
"Baiklah, aku tidak akan lagi mempermasalahkannya. Sekarang lanjutkan ceritamu mengenai tadi!"
Aditya menatap ke arah wanita yang sudah duduk di sofa yang sudah menunggu penjelasannya. Untuk menenangkan perasaannya, Aditya membaca basmalah di dalam hati dan mulai membuka suaranya.
"Ooh ... itu, sebenarnya aku adalah ...."
"Tunggu!" Queen mengarahkan tangannya ke arah depan, seolah ingin menghentikan pria di depannya itu. "Apa yang kamu katakan itu, kira-kira kabar baik atau buruk?"
"Entahlah Queen." Aditya menggelengkan kepalanya.
"Kok Entahlah sih! Bukannya kamu yang tahu apa yang ingin kamu sampaikan? Jadi, bagaimana mungkin kamu tidak tahu apa yang ingin kamu sampaikan adalah kabar baik atau buruk?"
"Karena yang bisa menilai apa yang akan aku katakan ini adalah kabar baik dan buruk hanyalah dirimu, Queen. Aku tidak tahu."
"Aneh. Baiklah, lanjutkan saja apa yang ingin kamu katakan itu."
Aditya menganggukkan kepalanya dan mulai membuka suaranya. "Sebenarnya, ini adalah kenyataan yang sebenarnya mengenai tentang diriku. Aku ingin jujur padamu kalau aku sebenarnya adalah seorang pria yang normal. Aku bukan Gay, tapi aku adalah pria sejati, Queen."
Perkataan dari pria di depannya itu, membuat Queen merasa sangat terkejut dan membulatkan kedua matanya. Pada awalnya dirinya sangat bersorak kegirangan di dalam hati. Namun, saat membayangkan bahwa dirinya telah ditipu mentah-mentah oleh pria yang masih menatapnya dengan tatapan intens itu, membuatnya benar-benar merasa sangat bodoh.
Sorot matanya kini berubah merah penuh kilatan amarah, refleks dirinya bangkit berdiri dari sofa dan berjalan mendekati pria di depannya. Tangannya melayang ke atas dan berniat menampar pria yang telah membohonginya. Namun, dirinya merasa bahwa menampar suami adalah perbuatan yang salah.
Hingga ia dengan sekuat tenaga menahan diri dan meluapkan amarahnya dengan mencerca banyak pertanyaan pada Aditya.
__ADS_1
"Jadi, kamu menganggap aku adalah seorang yang bodoh? Karena itulah kamu membohongiku, begitu? Atau kamu ingin bermain-main denganku?"
"Astaghfirullah ... sama sekali tidak pernah terbersit niat buat buruk di pikiranku, padamu Queen. Aku hanya ingin membuatmu tidak merasa malu setelah kamu berbuat di luar batas saat minum obat perangsang. Hanya itu, percayalah padaku! Aku sama sekali tidak menganggapmu bodoh, karena aku tahu kamu adalah seorang wanita yang sangat cerdas."
Aditya berlutut di bawah kaki wanita yang menjulang di depannya, meraih pergelangan tangan itu dan mengungkapkan permohonan maafnya dengan setulus hati.
"Queen, maafkan aku. Aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman saat berada di dekatku. Aku tahu apa yang aku lakukan ini sangat salah dan tidak bisa dimaafkan, tapi percayalah padaku! Aku hanya ingin kita bisa saling membuka hati kita masing-masing. Kita adalah suami istri dan aku ingin membuat istriku merasa nyaman dan aman saat bersamaku. Aku mencintaimu istriku, maukah kamu menerimaku sepenuhnya sebagai suamimu?"
"Aku akan melakukan apapun untuk bisa mendapatkan maafmu. Jadi, katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkan aku!"
Hati Queen mendadak seperti tersiram air es saat melihat perbuatan dan kata-kata romantis dari pia yang masih berlutut di hadapannya. Saat ini sebenarnya dirinya ingin bersorak-sorai dan berjingkrak kesenangan begitu mendengar kalimat romantis dari Aditya.
