Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Haram hukumnya


__ADS_3

Aditya mengamati wajah Queen yang terlihat tengah melamun, dan daritadi hanya diam setelah perdebatannya membahas tentang ponsel miliknya yang telah dibuang.


Queen yang merasa sangat risih karena daritadi ditatap oleh pria yang berada disebelahnya, "Apa kamu tidak pernah melihat wanita cantik? Sehingga daritadi kamu terus memandangku?"


Aditya masih tidak mengalihkan pandangannya, lalu ia menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu, tapi tidak aku pungkiri kalau kamu memang sangat cantik Queen. Akan tetapi, aku tidak memikirkan itu, aku hanya sedang ingin menyelami pikiranmu."


"Kenapa aku merasa sangat yakin kamu tadi membuang ponselku karena merasa cemburu?"


Refleks Queen tertawa terbahak-bahak, dan mulai menatap jengah kearah pria yang masih terus menatapnya. "Astaga ... kamu terlalu percaya diri sekali. Bahkan kamu sangat jauh dari tipeku, kamu sudah melihat foto My hot Daddy kan tadi?"


Aditya mengarahkan dagunya ke arah depan, menunjuk kearah sang supir.


Karena merasa sangat kesal dengan Aditya, membuat Queen lupa bahwa supir yang berada di depan itu adalah mata-mata dari Daddy nya. Sontak dirinya yang mulai tersadar, mulai menepuk jidatnya. Lalu beralih menatap ke arah Aditya dan mengepalkan tangannya, seolah ingin mengancam pria yang duduk disebelahnya.


Akhirnya keduanya tidak berbicara dan mulai berkutat dengan pikirannya masing-masing. Saat Aditya tengah memikirkan ingin mengetahui apakah alasan utama dari Queen membuang ponselnya. Sedangkan Queen saat ini tengah sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi padanya.


Aku tidak cemburu pada pria miskin ini. Memalukan sekali, aku hanya merasa sangat kesal melihatnya ... melihatnya apa ya? Melihatnya lebih fokus pada ponselnya dan tidak menanggapi pertanyaanku? Ataukah aku kesal karena dia akan membalas pesan dari wanita yang bernama Sabrina itu? Kenapa hal sepele ini saja aku tidak tahu? Dimana IQ tinggi yang selalu aku bangga-banggakan dulu?


Lamunan Queen seketika buyar saat mendengar suara dari Aditya yang memanggil namanya.


Aditya yang daritadi menatap ke arah Queen, mulai menanyakan hal yang daritadi ingin ditanyakannya "Queen, apa boleh aku meminjam ponselmu? Aku khawatir Sabrina menghubungiku dan mengkhawatirkan aku saat ponselku sudah tidak aktif. Atau aku mencoba untuk menghubungi nomor ponselku, apakah masih aktif atau tidak."

__ADS_1


"Tidak perlu, biar aku yang mencoba untuk menghubungi nomormu! Kamu benar-benar merasa tidak rela kehilangan ponselmu karena memikirkan perasaan Sabrina bukan? Dasar pria munafik!!"


"Astaghfirullah ... kenapa kamu selalu berpikir negatif padaku Queen? Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya padaku? Kalau begitu, kamu kirimkan saja pesan pada Sabrina untuk jangan menungguku! Karena aku tidak akan pernah kembali padanya. Aku ingin dia menikah dengan pria lain yang lebih baik dari aku."


Queen yang sudah menelfon nomor dari pria yang sudah dibuangnya tadi mulai mendengar suara dari operator, lalu ia beralih menatap ke arah Aditya. "Nomormu sudah tidak aktif, sepertinya ponselmu sudah hancur terlindas mobil yang melintas."


"Dan apa yang kamu katakan tadi? Kamu menyuruhku untuk menulis pesan balasan pada mantan kekasihmu itu, bahwa kamu menyuruhnya untuk menikah dengan pria lain? Tidak salah? Memangnya kamu tidak menyesal? Atau kamu ingin berpura-pura menunjukkan padaku bahwa kamu sudah tidak lagi mencintainya?"


Mobil mewah yang membawa keduanya sudah mulai memasuki gerbang utama Mansion keluarga Raharja. Dan beberapa saat kemudian mobil berhenti tepat di depan pintu utama Mansion.


"Terserah apa yang kamu pikirkan saja Queen, karena aku yakin bahwa kamu tidak akan pernah mempercayai apa yang aku katakan." Setelah menanggapi perkataan dari Queen, Aditya turun dari mobil.


