Analysis Eye

Analysis Eye
Keluarga Lauren : Obrolan sebelum Tidur


__ADS_3

Didalam kamar milik Linda.


"Jadi....maksud dari syarat yang diberikan oleh kakek Ronny untuk menginap adalah ini...??" Lein duduk di kursi.


"....Benar....." Linda yang duduk di kasur mengangguk dengan wajah memerah karena malu.


Maksud dari syarat yang diberikan oleh Ronny adalah untuk menginap satu malam disini, tepatnya di dalam satu kamar dengan Linda.


"Baiklah, kamu tidur di kasur dan aku akan tidur di karpet..." Ucap Lein.


"Ah tidak perlu! Kamu bisa tidur di kasur. Aku yang akan tidur di karpet." Linda menghentikan Lein yang akan tidur di karpet.


"Tidak, bagaimana bisa tuan rumah tidur di karpet?" Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kalau begitu... Tidak apa-apa jika kita berdua tidur di kasur." Ucap Linda dengan suara yang sangat kecil.


Meskipun suaranya kecil, Lein tetap bisa mendengar nya karena indera Lein memang tajam dan karena ruangan ini kedap suara.


"Apa yang kamu bilang?" Lein memutuskan untuk sedikit menggoda Linda.


"Aku bilang tidak apa-apa untuk kita berdua tidur di kasur..." Ucap Linda namun masih dengan suara kecil.


"Hm? Aku tidak bisa mendengar mu???" Lein menyeringai.


"Aku bilang tidak apa-apa untuk kita berdua tidur di kasur!!" Linda berteriak.


"!!" Lein cukup terkejut Linda akan langsung berteriak.


"Baiklah." Ucap Lein lalu ia berbaring di kasur.


"A-apa!?" Linda mematung.


Karena Linda tidak menyangka bahwa Lein akan langsung setuju tanpa ragu-ragu dan segera berbaring di kasur miliknya.


"Mengapa? apakah kamu akan menarik kata-kata mu? Oh, apakah jangan-jangan kamu takut!?" Ucap Lein dengan nada bercanda.


"Si-siapa yang takut!" Linda melepas sandal nya dan segera melompat ke kasur.


"Ahh!! Apa yang aku lakukan!!" Linda segera sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan.


Kemudian Linda mengambil bantal dan mengubur wajah nya ke dalam bantal.


Linda mengendurkan bantal nya dan memutuskan untuk mengintip ke arah Lein.


Namun Lein saat ini sedang duduk bersandar dan membaca sebuah buku.


"??" Linda sedikit terkejut bahwa Lein tidak bereaksi apa-apa.


"Apa yang sedang kamu baca?" Linda mengubah posisi nya menjadi telentang.


"Hanya sebuah buku yang membahas mengenai sifat manusia." Ucap Lein.


"Sifat manusia? Mengapa kamu membaca nya?" Tanya Linda penasaran karena Lein tiba-tiba membaca sebuah buku tentang sifat manusia.


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya ingin membaca buku dan buku ini yang pertama kali terlihat di inventory ku." Jawab Lein.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong mengenai sifat manusia... Bagaimana tanggapan mu tengah manusia yang serakah?" Linda bertanya.


"Manusia yang serakah itu wajar. Karena sifat serakah adalah sifat alami manusia."


"Keserakahan juga bisa menjadi pendorong untuk kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh sampai mencapai nya."


"Tapi di sisi lain, keserakahan juga bisa menjadi sebuah lubang tanpa dasar yang akan menghisap segala sesuatu tanpa akhir."


Lein tetap membaca buku sambil mengutarakan pikiran nya mengenai manusia yang serakah.


"Pikiran mu sungguh kritis ya..." Linda sedikit kagum dengan pikiran Lein yang dewasa.


"Terimakasih, tapi itu adalah sesuatu yang harus dimiliki." Jawab Lein tersenyum tipis.


"Lalu, pertanyaan selanjutnya. Untuk apa kita hidup meskipun akhirnya kita akan mati?" Tanya Linda serius.


"Sebuah pertanyaan yang memiliki jawaban yang berbeda tergantung orang nya." Ucap Lein menutup buku.


"Untuk apa seorang pria membeli makanan di restoran? Apakah untuk dia makan sendiri? Untuk anaknya? untuk istri nya?"


"Untuk orang tuanya? atau untuk temannya? atau bisa jadi dia adalah seorang pengantar makanan."


