
Dave terlihat baru saja keluar dari kamar mandi setelah menyelesaikan ritual mandinya, begitu bulir keringat di tubuhnya mulai mengering. Karena ia sangat menjaga kesehatan dan tahu bahwa mandi saat tubuh penuh keringat itu tidak baik untuk kesehatan. Sehingga ia memilih untuk bersantai dahulu tadi sebelum mandi. Alhasil, kini sudah jam 06.40 WIB dan dirinya masih belum berangkat dari Mansion untuk pergi ke bandara atau pun ke rumah Sabrina.
Itu karena ia masih belum bisa memutuskan untuk pergi menjemput Dewi atau ke rumah Sabrina. Dave mulai memakai pakaian kerjanya dan sesekali melirik ke arah jam di dinding. Waktu terus berjalan dan jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Karena ia sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya, kini ia meraih ponselnya di atas nakas dan menghubungi seorang pengawal di keluarga Raharja.
"Pergilah ke bandara dan jemput gadis yang telah mendonorkan darahnya pada Tuan muda!"
Tanpa menunggu jawaban dari pengawal yang dihubunginya, Dave memutuskan sambungan telepon dan beralih mengetik sebuah pesan.
Aku tidak bisa datang karena tiba-tiba ada urusan penting. Temui saja aku nanti di kantor, karena presdir hari ini datang terlambat. Jadi, kamu bisa mengerjakannya nanti di perusahaan.
Setelah selesai menulis pesan, Dave langsung menekan tombol kirim. "Aah ... akhirnya aku tidak pusing lagi memikirkan 2 wanita tidak penting itu." Dave berdiri di depan kaca berukuran besar untuk melihat penampilannya yang sudah rapi memakai setelan jas lengkap berwarna biru dan dasi berwarna hitam. Ia mengingat akan perkataan dari tuan mudanya di ruangan kamarnya.
"Tuan muda memang benar, aku harus melupakan cinta terlarang ini dan mulai membuka hati pada wanita lain. Kira-kira Dewi dan Sabrina lebih baik mana ya?" Di saat yang bersamaan, suara dering ponselnya membuat Dave merogoh kantong celananya untuk meraih ponselnya.
Bisa dilihatnya nama si penelepon yang tak lain adalah Sabrina sudah menghubunginya begitu membaca pesan darinya. Tanpa membuang waktu, ia menggeser tombol hijau ke atas dan refleks langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya begitu mendengar suara teriakan dari Sabrina yang mengomel.
"Halo pria berengsek, apa kau tahu bahwa arti janji adalah sebuah utang. Dan utang harus dilunasi, jadi cepat datang ke rumahku sekarang juga untuk memenuhi janjimu yang bilang akan membantuku!"
Dave baru saja mau membuka mulutnya untuk menjawab kalimat beruntun dari Sabrina, tapi sambungan telepon langsung terputus begitu saja. "Dasar wanita bar-bar," umpat Dave yang merasa kesal dan geram saat melihat panggilan telepon yang sudah dimatikan sepihak.
__ADS_1
"Janji adalah utang dan harus ditepati," ucap Dave yang sudah memijat pelipisnya karena merasa pusing dan bersalah begitu mendengar makian dari Sabrina. Jika aku harus menepati janjiku yang tidak aku sadari, bukankah aku harus menjemput Dewi juga di bandara? Apakah aku perlu membelah diriku agar bisa memenuhi janjiku pada mereka berdua."
"Bahkan aku belum mempunyai kekasih, tapi aku sudah dipusingkan oleh 2 wanita. Apa yang harus aku lakukan?" Dave mengarahkan bola matanya pada mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. Setelah mengetahui apa yang harus dilakukannya, Dave buru-buru meraih tas kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan pribadi.
Karena ia bekerja di perusahaan, membuatnya diberikan fasilitas mobil oleh sang tuan besar. Agar memudahkannya saat pergi jika ada urusan mendadak. Dave sudah memegang kunci mobil dan berjalan ke arah Mansion untuk berpamitan pada semua orang. Namun, ia bertemu dengan sang nona muda di ruangan tamu dan terlihat tengah asyik menikmati buah strawberry di tangannya.
"Nona muda, semua orang ada dimana?"
"Ada di kamarnya masing-masing untuk pergi mandi, sedangkan My hubbiy sedang membuatkan susu untukku. Tumben kamu pagi-pagi sekali sudah rapi, rajin amat," ucap Queen yang mengamati penampilan dari mantan pengawal pribadinya yang terlihat sudah rapi dan gagah.
