Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Terpaksa


__ADS_3

Setelah berbicara panjang lebar dengan calon besannya, Abymana dan Qisya berpamitan pada pria yang masih terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang.


"Kalau begitu kami pamit pulang dulu. Semoga Anda segera sembuh dan bisa berjalan dengan normal kembali. Karena itu adalah impian bagi putri saya, dia selalu ingin menyembuhkan orang-orang yang bermasalah pada tulangnya. Karena itulah dia mengambil jurusan spesialis Podriatis," ucap Abymana dengan mengulurkan tangannya.


Boby Syaputra menyambut uluran tangan dari orang terkenal itu, "Terima kasih Aby, aku sama sekali tidak pernah menyangka jika putraku akan mempunyai seorang istri dokter spesialis tulang terbaik di rumah sakit. Bahkan calon menantuku sudah membantu saat operasi kemarin, Aditya yang mengatakannya hari ini."


Qisya melirik ke arah putrinya yang tengah sibuk dengan ponselnya, "Putriku memang sangat menyukai pekerjaannya ini yang bisa menyembuhkan semua orang, apalagi dia lebih senang jika di panggil dengan Dokter Queen daripada Nona muda dari keluarga Raharja."


"Bahkan sekarang pun bisa di lihat kalau saat ini dia sibuk menjawab pertanyaan dari para pasien yang bertanya padanya di sosial media miliknya yang selalu membahas tentang kesehatan tulang. Semua itu dia lakukan sebagai wujud ungkapan syukurnya atas kesembuhannya yang dulu sempat mengalami cacat."


"Cacat? Nona muda Queen pernah cacat?" tanya Aditya yang merasa sangat terkejut dengan perkataan dari calon mertuanya.


"Dulu saat masih bayi, karena aku pernah mengalami kecelakaan saat mengandung Queen. Dengan usaha keras dari Daddy nya dan juga tidak berhenti berdoa, akhirnya Queen bisa berjalan normal. Dan tidak sampai menjadi gadis yang cacat," jawab Qisya pada sang menantu.


Abymana menepuk bahu kokoh Aditya, "Baiklah, kami pergi dulu! Biar Queen menemanimu disini, dan satu lagi Aditya, kamu pulang ke Mansion saja. Jadi besok kita sama-sama pergi ke rumah sakit untuk melakukan Ijab Qabul, kamu harus berlatih dulu. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan besok! Biar para perawat khusus yang nanti aku tugaskan untuk menjaga Ayahmu!"


Beralih menatap ke arah Boby Syaputra, "Apakah kamu tidak keberatan jika malam ini putramu tinggal di rumah kami?"


Pria paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak, lagipula putraku memang harus beristirahat dengan tenang sebelum melakukan acara sakral besok pagi. Agar pikirannya lebih fresh dan tidak terlalu stres dan capek, sehingga besok bisa mengucapkan Ijab Qabul dengan lancar.


"Sebenarnya tidak masalah Yah, aku bisa tidur disini dan ganti pakaian disini. Insya Allah aku bisa dengan lancar mengucapkan kalimat Ijab Qabul besok," jawab Aditya dengan sangat yakin.


Boby Syaputra menggelengkan kepalanya, dan memegang tangan putranya tersebut, "Turuti saja apa kata mertua dan menantumu putraku! Semua ini demi kebaikanmu juga!"


Akhirnya dengan terpaksa Aditya menuruti permintaan dari calon mertua dan Ayahnya tersebut, "Baiklah Yah, Tuan Abymana, aku akan menuruti semua perintah dari kalian. Kalau begitu saya antar ke depan."

__ADS_1


"Hari ini kamu boleh memanggilku seperti itu, tapi mulai besok kamu harus memanggilku Ayah atau Daddy seperti Queen, dan juga Mama atau Mommy pada Istriku. Apa kamu mengerti Aditya?"


"Mengerti Tuan Aby, saya akan memanggil Papa dan Mama saja. Karena kalau memanggil Daddy dan Mommy rasanya itu sangat aneh di telinga saya. Harap maklum, lidah orang miskin seperti saya ini bisa keseleo jika memanggil seperti panggilan orang luar itu," jawab Aditya dengan tangan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa sangat kikuk.


Abymana hanya terkekeh menanggapi perkataan polos dari menantunya tersebut, "Queen sudah terbiasa hidup di Amerika, karena itulah dia terbiasa mendengar sebutan orang luar. Jadi ia mempraktekkannya saat dia kembali ke Jakarta, awalnya memang sangat aneh di dengar. Akan tetapi, karena kini sudah terbiasa, membuat kami sudah biasa mendengarnya. Kamu tidak perlu mengantar kami, temani saja Ayahmu!"


