Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan

Terpaksa Menikahi Nona Muda Arogan
Ketakutan tidak beralasan


__ADS_3

Aditya dan Queen saat ini tengah berada di ruang bermain khusus yang didesain sebagai tempat untuk putrinya. Tentu saja lukisan di dinding dengan gambar banyaknya princess, serta cat dinding yang berwarna pink, mendominasi ruangan penuh beraneka ragam mainan dan lebih banyak boneka barbie kesukaan sang nona muda kecil.


Hari Minggu merupakan quality time untuk Aditya dan Queen menikmati waktu bersama putri satu-satunya yang menjadi dunia mereka. Terlihat Queen tengah duduk di antara ratusan bola karena saat ini Princess tengah sibuk melempar bola.


Mandi bola adalah kesukaan Princess. Seperti saat ini, bocah berusia 2 tahun lebih 2 bulan itu sudah tertawa ceria sambil bermain bola. Tentu saja, hal serupa dirasakan oleh Queen saat merasa gemas pada putrinya. Ia pun tidak berhenti mencium pipi gembil Princess.


"Princessku yang sangat cantik dan menggemaskan. Umi sayang banget sama Princess."


Aditya yang dari tadi tidak berhenti tersenyum, menatap interaksi antara ibu dan anak itu, tidak mau kalah. "Abi juga sayang sekali sama Princess. "Berjalan masuk ke arah tempat penuh bola itu dan memeluk erat 2 wanita berbeda generasi yang sangat dicintainya. "Kalau sedang bersama begini, rasanya aku tidak ingin bekerja karena ingin selalu berduaan dengan bidadari-bidadari cantik ini."


Queen menganggukkan kepalanya tanda membenarkan perkataan dari pria yang masih merangkulnya. "Aku pun juga demikian, My hubbiy. Akan tetapi, kita mempunyai sebuah tanggung-jawab yang besar untuk memberikan semua hal yang terbaik pada Princess dan juga orang-orang. Aku pada para pasienku, sedangkan My hubbiy pada para pekerja di perusahaan. Jadi, memang kita tidak bisa egois. Princess pun akan mengerti semuanya saat besar nanti."


Aditya menganggukkan kepala dan menggendong Princess ke atas pangkuannya. "Iya, Sayang. Kamu memang benar, putri kita nanti akan tumbuh menjadi sosok wanita yang sangat luar biasa. Selain sangat cantik, aku berharap Princess kelak menjadi wanita shalihah juga. Karena di jaman yang semakin modern, kita harus membekali ilmu agama yang kuat pada putri kita. Aku berencana menyekolahkan Princess di sekolah yang mengedepankan ilmu agama. Menurutmu bagaimana?"


Tanpa memikirkannya, Queen langsung mengangkat 2 ibu jarinya. "Tentu saja aku sangat setuju, My hubbiy. Semua yang kamu katakan, merupakan hal terbaik untuk anak kita. Karena anak kita adalah investasi yang tidak ternilai harganya dan kelak akan menolong kita saat tidak ada di dunia ini. Bukankah doa anak sholeh dan shalihah bisa membawa kita ke surga nanti. Jadi, aku sangat setuju dengan idemu."


Aditya yang masih memangku putrinya, kini sibuk mengusap lembut rambut pendek putrinya yang sengaja tidak diikat oleh Queen setelah keramas. "Akan tetapi, aku tidak akan menghalanginya saat ia mempunyai sebuah cita-cita, Sayang. Kita lihat saja nanti perkembangan putri kita lebih mengacu ke hal apa, lalu kita dukung dia."


"Iya, My hubbiy." Queen yang baru saja menutup mulutnya, mendengar suara anak kecil dan terlihat keluarga besar dari Dave datang bersama orang tuanya yang baru masuk ke dalam ruangan bermain tersebut.


"Queen, Dave datang bersama keluarganya dan membawakan oleh-oleh untuk cucu Mommy yang cantik ini." Qisya yang berjalan di barisan terdepan, langsung menghampiri cucunya dan memberikan boneka Barbie di tangannya.


Aditya dan Queen langsung keluar dari kolam penuh bola tersebut dan langsung menyapa Dave dan keluarganya.

__ADS_1


"Selamat datang, Dave. Sudah lama kita tidak bertemu karena kamu lama tidak main ke sini." Aditya memeluk erat tubuh tinggi tegap Dave dan menepuk beberapa kali bahunya.


"Iya, Tuan muda. Selain sibuk di kantor, di rumah juga sangat sibuk. Meskipun cuma sibuk bermain dengan putra saya," jawab Dave dengan terkekeh. "Dan kebetulan tadi papa dan mama datang. Mereka mengajak ke sini untuk menyapa tuan dan nyonya besar."


Sementara itu, Queen awalnya menyapa orang tua Sabrina dan beralih ke arah wanita yang merupakan mantan kekasih dari suaminya. Ia menyunggingkan senyumnya, "Bagaimana kabarmu, Sabrina?" Mengerutkan kening saat melihat Sabrina pucat. "Sepertinya kamu tidak sehat, atau kamu tengah hamil?"


