
Queen baru saja keluar dari kamar mandi setelah melakukan ritual percintaan panasnya dengan pria yang membuatnya tidak berkutik atau pun menolak saat meminta dilayani di atas ranjang berdecit yang tadi dibilangnya sekarat. Akan tetapi, ternyata tidak seperti yang dipikirkannya, karena ternyata ranjang itu cukup kuat dan tidak roboh seperti yang dipikirkannya saat pria yang berada di atasnya bergerak sesuai ritme ketika bercinta.
Aditya yang melihat sang istri baru saja masuk ke dalam ruangan kamar, langsung menyunggingkan senyumannya menyambut bidadari surganya. "Sayang, biar aku yang membantumu."
Queen menahutkan kedua alisnya karena tidak mengerti dengan perkataan dari sang suami. "Membantu apa, My hubbiy? Jangan bilang kalau kamu mau membantuku untuk memakai baju."
Aditya refleks langsung terkekeh mendengar kalimat bernada kecurigaan dari wanita yang sudah berjalan ke arahnya dan duduk di atas ranjang miliknya. "Bukan, Sayang. Kamu kenapa berpikiran buruk kepadaku, padahal suamimu tidak senakal itu. Karena sesungguhnya yang nakal adalah kamu, istriku." Menghembuskan napasnya di depan wajah sang istri yang sudah merona karena perbuatannya.
"Issh ... apa-apaan sih! Lalu membantuku apa?" Mencubit paha pria yang berdiri menjulang di depannya.
"Aku ingin membantu menyisir rambutmu, bukan membantumu memakai baju. Karena aku tidak ingin mandi lagi untuk yang ketiga kalinya. Bukankah dalam 1 hari ini kita sudah mandi 3 kali? Sepertinya kita terlalu rajin mandi setelah menikah," goda Aditya seraya terkekeh.
"Oh ... menyisir rambutku? Baiklah, aku sama sekali tidak keberatan. Aku sekarang bisa merasakan menjadi Mommy, karena Daddy dulu sering membantunya untuk menyisir rambut. Sedangkan aku berada di pangkuannya dan Mommy sibuk mengepang rambut panjangku. Aku jadi ingin punya anak perempuan agar bisa mengepang rambutnya nanti. Sepertinya akan sangat menyenangkan," ucap Queen seraya membayangkan apa yang barusan dikatakannya.
Aditya masih melanjutkan kegiatannya dan fokus menatap rambut hitam berkilau dan beraroma khas strawberry itu. "Mau perempuan atau laki-laki, yang penting ibu dan bayinya selamat. Hanya itu yang selalu aku panjatkan pada Tuhan, selain memiliki anak yang normal, Sayang. Aku tidak mempunyai pengering rambut, untuk mengeringkan rambut basahmu ini, Sayang. Jadi, kamu di kamar saja, jangan keluar. Lagipula, tidak bagus kan memakai hijab saat rambut masih basah?"
"Baiklah, aku di dalam kamar saja untuk melihat album fotomu itu." Queen menunjuk ke arah meja, di mana ada beberapa buku dan bisa dilihatnya ada album foto yang menarik matanya.
"Oh ... itu?" Aditya bangkit dari ranjang dan berjalan untuk mendekati album foto masa kecilnya dan mengambilnya. Kemudian menyerahkannya pada sang istri yang sudah terlihat sangat berbinar. "Kamu lihat-lihat saja ini untuk menghilangkan rasa bosan saat berada di dalam kamar. Aku mau ke depan sebentar untuk berbincang dengan Ayah. Tidak apa-apa kan, aku tinggal sebentar? Karena aku tidak enak pada Ayah, jika terus berduaan denganmu. Seolah aku mengabaikan Ayah."
"Aku tidak apa-apa," jawab Queen dengan menyunggingkan senyumannya. "Pergilah, My hubbiy." Mengibaskan tangannya seolah ingin mengusir sang suami agar tidak merasa sungkan atau merasa tidak enak padanya.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih bidadari surgaku," ucap Aditya yang sedikit membungkuk untuk mencium pipi putih yang terlihat sangat menggoda dan selalu membuatnya ingin selalu menyentuhnya. "Aku keluar dulu."
"Selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan," keluh Queen yang mengusap bekas ciuman dari pria yang sudah keluar dari kamar seraya tersenyum tipis.
Begitu melihat siluet tubuh kekar suaminya yang menghilang di balik pintu, membuatnya kembali menunduk untuk menatap ke arah foto yang berada di pangkuannya. Jemarinya membuka lembar demi lembar album foto yang berada di sana. Foto-foto dari masa kecil suaminya yang memiliki pipi tembam saat kecil, membuatnya sesekali tertawa karena merasa sangat gemas dengan foto itu.