Queen pun turun dari mobil dan buru-buru menghampiri pria yang terdiam mengamati suasana Mansion yang sepi. "Berapa nomor ponsel Sabrina? Aku akan mengirimkan pesan untuknya! Aku tidak tega dia menunggu pesan balasan darimu."


"Kenapa sekarang kamu berani memerintahku? Memangnya siapa kamu? Sudah jangan banyak bicara, katakan saja berapa nomornya!" ucap Queen dengan bersungut-sungut.


"Baiklah ... baiklah, memang tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Nona muda Queen. Nomor Sabrina 08xxxxxxx."


Queen mulai memasukkan nomor mantan kekasih Aditya dalam daftar kontak miliknya, "Tenang saja, tidak perlu merasa takut padaku! Karena aku tidak akan ngapa-ngapain, aku tidak akan mengancam maupun menyakiti kekasihmu itu. Mungkin aku hanya akan sedikit melatih otot-otot wajahnya, dia butuh pelemasan otot matanya juga."


Setelah mengungkapkan kalimat ambigunya, Queen berjalan ke arah pintu utama Mansion meninggalkan pria yang berada disebelahnya.

__ADS_1


Sedangkan Aditya terlihat geleng-geleng kepala melihat tingkah Queen, "Apa yang akan dilakukannya? Semoga dia tidak menyakiti perasaan Sabrina! Akan tetapi, dia tadi mengatakan mata dan wajah dari Sabrina. Apakah yang dia maksud adalah ingin membuat Sabrina menangis?"


"Jika benar seperti itu, apa yang harus aku lakukan ya Allah? Di satu sisi, aku tidak ingin membuat Sabrina semakin bersedih karena perbuatan jahatku. Tapi disisi lain, aku tidak ingin Queen salah paham padaku dan berpikir macam-macam. Apakah aku bisa melindungi hati dua wanita yang memiliki watak dan sifat yang berbeda itu? Apa yang harus hamba lakukan agar tidak sampai membuat Sabrina semakin terluka? Dan juga melindungi perasaan calon istriku?"


"Lebih baik aku sholat dan meminta petunjuk kepada Nya!" Aditya mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu utama Mansion. Dan dirinya sudah disambut oleh pria yang akan menjadi mertuanya.


"Selamat datang di Mansion Aditya, mulai hari ini kamu akan tinggal di sini selamanya. Karena Abang dari Queen sudah memiliki rumah sendiri, jadi kamu dan Queen yang nantinya kelak akan menjadi tuan rumah di sini. Karena kami akan sering pergi ke Belanda untuk mengecek perusahaan Raharja yang ada di sana," ucap Abymana seraya menepuk bahu kokoh Aditya.


Aditya menganggukkan kepalanya, dan tersenyum pada mertuanya yang menyambutnya dengan sangat baik. "Mansion ini sangat besar Tuan Abymana, tapi kenapa abang Queen memilih tinggal di rumah sendiri? Kenapa tidak tinggal di sini bersama-sama sebagai keluarga yang utuh?"


Queen yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil minuman, mendengar pertanyaan dari Aditya. "Itu karena brother memiliki anak-anak yang masih kecil dan aktif. Dan sangat berbahaya ada tangga, karena mereka sangat over protektif pada anak-anaknya."


Abymana mengeluarkan suaranya, "Lebih baik ajak calon suamimu ke kamar Queen!"


Queen mengerutkan keningnya, karena merasa tidak paham dengan perkataan dari sang Daddy, "Maksud Daddy ke kamarku? Gila apa?"


"Tentu saja kamar tamu Queen, kalian belum sah menjadi pasangan suami istri. Jadi tidak boleh tinggal bersama! Aditya pun tidak mungkin mau berada dalam satu kamar yang sama denganmu, dasar ... percaya diri sekali kamu Queen." Abymana beralih menatap ke arah Aditya, "Bukankah begitu Aditya?"


Aditya langsung menganggukkan kepalanya, "Iya Tuan Abymana, kami tidak boleh tinggal di satu ruangan yang sama. Karena haram hukumnya tinggal bersama dengan wanita yang belum muhrimnya."


Sedangkan Queen hanya bisa mengumpat di dalam hati karena merasa sangat malu.

__ADS_1


Sialan Daddy mengerjaiku, dan si miskin ini mulai mengeluarkan petuahnya.


Bersambung ...


__ADS_2