
"Kenapa kamu terlalu percaya diri sekali? Apa perkataan dari Daddy lah yang membuatmu bisa se-sombong itu di depan orang yang telah menolongmu keluar dari masalah? Sepertinya kamu lupa, kalau aku ...."
Queen mengalihkan pandangannya ke arah sang supir yang berada di balik kemudi, dirinya menyadari tidak bisa berbicara sembarangan di depan mata-mata sang Daddy.
"Kita bicarakan ini nanti saja!"
Mengerti dengan arah pandangan dari Queen, Aditya hanya menganggukkan kepalanya untuk menuruti perintah dari sang Nona Arogan itu.
Sepertinya sedikit demi sedikit, aku harus membuat Queen bersikap lebih sopan kepada orang lain. Mungkin hanya dengan sebuah gertakan kecil seperti yang di lakukan oleh Tuan Abymana yang mengetahui kelemahan dari putrinya, dan aku pun mendapatkan sebuah keuntungan. Karena aku mulai sedikit mengerti apa kelemahan dari Nona muda Queen, dan kelemahannya itu adalah Reynaldi. Sebenarnya seperti apa sosok Reynaldi itu? Queen selalu menyebutnya pria sok kegantengan.
Hanya keheningan di dalam mobil mewah yang membawa pria dan wanita yang sedang duduk berjauhan seperti pasangan yang tengah bertengkar itu, seolah pemandangan itu menegaskan bahwa keduanya saat ini tengah sama-sama berkutat dengan pikirannya.
Setelah tiga puluh menit berlalu, mobil mewah yang membawa mereka pun telah tiba di rumah sakit Raharja. Sang supir yang sudah memarkir mobil di tempat khusus yang tersedia untuk para staf khusus, termasuk pemilik dari rumah sakit. Aditya terlihat menapakkan kakinya keluar dari mobil dan menunggu Queen keluar.
Queen yang sudah keluar dari mobil mewah miliknya, menatap jengah ke arah pria yang saat ini berada di hadapannya, "Kamu masuk saja duluan! Aku tidak mau para staf rumah sakit melihatku berjalan denganmu. Mereka pasti akan bergosip ria di belakangku, dan aku sangat tidak suka akan hal itu."
"Pergilah!!" ucap Queen dengan mengibaskan tangannya dan menatap ke sekeliling arah untuk melihat kondisi sekitarnya, "Syukurlah, tidak ada orang di sekitar sini. Jadi tidak ada yang akan melihat aku sedang bersama denganmu. Apa kata dunia jika mengetahui aku akan menikah dengan seorang pria miskin sepertimu. Sepertinya aku harus menyiapkan diri esok hari saat di hujat oleh Netizen."
Lagi-lagi kalimat penghinaan yang sama selalu di dengarnya dari bibir wanita yang terlihat masih menatap tidak suka ke arahnya, Aditya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dari Queen. Beberapa kali dirinya beristighfar untuk menenangkan perasaannya.
"Baiklah, aku akan menunggumu di ruangan Ayahku Queen!" mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah lobby rumah sakit meninggalkan wanita yang tidak menanggapi perkataan darinya.
Setelah menunggu beberapa saat, Queen mulai melangkahkan kaki jenjangnya memasuki rumah sakit. Tentu saja saat dirinya berjalan, semua staf rumah sakit menyapanya dan membungkuk hormat padanya. Karena saat ini dirinya tidak memakai jubah kebesarannya, sehingga membuat semua orang menyapanya dengan menyebut nama kebesaran dari keluarganya.
"Selamat siang Nona muda Queen."
__ADS_1
"Selamat datang Nona muda Queen."
Dan itulah sapaan dari semua orang, Queen hanya bisa tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya saat mendapat sapaan dari semua orang. Saat ini dirinya tengah berdiri di depan lift khusus yang membawanya ke lantai atas, dimana ruangan Ayah dari pria yang telah di bayarnya itu. Begitu pintu lift terbuka, buru-buru dirinya melangkah masuk ke dalam.
"Aaaaaaarrrh ... untuk sesaat aku bisa bernafas lega dan bebas. Untung saja aku tadi menyuruh pria miskin itu untuk masuk terlebih dulu, kalau tidak, mungkin semua orang akan memandangku dengan tatapan aneh penuh penghakiman."
Bola matanya kini mengamati angka digital yang terus berganti di depannya, beberapa saat kemudian bunyi denting lift khusus tersebut berbunyi, yang menandakan pintu akan terbuka. Dan begitu pintu kotak besi tersebut terbuka, Queen mulai melangkah keluar dari lift. Kaki jenjangnya mulai melangkah menuju ke ruangan kamar pria yang akan menjadi calon mertuanya.
Namun pemandangan di depannya membuatnya merasa sangat kesal, di lihatnya pria yang sedang berbicara dengan salah satu staf administrasi. Dan terlihat Aditya dan staf tersebut tengah berbicara dengan sesekali tersenyum.
