Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Adegan panas


__ADS_3

Reynaldi hanya tersenyum tipis menanggapi kemurkaan sang nona muda yang sangat membuatnya tertarik. Karena sikap arogan dari Queen malah membuat jiwa kelelakiannya bangkit dan membuat rasa penasarannya semakin memenuhi jiwanya.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat atas pernikahanmu dan memberikan kado ini. Jadi, aku mohon terimalah!"


"Kamu benar-benar tidak sopan mendatangi kamar hotel saat aku sedang berduaan dengan suamiku. Baiklah, aku menerimanya agar kamu segera pergi dari sini. Sekarang pergilah! Jangan mengganggu acara malam pertamaku!" sarkas Queen dan mengibaskan tangannya setelah meraih kotak hadiah itu dari tangan pria yang sangat dibencinya.


Dan disaat yang bersamaan, terdengar suara bariton dari pria yang daritadi ditunggunya. Sontak saja senyuman mengembang tampak jelas di wajah Queen.


"Assalamualaikum," ucap Aditya yang sudah berada di dekat pria yang dianggapnya mengganggu istrinya. "Mohon maaf, Anda siapa? Bukan saya bermaksud untuk mengusir Anda, tapi tidak baik seorang pria mendatangi wanita yang sudah berstatus istri orang. Apalagi ini di hotel dan kami baru saja menikah."


"Saya tidak ingin ada sebuah fitnah yang menimpa keluarga kami. Jadi, saya harap Anda segera pergi dari sini!" ucap Aditya dengan kalimatnya yang sangat sopan, berharap pria di depannya itu tidak merasa tersinggung atas pengusirannya.


Reynaldi langsung mengulurkan tangannya pada pria yang sangat dibencinya, karena telah merebut wanita cantik yang sebenarnya akan dinikahkan dengannya.


"Reynaldi, maafkan aku. Karena aku telah mengganggu acara kalian, tapi aku ingin mengatakan padamu kalau aku adalah calon suami pertama dari Queen. Sedangkan kamu adalah perebut dari wanita yang akan aku nikahi. Menurutmu, bagaimana perasaanmu saat calon istrimu direbut oleh pria lain?"


"Apakah kamu akan bersikap sepertiku, atau kamu langsung bersikap begini?"


Tak membuang waktu lama, Reynaldi langsung mengarahkan tinjunya pada wajah pria yang sangat dibencinya. Dan tentu saja senyum mengembang tampak jelas di wajahnya saat berhasil membuat wajah pria di depannya itu langsung lebam dan keluar darah di sebelah sudut bibirnya.


Aditya yang terhuyung beberapa langkah ke belakang akibat wajahnya yang mendapat serangan tiba-tiba dari pria yang bernama Reynaldi itu, langsung meraba sudut bibirnya sebelah kanan yang sedikit robek.


Merasa mengerti dengan duduk permasalahannya, Aditya yang sedikit meringis kesakitan itu mengeluarkan suaranya untuk menanggapi kemurkaan pria yang saat ini tengah tersenyum menyeringai ke arahnya.


"Kalau begitu, anggap saja pukulan darimu ini adalah sebuah hutang yang sudah aku bayar. Karena aku tahu bahwa Istriku tidak menginginkanmu dan lebih memilih menikah denganku. Akan tetapi, aku benar-benar minta maaf, karena telah membuatmu kehilangan wanita yang sangat kamu inginkan untuk kamu nikahi."


Sedangkan Queen yang sangat terkejut atas sikap kasar dari Reynaldi pada Aditya, refleks langsung mengeluarkan umpatannya. "Kamu benar-benar pria brengsek, Rey! Nasib baik aku tidak menyetujui perjodohan itu, karena aku akan sangat menyesal jika sampai menikah denganmu."


"Aku akan menyuruh pengawalku mengusirmu dari sini, karena aku sangat muak melihatmu."

__ADS_1


"Queen, jangan bersikap kasar seperti itu! Kamu adalah seorang wanita, tidak baik berbicara sekasar itu," ucap Aditya yang berusaha untuk menasehati sang istri yang sudah dikuasai oleh amarah itu.


Reynaldi refleks langsung bertepuk tangan begitu melihat interaksi antara pasangan pengantin baru itu dan tersenyum menyeringai saat mengungkapkan kalimat ejekannya.


"Ternyata selera dari seorang nona arogan adalah seorang pria lemah gemulai seperti ini. Astaga ... bahkan dia sangat cocok untuk menjadi seorang perempuan. Mungkin kau sangat cocok untuk menjadi pasangan para pria Gay!"


"Baiklah, selamat menikmati masa-masa indah kalian berdua! Aku pergi."


Sontak saja perkataan dari pria yang sudah berjalan meninggalkan mereka, membuat Queen langsung ber-sitatap dengan Aditya. Kemudian ia langsung menarik pergelangan tangan Aditya dan mengajaknya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, lalu melempar kado di tangannya ke tempat sampah.


"Apakah si brengsek itu tahu kalau kamu adalah seorang Gay?"


"Tidak ada yang tahu selain kamu, Queen. Sepertinya Reynaldi hanya asal bicara," jawab Aditya.


