Analysis Eye

Analysis Eye
Serangan Diam-diam


__ADS_3

Universitas Dragon Heart, Rumah milik Lein.


Malam Hari.


Lein sedang berlatih bersama Isolda. Mulai sekarang, Lein selalu berlatih pertarungan dengan Isolda.


Selain melatih tubuh dan pengalaman, Lein juga berlatih dengan Isolda agar Isolda terbiasa dengan pertarungan.


Sifat Isolda memang pengecut dan membenci kekerasan, namun Lein tetap melatih nya untuk perlindungan diri.


Mengenai masa depan nya, Lein memutuskan akan mengambil tindakan lebih lanjut ketika kemampuan waktu Isolda sudah bangkit.


Kemampuan waktu selain sangat kuat, itu juga sangat serbaguna. Bisa digunakan untuk menyerang, bertahan, menyembuhkan, bahkan membunuh orang dengan waktu.


Konsep waktu sangatlah rumit, dan makna dari waktu sangatlah beragam tergantung bagaimana orang menggunakan nya.


"Cukup untuk hari ini Isolda, terima ini." Lein menghentikan latihan nya dan memberikan mana dragon dance ke Isolda.


"Ci~" Isolda menerima dan menyerap mana dragon dance dengan wajah bahagia.


"Kamu memang menyukai mana ini ya..." Lein ikut tersenyum melihat wajah Isolda.


Lein lalu kembali ke atas untuk mandi karena ia penuh dengan keringat. Setelah itu Lein menonton televisi di ruang tamu untuk merilekskan diri.


"Ci!" Isolda mengerang ketakutan dan ia berubah bentuk menjadi kalung.


"Sial!" Lein juga menyadari nya.


Lein tiba-tiba berguling ke arah depan dan sofa yang ia duduki barusan terbelah menjadi dua. Lein langsung mengaktifkan dragon dance dan memegang katana nya.


"Kamu..." Lein mengamati siapa yang menyerang dirinya.


"Yah siapapun itu, kamu pasti dari keluarga Barqi." Lein tidak peduli siapa orang itu


"hm? kamu tidak sendirian?" Lein menyadari ada kehadiran lain yang sudah mengepung Lein.


"Analisa semua nya!" Lein segera menganalisa


Setelah menganalisa, nama dan skill mereka tidak diketahui. Hanya level mereka saja yang terlihat, mereka level 50!


"Sial, 4 orang berlevel 50. Mereka bukan dari keluarga Barqi, namun pembunuh yang disewa oleh keluarga Barqi." Lein berpikir seperti itu.


"Kebetulan! Aku kekurangan samsak tinju." Lein berdiri dan menyerang orang yang didepan nya.


"Gaya kedua : tebasan gelombang laut!" Lein menyerang menggunakan teknik tebasan air.


Assassin 1 sedikit terkejut namun ia berhasil menangkis serangan Lein.


Assassin 2, rekan nya, menyerang Lein dari kanan dengan melemparkan pisau yang seperti nya dipercepat menggunakan mana.


"Sial!" Lein tidak bisa menghindari nya karena jarak mereka berdua dekat dan kecepatan lemparan nya yang tidak masuk akal.


*jleb (suara tertusuk)

__ADS_1


Lein tertusuk di bagian pinggang kanan nya. Lein menahan rasa sakit itu, namun Lein merasakan perasaan yang akrab dari pisau ini.


"Ini... racun?" Lein menyadari bahwa pisau ini dilapisi racun


Lein segera melemah karena terkena racun, pijakan nya goyah dan kekuatan nya melemah.


"Kesempatan! Bunuh anak ini!" Assassin 1 berteriak.


Ketiga assassin lain nya mengeluarkan pisau dan berusaha untuk membunuh Lein. Assassin 1 juga menyerang kepala Lein.


Lein yang hampir jatuh merasakan niat membunuh yang kuat dan pekat.


"Tapi bohong!" Lein yang hampir jatuh, menggunakan kaki nya sebagai pijakan.


" Gaya kedua : Tebasan gelombang laut!" Saat menunduk, Lein menggunakan teknik tebasan air gaya kedua.


"Sial! bagaimana mung-" Assassin 1 tidak bisa menyelesaikan ucapan nya karena tubuh nya telah terbelah menjadi dua.


"Kekeke, kamu kira racun selemah itu akan membunuhku? Juga aku telah melatih pijakan sampai kaki ku mati rasa!" Lein menyeringai dengan seram.


"Sial! Serang dia!" Assassin 2 berteriak.