"Ternyata suamiku dulu gemuk dan menggemaskan. Mungkin banyak orang yang sangat gemas padanya, tapi kenapa Mama Nayla tidak merasakan itu pada putranya? Sebenarnya apa yang membuatnya tidak menyukai My hubbiy dan lebih menyayangi Reynaldi?"
"Rasanya aku sangat marah saat mengingatnya. Ibu dan anak itu sama-sama tidak mempunyai perikemanusiaan. Reynaldi harus dihukum seberat-beratnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika tidak, mungkin dia akan kembali berbuat semena-mena dan membalas dendam padaku dan juga menyakiti Dewi."
"Dewi ... karena menyebut namanya, membuatku mengingat rencanaku untuk menjodohkannya dengan Dave. Menurutku, mereka adalah pasangan yang serasi. Aku harus menyuruh Brother untuk memberinya pekerjaan di perusahaan Raharja. Agar Dewi mempunyai pekerjaan setelah tinggal di Jakarta. Karena dia beralasan masih mempunyai tugas di Bali, karena itulah belum bisa ikut ke Jakarta. Astaghfirullah ... kenapa aku sampai melupakan hal penting."
"Dave, cepat kembali! Atau aku akan memecatmu karena berduaan dengan si keong racun!"
Tanpa menunggu jawaban dari orang kepercayaannya, Queen langsung mematikan sambungan telepon karena tidak mau mendengar alasan dari Dave. Kemudian ia menaruh ponselnya kembali ke samping bantal.
"Ini semua gara-gara My hubbiy yang mengajakku main tadi, sehingga aku sampai melupakan Dave tadi. Aku tidak akan merestui Dave berhubungan dengan Sabrina," kesal Queen yang terlihat bersungut-sungut.
"Awas nanti jika dia kembali, aku harus menginterogasinya. Jangan sampai dia menyukai si keong racun itu. Aku pun harus memberikan hukuman pada My hubbiy karena menyuruh Dave untuk pergi bersama mantan kekasihnya itu. Akan tetapi, kira-kira hukuman apa yang pantas untuk suamiku yang seperti malaikat itu. Aaarhh ... kenapa aku merasa sangat bersalah jika sampai memberi hukuman padanya?"
Queen berkali-kali menggelengkan kepalanya, "Tidak boleh, aku tidak boleh menghukum My hubbiy yang malang. Bahkan dia sudah disia-siakan oleh ibu kandungnya, masa aku mau berbuat jahat lagi padanya. Tidak, lebih baik aku tidak membahasnya. Oke, masalah ditutup sampai di sini. Karena aku hanya ingin hidup bahagia bersama suamiku."
__ADS_1
Setelah puas berargumen dengan diri sendiri cukup lama, Queen kembali berkonsentrasi untuk melihat foto-foto masa kecil dari suaminya. Bahkan ada foto-foto saat masa-masa SMA dan dilihatnya sahabat suami serta seorang gadis yang dulu pernah ia datangi pesta pernikahannya ada di foto tersebut.
"Oh ... ternyata benar, mereka bersahabat sejak SMA. Gadis ini memang terlihat sangat menempel pada My hubbiy, dasar gadis kecentilan." Karena merasa tidak suka dengan foto tersebut, Queen mengambil gambar itu dari tempatnya dan merobek bagian foto gadis yang pernah menyukai suaminya. "Tidak boleh ada foto 1 wanita pun tersimpan di sini! Rasanya itu membuatku langsung terbakar saja."
Dan di saat yang bersamaan, Aditya masuk ke dalam kamar. Tentu saja ia bisa melihat tangan istrinya yang memegang foto yang sudah tinggal setengah itu. "Sayang, kamu ngapain? Kenapa merobek foto itu?"
"Oh ini?" ucap Queen dengan santainya. "Aku tidak suka ada foto wanita lain di sini. Jadi, aku merobeknya."
"Astaghfirullah ... kalau begitu jangan buka album foto yang satunya lagi!" ucap Aditya yang sudah mengambil album foto satunya di mejanya dan menaruhnya di belakang tubuhnya.
Queen mendelik tajam dan merasa sangat curiga melihat gelagat dari suaminya yang sudah menyembunyikan album foto di belakang tubuhnya. "Kenapa memangnya? Apakah di album foto itu ada foto-foto para wanita mantan kekasihmu?"
"Bukan," jawab Aditya seraya menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu, biarkan aku melihatnya!" Queen mengarahkan tangannya ke depan suaminya.
"Jangan, Sayang. Nanti kamu merobek semua foto ini," sahut Aditya dengan tatapan penuh permohonan.
"Sebenarnya foto siapa yang My hubbiy sedang sembunyikan? Apakah foto-foto si keong racun," gumam Queen dengan bersungut-sungut di dalam hati.
TBC ...
__ADS_1