
Aditya sudah melancarkan aksinya dengan menguasai bibir sang istri yang seolah sudah menjadi candunya. Bisa dilihatnya, wanitanya sudah sangat menikmati perbuatannya yang mengeksplore bibir tipis merah jambu di depannya. Tidak lupa juga untuk memberikan jejak kepemilikan di area bagian atas sang istri.
Sementara itu, Queen yang awalnya berusaha menolak perbuatan dari pria yang sudah berada di atas tubuhnya dengan sibuk memberikan hasil karyanya di setiap inchi kulitnya, sudah tidak bisa berkutik saat sang suami sudah menggerayangi tubuhnya dan menyentuh titik-titik sensitif miliknya.
Hingga ia baru tersadar saat pria yang terlihat sedang menahan beban tubuhnya dengan cara menahan kedua lututnya di antara kedua sisi tubuhnya untuk melepaskan satu persatu kancing kemejanya. Respon otak dan tubuhnya yang seolah tidak bersinergi, membuat Queen langsung mengarahkan tangannya ke depan untuk menghentikan aksi suaminya.
"My hubbiy, stop!"
Aditya yang sudah berhasil membuka kancing kemeja terakhirnya mengerutkan keningnya saat wanita cantik yang terlihat memerah wajahnya itu mencoba menghentikannya. "Ada apa Sayang?"
"Aku tidak mau make love di ranjang sekarat ini. Aku takut tiba-tiba nanti ambruk saat kamu bergoyang," ucap Queen dengan wajahnya yang sudah mulai merona karena malu. "Lagipula nanti Ayah bisa mendengarnya. Aku malu, jadi kita tunda saja acara kita."
Refleks Aditya langsung tertawa terbahak-bahak begitu mendengar perkataan dari istrinya yang terlihat sangat polos itu. "Sayang ... Sayang, meskipun aku main jingkrak-jingkrak di atas ranjang ini, tidak akan roboh. Meski ranjang ini bersuara, tapi ini tidak seburuk yang kamu pikirkan. Kalau soal suara, kamu tenang saja."
Aditya meraih ponselnya yang berada di saku celananya dan mulai memutar musik kesukaannya yang merupakan lagu dari Ungu dan Lesti yang berjudul Bismillah cinta yang selalu ia senandungkan. Karena ia sangat menghafal dan menyukai liriknya yang di bagian reff. Dan begitu musik mengalun indah dan syahdu, Aditya sudah mengeluarkan suaranya yang merdu untuk menyanyikan lagu tersebut.
"Bismillah cinta."
"Percaya padaku percaya cinta."
"Yakin kita bisa lalui semua."
Segala cobaan yang datang mendera."
"Bismillah cinta."
"Panjatkan doa pada yang kuasa."
__ADS_1
"Bersujud padanya dengan air mata."
"Insyaallah Ramadhan membawa hikmat."
"Bismillah cinta."
"Percaya kita."
Queen benar-benar merasa sangat terpesona saat melihat pria yang sangat dicintainya menyanyi dengan suaranya yang merdu. "My hubbiy, suaramu sangat merdu dan indah didengar. Kenapa aku selama ini tidak pernah mendengarmu bernyanyi? Sepertinya suamiku mempunyai bakat terpendam yang harus dimanfaatkan. Aku mau kamu setiap hari menyanyikan lagu itu untukku. Aku sangat menyukaimu saat menyanyikan lagu itu."
"Bukannya kamu selama ini lebih suka mendengarkan lagu-lagu barat, Sayang? Aditya sudah berhasil melepaskan kemejanya dan melemparnya ke sembarang arah.
Queen sesaat menelan salivanya saat melihat tubuh sixpack suaminya sudah terpampang jelas di depan wajahnya. Karena merasa sangat gemas, ia mengarahkan tangannya untuk meraba otot perut berbentuk kotak-kotak dari pria yang sudah tersenyum smirk ke arahnya.
"Aku memang lebih suka lagu barat dulu karena sering mendengarkannya di New York saat kuliah di sana. Terutama lagu-lagu mellow yang membuatku merasa trenyuh atas kisah cinta tak terbalas dulu."
"Akan tetapi, saat mendengar My hubbiy bernyanyi tadi, aku sangat menyukainya. Jadi, setiap hari bernyanyilah untukku lagu itu ya?" pinta Queen yang sudah semakin nakal meraba perut suaminya yang telanjang.
Dan tentu saja pemandangan paling indah sudah terpampang nyata di hadapannya. Tanpa membuang waktu lagi, ia kembali beraksi pada benda kenyal favoritnya dan bermain-main di sana. Tangannya menambah volume lagu yang diputarnya karena mendengar suara dari wanita yang berada di bawahnya sudah melenguh dan mendesah atas perbuatannya.