Wajah Sabrina langsung merona karena hal yang sangat ingin disembunyikannya malah sudah ketahuan, sehingga ia merasa sangat malu dan bingung harus menjawab apa. Hingga suara dari putranya yang ada di gendongan papanya, menyelamatkannya.


"Mama ... Mama."


"Sabrina, Arya sepertinya ingin bermain bersama nona muda kecil." Papa Sabrina menyerahkan cucunya yang menghambur ke arah mamanya.


Sabrina awalnya ingin menggendong putranya, tetapi suara bariton dari Dave, membuatnya semakin merasa malu.


"Sayang, biar aku yang menggendong putra kita. Kamu sedang hamil. Jangan menggendong Arya lagi, nanti kalau terjadi sesuatu, bagaimana?" Dave langsung meraih putranya dari gendongan papa mertua.


"Wah ... kamu sangat luar biasa, Dave. Selamat, atas kehamilan Sabrina. Ternyata kalian mengalahkan kami." Queen melirik ke arah Aditya yang dari tadi hanya diam saja. "My hubbiy, kita dikalahkan."


"Itu karena kamu masih belum mau hamil lagi, Sayang. Malah Dave yang duluin kita. Bagaimana, apa kamu berubah pikiran?" tanya Aditya yang sudah tersenyum simpul menunggu jawaban dari sang istri.


Sebuah gelengan kepala dari Queen, menjelaskan jawabannya. Refleks ia melirik ke arah putrinya yang sudah bermain bersama putra Dave. Biar usia Princess 4 tahun dulu, karena aku masih ingin memberikan kasih sayang penuh padanya. Aku tidak mau putriku kekurangan kasih sayang karena terbagi dengan adiknya."


Sabrina benar-benar merasa tertohok dengan kalimat yang barusan diucapkan oleh Queen. Meskipun ia juga memikirkan tentang hal yang sama, tetapi ia masih merasa tersindir dengan kalimat tersebut.

__ADS_1


"Nona muda arogan ini sama sekali tidak pernah berubah. Kata-kata mutiaranya selalu membuat lawan bicaranya merasa mati kutu dan aku pun sangat tersinggung," gumam Sabrina di dalam hati.


Aditya mencubit ringan pinggang ramping Queen, karena merasa tidak enak pada Sabrina dan juga orang tuanya. Dan usahanya untuk memberikan sebuah kode pada sang istri, berhasil.


Queen yang menoleh ke arah Aditya dan beralih ke orang-orang di depannya, menyadari kesalahannya. "Eh ... bukan maksudku untuk menyindirmu, Sabrina. Itu hanya sesuatu yang ada di otakku. Maaf jika kamu tersinggung."


Sabrina benar-benar merasa sangat terkejut saat mendengar nona muda yang selama ini diketahuinya arogan malah memohon maaf kepadanya.


"Seorang nona muda Queen meminta maaf padaku? Ini bukan mimpi, kan? Kenapa sekarang dia terlihat seperti wanita shalihah sesungguhnya? Sepertinya mas Aditya benar-benar membawa perubahan yang sangat baik untuk Queen. Kenapa aku selalu merasa sangat kecil jika berdiri di hadapannya. Aku benar-benar telah kalah. Wanita ini benar-benar sangat luar biasa. Cantik, cerdas, karir melejit, shalihah pula. Sementara aku, hanya serpihan debu yang sama sekali tidak berarti. Hanya suamikulah yang menganggap butiran debu ini adalah sebuah berlian," gumam Sabrina di dalam hati.


"Tidak apa-apa, Nona muda Queen. Jangan meminta maaf. Semua ibu di dunia ini pasti berpikir seperti itu, tetapi terkadang realitanya tidak sesuai dengan ekspektasi. Dan itulah yang saat ini tengah saya rasakan." Sabrina langsung menoleh ke arah putranya yang menangis dengan keras.


Semua orang pun berjalan mendekat untuk melihat ke arah 2 bocah yang awalnya sedang mandi bola tersebut.


"Sayang, ada apa? Kenapa Arya menangis?" tanya Sabrina dengan wajah penuh khawatir.


Qisya yang tadi lengah menatap cucunya, langsung menyahut. "Tadi Princess memukul putramu dengan boneka Barbie. Maafkan cucuku, Sabrina."


Queen langsung menghampiri Princess, "Sayang, nggak boleh nakal, ya. Ayo, bersalaman." Mengulurkan tangan putrinya pada bocah laki-laki yang sudah mulai diam itu. "Maafin Princess, ya."


Dave melakukan hal yang sama dengan mengulurkan tangan putrinya dan mewakili menjawab putranya. "Arya maafin."


Sabrina yang melihat interaksi dari 2 bocah menggemaskan itu, hanya tersenyum tipis. Namun, ia menatap tajam ke arah Dave karena tidak becus menjaga putranya.

__ADS_1


"Astaga, ternyata ketakutan suamiku tadi tidak beralasan. Bukan putraku yang nakal, tetapi malah Princess," gumam Sabrina di dalam hati.


TBC ...


__ADS_2