"Aku tidak bodoh!" Lein menghindari serangan assassin 2 dan menyerang assassin 3 yang masih terkejut.


"Assassin apa yang tidak bisa mengendalikan emosi nya, Kalian sampah!" Lein memenggal kepala assassin 3 yang masih terkejut.


Lein lalu melempar botol racun yang dibuat dari leaf Snake. Racun itu mengenai tangan kanan assassin 4 dan pakaian serta kulit nya meleleh sampai terlihat tulang nya.


"Pemandangan yang menjijikan, matilah!" Lein memenggal kepala assassin 4


kepala assassin 4 terlempar dan lehernya menyemburkan darah yang mengenai Lein.


"Darah pertarungan!" Lein bukannya jijik, ia malah tamba bersemangat.


"Giliran mu!" Lein mengincar assassin 2 yang masih hidup.


Assassin 2 yang melihat Lein penuh dengan darah merasa ketakutan. Ia seperti melihat iblis yang bangkit dari neraka untuk membunuh nya.


"Sialan! monster macam apa yang disinggung keluarga Barqi!" Assassin 2 tidak bisa menggerakkan tubuh nya karena ketakutan.


"ho? seorang assassin merasa takut? sampah!" Lein memasang ekspresi sinis


Tanpa basa-basi, Lein segera maju dan memenggal kepala assassin 2 dengan sekali tebas. Darah keluar dari leher assassin 2 dan kembali mengenai Lein.


"Ah..." Lein menyarungkan katana nya dan menghela napas dengan ekspresi menyeringai.


"Kamu sangat keren bocah!" Octiorb muncul dan berkata dengan mata yang berbinar-binar.


"Ci~" Isolda meminta maaf karena tidak bisa membantu Lein namun masih dalam bentuk kalung.


"Haha, tidak apa-apa." Lein tertawa.


Lein lalu berjala menuju tubuh assassin 1 yang terbelah. Lein memegang kepala nya dan memenggal nya.

__ADS_1


Lein menyimpan kepala dari keempat assassin itu kedalam. inventory nya.


Dan tidak ada barang yang keluar dari tubuh mereka. Mereka memang assassin, jad mereka tidak membawa sesuatu dalam misi pembunuhan.


"Baiklah, ayo kita ke rumah presiden." Lein berjalan keluar rumah mengabaikan kekacauan yang terjadi.


"Mengapa kamu tidak membersihkan tubuh mu dulu?" Octiorb bertanya.


"Sebagai bukti. Nanti presiden Brynn curiga." Lein menjawab.


"Kamu benar." Octiorb mengangguk.


...----------------...


*Ding dong (suara bel pintu)


Presiden Brynn yang sedang mengurus dokumen sudah tau ada seseorang yang akan datang. Ia lalu menghilang dari ruang kerjanya dan muncul di ruang tamu.


Presiden Brynn datang ke pintu dan membuka pintu untuk menyambut tamu.


"Silakan, ada perlu ap-" Presiden Brynn membelalakkan matanya melihat orang didepan nya.


"Permisi, Pres." Lein yang berlumuran darah langsung memasuki rumah Brynn.


"Lein!? apa-apaan darah itu!?" Presiden Brynn menutup pintu dan bertanya kepada Lein.


Lein tidak menjawab, ia mengeluarkan 4 kepala assassin dari inventory nya.


"!?" Presiden Brynn terkejut melihat kepala manusia muncul.


Presiden duduk dan menenangkan pikiran sebentar. Apa yang barusan ia lihat sungguh mengejutkan.


Lein membiarkan presiden Brynn tenang terlebih dahulu. Ia juga tidak duduk karena tubuhnya berlumuran darah.


"Siapa mereka?" presiden yang sudah tenang kemudian bertanya.


"Assassin." Lein menjawab identitas mereka.


"Siapa yang menyewa?" Presiden Brynn bertanya lagi.


"Sudah jelas, Keluarga Barqi." Lein menjawab dengan muka tenang.


"Mereka...!??!?" Presiden Brynn mengepalkan tangannya menahan amarah.


"..." Lein hanya diam.


"Dimana mereka menyerang mu?" Presiden Brynn bertanya.


"Di rumah ku, saat aku bersantai sehabis berlatih." Lein menjawab.


"Baiklah, bersihkan dirimu terlebih dahulu." Ucap presiden Brynn menunjukkan kamar mandi.


"Baiklah." Lein lalu menuju kamar mandi yang ditunjukkan oleh presiden Brynn.

__ADS_1


__ADS_2