
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit, taksi yang membawa Dave dan Sabrina telah tiba di depan Mall yang tak lain adalah milik Raharja Group. Karena hanya itu satu-satunya Mall yang terdekat dari rumah tuan mudanya. Keduanya turun dari mobil dan berjalan memasuki area Mall terbesar yang ada di Jakarta tersebut.
Sabrina awalnya merasa sangat keberatan saat supir taksi berhenti di Mall yang merupakan milik dari keluarga wanita yang telah merebut pria yang dicintainya, tapi karena ia malas untuk berdebat, hingga membuatnya hanya diam saja dan tidak berkomentar apa-apa. Meski di hatinya sebenarnya sedang merengut dan mengumpat.
"Kenapa aku harus berakhir mencari hiburan di tempat ini sih. Bagaimana aku bisa melupakan kesedihanku saat berada di tempat yang tak lain adalah milik dari si nona arogan yang sangat menyebalkan itu," gumam Sabrina yang menolehkan kepalanya ke arah belakang untuk memeriksa apakah Dave masih mengikutinya.
"Kamu bisa meninggalkan aku di sini, karena aku ingin sendirian. Bilang saja pada tuan mudamu kalau kamu sudah menemaniku," sahut Sabrina seraya melangkah masuk ke dalam Mall.
Tanpa memperdulikan perkataan dari wanita yang sudah berjalan meninggalkannya, Dave melangkahkan kaki panjangnya untuk mengikuti Sabrina yang sudah berjalan ke arah stand es krim. "Ternyata benar apa yang tadi dikatakan oleh Tuan muda, kalau gadis bar-bar ini pasti akan membeli es krim saat berada di Mall. Sebentar lagi dia pasti akan pergi ke area game anak-anak," batin Dave.
Dave langsung berjalan cepat mendekati Sabrina yang akan mengambil dompetnya untuk membayar es krimnya. Tanpa membuang waktu, ia memberikan uang seratus ribu pada pegawai wanita yang ada di lapak es krim tersebut.
"Ini Mbak."
Sabrina menatap jengah ke arah pria yang sudah berdiri di sebelahnya. "Kenapa kamu tidak pergi juga? Ini kenapa lagi kamu membayar es krim yang aku beli. Aku tidak ingin mempunyai hutang budi pada siapa pun, apalagi pria berengsek sepertimu," sarkas Sabrina dengan bersungut-sungut.
"Aku pun tidak sudi mengeluarkan satu peser pun uangku untuk wanita bar-bar sepertimu. Jadi, jangan kepedean," jawab Dave yang sudah memasukkan uang kembalian ke kantong celananya.
__ADS_1
"Lalu, apa maksudmu melakukan semua ini?"
"Bukankah sudah aku bilang kalau Tuan muda yang menyuruhku, uang ini juga darinya. Setelah kamu puas bermain-main, aku baru akan pergi. Sebelum aku lupa, ikut aku sebentar untuk membeli perlengkapan mandi dan juga obat untuk ayah Tuan muda." Tanpa menunggu jawaban dari pertanyaannya, Dave sudah menarik pergelangan tangan Sabrina untuk pergi ke arah area supermarket.
"Kamu ini benar-benar suka memaksa ya. Padahal aku tidak bilang setuju padamu," keluh Sabrina dengan sangat kesal.
"Sudah, ikut saja. Bukankah kamu ingin menjadi mantan menantu yang baik? Jadi, anggap saja kamu berbuat baik pada Ayah Boby untuk terakhir kalinya, karena nona muda sudah kembali dan tidak akan mengijinkanmu untuk mengunjungi mertuanya. Apalagi jika sampai menghias rumah barunya dengan bunga-bunga," sindir Dave dengan tersenyum menyeringai.
"Tunggu, apa maksudmu rumah baru? Aku selama ini memang datang ke tempat Ayah Boby karena ingin menemaninya selama Mas Aditya pergi. Karena aku berpikir pernikahan mereka hanyalah sebuah sandiwara dan akan segera berakhir. Jadi, aku pikir Mas Aditya bisa kembali ke sisiku." Tentu saja wajah Sabrina kembali murung saat membahas tentang pria yang masih sangat dicintainya dan menjadi calon imam nomor 1 baginya.