"Eh ... itu Nona, saya harus menjemput Dewi di bandara. Semalam dia menghubungi saya agar menjemputnya. Karena jam 7 pagi, pesawat tiba di bandara. Dan juga ...." Dave ragu-ragu untuk menceritakan mengenai janjinya pada Sabrina juga.
"Kenapa tidak diteruskan bicaranya, Dave?" sahut Aditya yang baru saja datang dari dapur sambil membawa susu coklat khusus ibu hamil sesuai permintaan dari sang istri yang khusus ingin dibuatkan olehnya. Karena tidak ingin pelayan yang membuatkan susu untuknya.
"Iya, benar sekali. Dan utang harus dilunasi, bukankah kamu sudah tahu itu? Karena kamu bukan lagi seorang anak-anak dibawah umur, Dave. Pergilah dan tepati janjimu!" ucap Aditya tanpa berpikir terlebih dahulu dalam menjawab pertanyaan dari Dave.
"Wah ... sungguh luar biasa," ejek Queen yang sudah bertepuk tangan setelah mengerti kegelisahan dari pria yang baru diketahuinya mencintainya. "Selamat, Dave."
"Selamat untuk apa, Nona muda?" tanya Dave dengan sorot mata penuh pertanyaan setelah mendengar kalimat ambigu dari wanita yang masih belum bisa dilupakannya.
__ADS_1
"Selamat, sebentar lagi sepertinya kamu akan mempunyai 2 istri," ucap Queen seraya tertawa terbahak-bahak. "Atau kamu mau pilih salah 1 diantara mereka? Aku sudah tidak memusingkannya, atau pun memaksamu untuk mau menerima Dewi."
"Semuanya aku kembalikan padamu yang akan menjalaninya. Pergilah, lebih baik kamu menjemput Sabrina dulu di rumahnya dan bisa membantunya dalam perjalanan menuju ke bandara untuk menjemput Dewi. Siapa tahu pesawat yang ditumpangi Dewi terlambat datang, dan membuatmu tidak terlambat menjemputnya."
"Saya tidak akan mempunyai 2 istri, Nona muda. 1 saja mungkin akan bikin pusing, apalagi 2. Dan ide dari Anda sangat cocok, membuat saya terhindar dari dosa. Terima kasih atas sarannya, Nona muda. Mengenai siapa yang nantinya akan menjadi istri saya, biarkan waktu yang menjawabnya. Kalau begitu saya permisi berangkat dulu Tuan dan Nona muda." Dave membungkuk hormat pada pasangan suami istri yang sedang duduk berdampingan di depannya.
"Hati-hati di jalan, Dave," jawab Aditya seraya menganggukkan kepalanya.
"Kamu bawa supir saja, Dave. Biar memudahkanmu untuk membantu Sabrina nanti. Kenapa sekarang aku tidak memanggilnya keong racun ya," ujar Queen dengan terkekeh.
"Alhamdulillah kalau begitu, Sayang. Itu berarti kamu bisa berdamai dengannya dan menghilangkan benih-benih kebencian di dalam hatimu," jawab Aditya seraya tersenyum pada sang istri yang membuatnya merasa sangat lega.
"Akan tetapi, jangan menyuruhku untuk berteman dengan mantan kekasihmu itu. Karena aku tidak akan pernah mau menurutinya," rengut Queen dengan muka masamnya.
"Aku tidak akan menyuruhmu melakukan hal yang tidak sesuai dengan hatimu, Sayang. Jadi kamu tenang saja." Aditya memberikan susu coklat yang ada di atas meja. "Nih, minum dulu susunya, biar adem hatinya."
"Iissh ... apaan sih, memangnya hatiku panas apa," ujar Queen dengan bersungut-sungut seraya meraih gelas berisi susu khusus ibu hamil itu dan mereguknya perlahan.
Dave yang tidak mau berlama-lama melihat interaksi wanita yang dicintainya bersikap manja pada suaminya, membuatnya buru-buru melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti dan segera pergi dari sana. "Baik, Nona muda. Saya akan menyuruh supir untuk mengantarkan saya. Sekali lagi terima kasih," ucap Dave yang sudah berlalu pergi meninggalkan ruangan tamu yang sangat luas tersebut dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
"Sabar Dave, kamu pasti bisa melupakan cintamu yang bertepuk sebelah tangan," gumam Dave yang berjalan ke arah mobil.
TBC ...