
Queen baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual membersihkan diri mulai dari ujung kepala hingga kaki. Tentu saja dengan handuk kecil yang melilit di rambut basahnya, dan kimono berwarna pink kesukaannya, membalut tubuhnya yang ramping dengan kulit bersih seputih susu. Saat ia hendak merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size miliknya, suara dari kenop pintu yang diputar dari luar, menandakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamar.
Dan sudah bisa dipastikan bahwa orang yang masuk adalah pria dengan tubuh sixpack berwajah tampan yang sedang menjinjing tas kerjanya sudah tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana perasaan Ayah saat tinggal di Mansion ini, My hubbiy? Betah kan? Ayah tidak mengatakan sesuatu yang bersifat negatif bukan?"
Aditya meletakkan tas kerjanya di atas meja yang berada di sudut ruangan dengan beberapa deretan buku-buku yang merupakan milik sang istri. Tentu saja itu adalah buku-buku kedokteran yang merupakan aset berharga dan merupakan barang kesayangan wanita cantik tersebut. "Pertanyaanmu itu terkesan seperti sebuah sindiran atau kekhawatiran, Sayang?"
Queen menerima jas yang baru saja dilepas dari tubuh sang suami. "Mana ada sindiran, aku benar-benar merasa sangat khawatir jika Ayah tidak suka tinggal di sini. Karena mungkin rumah baru selesai dibangun sekitar 1 bulanan, itu tadi kata Dave yang bertanya pada arsiteknya."
Aditya mendaratkan tubuhnya di dekat sang istri dan aroma wangi khas strawberry dirasakan oleh indera penciumannya. "Wangi sekali, Sayang. Bolehkah aku menciummu?" Menghembuskan napasnya di depan wajah yang sudah berubah merona itu.
"Issh ... apa-apaan sih, dasar genit. Aku bicara apa, malah ngomongin apa. Mandi sana, bau banget sampai ke sini." Queen sudah berakting menutup hidungnya seraya mengibaskan tangannya untuk menyuruh Aditya segera beranjak dari ranjang. Namun, bukannya seperti yang diharapkannya, karena pria yang sangat dicintainya itu malah merebahkan kepalanya di pundaknya dan memeluk erat tubuhnya.
"Sebentar saja, Sayang." Melingkarkan tangannya di perut datar sang istri yang terdiam saat dipeluknya. "Terima kasih."
Queen menahutkan kedua alisnya, "Untuk?"
__ADS_1
"Untukmu yang sudah mengkhawatirkan Ayah dan menyayangi Ayahku. Ayah tadi memang mengatakan padaku bahwa Mansion ini terlalu indah dan membuatnya merasa tidak nyaman. Menurutnya, lebih enak tinggal di rumah sendiri meskipun hanya sebuah gubuk reyot. Akan tetapi, bukan berarti Ayah tidak suka tinggal di sini. Kamu mengerti kan maksudku, Sayang?" tanya Aditya yang masih belum membuka kedua matanya.
"Tentu saja aku mengerti dan bisa memahami Ayah, karena memang lebih nyaman tinggal di rumah sendiri. Kalau masalah aku menyayangi Ayah, itu memang sudah merupakan kewajiban seorang menantu pada mertuanya, bukan? Apalagi sekarang ini Ayah hidup sendiri tanpa memiliki seorang istri. Apa Ayah tidak ada rencana untuk menikah lagi? Biar ada yang menemani masa tuanya dan juga teman saat tinggal di rumah sendiri."
Aditya membantah perkataan dari wanita yang dipeluknya, "Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi, karena Ayah sangat mencintai almarhumah Ibu. Bagiku dan bagi Ayah, tidak ada wanita yang bisa se-sabar dan se-baik almarhumah. Bahkan aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau sampai saat ia meninggal, beliau bukanlah ibu kandungku. Kasih sayang yang begitu luar biasa saat membesarkan aku, sama sekali tidak memperlihatkan bahwa ia bukanlah wanita yang melahirkan aku."
"Dan ternyata wanita yang merupakan ibu kandungmu adalah seorang wanita yang sama sekali tidak mempunyai perasaan. Ingatlah itu baik-baik di pikiranmu, My hubbiy. Jangan goyah dengan keputusanmu saat melihat air mata buaya Ibu kandungmu besok, oke!" Queen mengarahkan jari kelingkingnya kepada sang suami yang sudah melepaskan pelukannya di perutnya.
