
Sementara itu, di luar ruangan perawatan, Queen terlihat beberapa kali mengusap dadanya yang terasa berdebar kencang karena akan bertemu untuk pertama kalinya dalam posisi dirinya merubah penampilan menjadi seorang wanita muslimah yang berhijab.
"Aku deg-degan dan malu Brother," ucap Queen dengan raut wajah merona.
Melihat reaksi dari adiknya yang menurutnya terlihat konyol dan berlebihan, membuat Arthur hanya geleng-geleng kepala saat dirinya dari tadi berdiri di depan pintu karena ditahan oleh adiknya agar tidak masuk dulu.
"Tingkahmu ini sudah seperti anak SMP yang mengalami cinta monyet saja Queen. Lebay banget," ejek Arthur dengan terkekeh.
"Astaga, namanya juga malu karena pertama kali merubah penampilanku di depan suami, Brother. Kira-kira apa tanggapan dari My hubbiy ya Brother?"
"Biar aku masuk dulu dan menanyakannya pada Aditya, oke!" Arthur berniat berjalan untuk masuk ke dalam ruangan perawatan, namun tangannya ditarik oleh adik perempuannya.
"Ya ampun, malah mau masuk lagi. Aku kan belum siap. Tunggu sebentar, aku akan menormalkan tekanan darahku yang naik karena efek sangat gugup dan merasa deg-degan." Queen masih memegangi tangan kakaknya dan mulai beberapa kali mengambil nafas teratur untuk menghilangkan kegugupannya.
"Astaga, lebay," rengut Arthur yang sudah merasa sangat kesal dengan perbuatan dari sang adik yang menurutnya terlalu berlebihan. Sehingga ia langsung menarik tangan saudara perempuannya itu untuk masuk ke dalam ruangan perawatan. "Jangan lupa ucapkan salam sebelum masuk, biar sesuai dengan baju yang kamu pakai."
"Astaga ... Brother, aku belum siap."
"Kelamaan kalau nunggu kamu siap," kesal Arthur dan sudah mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan perawatan setelah membuka pintu.
Karena sudah tidak ada pilihan lain, akhirnya Queen hanya menurut saja saat saudara laki-lakinya sudah menarik tangannya menuju ke dalam dan ia pun langsung mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Dengan wajah merona, Queen yang merasa malu mulai menatap pria yang terlihat tengah memejamkan kedua matanya di atas ranjang perawatan.
"Apa My hubbiy masih tidur? Syukurlah kalau begitu, aku selamat."
Saat Queen baru saja menghela napas penuh kelegaan, ia refleks sangat terkejut begitu suara bariton dari pria yang sangat dicintainya itu menjawab salamnya dan membuka matanya, lalu menatapnya dengan tatapan intens tidak berkedip seolah terpesona melihat penampilan barunya.
__ADS_1
Di saat Aditya tengah sibuk memikirkan tentang jati dirinya yang sebenarnya, seseorang yang sangat dihafalnya tengah mengucapkan salam. Ia langsung menjawab salam dan langsung membuka matanya untuk melihat seseorang yang sangat dirindukannya.
"Wa'alaikumsalam."
Dan pemandangan di depannya langsung membuatnya seolah terpesona saat melihat wanita secantik bidadari tengah berjalan semakin mendekat ke arahnya.
"Subhanallah, Alhamdulillah ya Allah," ucap Aditya yang sudah mengeluarkan air matanya saat tidak berkedip menatap penampilan baru istrinya yang memakai hijab dan membuatnya terlihat sangat cantik seperti seorang bidadari.
"Sayang, kamu benar-benar seperti seorang bidadari."
Merasa sudah tidak bisa menahan diri lebih lama, Queen sedikit berlari untuk menghambur ke arah pria yang sangat dikhawatirkannya. Lalu, ia memeluk erat bagian atas tubuh kekar suaminya dan tidak berhenti mencium pipinya.
"Syukurlah kamu sudah selamat My hubbiy, akhirnya kamu sadar juga. Aku sangat mengkhawatirkanmu saat kamu kritis tadi. Bahkan aku marah padamu saat kamu tidak bangun-bangun juga, karena aku sangat takut jika kamu meninggalkan aku."
Setelah mengungkapkan semua isi hatinya, Queen menangis tersedu-sedu di dada bidang suaminya yang hanya diam membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Aditya merasa sangat bahagia sekaligus terharu begitu sadar karena melihat penampilan dari sang istri yang sudah berubah menjadi wanita Sholihah dan sangat mencintainya karena takut kehilangan dirinya. Tangannya mengusap lembut punggung istrinya yang masih terus menangis terisak dan wajahnya sudah berubah sembab karena penuh dengan air mata.
"Tentu saja aku sangat mencintaimu. Dasar suami bodoh," ucap Queen dengan sangat kesal dan masih dengan suaranya yang serak karena efek menangis.
"Astaghfirullah, masa suami sendiri kamu hina bodoh, Sayang?"
