
Sabrina masih menarik tangan Dave dan membawanya ke ruangan pria itu. Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan kesopanannya sama sekali saat sudah diliputi amarah begitu mendengar jawaban dari Dave yang menurutnya sangat konyol dan tidak masuk akal. Karena menerima pernikahan yang direncanakan oleh wanita perebut kekasihnya. Sabrina yang tadinya memunggungi Dave, refleks berbalik badan dan menatap tajam pria yang terlihat tengah bersedekap dada di depannya.
"Cepat katakan maksudmu tadi yang mengatakan bahwa kamu menerima pernikahan konyol ini," tanya Sabrina dengan tatapan tajam.
"Apa lagi yang mau ditanyakan? Aku memang menerimanya, tapi jangan kepedean," jawab Dave yang sudah melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mendaratkan tubuhnya di sana. Kemudian melanjutkan perkataannya, "Anggap saja kita sedang bersandiwara."
"Bersandiwara? Jadi, kamu menganggap sebuah pernikahan hanyalah sebuah sandiwara? Apa kamu tahu siapa yang paling dirugikan di sini? Akulah yang akan rugi, karena jika statusku adalah seorang janda, itu akan menghancurkan reputasiku sebagai wanita. Aku tidak ingin mempunyai status janda yang sering dihujat oleh banyak orang," ucap Sabrina dengan sangat geram.
"Akan tetapi, tidak mungkin aku menolaknya jika orang tuaku sudah menerima lamaran dari presdir. Namun, jika kamu yang membatalkan lamaran ini, pernikahan ini bisa dihindari. Jadi, aku mohon padamu untuk membatalkannya dengan mengatakan pada presdir, oke!" Sabrina mengarahkan tatapan penuh permohonan pada pria yang masih duduk bersandar di punggung sofa dengan menyilangkan kakinya.
Sedangkan Dave refleks menggelengkan kepalanya, "Itu tidak mungkin!"
"Apanya yang tidak mungkin? Bukankah kamu yang berhak memutuskan pernikahanmu?" tanya Sabrina yang sudah berjalan mendekat ke arah Dave. Kini, ia sudah berdiri menjulang di depan pria yang sangat dibencinya.
"Karena aku tidak berhak untuk menentukan masa depanku sendiri," jawab Dave dengan wajah datarnya.
"What? Kata-katamu sungguh sangat konyol dan tidak masuk akal," jawab Sabrina yang merasa sangat frustasi. "Jangan berbohong lagi dan seriuslah, Dave! Begini saja, lebih baik kita berdamai saja, karena aku sudah sangat capek bertengkar denganmu. Jadi, kita bahas saja tentang pernikahan palsu yang konyol ini."
Sabrina berhenti berbicara saat mendengar bunyi notifikasi pada ponselnya. Kemudian ia meraih benda pipih itu dari saku roknya dan membaca pesan yang tak lain adalah dari mamanya.
Sayang, kenapa nggak bilang kalau hari ini akan ada lamaran dari keluarga terkenal Raharja Group? Kamu sudah membuat mama dan papa malu karena tidak mempersiapkan apa-apa. Lamaran sudah diterima dan semua persiapan sudah diatur oleh keluarga Raharja yang mewakili calon suamimu. Bukankah nama calon suamimu adalah Dave?
__ADS_1
Sabrina terlihat sangat frustasi dan beralih menatap ke arah Dave, mengarahkan ponselnya pada pria tak jauh darinya tersebut. "Lihatlah, bahkan orang tuaku menyalahkan aku."
Dave bangkit dari sofa dan mendekati Sabrina untuk mengambil ponsel yang ada di tangan wanita itu. Kemudian membacanya beberapa saat. "Nasi sudah menjadi bubur, Sabrina. Ada baiknya, kita terima saja semuanya." Mengembalikan ponsel pintar tersebut di sebelah tempat duduk Sabrina.
Sabrina membulatkan kedua matanya begitu mendengar jawaban dari Dave, "Apa kamu bilang? Menerima pernikahan palsu yang tidak masuk akal ini?"
"Iya, karena aku tidak bisa menolaknya," ucap Dave seraya menganggukkan kepalanya.
Sabrina tertawa miris begitu mendengar jawaban dari pertanyaannya. "Ini benar-benar gila. Bagaimana mungkin ada pria yang tidak mempunyai pendirian sepertimu."
"Semenjak aku masuk dalam keluarga Raharja, aku sudah menyerahkan hidup matiku pada tuan Abymana," jawab Dave dengan tatapan ke arah kursi kebesarannya.