Tanpa membuang waktu, ia mulai melakukan klimaks dari pemanasan itu dengan melakukan momen penyatuan diri dan membuai sang istri untuk menuju ke surga dunia yang selalu didambakan oleh semua pasangan suami istri. Dan ruangan kamar yang berukuran 3 meter itu sudah dihiasi dengan suara dari desahan Keduanya dan tak lupa ranjang yang berkali-kali berdecit karena efek gerakannya yang sudah mulai berpeluh di atas tubuh polos wanita yang sangat dicintainya.
Queen seolah sudah tidak lagi mempermasalahkan hal yang dari tadi dikeluhkannya. Seolah ia sudah lupa setelah sang suami membuatnya berkali-kali mencapai pelepasannya. Hanya sebuah erangan yang keluar dari bibir tipisnya ketika pria yang berada di atas tubuhnya semakin lama mempercepat ritme gerakannya.
Bahkan indera pendengarannya bisa menangkap suara decitan dari ranjang yang menurutnya sudah tidak layak pakai tersebut.
"My hubbiy, kamu benar-benar gila," desah Queen dengan suaranya yang serak karena terbakar hasrat. "Aku bisa gila karenamu." Queen memeluk erat tubuh kekar pria yang terlihat sudah kelelahan setelah jatuh terkulai lemas saat mencapai pelepasannya.
__ADS_1
Deru napas yang memburu terdengar jelas dari keduanya setelah berhasil mencapai puncak kenikmatan surgawi yang hakiki. Aditya mengecup lembut kening wanita yang masih terlihat memejamkan kedua matanya.
"Terima kasih, Sayang."
"Sama-sama," jawab Queen dengan malu-malu. "My hubbiy."
"Hem ...."
"Apakah semua suami sepertimu?"
Aditya yang sudah menjatuhkan dirinya di samping kanan sang istri, mengerutkan keningnya seraya menatap ke arah wanita yang baru saja menanyakan pertanyaan ambigu. "Sepertiku yang bagaimana, Sayang?"
"Kamu selalu berterima kasih setelah selesai make love. Rasanya aku seperti seorang wanita yang sudah memberikan hal besar saja padamu. Padahal aku juga merasakan sebuah kebahagiaan dan juga kepuasan saat kamu ...." Queen tidak melanjutkan perkataannya karena merasa sangat malu menyebutkan kalimat bernada vulgar.
"Oh ... itu, kalau soal itu aku tidak tahu Sayang. Yang terpikirkan olehku adalah aku merasa terpenuhi kebutuhan batinku saat kamu bersedia untuk aku gauli. Karena itulah aku merasa puas dan senang. Jadi, bukankah aku harus berterima kasih kepada istriku? Saat kita dikasih sesuatu oleh orang, kita selalu berterima kasih bukan? Lalu, jika istri memberikan sebuah hal yang besar dengan ikhlas melayani suami, bukankah semua suami harus berterima kasih?"
"Jika tidak, berarti mereka semua adalah suami tidak tahu diri. Hal yang harus diutamakan oleh seorang suami adalah istri dan anak-anaknya, bukanlah orang lain. Karena sebenarnya hal itulah yang menjadi tonggak dalam biduk rumah tangga," ucap Aditya yang sudah memeluk erat tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
"My hubbiy, kamu sangat romantis. Aku tidak pernah menyangka jika seorang pria Sholeh sepertimu bisa berkata semanis madu yang membuatku semakin mencintaimu. Terima kasih untukmu, Suamiku. Bukankah aku pun harus berterima kasih kepadamu karena telah memuaskanku?" Queen mengarahkan bibirnya ke pipi putih pria yang sudah tersenyum kepadanya.
"Sama-sama Sayang. Oh ya, bagaimana rasanya bercinta di atas ranjang berdecit milikku? Bukankah sangat menyenangkan? Ini bisa menjadi sebuah kenangan tak terlupakan untukmu, karena mendapatkan sebuah pengalaman baru. Bahkan kamu sudah melupakan kata-katamu tadi yang mengatakan bahwa ranjang ini akan roboh," ejek Aditya dengan terkekeh.
"Aku sudah tidak mengingatnya," jawab Queen dengan wajahnya yang merona.
"Tentu saja kamu tidak mengingatnya, karena sudah sibuk sendiri mengeluarkan desahanmu yang lebih berisik dari suara ranjang berdecit ini."
"Issh ... apaan sih My hubbiy, menyebalkan." Queen mencubit perut sixpack di depannya seraya bersungut-sungut.
__ADS_1
"Ini menjadi sebuah pengalaman pertama yang sangat menegangkan sekaligus mendebarkan saat bercinta di atas ranjang berdecit," gumam Queen.
TBC ...