Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Kamu harus bangun


__ADS_3

Reynaldi yang terhuyung ke belakang langsung mengusap bibirnya yang sudah robek dan keluar darah. Wajahnya sedikit meringis kesakitan saat merasakan perih di bibirnya. Dengan tatapan penuh pertanyaan, ia ingin meminta penjelasan dari pria yang sudah dianggapnya abangnya sendiri.


"Pemanasan? Apa maksudmu Brother? Kenapa memukulku?"


Begitu pun dengan Queen yang merasa sangat terkejut dengan ulah dari saudaranya. Meski sebenarnya dia sangat menyukainya, karena merasa sangat senang bisa melihat pria yang dibencinya itu merasakan pukulan dari saudaranya.


"Kamu sangat luar biasa Brother, tapi kenapa kamu memukulnya? Apa kamu juga muak pada playboy sialan ini?"


Tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan dari 2 orang yang sama-sama merasa sangat penasaran akan perbuatannya, Arthur mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah rekaman percakapan dari ponsel Reynaldi yang sudah disadap oleh pihak IT Perusahaan Raharja setelah Papanya menyuruh polisi menyisir area sekitar Pantai Kuta dan menemukan saksi kunci dari pelaku penusukan Aditya.


Arthur menekan tombol play dan mulai memperdengarkan suara dari Reynaldi yang memberikan perintah pada anak buahnya untuk menghabisi adik iparnya. Dan juga suara rekaman dari wanita yang tak lain adalah Ibu Reynaldi dan juga Aditya.


Wajah pucat pasi langsung terlihat dari permukaan kulit Reynaldi begitu kejahatannya ternyata telah diketahui oleh keluarga Raharja. Tentu saja saat ini dirinya merasa sangat takut dan kebingungan. Ia berniat untuk melarikan diri dari tempat itu. Namun, beberapa pengawal yang berada di sekelilingnya telah menghalangi jalannya.


"Mati aku, sekarang aku sudah seperti berada di kandang singa dan tidak bisa kemana-mana saat singa mau memangsaku habis. Shit!" batin Reynaldi.


Sementara itu, wajah Queen sudah berubah merah padam begitu mendengar percakapan dari manusia berwujud iblis di depannya. Dengan tangannya yang sudah mengepal, Queen berjalan penuh kemurkaan dan ingin menghajar habis-habisan Reynaldi.


"Pegangi iblis ini, aku ingin menghabisinya!" teriak Queen dengan tatapan sangat tajam.


Dan seperti yang diperintahkan oleh sang nona muda, para pengawal langsung memegangi tangan Reynaldi.


"Queen, stop!" Suara tegas Abymana memecah suasana ricuh di depan ruangan operasi itu.


"Astaga, apa lagi Dad? Aku ingin menghabisi iblis yang telah membuat suamiku meregang nyawa di dalam ruang operasi," rengut Queen dengan sangat kesal pada Daddy-nya karena telah menghentikan perbuatannya.


"Jika Aditya melihat sikapmu yang bar-bar ini, dia pasti akan merasa sangat kecewa, Queen! Jadi, berhentilah dan temani suamimu yang akan dipindahkan ke ruang perawatan," ucap Abymana seraya menunjuk ke arah dokter yang baru saja membuka ruangan operasi. Sedangkan dibelakangnya ada beberapa perawat yang sudah mendorong brankar pasien.

__ADS_1


Refleks Queen mengurungkan niatnya untuk memberikan pelajaran pada Reynaldi dan menghambur ke arah suaminya yang terbaring tidak sadarkan diri. Kemudian, ia langsung bertanya pada dokter yang menangani operasi pria yang sangat dicintainya itu.


"Bagaimana keadaan suami saya saya Dokter? Dia sudah melewati masa kritisnya bukan?" Queen yang serius bertanya pada sang dokter langsung berjenggit kaget saat mendengar suara pukulan keras dari saudaranya yang dengan brutal menghajar Reynaldi.


Tentu saja Queen menyunggingkan senyumnya lebar begitu melihat kejadian yang sangat memuaskan hasratnya yang tadi ingin menghabisi Reynaldi.


"Bagus Brother, habisi iblis itu. Jangan biarkan dia lolos sebelum babak belur," teriak Queen dengan wajahnya yang sangat berbinar karena merasa sangat puas melihat adegan itu.


Dan para tim dokter serta perawat akhirnya ikut menonton adegan kekerasan yang dilakukan oleh pewaris tahta keluarga Raharja yang merupakan orang penting di rumah sakit itu. Karena pemilik rumah sakit adalah sahabat dari pemilik Perusahaan Raharja.


