mempercayai perkataan dari Nona muda yang ternyata sangat arogan itu. Menyesal aku pernah mengidolakannya, ternyata dia adalah seorang wanita yang suka merebut kekasih orang lain."
Sabrina tidak berhenti merungut dan mengumpat, dengan tatapan mata yang selalu mengarah ke pintu keluar butik. Hingga dirinya melihat dua orang yang sangat di tunggu-tunggunya terlihat berjalan keluar dari butik tersebut dengan posisi tangan Aditya yang di tarik oleh wanita yang sangat di bencinya.
"Kenapa Nona muda Queen terlihat sangat marah dan menarik tangan Mas Aditya?" Sabrina seketika membekap mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat wanita yang sangat di bencinya itu menampar wajah pria yang sangat di cintainya, bahkan suara tamparan yang sangat keras bisa di tangkap oleh indera pendengarannya.
Tanpa di sadarinya, bulir bening berhasil lolos dari bola matanya saat melihat pria yang di cintainya diam membisu tanpa berekspresi saat mendapatkan sebuah tamparan keras dari wanita yang di ketahuinya akan menjadi istri dari pria yang masih sangat berarti di hatinya. Dirinya memasang indera pendengarannya untuk bisa mendengarkan suara dari wanita yang saat ini tengah berteriak dengan kemurkaannya.
Berkali-kali Sabrina mengusap dadanya, karena merasa sangat tidak tega melihat pria yang sangat di cintainya itu di hina sedemikian rupa oleh wanita yang memang berasal dari keluarga berada tersebut.
Astaghfirullah ... Mas Aditya, ternyata seperti ini yang kamu alami setelah berpura-pura bilang tidak mencintaiku? Ternyata kamu menyerahkan harga dirimu pada seorang Nona muda arogan itu? Dan aku yakin, semua ini karena kamu ingin menjadi anak yang berbakti untuk Ayahmu yang sedang di rawat di rumah sakit. Tentunya membutuhkan banyak uang untuk biaya pengobatan di rumah sakit, dan kamu menerima tawaran dari Nona muda Queen ini.
Ya Allah ... sungguh berat ujian yang Engkau berikan pada pria yang hamba cintai ini. Begitu berat ujian cinta kami, apakah Engkau kelak akan mempersatukan kami ya Allah, hamba sangat berharap Mas Aditya yang merupakan sosok pria yang Sholeh ini adalah jodoh hamba Ya Allah. Kabulkanlah doa hambamu ini, batin Sabrina.
Sabrina yang sudah melihat mobil mewah yang membawa sang Nona muda itu melaju meninggalkan butik, segera berjalan ke arah pria yang sudah berjalan beberapa langkah meninggalkan butik.
"Mas Aditya ...."
__ADS_1
Aditya yang sangat hafal dengan suara dari wanita yang berarti di hatinya itu langsung menghentikan langkah kakinya dan menolehkan kepalanya ke arah belakang. Di lihatnya wanita yang pernah mengisi hari-harinya itu sudah terisak di hadapannya.
"Dik Sabrina? Bagaimana bisa kamu ada di sini? A-apa kamu tadi mendengarkan ...."
"Aku mengikutimu Mas, karena aku sangat mengenalmu. Mas Aditya bukanlah tipe pria yang bisa mengkhianati kepercayaan orang lain, tapi Mas Aditya merupakan pria yang selalu menjaga amanah. Karena itulah aku ada disini Mas, dan aku sudah mendengar semuanya."
"Kenapa cinta kita bisa di uji sehebat ini Mas? Aku benar-benar tidak kuat hiks ... hiks ... hiks ...."
Tangis Sabrina seketika pecah saat berada di hadapan pria yang sudah lama mengisi hatinya, rasa sesak di rasakan jantungnya saat melihat wanita di depannya itu menangis tersedu-sedu di depannya. Sejujurnya jauh di dalam hatinya yang paling dalam, dirinya ingin menenangkan wanita yang sudah berurai air mata itu. Namun tentunya dirinya sadar bahwa posisinya saat ini tidak memungkinkan untuk melakukannya.
