Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Aku akan menghabisimu


__ADS_3

Queen menoleh ke arah Aditya yang tengah membawa kantong plastik besar berisi aneka mainan kesukaan dari quint "A". Yaitu, Arkha, Arsha, Alesha, Adhitama dan Adhinata. Ia memencet tombol di dekat pintu gerbang utama yang menjulang sangat tinggi di depannya.


"My hubbiy, membeli banyak mainan untuk quint A. Apakah Princess kita juga ikut dibelikan?"


Aditya refleks langsung mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan dari Queen yang tengah menatap menyelidik ke arahnya. "Tentu saja paling spesial untuk putriku tercinta. Ada di kursi belakang juga, Sayang. Masa aku membelikan kamu dan keponakan, tetapi putri sendiri nggak dibelikan."


Queen hanya terkekeh karena telah meragukan suami sendiri. "Maaf, My hubbiy. Aku hanya mengetes saja." Menatap ke arah pelayan yang sudah membuka pintu dan langsung membungkuk hormat padanya dan sang suami.


"Selamat datang, Tuan dan Nona muda," sapa wanita yang memakai seragam baby sitter berwarna pink.


"Apa brother sudah datang? Oh iya, mobilnya sudah ada di rumah, pasti dia di dalam." Queen menepuk jidatnya sendiri dan mulai berjalan masuk sambil tangannya bergelayut di lengan kekar pria yang berada di sebelah kirinya.


Aditya memberikan buah tangannya pada wanita yang berusia sekitar 25 tahunan tersebut dan berjalan masuk ke dalam bersama sang istri tercinta yang sama sekali tidak melepaskannya.


Dengan langkah kaki jenjangnya, Queen mengamati suasana ruang tamu berukuran sangat luas dengan sofa berwarna merah dan ada beberapa guci antik keramik yang ada di tiap sudut ruangan. Tidak lupa lemari kaca yang berisi barang-barang antik koleksi dari saudara laki-lakinya. Tentu saja merupakan barang yang dibeli di luar negeri setiap pulang dari perjalanan bisnisnya.


"Aku tunggu di sini saja, Sayang." Aditya melepaskan tangan yang melingkar di lengannya.


"Baiklah." Seperti rumah sendiri, Queen berjalan menuju ke arah ruang santai yang ia tahu adalah tempat paling favorit 5 keponakannya menghabiskan waktu. Dan tentu saja suara riuh rendah keponakannya sudah tertangkap indera pendengarannya saat sudah mendekat ke arah ruangan luas tersebut. Dilihatnya 5 keponakannya tengah bermain bersama para baby sitter. Sedangkan keponakan sulungnya langsung menghambur ke arahnya.


"Hore, Aunty datang," ucap Arsha dengan berbinar.


Queen mengusap rambut panjang bocah perempuan berusia 7 tahun itu. "Daddy sama mommy-mu mana? Apa mereka ada di kamar? Panggil mereka, gih! Bilang Aunty dan uncle datang. Tuh mainan untukmu dan adik-adik dibawa mbak Tami."


Arsha menganggukkan kepala, "Asyik, mainan. Arsha panggilkan mommy dulu, Aunty. Tadi mommy bilang mau mandi. Daddy juga baru pulang tadi dan langsung mandi katanya."

__ADS_1


Queen menelaah perkataan dari keponakannya dan langsung menahan pergelangan tangan kiri Arsha yang hendak meninggalkannya. "Tunggu, Arsha. Biarkan saja daddy dan mommy mandi dulu. Nanti juga keluar. Arsha mainan lagi sana. Aunty mau menunggu daddy-mu di depan."


"Iya, Aunty," jawab Arsha.


"Oh ya, Arkha mana?" tanya Queen yang mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tersebut dan tidak menemukan keponakan sulung yang merupakan kembaran dari bocah perempuan di depannya.


"Ada di kamar, lagi main game, Aunty."


"Oh, ya sudah sana main sama adik-adik." Mencium satu persatu keponakannya dan kembali berjalan keluar ruangan tersebut untuk kembali menemui sang suami. Dan langsung mendaratkan tubuhnya di sebelah pria yang saat ini menatapnya.


"Di mana mereka?" tanya Aditya yang dengan mengerutkan keningnya saat melihat muka kusut sang istri.


"Menyebalkan sekali, My hubbiy. Awas saja nanti, aku habisi pasangan mesum itu," rengut Queen dengan wajah masam.


"Memangnya kenapa? Kenapa wajahmu jadi masam begini?"


"Lalu?" Aditya masih terus mendengarkan penjelasan dari sang istri yang terlihat mengerucutkan bibirnya.


"Masa, dia bilang orang tuanya sedang mandi." Mengarahkan tatapan kesal pada Aditya.


