Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kalian semua sudah tahu?


__ADS_3

Bulir bening dari bola mata Queen jatuh membasahi wajah pucat pria yang masih tidak sadarkan diri itu. Dengan harapan bahwa suaminya akan segera melewati masa kritisnya dan segera tersadar. Queen berjalan mengikuti langkah para perawat yang mendorong brankar pasien untuk dipindahkan ke ruangan perawatan kelas 1.


Abymana meninggalkan putranya yang masih memberi pelajaran pada Reynaldi tanpa melerai atau menghalangi perbuatan Arthur, karena ia pun merasa murka saat ada yang mengusik ketenangan keluarganya. Dan membiarkan Arthur memberikan pelajaran pada Reynaldi dengan membuatnya babak belur.


Lalu, ia merengkuh tubuh putri satu-satunya itu ke dalam pelukannya. "Jangan khawatir Sayang, Aditya pasti akan melewati masa kritisnya. Daddy yakin itu, tapi kamu harus memohon pertolongan-Nya karena hanya yang Maha Kuasa lah yang menentukan semuanya."


Queen menangis terisak di pelukan pria yang merupakan cinta pertamanya dan sangat disayanginya. "Aku takut Dad, aku takut suamiku akan meninggalkanku. Aku sangat mencintainya Dad, baru kali ini aku berhasil melupakan My daddy Azriel. Aku tidak ingin nasib cintaku berakhir tragis untuk yang ke 2 kalinya."


Abymana tidak berhenti mengusap lembut bahu putrinya dan kembali menghibur hatinya. Tentu saja dirinya yang pernah berada di posisi putrinya bisa mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya itu.


"Sudah Daddy bilang kalau kamu harus memohon pada Allah SWT untuk kesembuhan suamimu. Daripada kamu hanya membuang-buang waktu untuk menangis di sini, lebih baik kamu membersihkan diri dan kita pergi ke masjid rumah sakit ini untuk mendoakan suamimu."


Queen hanya menganggukkan kepalanya dan mengikuti arah pergerakan kaki daddy-nya setelah sebelumnya menatap suaminya yang sudah dipindahkan ke ranjang yang ada di ruang perawatan kelas terbaik itu.


Dan keduanya sama-sama keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ke masjid. Saat Queen berjalan, ia melihat beberapa polisi yang sudah datang ke rumah sakit dan membawa Reynaldi yang sudah diborgol tangannya. Bisa dilihatnya pria yang merupakan adik tirinya itu benar-benar sudah babak belur wajahnya akibat perbuatan abangnya.


"Tunggu Pak polisi!" Queen agak sedikit berlari dari tempatnya untuk mengejar polisi yang ingin meninggalkan rumah sakit. Lalu, ia yang sudah berada di depan Reynaldi langsung mengeluarkan umpatannya. "Kau harus membayar perbuatanmu dengan membusuk di penjara Rey! Tidak ada ampun untukmu karena keluarga Raharja akan menuntutmu agar dihukum seberat-beratnya."


"Kita lihat saja Nona muda Queen, orang tuaku tidak mungkin tinggal diam melihat putranya di hukum. Oh ya, ada 1 hal lagi." Reynaldi tersenyum menyeringai.


"Dasar iblis! Apakah kamu masih tidak bertobat atas perbuatanmu?" hardik Queen dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku hanya ingin mempertahankan hal yang seharusnya adalah milikku Nona muda. Apakah itu salah? Mengenai yang ingin aku katakan tadi, aku ingin menyampaikan padamu bahwa jika nanti Abang tiriku sadar dan mengetahui aku lah yang menyuruh orang untuk menusuknya, mungkin aku akan langsung bebas!" Reynaldi tertawa terbahak-bahak.


"Jangan pernah bermimpi Rey, itu tidak akan pernah terjadi."


"Kamu yakin?"


"Sebenarnya apa maksudmu, iblis?"


"Sepertinya Abangku tidak akan pernah menjebloskan aku ke penjara."

__ADS_1


"Berengsek, sekarang kau baru mau memanggilnya abang setelah kau mau mendekam di penjara? Dasar pria tidak tahu di untung. Aku sendiri yang akan memastikannya bahwa kau akan mendekam di penjara! Aku sudah muak melihatmu," sarkas Queen dengan emosi dan beralih menatap ke arah pria-pria berseragam di depannya.


"Bawa dia Pak!" ucap Queen dengan mengibaskan tangannya.


"Baik Nona muda Queen," ucap salah satu polisi dan membawa tersangka untuk berjalan meninggalkan rumah sakit.


Reyaldi menoleh ke arah Queen sebelum pergi. "Salam untuk abangku Queen, semoga dia cepat sadar dan membebaskanku dari penjara karena aku yakin dia sendiri yang nanti akan mencabut laporannya.