Karena seumur hidup, baru kali ini ada seorang pria tampan yang berhasil meluluhkan hatinya dengan kalimat romantis yang dari dulu selalu membuatnya merasa muak karena menganggapnya hanya bualan semata.
Gila ... Aditya berlutut di bawah kakiku saat mengharapkan ampunanku. Gokil ini namanya. Bagaimana aku bisa marah jika dia bersikap seromantis ini padaku. Akan tetapi, aku tidak akan semudah itu memaafkan perbuatannya yang telah membohongiku. Ini menyebalkan sekali, jadi aku harus menghukumnya dulu.
"Baiklah, aku akan memikirkannya. Apakah aku memaafkanmu atau tidak, karena aku belum memikirkan apa yang harus kamu lakukan. Jadi, aku perlu memikirkan hukumanmu terlebih dahulu."
"Aku mau mandi. Gara-gara perbuatan gilamu tadi, aku jadi mandi 2 kali." Queen berpura-pura sangat kesal dan berjalan meninggalkan pria yang masih berlutut di lantai itu. Kaki jenjangnya mulai melangkah keluar dari ruangan ganti tersebut dan langsung berjalan cepat menuju ke arah kamar mandi.
Buru-buru ia menguncinya dan menyalakan shower. Bukan untuk berdiri di bawah guyuran air shower, namun dirinya terlihat berjingkrak-jingkrak kesenangan mengungkapkan kebahagiaan yang hari ini dirasakannya.
"Yes ... yes ... yes, Aditya ternyata laki-laki tulen. Suamiku bukan Gay, tapi dia adalah pria normal yang baru saja memohon-mohon padaku untuk menerimanya sebagai suamiku. Akhirnya ketakutanku selama ini musnah sudah. Cintaku sudah terbalaskan, kisah cintaku tidak akan berakhir tragis dan akan berakhir bahagia."
__ADS_1
Selama beberapa menit, Queen bersorak kegirangan. Tanpa disadarinya, Aditya saat ini sedang berdiri di samping pintu dan bisa mendengar suaranya dari luar.
Sudut bibir Aditya melengkung ke atas saat mendengar suara kebahagiaan dari wanita yang berada di dalam kamar mandi.
Istriku benar-benar sangat menggemaskan. Dia adalah seorang gadis arogan namun mempunyai sifat malu-malu kucing dan tidak berani menunjukkan sifatnya yang sebenarnya. Aku harus mengimbanginya, agar dia merasa nyaman saat bersamaku.
Setelah asyik bergumam di dalam hatinya, Aditya berjalan ke arah ranjang dan menunggu hingga sang istri tercinta keluar dari ruangan kamar mandi. Beberapa menit kemudian, terlihat Queen keluar dengan rambut basahnya dan memakai kimono handuk berwarna merah.
Aditya seketika bangkit dari ranjang dan berjalan ke arah kamar mandi. Saat ia bersinggungan dengan Queen, ia mengeluarkan suaranya.
"Queen, cepat ganti bajunya. Aku tidak ingin melihatmu telanjang lagi di ruang ganti dan membuatmu mandi untuk yang ketiga kalinya."
Permukaan kulit wajah Queen seketika langsung merona begitu Aditya menggodanya dengan kalimat ambigu bernada vulgar.
"Astaga, dia benar-benar ya! Rasanya aku ingin mencubit perutnya saat ini juga! Sayangnya dia sudah masuk ke dalam kamar mandi. Tidak mungkin kan aku menyusulnya ke kamar mandi."
Dan di saat dirinya baru saja menutup mulutnya, Aditya membuka pintu kamar mandi. "Queen, aku tidak mengunci pintu kamar mandi. Kalau kamu mau masuk, jangan ragu!"
Sontak saja Queen langsung merasa sangat malu saat Aditya menggodanya. "Apa-apaan sih, cepat mandi sana! Siapa juga yang mau masuk, menyebalkan!"
Karena merasa sangat malu, Queen memalingkan wajahnya dan buru-buru melangkahkan kakinya ke arah ruangan ganti.
Sedangkan Aditya hanya terkekeh melihat sikap malu-malu dari sang istri.
__ADS_1
TBC ...