"Lah ... memangnya apa yang salah kalau mereka sedang mandi?" Aditya menepuk jidatnya berkali-kali begitu mendengar cerita konyol dari Queen.


Karena merasa semakin kesal, karena sang suami tidak menangkap arti dari penjelasannya, refleks Queen mencubit pinggang Aditya. "Astaga, polos banget sih jadi orang. Masa, aku perlu menjelaskannya padamu. Lihat saja sebentar lagi, pasti pasangan mesum itu keluar dengan rambut yang sama-sama basah."


Mengerti dengan arah pembicaraan dari sang istri, membuat Aditya hanya manggut-manggut. "Oh ... jadi, seperti itu. Kenapa, kamu pengen main?"

__ADS_1


"Ya ampun, My hubbiy. Bukan masalah pengen main atau tidaknya. Kita sudah repot-repot datang ke sini dan lebih lama meninggalkan Princess. Akan tetapi, mereka malah sore-sore buta begini sudah main. Gila." Baru saja Queen menutup mulutnya, dilihatnya saudara laki-lakinya sudah memakai celana pendek dengan kaos casual santai dan berjalan ke arahnya. "Panjang umur dia, baru juga dibicarakan."


Arthur mengarahkan tangannya ke atas untuk menyapa adik dan iparnya. "Sudah lama?" Mendaratkan tubuhnya di depan sofa pasangan suami istri yang tengah duduk berdekatan itu dengan terhalang meja kaca.


"Baru saja, Bang," jawab Aditya mewakili sang istri yang masih terlihat sangat kesal. Dan di saat yang bersamaan, tidak sengaja ia melihat sosok wanita yang terlihat memakai gaun dibawah lutut dan seperti yang dibilang oleh sang istri bahwa rambut panjang yang tergerai itu masih basah. Sehingga ia refleks menatap ke arah Queen dan langsung ber-sitatap dengan wajah masam itu.


Queen yang sudah tidak bisa menahan diri lagi, refleks langsung mengeluarkan kalimat mutiaranya. "Kakak ipar, besok pindah ke Mansion, karena mommy sudah lama bersabar menunggu kalian semua kembali. Kalau masih bandel, atau pun tidak mau, lebih baik selamanya tidak usah datang ke Mansion! Apa Kakak ipar tidak kasihan melihat mommy yang sudah tua dan harus sering ke sini karena merindukan cucunya!"


"Kalau masalah tangga yang menjadi masalah, banyak pelayan yang akan menjaga anak-anak dengan baik. Jadi, jangan mengkambinghitamkan anak demi bisa kabur dari hal ini. Dengar ini, Kakak ipar! Jika mau sama anaknya, juga harus mau dengan orang tuanya. Karena suamimu ada juga dari orang tuanya. Jadi, tolong hormati orang tua yang telah membuat suamimu menjadi sehebat ini."


Queen bangkit dari sofa dan menoleh ke arah Aditya, "Ayo, My hubbiy. Kita pulang, karena Princess sudah menunggu kita."


Aditya yang merasa sangat tidak enak, menatap ke arah Arthur untuk memberikan sebuah kode meminta maaf dengan tatapan matanya.


"Kami pergi dulu, Abang dan Kakak ipar."


Arthur yang sama sekali tidak pernah menyangka, Queen mengeluarkan taringnya untuk menghadapi istrinya yang terlihat berdiri di sebelahnya dengan diam terpaku seperti patung manekin dan sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


"Mati aku malam ini. Baru saja tadi aku susah-susah merayunya di kamar mandi agar dia mau berubah pikiran dan mau tinggal di Mansion. Sekarang semuanya hancur gara-gara bocah arogan ini. Shit! Entah apa yang akan dilakukannya padaku malam ini," gumam Arthur yang memegang pergelangan tangan Salsabila.


Salsabila yang menatap siluet dari pasangan suami istri itu telah menghilang di balik pintu, refleks mengarahkan tatapan tajam pada sosok suami yang membuatnya ingin memakannya hidup-hidup.


"Dasar bocah tengil menyebalkan! Apa kamu sengaja meminta bantuan nona arogan itu untuk mengomeliku seperti ini?" Langsung mengambil bantal kecil di sofa dan mengarahkan ke arah sang suami untuk melampiaskan amarahnya.


Arthur melindungi dirinya dengan lengan kekarnya. "Astaga, My Queen. Aku sama sekali tidak pernah menyuruh bocah arogan itu. Kenapa kamu tidak menanyakannya langsung padanya tadi. Awas saja kamu, nona arogan!"

__ADS_1


Sementara itu, Salsabila masih tidak memperdulikan pembelaan dari Arthur karena dirinya saat ini hanya ingin melampiaskan amarahnya. "Aku akan menghabisimu, bocah tengil!"


TBC ...


__ADS_2