Queen hanya mengepalkan kedua tangannya tanpa menjawab perkataan dari pria yang sudah menghilang di balik koridor rumah sakit. "Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi Rey, kamu harus membayar dosa-dosamu di penjara."


Arthur yang baru saja kembali dari toilet, menghampiri Papa dan adiknya. "Sudahlah, jangan memperdulikan si gila itu. Sepertinya dia memang tidak waras. Untung kamu dulu menolaknya mentah-mentah, nasibmu sangat beruntung karena menikah dengan Aditya."


"Tentu saja, suamiku adalah pria paling sempurna yang sangat aku cintai. Dia adalah satu-satunya pria sholeh yang mampu menaklukkan hatiku," ucap Queen dengan sangat bersemangat.


Arthur dan sang Papa sama-sama saling ber-sitatap dan tersenyum menyeringai. Seolah keduanya ingin mengejek wanita yang terlihat sangat berbinar saat membicarakan tentang pria yang masih belum sadarkan diri itu.


Arthur mengarahkan jari telunjuknya ke kening sang adik kesayangannya itu dengan mengetuk-ngetuknya. "Dulu berlagak cuma bersandiwara, sekarang kena batunya kan akhirnya."


"Sepertinya nona arogan ini belum menyadari kalau kita menyadari semua sandiwaranya Pa," ucap Arthur dengan menatap penuh seringai pada Papanya.


"Cinta membuat seseorang yang jenius langsung terlihat bodoh," jawab Abymana dan berjalan meninggalkan 2 anaknya.


"Astaga, apa maksudmu Brother? Papa juga ngomong apa tadi?" rengut Queen dengan kesal.


"Dasar bodoh, kami semua sudah tahu kalau kamu sudah membayar Aditya untuk mau menikahimu kan? Kamu awalnya menganggap pernikahan ini adalah sebuah sandiwara, tapi kamu malah sekarang tergila-gila pada Aditya kan. Dasar tidak tahu malu!"


Queen refleks langsung membulatkan kedua matanya dan membekap mulutnya begitu mendengar perkataan dari saudaranya. Bahkan permukaan kulit wajahnya sudah berubah merona karena merasa sangat malu rahasianya ternyata diketahui oleh orang tua dan saudaranya.


"Astaga, jadi kalian semua sudah tahu? Dan hanya diam saja menontonku?"


Arthur lagi-lagi mengarahkan tangannya untuk menyentil kening sang adik perempuannya. "Karena itulah aku memberikanmu obat perangsang di malam pertamamu itu. Akan tetapi si Aditya itu sangat bodoh dan tidak mau menjalankan rencanaku untuk membuatmu tidak berlagak dan sok-sokan menolak suamimu yang kuper dan polos itu."

__ADS_1


"Sialan," rengut Queen yang sudah mengarahkan tangannya untuk meninju perut sixpack saudaranya.


"Jadi, kalian berdua sudah kikuk-kikuk nih ceritanya?" ejek Arthur seraya tertawa penuh seringai.


"Astaga." Queen refleks mencubit paha saudaranya yang menanyakan pertanyaan sensitif.


"Makanya, jadi wanita itu jangan berlagak di depan pria. Sudah ngerasain sekali pasti langsung klepek-klepek deh, nyerah dah dan ending nya ketagihan."


"Stop! Jangan diteruskan Brother, memalukan." Queen menutup mulut saudaranya yang masih tersenyum menyeringai padanya. "Lebih baik ikut aku ke masjid untuk mendoakan suamiku agar segera melewati masa kritisnya!" Queen menarik pergelangan tangan abangnya dan berjalan ke arah masjid.


"Dasar nona arogan bodoh, ganti bajumu dulu dengan yang bersih Queen!"


"Oh iya lupa," ucap Queen dengan menggaruk rambutnya. "Dave mana ya?" Mengedarkan pandangannya ke arah semua pengawalnya.


"Ini pakaian ganti untuk Anda Nona muda!" Dave yang baru saja kembali, membawa paper bag berisi pakaian untuk majikannya.


"Terima kasih Dave. Kamu sudah mengantarkan Dewi ke rumahnya dengan selamat kan?" Menerima paper bag dari orang kepercayaannya.


"Sudah Nona muda."


"Sudah, kejar saja!" ucap Queen dengan senyum mengejek.


"Maksud Nona?" Dave mengerutkan keningnya karena tidak mengerti apa maksud dari perkataan majikannya.


"Aku tahu kalau kamu tertarik pada Dewi kan?"


"Tidak Nona," jawab Dave dengan tegas.


"Berlagak, kalau Dewi dicuri orang baru tahu rasa kamu. Menyesal kemudian tidak berguna!" Tanpa memperdulikan ekspresi dari wajah pria yang terlihat kebingungan, Queen berjalan meninggalkan orang kepercayaannya.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2