Aditya menganggukkan kepalanya dan melihat mertuanya mulai berjalan keluar dari ruangan kamar bersama dengan Queen yang terlihat menekuk wajahnya karena di suruh menemaninya di rumah sakit. Karena ingin memberikan sebuah kesempatan untuk sang Nona muda itu berbicara pada orang tuanya, membuat Aditya tidak mengikuti tiga orang yang sudah keluar dari ruangan kamar perawatan.


Sementara itu di luar ruangan kamar perawatan, Queen yang berwajah masam langsung mengungkapkan nada protesnya pada pria yang tadi mengungkapkan perintahnya.


"Dad, kenapa aku harus di sini sih? Aku mau ikut pulang , tapi malah Daddy menyuruhku untuk disini. Aku ingin istirahat Dad, bukankah aku besok akan menikah? Jadi aku perlu beristirahat untuk merilekskan pikiranku."


Abymana hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar rungutan dari putrinya tersebut, "Kamu harus belajar bersikap dewasa dan sopan pada orang lain Queen, khususnya kepada orang tua. Dan semua itu bisa kamu mulai dari Ayah mertuamu, hormati dia seperti kamu menghormati Daddy dan Mommy. Karena setelah menikah nanti, orang tua dari suamimu juga menjadi orang tuamu."


Merasa sangat bosan dengan berbagai petuah yang selalu di katakan oleh orang tuanya yang berakhir menyebutkan demi kebaikannya, membuat Queen merasa sangat kesal dan mengumpat di dalam hatinya.


Kebaikan ... kebaikan apa? Ini semua bukan demi kebaikanku, tapi demi keegoisan Daddy dan Mommy. Karena jika ini memang demi kebaikanku, tidak mungkin aku merasa sangat kesal dan kecewa seperti ini. Menyebalkan sekali.


"Baiklah ... baiklah, aku akan menuruti perintah Daddy dan Mommy. Demi kebaikanku kan? Kalau begitu sebaiknya Daddy dan Mommy cepat pergi dari sini! Aku akan masuk ke dalam, untuk belajar menghormati orang tua yang akan menjadi Ayah mertuaku."


Terpaksa aku bilang seperti ini, padahal sebenarnya aku sangat mual.


"Baiklah, sebaiknya kamu masuk saja Sayang!! Temani calon suamimu di dalam!!" Abymana dan Qisya sama-sama mengibaskan tangannya setelah menyuruh putrinya itu untuk masuk ke dalam ruangan perawatan. Kemudian melangkah pergi meninggalkan putrinya.


Sementara itu Queen mengamati siluet dari orang tuanya yang sudah menghilang di koridor rumah sakit. Kemudian dirinya tidak berhenti menghembuskan nafas kasarnya, "Saatnya sandiwara di mulai." Membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan, dan di lihatnya Aditya tengah menyuapi sang Ayah.

__ADS_1


Karena ingin menuruti perintah dari orang tuanya, membuat Queen dengan terpaksa melangkahkan kakinya yang jenjang ke arah dua pria tersebut, lalu menyunggingkan senyumannya. "Biar aku saja yang menyuapi Ayah, kamu duduk saja di sana!" Queen mengarahkan dagunya ke arah kursi yang berada di sebelah kanan ranjang.


Merasa sangat terkejut dengan perubahan tiba-tiba dari wanita yang akan di nikahinya itu, membuat Aditya yang merasa agak kebingungan hanya menuruti perkataan dari sang Nona muda arogan itu. Akhirnya dirinya langsung bangkit dari kursi dan menyerahkan piring yang di pegangnya kepada Queen.


"Kamu serius ingin menyuapi Ayahku?"


Queen menatap jengah ke arah Aditya karena merasa sangat kesal dengan pertanyaan dari pria tersebut, "Tentu saja serius, memangnya aku pernah bercanda?"


Terpaksa bodoh ... jadi jangan kepedean. Harusnya kamu mengerti mana yang pura-pura dan mana yang sesungguhnya.


Aditya hanya menggelengkan kepalanya, dan mengamati wanita yang sudah mulai menyuapi Ayahnya.


Ternyata Queen kalau sedang bersikap lembut seperti ini terlihat sangat manis. Seandainya Queen selamanya seperti ini, dia pasti akan lebih terlihat seperti wanita normal dan tidak menakutkan.


***Bersambung ...


Jangan lupa like, vote dan komentar positif ya!


Terima kasih


Love You All 💜💜


Salam Sayang dari Dianning***


terlihat tengah menyuapi sang Ayah, sedangkan Queen yang sibuk di bermain ponselnya di sofa sama sekali tidak memperdulikan dua pria yang terlihat sedang berbicara itu.

__ADS_1


__ADS_2