Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Tidak punya hak untuk menolaknya


__ADS_3

Dave berjalan mendekat ke arah Sabrina dan tersenyum pada pasangan suami istri yang terlihat sangat romantis tersebut. "Tuan dan Nona muda."


"Aku mau pulang ke Mansion. Bukankah kamu sudah tidak membutuhkan suamiku lagi?" ujar Queen yang membuka suaranya.


"Tidak, Nona muda. Silakan saja, karena saya sudah mengerjakan laporan bersama tuan muda Aditya tadi. Selamat beristirahat dan hati-hati di jalan," jawab Dave yang sedikit membungkukkan badannya untuk menghormati 2 orang yang bukan sembarangan tersebut.


"Terima kasih, Dave. Kami pergi sekarang," jawab Aditya yang tersenyum tipis dan berbalik badan untuk kembali menuju ke arah lift khusus. Ia sengaja tidak menatap ke arah Sabrina ataupun menyapa karena sang istri sudah tersenyum mengejek pada mantan kekasihnya tersebut.


Sementara itu, Queen yang merasa di atas angin saat berhasil menunjukkan keromantisan dari sang suami pada mantan kekasihnya, membuatnya tidak berhenti tersenyum saat berada di dalam lift. Hingga sebuah tiupan di dekat telinga, membuatnya menoleh ke arah pria yang baru saja menghentikan lamunannya.


"My hubbiy apa-apaan sih, memangnya aku balon apa, pakai ditiup-tiup segala." Queen mengusap daun telinganya yang merasa sangat geli atas perbuatan suaminya.


"Tertawa di atas penderitaan orang lain itu tidak baik, Sayang. Jadi, jangan terus menerus memikirkan Sabrina karena dia bukanlah tandinganmu," sahut Aditya yang sudah berjalan keluar begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.


Seulas senyuman langsung terukir di wajah cantik Queen begitu mendengar kalimat terakhir dari sang suami. Tanpa memperdulikan tatapan beberapa staf di loby perusahaan, Queen fokus menatap ke arah pria yang masih menggendongnya.


"Itu memang benar, My hubbiy. Sabrina bukanlah tandinganku, tetapi aku ingin membuatnya sadar diri bahwa kamu sudah melupakannya dan sangat mencintaiku. Itu adalah sebuah bentuk perlindungan dari seorang istri, agar tidak ada para keong racun yang mengintai. Turunkan aku," ucap Queen begitu sampai di dekat mobil.


Aditya menuruti permintaan dari sang istri dengan menurunkan tubuh ramping tersebut. Kemudian melakukan gerakan meluruskan tangan, seperti orang yang melakukan gerakan pemanasan saat berolahraga.


"Ternyata kamu berat juga, Sayang. Tanganku pegal-pegal setelah menggendongmu," ujar Aditya yang berpura-pura mengeluh.


"Salah sendiri, pakai berlagak menggendongku, lagi. Aku kan tadi sudah bilang turunkan saja aku, tetapi tetap saja tidak memperdulikan perkataanku," sahut Queen dengan kesal begitu masuk ke dalam mobil.


Aditya hanya tersenyum dan mulai mengikuti pergerakan sang istri untuk masuk ke dalam mobil. Hingga ia yang sudah duduk di sebelah Queen, mendekatkan wajahnya di dekat daun telinga sang istri.


Kemudian berbisik lirih, "Wanita itu, lain di mulut lain di hati. Jika bibirnya bilang tidak, sebenarnya bilang iya di dalam hati dan selalu menuntut para laki-laki untuk peka dan mengerti setiap keinginan yang selalu bertolak belakang dengan apa yang diucapkan."


Aditya menjauhkan wajahnya dan menatap wajah cantik yang sudah berubah merona tersebut, "Bukankah begitu, Sayang?"

__ADS_1


"Sok tahu," jawab Queen yang sudah memalingkan wajahnya untuk menatap ke arah kiri sambil merutuki kebodohannya.


"Kenapa aku bisa sampai ketahuan sih. My hubbiy pintar sekali, bisa membaca apa yang ada di pikirkanku. Malu-maluin saja," lirih Queen dengan kebingungan saat tangan kuat sang suami berada di dagunya dan mengarahkannya untuk menatap wajah tampan itu.


"Kalau lagi malu, pasti memalingkan muka. Daripada menatap kendaraan yang berlalu lalang di sebelah kirimu, lebih baik kamu menatap wajah tampan suamimu ini, Sayang," pinta Aditya dengan seulas senyum terbit dari wajahnya. Bahkan ia sudah memasang wajah semanis madu ketika menatap wajah cantik wanita yang terlihat malu-malu tersebut.


Queen refleks langsung terkekeh melihat ekspresi dari wajah tampan yang memasang puppy eyes tersebut. Karena merasa sangat gemas, Queen mengarahkan tangannya untuk mencubit kedua sisi pipi putih yang membuatnya sangat gemas itu.


"Aku benar-benar sangat gemas padamu, My hubbiy." Masih tidak melepaskan tangannya dari wajah tampan yang terlihat sesekali meringis menahan sakit atas perbuatannya.


"Sayang, apakah menurutmu ini tidak sakit?" tanya Aditya dengan wajah datar.