Seolah dokter melupakan jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh sang nona muda karena asyik menonton pria tampan yang menghajar pria yang tak kalah tampannya.


Arthur awalnya tersenyum saat menatap wajah ketakutan dari Reynaldi, lalu ia berjalan mendekat dan memberikan kode kepada pengawalnya untuk melepaskan tangan pria itu.


"Lawan aku sebelum aku menghabisimu Rey!"


"Kalau begitu nikmati saja hadiahmu!"


Setelah mengucapkan kalimat ambigu, Arthur yang sudah mengepalkan tangannya mulai berjalan cepat ke arah Reynaldi dan tanpa membuang waktu, tangannya sudah mendarat pada wajah tampan itu. Dan suara dentuman keras terdengar saat berkali-kali pukulan melayang pada wajah, perut, kaki Reynaldi yang sama sekali tidak berani melawan.


Arthur yang duduk di atas tubuh Reynaldi, seolah benar-benar sangat emosi saat menghajar habis-habisan pria yang telah berani mengusik ketenangan salah satu anggota keluarganya. Bogem mentahnya berkali-kali mendarat di wajah tampan itu.


"Ini adalah hukumanmu karena berani berpikir untuk menghancurkan hidup adikku. Lain kali aku akan benar-benar menghabisimu jika sampai kamu melakukannya lagi!"


Suara tepuk tangan dari Queen serta suara kegirangan darinya membuat semua orang menoleh ke arahnya.


"My Brother is the best. Aku sangat menyayangimu saudaraku!"

__ADS_1


Sementara itu, Dewi yang baru saja keluar dari ruangan operasi setelah beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaganya, merasa terkejut dengan kejadian di depannya. Di mana pria tampan yang sangat dikaguminya telah mengeluarkan sikap machonya saat menghajar pria yang tadi dilihatnya.


Dan saat dirinya fokus melihat ke arah depan, pandangannya dihalangi oleh pria yang merupakan salah satu orang kepercayaan nona muda.


Dave yang tadinya melirik sekilas ke arah Dewi langsung berjalan ke arah depan wanita itu untuk menghalangi pandangan wanita yang diketahuinya sangat mengagumi ketampanan dari tuan mudanya.


Dewi menepuk bahu pria yang menghalangi pandangannya. "Tolong Anda minggir Tuan! Anda menghalangi pandangan saja!"


Tanpa memperdulikan keluhan dari gadis di belakangnya, Dave tetap tidak bergeming dari posisinya.


"Astaga," ucap Dewi seraya menampilkan wajah masam dan beralih berjalan ke arah samping kiri agar bisa melihat wajah tampan pria yang dikaguminya.


Namun, itu hanya berlangsung sebentar saja karena Dave kembali berada di hadapannya untuk menghalangi pandangannya. Namun, kali ini ia mulai mengeluarkan kalimat tegas bernada ancaman.


"Lupakan Tuan muda Arthur, atau nyawamu melayang di tangan istrinya!"


Dewi langsung menelan salivanya begitu mendengar kalimat bernada ancaman menohok dari pria di depannya. Akhirnya dengan putus asa, ia menjawab perkataan dari Dave. "Iya Tuan, saya akan mencatatnya di otak saya."


Queen yang mendengar suara dari Dewi langsung mengalihkan perhatiannya kepada gadis yang menyelamatkan nyawa suaminya. "Dewi, kamu sudah tidak pusing lagi kan? Astaga, aku sampai lupa!" Beralih menatap ke arah sang dokter. "Bagaimana keadaan suami saya Dokter?"


"Keadaan suami Anda masih belum melewati masa kritis Nona muda Queen. Karena luka tusukan tadi sangat dalam dan berhasil menembus ke area vital. Akan tetapi, kami sudah melakukan yang terbaik. Kita tinggal menunggu suami Anda melewati masa kritisnya."


Tentu saja Queen merasa sangat khawatir pada suaminya begitu mendengar penjelasan dari dokter. Kini, tatapan matanya beralih menatap ke arah Aditya yang masih berbaring tidak sadarkan diri itu.


"My hubbiy, aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai kamu tidak bangun. Aku akan sangat membencimu. Kamu harus bangun untuk memberikan sebuah pelajaran pada adik tirimu yang berengsek itu! Atau aku akan membunuh adikmu dengan tanganku!"


TBC ...

__ADS_1


__ADS_2