
Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah hutan.
"Hutan?" Pikir Lein.
Di dalam hutan itu ada jalan beraspal yang sepertinya untuk kendaraan lewat. Dan setelah mengikuti jalan, mereka menemukan sebuah gerbang.
"Tunggu dulu, apakah mungkin kediaman Courbet ada di hutan ini?" Lein berpikir.
Lalu setelah mengklik jalan lagi, mereka sampai di kediaman Courbet.
Lein melihat ke luar jendela dan terlihatlah mansion yang sangat megah berdiri di tengah-tengah hutan hijau dan rimbun ini.
Lein keluar dari mobil dan ia melihat seberapa luas nya mansion ini.
"Gila...!" Lein membelalakkan matanya karena terkejut dengan ukuran mansion.
"Selamat datang kembali, nona muda." Seorang pria tua berseragam pelayan menghampiri Anna.
"Aku kembali, kakek Tien." Ucap Anna tersenyum.
"Apakah mereka berdua adalah tamu yang dibicarakan?" Pelayan Tien melihat ke arah Lein dan Jonas.
"Benar kakek, tolong antarkan kami " Anna mengangguk.
"Tentu nona.." Pelayan Tien berjalan duluan untuk menuntun mereka ke ruang makan.
"Anna, aku tidak menyangka kamu akan sekaya ini." Ucap Lein di belakang Anna.
"Haha, aku memang tidak pernah menyombongkan kekayaan ku." Anna menoleh dan tersenyum.
"Bos, apakah kamu iri?" Jonas bertanya.
"Sepertinya kamu ingin dipukul ya." Ucap Lein kesal sambil memamerkan tinju nya.
"Maaf bos." Jonas menggaruk-garuk kepalanya.
"Bos!?" Anna dan John bingung dengan cara Jonas memanggil Lein.
"Ah, apakah aku belum memberitahu kalian?" Lein mencoba mengingat.
Anna dan John menggeleng-gelengkan kepala mereka tanda bahwa Lein belum memberitahu mereka mengenai itu.
"Yah, Jonas itu rekan sekaligus bawahan ku." Lein menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas.
"Bawahan?" Anna dan John tambah bingung.
"Jangan dipikirkan detail nya.." Ucap Lein.
"Baiklah." Meskipun Anna dan John penasaran, mereka juga tahu itu adalah rahasia Lein.
...----------------...
Mereka sampai di ruang makan yang luas dan megah dengan dekorasi yang terkesan elegan dan menenangkan suasana.
__ADS_1
Didalam ruang makan sudah terdapat dua orang, satu adalah seorang pria paruh baya yang pasti adalah ayah Anna, yaitu Edvart Courbet.
Lalu satu nya adalah seorang wanita cantik namun terlihat pucat dengan mengenakan pakaian tebal, yang pasti adalah ibu Anna, yaitu Reika Vasyel.
"Wah wah, apakah kalian berdua adalah orang yang dibicarakan oleh Anna?" Edvart berdiri dan menyambut Lein dan Jonas.
"Halo Tuan Edvart dan Halo Nyonya Reika." Lein dan Jonas membungkukkan badannya sedikit sebagai salam.
"Haha, sungguh anak muda yang sopan." Edvart tertawa.
"Maaf ya istriku tidak bisa terlalu banyak bergerak, mohon dimaklumi." Edvart melihat istrinya yang tersenyum namun tidak berbicara.
"Tidak apa-apa Tuan Edvart, kami juga memahami situasi nya." Lein tersenyum sopan.
"Ho... Sungguh anak yang cerdas. Anak ini bisa membaca situasi dan memberikan kesan baik kepada sekitar nya." Pikir Edvart.
"Baiklah, silakan duduk. Pelayan Tien, tolong sajikan makanan nya." Ucap Edvart.
"Baik tuan." Pelayan Tien mengangguk.
Kemudian mereka sarapan bersama sambil berbincang-bincang mengenai topik yang ringan dan santai.
Dari waktu ke waktu, Lein juga sesekali melihat Reika yang tidak pernah berbicara. Reika hanya mendengarkan percakapan mereka tanpa bergabung dalam obrolan.
Meskipun Reika tampak terlihat tenang dan tersenyum, namun Lein tahu bahwa itu semua adalah pura-pura.