"Itulah yang namanya jodoh, yang memang sudah ditentukan oleh Tuhan saat kita masih dalam kandungan. Seharusnya kamu tahu itu. Memang pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta pada awalnya, tapi Tuhan telah membuat hati mereka saling terikat saat sering bersama. Dan akhirnya, mereka sama-sama saling mencintai dan tidak terpisahkan seperti sekarang. Jadi, lupakan Tuan muda dan buang jauh-jauh anganmu yang berpikir akan bisa kembali padanya. Karena itu tidak akan pernah terjadi." Dave mulai mengambil perlengkapan mandi pesanan dari majikannya, tanpa memperdulikan reaksi dari wanita yang masih berekspresi muram di sebelahnya.
"Aku tahu itu, jadi kamu tidak perlu mengeluh atau menjelaskannya padaku. Karena aku pernah mengalaminya. Akan tetapi, aku tidak sebodoh dirimu yang sampai mendatangi rumah mantan kekasih yang sudah menikah dan berusaha mengambil hati mantan calon mertua. Sebaiknya kamu berhenti! Besok, rumah Tuan muda akan dirubah total menjadi rumah yang layak sebagai keluarga dari pemilik Raharja Group. Jadi, mungkin hasil karyamu akan berakhir mengenaskan di tempat sampah."
"Maksudmu bunga-bunga yang susah payah aku tanam untuk menghias teras rumah Ayah Boby?" tanya Sabrina dengan tatapan intens.
"Tepat sekali, sebelum kamu merasa kesal, aku sudah mengatakannya padamu terlebih dahulu. Jadi, kamu bisa menata hati dan tidak kecewa terlalu dalam jika nanti sudah tidak melihat bunga-bunga yang kamu bawa. Karena Nona muda sudah mengetahui bahwa itu semua berasal darimu, pastinya dia akan membuangnya."
__ADS_1
Dave sudah selesai berbelanja dan berjalan ke arah kasir untuk membayar. Sedangkan Sabrina masih mengikuti di belakangnya.
"Pria kasar sepertimu memangnya pernah patah hati saat ditinggal nikah? Kenapa rasanya aku sangat tidak percaya, aneh rasanya saat mendengarnya," ujar Sabrina dengan tersenyum mengejek.
Dave sama sekali tidak menanggapi kalimat bernada sindiran dari wanita yang berada tak jauh darinya. Hingga setelah selesai membayar dan berjalan keluar dari kasir, ia menolehkan kepalanya ke belakang. "Aku bukanlah sebuah robot yang tidak punya hati, wanita bar-bar."
"Aku punya nama, pria berengsek!" umpat Sabrina dengan bersungut-sungut. "Begini saja, lebih baik kita saling memanggil nama saja. Karena telingaku sungguh terasa panas saat mendengarmu memanggilku wanita bar-bar. Aku tidak ingin sampai ada laki-laki yang mendengarnya, mereka akan ilfil padaku dan tidak jadi jatuh cinta padaku pada pandangan pertama nanti. Panggil aku Sabrina dan aku akan memanggilmu Dave. Bukankah itu lebih terdengar tidak panas di telinga?" tanya Sabrina dengan menatap ekspresi dari pria di depannya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Dave mengulurkan tangannya. "Deal."
Sabrina menatap ke arah tangan yang menggantung di udara itu, dan akhirnya ia dengan terpaksa menyambut uluran tangan tersebut. "Deal."
"Meski aku tahu pertemuan kita ini akan menjadi pertemuan pertama sekaligus terakhir, tapi aku akan menuruti permintaanmu," ucap Dave dengan wajah datarnya.
"Kata-katamu itu seolah menegaskan bahwa kamu seolah terpaksa menyetujui permintaanku saja. Kenapa di dunia ini ada pria se-menyebalkan dirimu. Mood-ku yang tadi agak baik, kini sudah berubah buruk," ucap Sabrina yang sudah berjalan meninggalkan pria tersebut.
"Jangan sampai pria menyebalkan ini membuatmu jatuh cinta," ejek Dave dengan suaranya yang sedikit berteriak karena Sabrina sudah berjalan meninggalkannya.
__ADS_1
TBC ...