"Astaga ... aku pikir dia sudah berbicara dengan Ayahnya mengenai aku, jadi aku kan tidak perlu menjelaskan lagi padanya. Tapi Apa ini? Dia malah sibuk menggoda wanita di sini. Awas saja kamu Aditya!!"
Queen semakin mempercepat langkah kakinya, begitu berada dekat dengan dua orang yang berada di dekatnya, Queen mulai berdehem untuk menyadarkan dua orang yang membuatnya sangat murka tersebut, "Ehem ... ehem ...."
"Tidak masalah Mas Aditya, jika butuh bantuan lagi, jangan sungkan. Aku akan siap membantu!" jawab wanita yang bernama Nanda itu.
Aditya berjalan masuk ke dalam ruangan sang Ayah tanpa menatap Queen dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaan dari wanita tersebut.
Queen semakin bertambah kesal saat dirinya di cueki oleh Aditya, akhirnya dirinya hanya bisa mengumpat di dalam hatinya.
Sialan Aditya, dia pura-pura nggak kenal aku di depan Nanda. Apa dia sedang tebar pesona pada Nanda yang sudah jelas-jelas mendekatinya, dan menyukainya? Dasar pria munafik ....
"Selamat siang Nona muda Queen, bukankah ada kabar bahwa Anda sedang cuti karena akan menikah?" tanya Nanda dengan tatapan mata penuh dengan sorot pertanyaan.
"Kamu benar, aku memang akan menikah. Jadi kabar itu sudah menyebar ya? Sayang sekali, padahal aku ingin merahasiakan ini dari semua orang, tapi sayangnya keluargaku sudah menyebarkannya."
__ADS_1
Raut wajah penuh kebahagiaan terlihat jelas di wajah Nia, "Waah ... selamat Nona muda Queen, ini adalah sebuah kabar gembira. Jadi sudah seharusnya semua orang tahu akan kabar gembira ini. Lalu, apa yang sedang Nona lakukan disini? Kenapa tidak cuti saja?"
"Aku memang di suruh cuti oleh Daddy dan Mommy, tapi mereka menyuruhku untuk menemui calon mertuaku. Aku pergi dulu!" Queen berjalan ke ruangan yang merupakan kamar perawatan Ayah dari Aditya.
Sementara itu Nanda yang mencoba mencerna perkataan dari putri mahkota dari pemilik rumah sakit tempat dirinya bekerja itu, berkali-kali mencoba untuk menelaah perkataan dari Nona muda tersebut, "Menemui calon mertua? Lalu kenapa Nona muda berjalan masuk ke dalam ruangan kamar Ayah dari Mas Aditya? Apa?!" menggelengkan kepalanya, "Tidak ... tidak ... tidak mungkin!! Tidak mungkin Nona muda mau menikah dengan Mas Aditya," berjalan mendekat ke arah pintu dan di lihatnya sang Nona muda membungkuk hormat pada pria yang terbaring di atas ranjang.
Queen yang sudah melangkah masuk ke dalam ruangan kamar perawatan dari pria yang merupakan Ayah dari Aditya, mulai mencoba menyunggingkan senyumannya dan sedikit membungkuk hormat untuk menyapa pria tersebut.
"Selamat siang Om, saya adalah Queen Aqila Wijaya Raharja. Dan saya besok akan menikah dengan putra Anda. Saya datang kesini untuk meminta restu dari Om, apakah Om merestui pernikahan kami?"
Pria paruh baya yang terbaring lemah di ranjang itu mengamati wanita yang barusan saja di ceritakan oleh putranya, untuk beberapa saat dirinya terdiam. Namun saat dirinya mulai mengingat nama belakang Wijaya Raharja, membuatnya membulatkan kedua matanya.
"Apa kamu adalah putri dari pemilik rumah sakit ini Nak? Nama Wijaya Raharja sangatlah terkenal di Jakarta, apakah?"
Queen menganggukkan kepalanya, dan mulai menjawab perkataan dari pria paruh baya tersebut, "Benar Om, saya adalah putri dari pemilik Raharja Group dan Rumah Sakit Raharja."
"Astaghfirullah ... jadi tebakanku benar?" beralih menatap ke arah putranya, "Ayah tidak setuju kamu menikah dengan anak dari konglomerat, putraku. Ayah tidak mau kamu hidup menderita dan hanya di jadikan sebagai alas kaki oleh para orang-orang kaya."
Sontak perkataan dari sang Ayah, membuatnya mengalihkan pandangannya untuk menatap ke arah wanita yang juga sama-sama merasa terkejut mendengar perkataan dari pria yang sedang terbaring di ranjang tersebut
Queen yang merasa sangat terkejut dengan kalimat skak mat dari calon mertuanya tersebut, hanya bisa menelan salivanya.
*Orang tua ini cerdas sekali? Bagaimana bisa dia mengetahui aku hanya menganggap putranya sebagai alas kaki saja. Hebat ... hebat ... hebat ....
Bersambung* ...
__ADS_1