Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Bagai buah simalakama


__ADS_3

Saat Aditya baru saja membuka dokumen yang sudah menghiasi mejanya, ia memikirkan sesuatu hal yang terlintas di pikirannya dan sangat menganggu.


"Aku belum pernah melihat istriku makan coklat selama 3 tahun ini. Jangan-jangan, dia tidak suka coklat dan malah akan membuangnya ke tempat sampah. Tidak jadi membuat istriku senang, tetapi bisa-bisa malah membuat dia kesal. Lebih baik aku tanyakan dulu padanya."


Meraih ponsel miliknya yang ada di meja dan mulai mengirimkan pesan pada sang istri yang mungkin sudah sibuk bekerja.


Sayang, kamu suka coklat, nggak? Tiba-tiba aku pengen makan coklat dan nanti mau beli.


Setelah memencet tombol kirim, Aditya kembali menaruh ponsel miliknya di atas meja. Sambil menunggu pesannya dibalas, ia kembali berkutat dengan pekerjaannya. Karena jam sudah menunjukkan waktu kerja, sehingga ia tidak menelfon Queen yang mungkin sudah sibuk memeriksa pasien.


Ia sangat tahu kalau sang istri sangat disiplin dan selalu bertanggungjawab. Tidak mengatasnamakan keluarganya yang merupakan pemilik dari rumah sakit. Sehingga tidak pernah berbuat sesukanya dan menganggap hanya seorang dokter biasa yang harus mengikuti aturan di tempat bekerja.


Sekitar 1 jam, Aditya sibuk bekerja dan beberapa saat kemudian, suara notifikasi terdengar. Dan ia buru-buru memeriksanya, berharap bahwa sang istri yang menjawab pesannya.


Dan benar saja, senyumannya mengembang saat membaca jawaban dari sang istri yang mengatakan suka coklat. Akan tetapi, sama sekali tidak pernah makan karena mempunyai kenangan pahit.


Aku mau, My hubbiy. Belikan aku, karena aku memang sudah lama tidak makan coklat. Dulu daddy Azriel sering membelikan aku coklat dan aku lama tidak membelinya karena takut mengingatnya. Namun, sekarang aku sudah tidak takut lagi karena My hubbiy ada di sisiku.


"Oh ... jadi ini alasannya kenapa istriku tidak pernah makan coklat. Setelah 3 tahun, aku baru tahu kenyataan ini. Ternyata ada banyak rahasia-rahasia kecil dari istriku tentang pria yang dulu sangat dicintainya."

__ADS_1


Mendadak Aditya jadi mengingat tentang sebuah hal yang tadi membuatnya penasaran dan sang istri pun belum bercerita padanya. "Kira-kira apa yang tadi dimaksud oleh istriku? Mengenai janji abang Arthur pada mama. Tidak mungkin aku bertanya pada abang."


Baru saja Aditya menutup mulut, pintu ruangan kerjanya terbuka dan dilihatnya sosok pria tampan dengan postur tinggi itu telah masuk ke dalam ruangannya. Sehingga refleks ia mengeluarkan suaranya.


"Panjang umur."


Arthur yang baru saja melangkah masuk, mengerutkan kening saat mendengar suara dari adik iparnya. "Aku memang akan panjang umur. Terima kasih atas doanya, adik ipar."


"Eh ... itu, Bang. Tadi aku baru saja memikirkan tentang Abang dan tiba-tiba sudah datang ke ruanganku. Apalagi kalau bukan panjang umur?" ucap Aditya dengan terkekeh.


Menunjuk ke arah dirinya, Arthur yang berjalan semakin mendekat, mendaratkan tubuhnya di sofa. "Memikirkan aku? Bukannya memikirkan Queen, malah aku? Memangnya kamu kenapa memikirkan aku?"


Arthur membuka ponselnya dan mulai menunjukkan pada Aditya. "Kamu nanti wakili aku menemui rekan bisnis kita di restoran. Aku sakit kepala dan sangat malas untuk pergi. Sebenarnya hanya undangan makan siang saja dan tidak penting. Karena itulah aku menyuruhmu untuk menemuinya. Masalah mengenai janji, itu hanyalah hal sepele yang sudah lama aku lupakan."