Maafkan aku Dik Sabrina, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk hubungan kita.
Sabrina buru-buru menggelengkan kepalanya, sejujurnya dirinya saat ini ingin menghambur memeluk tubuh kekar pria yang sangat di cintainya itu. Namun dirinya sadar bahwa pria yang sangat di cintainya itu adalah pria yang sangat luar biasa yang bahkan tidak pernah menyentuhnya. Dan sangat menghormati dan benar-benar menjaganya.
"Tidak Mas, aku tahu kamu menikah dengan Nona muda Queen karena terpaksa. Dan ternyata dia memperlakukanmu seperti jongosnya. Aku tidak tega melihatnya Mas. Mas Aditya terlalu baik, dan Mas tidak pantas mendapatkan penghinaan seperti tadi."
"Lebih baik kita pikirkan cara untuk menyelesaikan masalah yang Mas Aditya alami, berapa uang yang sudah di keluarkan oleh Nona muda Queen untuk Mas? Aku akan meminta bantuan dari Papa dan Mama untuk membantu mengembalikan uang dari Nona muda itu!"
Aditya mengarahkan tangannya ke depan, menegaskan bahwa dirinya sangat tidak menyetujui perkataan dari wanita yang sudah berubah sembab wajahnya, "Jangan lakukan itu Dik Sabrina, karena itu benar-benar akan membuatku tidak ada harganya di mata orang tuamu. Jadi biarkan saja, dan jangan berbuat apa-apa!"
__ADS_1
"Ini sudah merupakan takdir kita, jadi jalani saja semuanya ini dengan hati yang ikhlas. Lupakan aku, karena kita berada di jalan yang berbeda. Tuhan sudah mengatur semuanya ini, kita sebagai manusia hanya bisa berencana, dan Tuhanlah yang akan menentukan semuanya. Kita ikuti saja takdir membawa kita kemana."
"Jika memang Dik Sabrina adalah jodohku, suatu saat kita pasti akan bersatu. Namun jika Dik Sabrina bukan jodohku, meskipun aku berusaha keras untuk mengejar Dik Sabrina, kita tetap tidak akan pernah bisa bersatu."
Mendengar jawaban dari perkataannya, membuat Sabrina mengusap air mata yang sudah menganak sungai di wajahnya, "Aku akan selalu menunggumu Mas Aditya. Aku yakin bahwa Nona muda Queen hanya memanfaatkanmu untuk kepentingannya saja, jadi aku yakin bahwa dia akan menceraikanmu setelah dia berhasil dengan rencananya."
"Meskipun aku saat ini tidak tahu rencana apa yang ada di pikirannya, namun saat dia nanti menceraikanmu, datanglah kepadaku Mas! Aku akan menunggumu, karena aku hanya ingin menikah denganmu. Hanya kamu laki-laki yang aku inginkan, tidak ada yang lain!"
"Bagiku, kamu adalah laki-laki sempurna yang ada di dunia ini. Jadi jangan lupakan kata-kataku tadi Mas! Bahwa aku akan selalu menunggumu, meskipun statusmu nantinya adalah Duda. Aku tidak akan mempermasalahkannya."
Aditya menatap wajah cantik Sabrina dengan tatapan iba, tentu saja perkataan dari wanita di depannya itu membuatnya merasa sangat bersalah. Karena membuat seorang wanita menunggu dan berkata tidak mau menikah dengan pria yang lainnya.
"Jangan bicara seperti itu Dik Sabrina! Kamu harus hidup berbahagia dengan pria yang mencintaimu. Meski aku tahu, pria itu bukanlah aku."
"Apa yang di katakan oleh Aditya memang sangat benar, jadi lupakan dia!!"
Aditya dan Sabrina seketika sama-sama saling bersitatap dan menoleh ke arah sumber suara.
Bersambung ...
__ADS_1