Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Ada-ada saja ulah istriku


__ADS_3

Ririn dan Dewi baru saja tiba di rumah dengan beberapa paper bag yang berada di tangannya. Keduanya langsung melempar paper bag berisi pakaian kerja yang dipegangnya ke lantai. Tidak lupa beberapa umpatan keluar dari mulut mereka yang mengabsen semua isi kebun binatang. Keduanya benar-benar terlihat sangat frustasi karena merasa sangat kesal dengan kejadian di butik.


Dewi menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas sofa dan langsung menyandarkan kepalanya yang dari tadi seperti mau pecah saja karena menahan amarah yang sudah naik ke ubun-ubun. Ia kemudian menoleh ke arah sahabatnya yang juga baru saja duduk di sebelahnya.


"Nona muda arogan itu dulu emaknya mengidam apa sebenarnya? Bagaimana mungkin ada wanita se-menyebalkan seperti dirinya. Astaga, aku benar-benar ingin menghancurkan sifat arogan dan suka sewenang-wenang itu."


Ririn yang sudah mulai bisa mengontrol emosi yang dirasakan olehnya semenjak diperlakukan seenaknya oleh nona muda yang menurutnya sangat berlagak dan memuakkan. "Kamu tenang saja, Dewi. Sebentar lagi, keangkuhan dan kesombongan dari nona muda arogan itu akan langsung musnah setelah aku berhasil menjebak suaminya. Kalau semakin dilihat, pria itu sangat tampan dan membuatku penasaran."


Dewi menoleh ke arah Ririn yang saat ini tengah menikmati camilan keripik kentang, refleks ia merebut makanan ringan itu dan ikut memakannya. "Apa rencanamu untuk tuan muda Aditya? Sepertinya dia lebih mudah ditaklukkan, karena sangat lembut orangnya. Berbeda dengan tuan muda Arthur yang sepertinya gampang-gampang susah."


Ririn menaikkan kedua kakinya dan duduk bersila di atas sofa untuk menghadap ke arah Dewi. Jari telunjuknya mengarah ke beberapa paper bag yang berserakan di lantai.


"Nona muda arogan itu sudah melindungi diri dengan cara membelikan kita semua pakaian kerja konyol itu. Dia memang bilang itu sebuah hadiah, tetapi jika melihat seleranya, aku benar-benar mau muntah. Apakah kita harus memakai pakaian itu ke kantor setiap hari?"


Dewi mengikuti arah telunjuk sahabatnya dan ikut-ikutan merasa kesal, "Iya, aku pun sangat kesal. Apes bener nasib kita hari ini, karena bertemu dengan nona muda arogan itu. Dia jadi membelikan pakaian kantor untuk kita. Rok panjang dan ada celana panjang juga seperti seorang bodyguard saja. Astaga, bagaimana kita bisa membuat 2 pria itu melihat kita jika penampilan kita sangat konyol?"


Ririn menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan dari Dewi, "Akan tetapi, aku jadi punya rencana."


"Rencana apa?" tanya Dewi yang sudah menatap intens wajah sahabatnya dengan sorot mata penuh pertanyaan.


Dewi berdehem beberapa saat, kemudian mulai mengeluarkan suaranya. "Ehem ... jadi begini, Dewi. Sekarang kita berpura-pura untuk menjadi pegawai teladan yang rajin dan berpenampilan sopan di hadapan semua orang. Tentu saja kita cari kepercayaan orang dulu lah. Setelah semua orang mempercayai kita, baru kita bertindak menghancurkan mereka. Semua butuh perencanaan yang matang, jadi kita atur rencana sebaik-baiknya agar tidak sampai gagal."


Dewi menaikkan kedua alisnya karena tengah berpikir keras agar mendapatkan persetujuan dari bosnya. "Aku punya bos, jadi aku harus bertanya tentang hal ini kepadanya dulu."

__ADS_1


"Bilang saja pada bosmu bahwa keluarga Raharja sudah memasang tameng cukup kuat, jadi kamu sedang berusaha mencari kelemahan mereka. Jika bosmu adalah orang yang cerdas, pasti mengetahui bahwa kekuasaan keluarga Raharja tidak main-main. Bahkan bisa langsung mengirim kita ke penjara jika sedikit saja melakukan kesalahan. Sudah sana, hubungi bosmu dulu. Aku akan memasak untuk makan siang kita," ucap Ririn yang bangkit dari sofa dan berjalan meninggalkan sahabatnya yang terlihat sangat galau.


