Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Hadiah spesial


__ADS_3

Sosok wanita yang tengah menggerakkan tubuhnya di atas ranjang, terlihat beberapa kali mengerjapkan matanya saat menatap langit-langit kamar dan saat kesadarannya sudah kembali sepenuhnya, ia melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 09.10 WIB.


"Sudah jam 9 lebih rupanya. Dave tidak berpamitan padaku saat berangkat ke kantor. Apa suamiku tidak tega untuk membangunkan aku karena tadi tidur? Suamiku sangat pengertian sekali, aku jadi makin cinta sama dia. Kalau kata si nona muda, my hubbiy. Menurutku itu terlalu lebay, tetapi jika suamiku selalu romantis dan baik seperti ini, aku jadi ingin memanggilnya my hubbiy juga. My hubbiy, Dave."


Sabrina terkekeh geli saat merasa konyol setelah ikut-ikutan memanggil sang suami seperti istri dari mantan kekasihnya. Bahkan ia kini sudah seperti orang gila saja karena tertawa sendiri di dalam kamar.


Hingga ia yang merasa suasana kamar begitu sepi tanpa suara dari putranya, ia bangkit dari ranjang dan kaki jenjangnya melangkah ke arah pintu keluar untuk mencari keberadaan dari putra semata wayangnya yang sama sekali tidak ia perhatikan dari pagi.


"Kenapa sangat sepi? Di mana Arya?" Sabrina yang sudah menuruni anak tangga, mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling untuk mencari keberadaan bocah laki-laki berusia 2 tahun itu. Namun, ia mendengar suara tawa dari putranya dari arah depan.


"Sepertinya Arya ada di depan bersama mama." Meraba tenggorokannya dan ia pun berjalan ke arah dapur untuk mengambil air minum di dalam kulkas, mengambil 1 botol air mineral dan menaruhnya di atas meja makan. Karena merasa sangat lapar, ia mengambil piring dan mulai mengisinya dengan nasi dan juga sayuran, serta lauk pauk.


Melihat sayur asem-asem Jakarta dan ikan laut, membuat air liurnya langsung membasahi tenggorokan dan cacing-cacing di perutnya pun sudah berteriak minta jatah. "Sepertinya nikmat sekali. Masakan bibik memang sangat enak. Ternyata memiliki seorang asisten rumah tangga itu benar-benar meringankan bebanku. Kenapa tidak dari dulu aku memperkerjakan orang. Malah sok-sokan jadi superwoman segala. Dasar bodoh!"


Sabrina menepuk jidatnya berkali-kali saat merutuki kebodohannya. Puas menyalahkan diri sendiri, ia berjalan ke depan untuk melihat putranya yang sama sekali tidak mencarinya dari tadi.


Namun, begitu ia sudah berada di teras rumah, keningnya mengerut saat melihat sosok gadis belia yang tengah asyik bermain bersama dengan putranya. Dan di sisi kanan, ada sang mama yang tengah tersenyum menatap cucunya bermain.


Sabrina buru-buru berjalan menghampiri wanita yang sangat disayanginya tersebut dengan tangan masih membawa piring berisi makanannya.

__ADS_1


"Mama, siapa gadis yang bermain bersama dengan Arya?" Mendaratkan tubuhnya di sebelah sang mama dan menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulutnya.


Wanita paruh baya tersebut hanya geleng-geleng kepala saat melihat perbuatan putrinya yang selalu makan di sembarang tempat dari dulu.


"Meskipun sudah menikah, sikapmu sama sekali tidak pernah berubah, Sabrina. Seharusnya kamu makan dulu di dalam, baru ke sini."


"Mama mulai lagi deh. Pagi-pagi jangan mengomel karena aku sedang tidak enak badan, jadi jangan membuat mood aku langsung turun deh." Sabrina mengarahkan tangannya pada gadis yang terlihat tertawa ceria bersama putranya. "Itu siapa, Ma? Kenapa putraku terlihat sangat senang sekali bersamanya. Bahkan ada aku di sini, sama sekali tidak menghiraukan kedatanganku."


"Oh ... itu, dia adalah putri dari Bik Ijah."