"Insyaallah," jawab Aditya yang menahutkan jari kelingkingnya pada jari Queen yang menggantung di udara cukup lama tersebut. "Apakah besok kamu juga ikut ke pengadilan?" Seraya melepaskan satu persatu kancing kemejanya.
"Tentu saja aku harus ikut, karena aku tidak ingin suamiku terbujuk rayuan dari ibu kandung yang seperti ibu tiri itu. Mereka tidak akan berani saat aku dan Daddy ada di sisimu, My hubbiy." Queen menelan salivanya saat Aditya sudah melepaskan kemeja berwarna peach itu dari tubuh berotot yang menampilkan ABS berbentuk kotak-kotak yang seolah membuat air liurnya menetes.
"My hubbiy tenang saja, aku bisa mengatasinya. Lagipula besok hanya duduk menunggu saja, aku tidak akan capek. Sudah sana mandi, aku mau turun ke bawah untuk melihat apakah keponakan-keponakanku yang lucu sudah tiba atau belum." Queen bangkit dari ranjang, berniat untuk segera pergi meninggalkan pria yang bertelanjang dada di sebelahnya.
"Jika aku tidak segera pergi, bisa-bisa nanti aku khilaf saat melihat tubuh seksi My hubbiy. Kenapa tubuhnya sangat seksi dan sempurna. Dengan sekuat tenaga aku menahan tanganku agar tidak meraba otot perut yang menggoda imanku," batin Queen yang berlalu pergi meninggalkan sang suami penggoda iman.
Aditya yang belum sempat berkomentar apa-apa, merasa aneh saat melihat sang istri seperti menghindarinya. Refleks ia menahan tangan Queen untuk menahannya. "Tunggu, Sayang."
__ADS_1
"Apa lagi?" tanya Queen yang tidak berniat menoleh ke belakang karena posisinya kini tengah membelakangi sang suami.
"Bukankah seharusnya kamu menyiapkan pakaian suamimu dulu sebelum pergi? Atau kamu menyuruhku untuk mengambilnya sendiri?"
"Baiklah, aku akan menyiapkannya. Kamu mandi dulu sana!" Tanpa berniat menatap wajah tampan dari suaminya, Queen berjalan ke arah walk in closet. Namun, lagi-lagi ia merasa sangat terkejut saat tangannya ditarik dari belakang hingga tubuhnya terpental ke dada bidang polos Aditya. "Astaghfirullah, apa-apaan sih My hubbiy?"
"Kenapa aku merasa kamu mengindariku dari tadi?" ucap Aditya yang sudah mengunci tubuh ramping sang istri dengan tangannya yang melingkar di pinggang. "Bahkan kamu lupa mengganti pakaianmu saat akan keluar dari kamar. Ingat pesanku ini, Sayang! Saat kamu memutuskan untuk menutup aurat, itu berarti hanya suamimu yang boleh melihatnya. Jadi, saat keluar dari kamar, kamu harus memakai hijab. Karena di Mansion ini ada banyak orang."
"Lain ceritanya kalau kita hanya tinggal berdua, kamu bisa berpakaian seksi atau hanya memakai lingerie saat berjalan-jalan di dalam rumah. Telanjang pun tidak apa-apa, karena para suami lebih suka istri tidak memakai selembar kain pun di tubuh wanita halalnya daripada memakai pakaian indah dengan harga yang sangat mahal," bisik Aditya dengan senyuman menyeringai.
"Issh ... nakal," ucap Queen dengan sangat kesal dan akhirnya ia mencubit roti sobek yang dari tadi menggodanya. "Aku jadi gemas kan jadinya." Tanpa membuang waktu, Queen langsung meraup bibir tipis sang suami untuk menciumnya.
Namun, di saat yang bersamaan, pintu tiba-tiba terbuka lebar dan terdengar suara teriakan dari 2 balita kembar berusia 4 tahun dan juga sang adik yang berusia 3 tahun itu menghambur masuk.
"Aunty ... Aunty ...."
Refleks Queen melepaskan tangannya dari tubuh sixpack sang suami dan juga menjauhkan wajahnya. Bahkan kini wajahnya sudah berubah merah karena merasa sangat malu ketahuan berbuat mesum di depan keponakannya.
__ADS_1
"Yah, Aunty Queen ketahuan berbuat nakal pada Uncle ya, Sayang-sayangku yang manis," ejek Aditya pada sang istri dan sudah tersenyum pada 3 balita lucu dan menggemaskan tersebut.
TBC ...