Akhirnya Dewi membuka tasnya dan meraih ponsel yang ada di sana. Kemudian menghubungi bosnya agar mau bersabar dan tidak terburu-buru agar mendapatkan hasil yang memuaskan.


*******


Queen dan Aditya sudah tiba di Mansion Raharja pukul 14.00 WIB. Karena merasa perutnya sangat lapar, membuat Queen langsung mengajak sang suami pergi ke ruang makan untuk melakukan ritual makan siang. Sedangkan Mansion terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang mengerjakan tugasnya masing-masing.


"Kenapa Mansion sangat sepi, di mana Mommy dan Ayah?" tanya Dave dengan mengedarkan pandangannya ke segala sudut Mansion. Namun, tidak menemukan sosok yang dicarinya.


"Sepertinya Mommy pergi ke tokonya karena merasa bosan di Mansion dan siapa tahu ayah ikut bersamanya. Bukankah kamu bisa menghubungi ayah, My hubbiy." Queen sudah mendaratkan tubuhnya di atas kursi setelah mencuci tangan di wastafel. Kemudian mencomot ayam goreng di atas meja dan menikmatinya.


Aditya menganggukkan kepala dan mulai menghubungi nomor ayahnya. Setelah beberapa saat menunggu, terdengar suara dari pria yang sangat disayanginya tersebut mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, Putraku."


"Oh, Ayah sedang bersama besan di Qisya bakery. Ayah lupa bilang kalau ingin bekerja, rasanya menganggur itu tidak enak. Karena itulah besan menawarkan bekerja sebagai kepala di tokonya. Karena kebetulan yang bekerja di sini baru saja mengundurkan diri."


"Harusnya Ayah menghabiskan masa tua dengan beristirahat saja. Buat apa bekerja, aku bisa memberikan uang pada Ayah."


"Bukan masalah uang, tetapi Ayah bosan. Anggap saja Ayah sedang berolahraga untuk melemaskan otot-otot kaki yang sudah kaku, Aditya."


"Baiklah, Ayah. Jika Ayah tetap memaksa, aku tidak akan bisa menolaknya. Yang penting Ayah berhati-hati dan jika merasa lelah, beristirahat saja. Assalamualaikum.

__ADS_1


"Iya, Putraku. Wa'alaikumsalam."


Aditya kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan beralih menatap ke arah sang istri yang sudah menikmati ayam goreng. "Sayang, kamu harus pakai nasi kalau makan. Jangan cuma ayam saja, karena sekarang kamu tidak lagi sendiri."


Queen yang masih sibuk mengunyah ayam goreng, menunggu hingga ia menelannya. "Itu karena aku sedang menunggumu, My hubbiy."


"Oh ... jadi kamu mau disuapi lagi?" tanya Aditya dengan tersenyum tipis.


Queen refleks bangkit dari kursinya, "Ayo, ikut aku, My hubbiy."


Tanpa protes dan lebih seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, Aditya pun berjalan mengekor di belakang sang istri yang sudah berjalan ke arah dapur. "Kamu mau apa di dapur, Sayang?"


"Tentu saja memasak lah, memangnya orang ngapain kalau ke dapur?"


"Apa? Istriku mau memasak? Mimpi apa kamu semalam, Sayang? Kamu baik-baik saja, kan?" Aditya sudah mengarahkan tangannya ke arah kening Queen dan beralih ke keningnya. "Sepertinya normal, tidak ada yang aneh."


Queen refleks langsung mencubit perut dengan ABS kotak-kotak yang sangat disukainya, "Iish ... apa-apaan sih, My hubbiy. Bukan aku yang akan memasak, tapi suamiku. Aku tiba-tiba ingin makan masakanmu."


"Astaghfirullah, bahkan di meja makan sana banyak terhidang aneka jenis makanan. Akan tetapi, kamu malah ingin aku memasak?"


"Iya, aku ingin makan ayam saus pedas dengan siraman saus keju di atasnya seperti dulu. Aku sangat suka. Sekarang My hubbiy buat ya, nanti anak kita ngences gimana kalau tidak dituruti?" tanya Queen yang sudah melingkarkan tangannya di perut berotot itu saat berdiri di depan Aditya, "Akan tetapi, aku sambil begini."


Aditya yang merasa sangat terkejut dengan tingkah dari sang istri yang memeluknya erat dari belakang, menundukkan kepala untuk menatap ke arah tangan yang melingkar di perutnya.

__ADS_1


"Ada-ada saja ulah istriku. Bagaimana aku bisa memasak jika dia memelukku seperti ini," gumam Aditya di dalam hati.


TBC ...


__ADS_2