"Iya ... iya, aku berhenti. Maaf ... maaf," pinta Queen yang sudah menghambur memeluk tubuh kekar pria yang sangat dipujanya. "Aku mengantuk, nanti bangunkan aku jika sudah sampai di Mansion." Merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami dan memeluknya dengan sangat erat. Tidak lupa ia sudah memejamkan kedua matanya sambil sesekali menguap.


"Tidurlah, tuan putri." Aditya sudah sibuk mengusap lengan sang istri yang terbalut gaun syar'i tersebut dan mengamati suasana lalu lalang kendaraan di sebelah kanannya. Dimana banyak kendaraan bermotor mulai dari mobil dan sepeda motor yang melintas memenuhi area jalan.


Pikiran dari Aditya kini sedang berfokus pada penelfon gelap yang tadi menghubungi. Tentu saja ia merasa sangat penasaran siapa wanita yang sudah membangunkan singa betina, yakni istrinya.


Seperti kata dari abang Arthur yang selalu berpesan padaku, agar lebih berhati-hati ke depannya. Karena ada banyak mata-mata yang mungkin mengharapkan kehancuran dari keluarga Raharja. Seperti kata pepatah 'Semakin tinggi pohon, akan semakin kencang angin yang menerpa.' Semoga rumah tangga kami dilindungi oleh Allah SWT, aamiin ya rabbal alamin," gumam Aditya di dalam hati dengan mengusap telapak tangan ke wajahnya untuk mengaminkan doa-doa yang dipanjatkannya.


********


Suasana di perusahaan yang sudah diambil alih oleh Perusahaan Raharja terlihat sangat ramai ketika waktu sudah menunjukkan jam pulang kantor. Semua staf perusahaan sudah terlihat berlalu lalang di loby perusahaan dengan wajah yang berbinar, merasa bebas karena seharian berkutat dengan pekerjaan dan mengasah otak, serta tenaga mereka.


Begitu juga dengan Sabrina yang baru saja keluar dari lift bersama rekan-rekannya. Sebenarnya ia ingin segera pulang ke rumah naik ojek online, tetapi atasannya yang tak lain adalah Dave sudah berpesan padanya agar saat pulang, menunggu di depan loby. Namun, karena ia tidak ingin membuat para staf satu kantor mengetahui tentangnya yang akan menikah dengan asisten presdir, membuat Sabrina memilih untuk menunggu di parkiran.


"Kalian pulang saja dulu, aku ada urusan penting," pinta Sabrina pada 2 sahabat yang berjalan dengannya.


"Memangnya kamu ada urusan sama siapa?" tanya wanita dengan tubuh agak sedikit gemuk yang ada name tag Pipit.

__ADS_1


"Ada lah pokoknya, sudah kalian pulang saja duluan." Sabrina lagi-lagi mengibaskan tangannya untuk mengusir 2 sahabatnya.


"Kalau kalian tidak cepat pergi, aku bisa ketahuan nanti," gumam Sabrina dengan wajah penuh kekhawatiran.


Baru saja ia selesai bergumam, suara bariton dari seseorang sudah tertangkap indera pendengarannya.


"Bukankah aku tadi menyuruhmu untuk menunggu di loby? Kenapa malah ada di sini?" tanya Dave yang baru saja tiba di parkiran dan menatap ke arah 2 wanita yang ada di sebelah kiri Sabrina.


Sontak saja Sabrina merasa sangat kikuk di depan sahabatnya yang saat ini tengah menatap menelisik ke arahnya. Karena tidak ingin 2 temannya mengetahui tentang hal yang dirahasiakannya, membuat ia memilih untuk mengusirnya.


"Cepat pulang sana, asisten Dave ada perlu denganku untuk membahas masalah pekerjaan. Jadi, kalian berdua cepat pulang sana!"


"Baiklah, kalau begitu kami mohon pamit dulu, Tuan Dave," ujar Rani yang sudah membungkuk hormat bersama Pipit. Kemudian berlalu pergi meninggalkan sahabatnya dengan beragam pertanyaan di pikirannya.


Sementara itu, Dave yang hanya bersikap datar, menganggukkan kepala saat 2 wanita tersebut berpamitan padanya. "Kenapa kamu tidak berterus terang pada mereka?"


"Berterus terang tentang apa?"


"Bahwa aku adalah calon suamimu?"


"Astaga, itu kan cuma berpura-pura. Jadi, tidak ada yang boleh tahu kita menikah atas dasar surat perjanjian. Karena pernikahan ini akan dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan para staf perusahaan. Cuma Ijab Kabul di rumahku dan tidak ada acara resepsi. Nanti aku akan berbicara pada orang tuaku dan juga kamu berbicara pada mereka, bahwa kita hanya ingin menikah dengan sederhana. Kamu paham kan maksudku?" tanya Sabrina dengan tatapan tajam.


"Memangnya bisa?" jawab Dave dengan tersenyum menyeringai dan sudah membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. "Cepat masuk."


Sabrina mengernyitkan keningnya saat melihat ekspresi dari Dave, "Tunggu, kenapa senyumanmu seolah mencurigakan." Masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah pria yang sudah menyalakan mesin mobil.


"Kita lihat saja nanti bagaimana tanggapan dari orang tuamu," ujar Dave seraya mengemudikan mobil meninggalkan perusahaan.


"Saat semuanya sudah diatur oleh keluarga Raharja, siapapun tidak punya hak untuk menolaknya. Termasuk kamu, Sabrina," batin Dave saat fokus menatap ke arah depan ketika mengemudi.

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2