"Satu pertanyaan yang memiliki banyak jawaban tergantung fakta dan dari mana sudut pandang kamu melihat nya."


"Tentukan atau temukan tujuan hidup mu agar hidupmu agar kamu memiliki alasan untuk hidup." Ucap Lein menjawab pertanyaan Linda.


"Hah...Tapi bagaimana kita menentukan atau menemukan nya? Kita hanya hidup sekali bukan?" Linda menghela napas.


"Hidup hanya sekali? itu salah. Kita hidup setiap hari, dan kita akan mati satu kali. Jangan mencari alasan jika kamu malas untuk menentukan atau menemukan tujuan hidup mu." Ucap Lein.


"Untuk tujuan hidup... Aku memang belum punya. Tapi jika tujuan untuk menjadi kuat... Aku punya." Ucap Linda.


"Oh ya? Bisakah kamu memberitahu ku jika kamu tidak keberatan?" Lein bertanya.


"Tentu saja bisa." Jawab Linda.


"Aku ingin seperti presiden Brynn kita. Dia kuat, misterius, dan berkarisma. Aku ingin menjadi kuat seperti nya agar aku juga bisa melindungi keluarga ku."


"Selain itu aku akan menggunakan kekuatan ku untuk membahagiakan diriku sendiri dan keluarga ku juga."


"Meskipun terkadang aku ingin menyerah, tapi saat aku mengingat bahwa masih ada keluarga yang mendukung dibelakang ku..."


"Rasa ingin menyerah itu menjadi hilang digantikan dengan rasa semangat..." Linda tersenyum cerah.


"Itu bagus..." Lein tersenyum.


Lein kemudian menyimpan buku tadi ke dalam inventory nya dan mengubah posisi nya menjadi berbaring menghadap ke arah Linda.


"Eh, apa?" Linda gugup karena ditatap oleh Lein dan segera mengubah posisi nya memunggungi Lein.


"..." Lein hanya tersenyum.


Lein kemudian mendekatkan dirinya dengan diri Linda. Lalu tanpa ragu-ragu Lein memeluk Linda dari belakang.


"Eh!? Lepaskan!" Linda sangat terkejut dan meronta-ronta namun tidak bisa karena pelukan Lein sangat erat.

__ADS_1


...----------------...


Pikiran Linda.


"Eh!? Mengapa Lein memeluk ku!?"


"Apakah dia akan melakukan sesuatu!?"


"Apakah aku akan menerima nya!?"


"Tapi kita belum terlalu dekat!"


"Apakah aku menyukai nya!?"


"Apakah dia menyukai ku!?"


"Eh! mengapa aku berpikiran seperti itu!?"


...----------------...


"Diam lah..." Ucap Lein tepat di telinga Linda.


"Uh..." Linda segera diam dan menutup matanya karena ia geli dan juga karena ia sangat malu.


"Biarkan tetap seperti ini, aku tidak akan melakukan apa-apa..." Ucap Lein mulai menutup mata.


Setelah beberapa saat hening, Linda memberikan diri untuk membuka matanya untuk melihat situasi.


"Lein...?" Linda memanggil Lein dengan nada lembut.


Setelah beberapa saat menunggu, Lein tidak menjawab dan tetap diam.


"Lein?" Linda memanggil Lein sekali lagi dengan suara yang sedikit dinaikkan.


"...." Lein masih tidak menjawab.


Saat Linda ingin berteriak memanggil Lein, ia merasakan aliran napas yang lembut di telinga nya.


"Eh??" Linda mengedipkan matanya.


"Apakah Lein tertidur?" Pikir Linda.


Linda tidak berbicara dan mencoba merasakan napas Lein lagi. Dan benar saja sama seperti sebelumnya, napas Lein tenang dan lembut.


"Sepertinya dia memang tertidur..." Pikir Linda.


Linda perlahan-lahan juga menikmati posisinya dan mulai menutup matanya.


Lalu setelah beberapa saat napas Linda menjadi tenang dan lembut sama seperti Lein yang berarti Linda sudah tertidur.


Kemudian Lein membuka kedua matanya dan beranjak dari kasur. Lein berjalan dan duduk bersila di karpet karena ia ingin bermeditasi.


Bukannya tidak mau, tapi Lein tidak bisa tidur bersama Linda. Karena hubungan mereka masih sebatas guru dan murid.


Lalu karena sebelumnya Lein sudah berkencan dengan Liza, kalau sekarang ia tidur dengan Linda maka ia akan merasa tidak enak dengan Liza.

__ADS_1


__ADS_2