"Maaf, aku keceplosan karena kesal padamu," ucap Queen dengan penuh penyesalan.
"Aku memaafkanmu Sayang, terima kasih!"
Queen mengerutkan keningnya karena merasa tidak mengerti dengan kata terima kasih dari suaminya tersebut. "Terima kasih? Untuk apa?"
"Terima kasih karena sudah mencintai pria miskin sepertiku dan juga untuk penampilan barumu yang memutuskan untuk berhijab seperti ini. Istriku sudah terlihat seperti seorang bidadari surga. Aku sangat bersyukur pada Allah SWT karena kejadian ini membuat istriku merubah penampilannya menjadi seorang istri yang Sholihah."
__ADS_1
Aditya mendekatkan kening Queen ke arahnya dan menciumnya cukup lama, seolah ingin mengungkapkan kebahagiaannya dan juga rasa cintanya pada wanita paling cantik yang sangat dicintainya.
"I love you My hubbiy," jawab Queen yang langsung mencium bibir pria yang sudah membuatnya tidak bisa menahan diri lagi karena benar-benar sangat mencintainya.
Melihat perbuatan dari putrinya yang tanpa tahu malu mencium suaminya, membuat Abymana refleks memijat pelipisnya.
Sedangkan Arthur yang geleng-geleng kepala melihat aksi vulgar dari adiknya, membuatnya langsung mengeluarkan ejekannya. "Astaga, nona muda arogan ini benar-benar tidak tahu malu. Kalian membuat aku merindukan istriku saja."
Aditya yang sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba dari istrinya yang menciumnya, membuatnya merasa sangat tidak enak pada mertua dan abang iparnya. Sehingga ia hanya diam saja saat sang istri menciumnya tanpa membalas ciuman itu.
Sedangkan Queen tanpa merasa malu pada orang-orang di sekitarnya, melepaskan pagutannya karena tidak mendapatkan balasan dari suami yang tentu saja ia ketahui alasannya. Yaitu merasa tidak enak pada Daddy dan Brother-nya. Ia menoleh ke arah saudara laki-lakinya yang terlihat berwajah masam.
"Suamiku sudah sadar dan melewati masa kritisnya. Mungkin Daddy dan Brother bisa kembali ke Jakarta sekarang! Bukankah Brother sudah merindukan Kakak ipar? Sana balik dan jangan menyalahkanku karena aku baru saja mencium suamiku. Karena apa pun yang aku lakukan pada suamiku adalah halal. Jadi, kami bebas berciuman bukan?"
Aditya yang merasa sangat malu pada mertua dan abang iparnya hanya bisa memijat pangkal hidungnya mendengar kalimat bernada vulgar dari istrinya.
"Ternyata meski istriku sudah mengenakan hijab, sikap dan kata-katanya sama sekali tidak berubah. Sepertinya aku harus banyak mengajarinya untuk menjadi seorang wanita muslimah sejati. Ini adalah sebuah tugas berat untukmu Aditya, karena sepertinya tidak mudah untuk merubah sikap dan watak dari seseorang yang sudah mendarah daging," gumam Aditya.
"Lebih baik kita kembali ke Jakarta sekarang Pa! Karena sepertinya putrimu yang mesum sudah tidak tahan untuk tidak berdekatan dengan suaminya. Memalukan sekali," ucap Arthur yang sudah sangat kesal pada adiknya karena diusir.
"Baiklah, kita pulang saja karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Queen, sebelum berbicara ada baiknya kamu saring dulu agar tidak mempermalukan diri sendiri. Masa seorang wanita muslimah berbicara vulgar di depan orang lain. Bukankah itu akan mencoreng pakaian cantikmu itu?"
Abymana beralih menatap ke arah menantunya setelah puas mengejek putrinya. "Kamu ajari istrimu untuk menjadi wanita Sholihah sejati Aditya, sepertinya putriku masih perlu banyak belajar. Jangan sampai dia tetap bersikap arogan dan bar-bar saat memakai pakaian tertutup."
"Iya Pa," jawab Aditya yang merasa sangat tidak enak.
"Apa-apaan sih Dad, jangan menghina putrimu sendiri. Tentu saja aku tidak mungkin berubah lemah lembut karena ini memang sudah sifat asliku. Lagipula My hubbiy sama sekali tidak merasa keberatan dan tidak menyuruhku untuk berubah kok. Benar kan My hubbiy?" Queen menatap ke arah pria yang berada di atas ranjang tersebut dengan menampilkan puppy eyes andalannya.
Karena merasa tidak ingin membuat perasaan dari istrinya buruk, Aditya hanya menganggukkan kepalanya. "Iya Sayang."
__ADS_1
"Kata-kataku dulu selalu dijadikan senjata oleh istriku dan itu membuatku tidak berdaya. Sepertinya apa yang aku alami ini sama dengan pepatah senjata makan tuan."
TBC ...