"Baiklah, kalau begitu nanti aku saja yang pergi. Abang istirahat saja di sini. Memangnya hal sepele itu apa? Maaf jika aku sangat ingin tahu, karena sudah terlanjur merasa penasaran atas kata-kata dari Queen tadi."


Arthur hanya menghela napas panjang saat merasakan sebuah beban berat di pikirannya. "Aku dulu pernah berjanji pada mama kalau aku hanya pergi untuk sementara, karena mengkhawatirkan anak-anakku yang masih kecil saat tinggal di Mansion. Dulu aku takut mereka akan naik turun tangga dan mengalami kecelakaan."


"Jadi, aku membeli rumah lantai satu untuk mencegah hal yang sangat ditakutkan oleh istriku. Sebenarnya itu pun hanya menjadi sebuah alasan, karena istriku ingin tinggal di rumah sendiri. Tidak menjadi satu dengan papa dan mama. Kamu tahu, kan kalau istriku itu sangat kasar dan suka mengomel. Jadi, aku selalu menuruti apapun keinginannya. Termasuk tinggal di rumah sendiri, karena ia tidak suka tinggal bersama mertua. Katanya, lebih nyaman hidup di rumah sendiri."

__ADS_1


Aditya yang dari tadi mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Arthur, kini mulai mengerti akan perasaan dari saudaranya tersebut. Namun, ia pun merasa tidak berhak ikut campur mengenai urusan rumah tangga Arthur. Sehingga niatnya hanyalah ingin memberikan sebuah support saja.


"Sepertinya Abang saat ini benar-benar sedang dilema. Lebih baik Abang bicarakan ini dulu pada istri secara pelan-pelan. Siapa tahu kakak ipar mau pindah ke Mansion. Lagipula, anak-anak juga sudah besar dan ada banyak pelayan yang nanti akan membantu mengawasi Adhitama dan Adhinata."


Arthur menggelengkan kepala, seolah tidak membenarkan perkataan dari adik iparnya tersebut. "Sepertinya itu tidak akan pernah terjadi. Yang ada, baru aku ngomong satu kata, istriku sudah langsung mengomel dari Jakarta hingga Bandung. Karena itulah sekarang kepalaku pusing sekali. Rasanya ini seperti pepatah 'Bagai buah simalakama'." Memijat pelipisnya saat bersandar di punggung sofa.


"Aku bisa mengerti apa yang Abang rasakan. Sepertinya kali ini aku tidak bisa membantu." Aditya hanya mengamati wajah kuyu yang terlihat jelas sedang banyak pikiran itu.


"Kasihan sekali dia, seorang suami yang dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat. Antara ibu dan istri, itu adalah sebuah pilihan yang sulit. Aku pun pasti akan merasa sangat bingung untuk memutuskan. Apalagi istriku pun sifatnya begitu," batin Aditya di dalam hati.


Arthur beralih menatap ke arah Aditya, "Kamu bantu aku untuk berbicara pada istriku. Siapa tahu setelah dia mendengar ceramahmu, berhasil mengubah pikirannya. Bagaimana Aditya, bantu aku untuk menasehati istriku yang selalu menang sendiri itu, ya! Tolonglah abangmu yang sedang berada dalam masalah ini."


Aditya refleks membulatkan kedua matanya begitu mendengar permintaan dari Arthur. "Astaghfirullah, Bang. Aku tidak berhak ikut campur dalam urusan pribadi rumah tangga, Abang. Ini di luar kuasaku."


"Please, Aditya. Istriku sering memujimu, siapa tahu saat kamu berbicara dengannya, dia berubah pikiran dan setuju kembali ke Mansion. Begini saja, nanti kalian sepulang kerja, mampir sebentar ke rumah dengan alasan apa, gitu." Arthur menatap ke arah Aditya dengan sorot mata penuh pengharapan.


Sedangkan Aditya yang kini gantian pusing karena diseret ke dalam masalah rumah tangga iparnya.


"Apa yang harus aku lakukan? Di satu sisi aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi rumah tangga mereka, tetapi di sisi lain, aku tidak tega melihat dia memasang wajah memelas seperti itu. Sekarang pepatah itu beralih kepadaku, 'Bagai buah simalakama.'"

__ADS_1


TBC ...


__ADS_2