"Dasar gila," sarkas Sabrina seraya tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak tertarik mendengar cerita tentang keluargamu. Lebih baik aku pulang sekarang dan pergi ke rumahku untuk berbicara sendiri pada presdir dan orang tuaku." Sabrina bangkit dari sofa dan berniat berjalan keluar. Namun, suara bariton dari pria yang sudah menarik tangannya, membuatnya tidak bisa melanjutkan langkahnya.
"Lima tahun yang lalu papaku kecelakaan dan sampai sekarang koma di rumah sakit. tuan Abymana lah yang sampai saat ini membiayai perawatannya, padahal mereka sama sekali tidak mengenal papaku. Waktu itu tuan Abymana dan nyonya Qisya sedang dalam perjalanan menuju anak cabang di Bandung. Mereka tidak sengaja melihat kecelakaan yang menimpa papaku dan langsung mengantarkan ke rumah sakit, sedangkan pelaku tabrak lari itu belum ditemukan. Kira-kira seperti itulah ceritanya," ujar Dave panjang lebar.
Untuk sesaat Sabrina terdiam, begitu mendengar cerita yang menyedihkan mengenai Dave yang sama sekali tidak pernah disangkanya. Kemudian ia berbalik badan, untuk menatap ke arah pria yang masih menahan tangannya.
"Aku turut berdukacita, tetapi aku tetap tidak bisa menerima pernikahan tanpa cinta ini," jawab Sabrina yang menatap ke arah tangannya. "Lepaskan tanganku!"
__ADS_1
Dave sama sekali tidak memperdulikan perintah dari Sabrina, "Dengarkan aku dulu!"
"Apa lagi?" teriak Sabrina dengan sangat kesal. "Aku memang ikut bersimpati atas musibah yang terjadi pada papamu, tetapi jangan seret aku untuk masuk ke dalam masalah keluargamu. Aku tidak akan pernah menikah dengan orang lain selain mas Aditya. Karena sampai sekarang aku masih sangat mencintainya."
Kalimat terakhir dari Sabrina benar-benar berhasil menyulut api kemarahan dari Dave, sehingga ia kini melepaskan genggamannya dan beralih menahan kedua sisi lengan Sabrina. "Sadarlah, Sabrina. Tuan muda tidak akan pernah kembali padamu, karena sekarang sangat mencintai nona muda Queen. Bahkan mereka saling mencintai satu sama lain dan akan lahir buah cinta mereka."
"Apa kamu mau menjadi perawan tua?" teriak Dave dengan kilat amarah dari netra pekatnya.
"Iya, memangnya kenapa kalau aku ingin jadi perawan tua. Itu adalah urusanku dan bukan urusanmu. Mau aku menikah atau jadi biarawati sekalipun, itu bukan urusanmu!" hardik Sabrina yang sudah berapi-api. "Lepaskan tanganku!"
"Astaga, kamu memang benar-benar sangat keras kepala, Sabrina." Dave yang merasa sangat frustasi atas jawaban dari Sabrina kini semakin menatap tajam ke arah wanita di depannya. "Begini saja, anggap saja pernikahan kita ini hanyalah sebuah sandiwara. Karena sebagai anak yang berbakti pada orang tua, kita tidak mungkin mengecewakan mereka bukan? Mamaku dan orang tuamu sudah diberi tahu tentang pernikahan ini. Jadi, kita tidak mungkin mengecewakan mereka."
"Maksudmu?" tanya Sabrina yang merasa tidak paham dengan perkataan dari Dave.
"Kita menikah saja, aku berjanji tidak akan berbuat macam-macam padamu. Setelah beberapa bulan, kamu bisa menuntut cerai dengan alasan tidak ada kecocokan dan kamu akan bebas dari pernikahan ini. Bagaimana?" tanya Dave dengan sorot mata penuh pertanyaan.
"Kamu pikir aku bodoh, apa?" ucap Sabrina dengan tertawa terbahak-bahak.
"Jika kamu tidak percaya padaku, kita buat surat perjanjian sekarang!" jawab Dave yang melepaskan tangannya di lengan Sabrina dan berjalan ke arah meja kerjanya untuk mencari kertas kosong dan sebuah pulpen. Kemudian menuliskan sebuah perjanjian.
Sedangkan Sabrina hanya diam membisu mengamati apa yang dilakukan oleh pria yang fokus menundukkan kepalanya saat menulis di atas kertas putih.
__ADS_1
"Surat perjanjian? Mimpi apa aku semalam hingga tiba-tiba aku akan menikah dengan pria yang sama sekali tidak aku cintai? Bahkan dia membuat surat perjanjian agar aku mau menikah. Sungguh sangat konyol dan gila," gumam Sabrina.
TBC ...