Merasa sangat tidak puas mendengar jawaban dari Aditya, hanya ditanggapi Queen dengan tatapan penuh selidik. "Benarkah? Rasanya sangat aneh saat mendengar si brengsek itu berbicara seperti itu tadi."


"Kamu juga, kenapa kamu tadi hanya diam saja saat Rey memukulmu? Harusnya sebagai seorang laki-laki, kamu bisa bersikap tegas agar terlihat lebih macho dengan cara memukulnya untuk membalasnya."


"Seandainya tadi aku membalas perbuatan calon suami pertamamu itu dengan gantian memukulnya, mungkin kami berdua akan sama-sama berakhir di penjara dengan wajah dan badan yang terluka. Apakah menurutmu, itu bisa menyelesaikan masalah?"


Kini gantian Queen yang menggelengkan kepalanya dan mengendikkan bahunya. "Akan tetapi, paling tidak si brengsek itu tidak akan merendahkanmu. Kenapa di sini malah aku yang merasa emosi, sedangkan kamu yang dihajar oleh Rey malah santai-santai saja."


"Mungkin karena kamu sudah mulai mencintaiku, Queen!" ucap Aditya yang menampilkan lesung pipinya saat tersenyum pada wanita yang sudah duduk di sebelahnya.


Perkataan dari Aditya benar-benar membuat permukaan kulit wajah Queen langsung merona seperti buah tomat. Untuk membuang rasa gugupnya, ia refleks meninju lengan kekar pria yang membuatnya sangat malu.


"Jadi, kamu berharap aku jatuh cinta pada seorang pria Gay? Aku tidak ingin sakit hati lagi, karena tidak mendapatkan balasan atas cinta. Sudahlah, aku sangat capek. Aku ingin tidur."


Queen mencoba mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura sudah mengantuk. Lalu, ia bangkit dari kursi dan berniat berjalan ke arah ranjang. Namun, tangannya ditahan oleh Aditya, sehingga ia menolehkan kepalanya menatap wajah pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.

__ADS_1


"Tunggu, Queen! Kamu tadi menyuruhku untuk segera kembali, memangnya ada apa? Apa karena ada Reynaldi? Dan apa maksud perkataanmu barusan? Apakah kamu ada kemungkinan mencintaiku, dan kamu sangat khawatir kalau aku tidak mungkin bisa membalas cintamu?" tanya Aditya dengan tatapan sarat makna yang mengharapkan sebuah jawaban dari wanita yang masih diam membisu di depannya.


Mendapatkan pertanyaan dari pria yang sudah berhasil membuatnya merasa lemah itu, tentu saja membuat Queen saat ini merasa sangat kebingungan untuk menjawab.


Hening untuk beberapa saat. Hingga setelah Queen bisa mengendalikan dirinya, ia pun refleks langsung mengeluarkan suaranya.


"Bukankah kamu sekarang adalah suamiku? Jadi, kamu tidak boleh berkeliaran sesukamu di luar tanpa seijinku! Karena itu akan mencemarkan nama baikku.


"Lalu?" tanya Aditya yang belum merasa puas dengan jawaban dari wanita yang masih intens ditatapnya.


Queen mengernyitkan keningnya. "Lalu apa?"


"Pertanyaanku yang kedua belum kamu jawab kan? Yang kamu takut sakit hati."


"Lupakan, itu tidak penting!" ketus Queen dan berniat melepaskan genggaman tangannya dari Aditya. "Lepaskan tanganku, aku mengantuk."


"Baiklah, tidurlah Queen! Aku akan tidur di sofa ini," jawab Aditya yang menepuk sofa empuk yang didudukinya.


"Kenapa harus tidur di situ? Tidur saja di ranjang! Lagipula, aku percaya kamu tidak akan macam-macam padaku."


Mungkin malah aku yang akan berbuat macam-macam padamu. Sial ... kenapa aku bisa berbicara seperti ini? Kenapa malah aku yang berpikiran mesum. Dasar bodoh kamu Queen, bagaimana kalau kamu sampai khilaf pada Aditya? Kenapa juga kamu tadi menyuruhnya untuk tidur di ranjang? Bukankah itu membuatmu terlihat seperti seorang wanita nakal.


"Lupakan perkataanku tadi! Aku tadi sudah gila."


Perkataan dari sang istri yang seolah memberi lampu hijau padanya, membuat sudut bibir Aditya melengkung ke atas. Rasa bahagia yang menyeruak memenuhi jiwanya, membuatnya langsung bangkit dari sofa dan berjalan menuju ke arah ranjang king size yang berada tak jauh dari tempatnya.


"Sepertinya aku tidak jadi tidur di sofa, karena aku tidak ingin badanku sakit semua jika tidur di sana. Ayo, kita tidur! Aku memang tidak akan berbuat macam-macam padamu, Queen."


Queen menelan salivanya saat melihat Aditya sudah berbaring di atas ranjang setelah melepaskan penutup tubuhnya bagian atas dan membuatnya bisa melihat perut sixpack Aditya dan sedang melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


Astaga ... apa dia akan tidur dengan telanjang dada seperti itu? Gawat ini, bagaimana jika aku benar-benar khilaf dan memperkosanya nanti! Brengsek ... sekarang pikiranku dipenuhi dengan adegan panas saat tadi bersamanya.


TBC ...


__ADS_2