"Siapa itu Bik Ijah? Kenapa anak bik Ijah ada di sini? Sabrina bertanya sambil mengunyah makanannya dan memperhatikan putranya.


Sabrina yang masih mengunyah makanannya, refleks langsung tersedak makanan yang berada di mulutnya. Tenggorokannya terasa panas dan ia pun langsung meraih botol air mineral yang tadi dibawanya dan meneguknya hingga tersisa separuh.


"Astaghfirullah, kalau mau makan baca bismillah dulu." Menepuk-nepuk bahu putrinya yang sudah selesai minum.


Merasa sudah jauh lebih baik, Sabrina menatap tajam sosok gadis belia yang terlihat tengah tertawa bersama putranya. "Apa Mama bilang? Mau menyuruh anak kecil itu menjaga putraku? Mama tidak salah? Astaga, apa jadinya putraku dan juga suamiku nanti. Nggak ... nggak, aku tidak setuju. Lebih baik Mama suruh dia pergi sekarang saja, daripada aku yang mengusirnya sendiri."


"Sabrina, apa maksudmu? Bukankah gadis itu bisa membuat Arya tertawa ceria seperti itu? Lagipula ini hanya sementara sampai Bik Ijah sembuh dari sakitnya. Dia sedang flu batuk dan belum bisa bekerja untuk menjaga Arya."

__ADS_1


"Jadi, dia menyuruh putrinya untuk menggantikannya. Kasihan dia, karena sangat membutuhkan pekerjaan ini. Jadi, Mama tidak tega mencari orang lain," ucap wanita yang saat ini tengah menatap ke arah cucunya bermain mobil-mobilan pemberian dari sang nona muda sebagai permohonan maaf karena ulah Princess yang memukuli Arya.


Sabrina yang masih tetap pada pendiriannya, sama sekali tidak tertarik untuk mendengarkan perihal orang lain. Karena ia saat ini hanya memikirkan tentang keutuhan rumah tangganya.


"Aku tidak setuju dengan rencana, Mama. Pokoknya nanti ajak gadis itu pulang. Lebih baik aku yang menjaga putraku sendiri daripada harus menyerahkannya pada gadis di bawah umur itu. Bisa-bisa, dia nanti malah menggoda suamiku, lagi. Oh ya, apa Dave tadi tahu kalau Mama membawa gadis itu?"


"Jadi, kamu mencurigai Ani akan menggoda Dave dan menjadi duri dalam daging di rumah tanggamu? Kenapa kamu malah parno melulu. Apa hamil, membuatmu menjadi sensitif dalam menanggapi semua hal seperti ini? Baiklah, Mama akan mengajaknya pulang jika kamu tidak setuju. Tadi Dave pun bilang seperti itu pada Mama dan mengatakan agar Ani pulang sebelum dia kembali dari kantor."


Sabrina yang awalnya merasa sangat murka, begitu mendengar penjelasan panjang lebar dari mamanya, refleks amarah yang menguasai dirinya langsung padam. Bagai api yang langsung tersiram air.


"Benarkah, Ma? Tadi suamiku berkata seperti itu?" Masih dengan mata membulat, Sabrina merasa sangat terkejut dengan penuturan dari sang mama.


Wanita paruh baya tersebut menganggukkan kepala dan menjewer telinga putrinya. "Memangnya Mama pernah berbohong padamu? Karena itulah, kamu harus percaya pada suamimu dan berbaktilah padanya dengan menjadi istri yang baik dan jangan mengomel melulu padanya."


Dengan meringis, Sabrina memegangi daun telinganya yang mungkin sudah berubah merah atas perbuatan mamanya. "Iya ... iya, Ma. Aku akan ingat pesan Mama. Jadi Mama jangan khawatir. Akan tetapi, aku benar-benar tidak menyangka jika suamiku berkata seperti itu. Padahal tadinya aku berpikir bahwa dia tidak menolak dan menyetujui rencana Mama. Ternyata suamiku benar-benar luar biasa."


"Malam ini, aku akan memberikannya hadiah spesial karena benar-benar membuktikan cintanya padaku," gumam Sabrina yang merasa sangat bahagia memiliki sosok suami pengertian dan sangat mencintainya. Hingga mau menuruti apapun yang diperintahkannya.


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2