Tanpa Analysis Eye pun Lein bisa tahu bahwa kondisi Reika saat ini sedang kritis dan seharusnya dia beristirahat saja daripada menyambut Lein dan Jonas.
Sarapan pun selesai, suasana yang tadinya santai dan harmonis sekarang menjadi hening dan terkesan sedikit suram.
"Namamu Lein bukan?" Edvart melihat ke arah Lein.
"Benar tuan." Lein mengangguk dengan tenang.
Seperti biasa, Lein selau bersikap tenang. Dan Lein juga sudah berlatih meditasi untuk melatih fokus dan juga ketenangan.
"Aku mempercayai mu karena John. John berkata bahwa kamu yang menyembuhkan penyakitnya." Ucap Edvart dengan nada berat.
Bahkan aura Edvart berubah dari yang tadinya seperti seorang ayah biasa sekarang menjadi berat dan berwibawa seperti seorang pria ganas.
"Meskipun itu tidak bisa dianggap sebagai menyembuhkan penyakit sih." Pikir Lein.
Lein memang benar, ia tidak menyembuhkan penyakit John karena John juga tidak sakit. Lein hanya melepas segel yang menyegel jantung John.
"kalau begitu aku meminta tolong untuk memeriksa kondisi istri ku sekarang." Edvart mengangguk.
"Tentu tuan." Ucap Lein.
"Kalau begitu kita pindah tempat, ruang makan kurang cocok untuk memeriksa kondisi seseorang." Edvart berdiri.
...----------------...
Sekarang mereka berada di kamar tidur milik Edvart dan Reika, dan Reika saat ini sedang berbaring lemas di tempat tidur.
__ADS_1
"Analisa kondisi Reika." Lein berdiri di samping Reika dan mulai menganalisa nya.
[ analisa berlangsung ]
[ analisa selesai ]
"Nyonya Reika, Jahan berbicara. Mengangguk jika benar dan kedipkan mata dua kali jika salah." Lein melihat ke arah Reika.
Reika mengangguk.
"Denyut jantung anda lemah dan tidak teratur, anda merasa mengantuk, menggigil terus-menerus, napas anda pelan dan pendek, lalu tubuh menjadi kaku dan sulit untuk digerakkan." Ucap Lein.
Lein menyebutkan semua gejala yang Analysis Eye periksa, meskipun masih ada gejala lain nya namun Lein tidak menyebutkan semuanya karena itu akan membuat Edvart dan Anna menjadi gelisah.
Reika melebarkan matanya dan mengangguk. Reika tidak menyangka bahwa anak muda di depannya bisa mengetahui kondisinya hanya dengan melihat saja.
"Bagaimana!? apakah kamu bisa menyembuhkan ibu?" Ana bertanya dengan nada khawatir.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya sesuatu kepada tuan Edvart." Lein melihat Edvart.
"Aku? Tentu saja, silakan.". Edvart mengangguk.
"Pengobatan apa saja apa yang anda berikan kepada Nyonya Reika?" Lein bertanya.
"Hm..." Edvart berpikir.
"Pertama potion tingkat tinggi, aku tidak tahu rank pasti nya, namun aku sepertinya menggunakan potion penyembuh rank A."
"Melihat itu tidak berhasil, aku memanggil dokter pribadi, lalu memanggil healer dari gereja Ariel, namun itu semua tetap saja tidak bisa menyembuhkan istri ku."
"Apakah anda pernah mencoba menghubungi saint, saintess, atau paus?" Tanya Lein.
"Aku bahkan sudah menghubungi mereka, namun tetap saja percuma, mereka tidak bisa menyembuhkan Reika." Edvart menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi begitu..." Lein mengangguk.
...----------------...
Telepati Lein dengan Octiorb.
"Hey Oct, seberapa besar divine power yang dimiliki oleh saint, saintess dan paus?" tanya Lein.
"Hanya sedikit, mereka kuat karena diberkahi oleh dewa dan dewi bukan karena divine power yang mereka punya." Octiorb menjawab.
"Jadi divine power nya hanya untuk digunakan untuk skill yang menggunakan divine power saja ya..."
...----------------...
"Bagaimana Lein?" Anna bertanya sekali lagi.
Edvart dan John juga menunggu Lein menjawab, mereka juga berharap Lein bisa menyembuhkan Reika meskipun kemungkinan nya sangat tipis.
"Aku...
__ADS_1