
Lein menaruh katanya nya di inventory nya.
"Hah? Mengapa kamu tidak memakai nya bocah?" tanya Thogal melihat tindakan Lein
"Ah maaf tuan, bukannya aku tidak suka. Tapi aku akan menggunakan katana ini untuk ujian masuk universitas." ucap Lein
"Oh begitu. Kalau begitu tidak apa-apa." jawab Thogal
"Kamu ingin memasuki universitas mana?" suara wanita yang menawan terdengar tepat di telinga Lein
Lein merinding, ia menghindar dan mengeluarkan pedangnya.
"Siapa dia? Mengapa aku tidak merasakan kehadiran nya!?" pikir Lein
"Hey hey, jangan ganggu bocah itu." ucap Thogal
"hahaha, maaf kan aku tuan." ucap wanita itu
"Halo, Namaku Linda, Linda Lauren." Linda mengulurkan tangan nya
Lein menyarungkan kembali pedang nya. Ia lalu menjabat tangan Linda dan memperkenalkan diri
"Namaku Lein, Lein Sanzio." ucap Lein
"Jadi? kamu ingin ke universitas mana?" Linda bertanya sekali lagi
"Ah, tentu saja sama seperti impian remaja lain. Universitas dragon heart." Lein tersenyum tipis
"Apakah kamu yakin bisa memasuki nya?" tanya Linda
"Hm, aku tidak pasti yakin, tapi aku harus yakin bahwa aku bisa memasuki universitas dragon heart." Lein berkata dengan mata tegas.
"Kalau begitu, aku menantikan mu disana. Tuan Thogal, aku pergi dulu." ucap Linda keluar dari toko
"Yo, datang lagi kapan kapan." Thogal melambaikan tangan nya
Linda juga membalas dengan lambaian tangan
"Tuan, siapa wanita itu? Terlihat menyeramkan." Lein merinding mengingat kejadian barusan
"Hahaha, dia seorang guru dari universitas dragon heart." Thogal tertawa melihat reaksi Lein
"Apa katamu!? Guru dari universitas dragon heart!?" tanya Lein
"Ya, itu benar." Thogal berkata dengan pasti
Lein bingung bagaimana bisa ia bertemu dengan orang universitas dragon heart lagi. Sebelumnya dekan, sekarang guru.
Lein juga berpikir wanita tadi seorang jenius. Karena penampilan nya terlihat dewasa tidak terlalu tua, namun bisa menjadi seorang guru di sana.
"Kalau begitu terimakasih tuan. Aku bisa mendapatkan senjata baru sebelum ujian masuk." Lein berterima kasih.
"Sama-sama, bocah. Kamu juga harus berterima kasih kepada Liza." ucap Thogal
"Tentu saja aku akan." jawab Lein
Lein lalu mengucapkan selamat tinggal kepada Thogal. Ia akan melanjutkan berburu nya karena tinggal 5 hari lagi sebelum ujian.
__ADS_1
Lein menuju Mamise Forest lagi untuk berburu monyet Mamise. Ia tidak menggunakan katana nya seperti yang ia bilang tadi. Ia akan menggunakan nya saat ujian masuk.
Sesekali Lein juga menggunakan sniper nya dan menggunakan silence shoot nya. Jika menggunakan dual sword ia akan menggunakan gaya pertama dan juga gaya kedua.
Lein tidak menggunakan gaya ketiga karena dampak yang dihasilkan akan sangat besar. Ia berpikir dual sword nya pasti akan rusak jika menggunakan gaya ketiga.
...----------------...
Singkat cerita Lein sudah didalam Mamise Forest selama 4 hari, dan selama itu ia berhasil mengalahkan puluhan monyet yang mana Lein selalu bertarung melawan kelompok bukan individu.
Lein juga telah melewati level tujuan nya, meskipun hanya berbeda satu level.
Nama : Lein Sanzio
Usia : 18 tahun
Level : 29
STR : 26
AGL : 25
VIT : 26
INT : 30
poin kosong: -
Deskripsi kemampuan :
Analysis Eye, sebuah mata yang bisa menganalisa segala sesuatu yang ada
skill : ...
Setelah memeriksa status nya, Lein menuju ke portal di tengah kota untuk pulang ke rumah nya.
Lein perlu beristirahat selama sehari agar ia bisa mengikuti ujian masuk besok dengan kondisi prima. Dan ia juga ingin memeriksa Liza yang pasti telah menyerap fragmen of Leviarves.
...----------------...
"Hey, Aku pulang." ucap Lein membuka pintu rumah nya
"Oh? kamu sudah pulang, selamat datang kembali." ucap Liza
Seperti biasa, Liza sedang berbaring sambil menonton acara televisi. Dan Lein pun sudah terbiasa dengan kelakuan Liza.
"Kamu dari kota Els kan? bagaimana pedang nya?" tanya Liza
__ADS_1
Lein menuju dapur dan membuka lemari es untuk mengambil minuman.
"Orang yang kamu rekomendasi kan sangat hebat. Aku sangat sangat puas dengan hasil nya." Lein meminum minuman nya
"Fufu, tentu saja. Ia kenalan ku saat di negara dwarf." ucap Liza bangga
"Ah dan juga terimakasih, berkatmu aku tidak perlu membayar biaya nya hehehe." Lein berterima kasih kepada Liza
Lein berjalan menuju ruang tamu dan duduk di sofa untuk merilekskan tubuh dan pikiran.
"Sama-sama, karena kamu juga membawakan ku fragmen itu." ucap Liza
"Oh, ngomong-ngomong soal fragmen. Bagaimana?" tanya Lein
"Aku naik 2 level menjadi 144. Tentu saja kekuatan nya meningkat, dan aku juga lebih leluasa mengontrol kekuatan Leviarves ini.", jawab Liza
"Baguslah, aku juga ikut senang." ucap Lein tersenyum
"Dan bagaimana latihan mu? apakah kamu sudah memenuhi persyaratan untuk masuk ke universitas tujuan mu" Liza bertanya tentang perkembangan Lein
"Yeah, aku sudah level 29. Meskipun aku belum bisa menyalurkan mana ke suatu objek, namun aku sudah mahir jika menyalurkan ke tubuh." jawab Lein
"Itu perkembangan yang cepat, kamu memang monster. Ngomong-ngomong apa kemampuan mu Lein? Pasti itu sangat hebat." tanya Liza
Liza penasaran dengan kemampuan Lein dan beranggapan bahwa itu sangat hebat karena lein bisa sampai level 29 dengan cepat.
"F rank, Analysis Eye." jawab Lein tidak menyembunyikan nya dari Liza
"F rank katamu!? Tidak mungkin, kamu pasti bercanda." Liza menganggap Lein sedang bercanda
Lein tidak menjawab nya, ia hanya menatap mata Liza dengan tenang. Liza juga menatap mata Lein, dan mereka saling tatap selama 5 menit.
"Serius?" tanya Liza memastikan
"Serius." jawab Lein pasti
"Ah gila, kamu memang monster." ucap Liza lemah
Liza akhirnya percaya dengan kemampuan Lein, meskipun itu tidak masuk akal.
"haha jangan berlebihan. Kemampuan ku itu bisa menganalisa beberapa hal dan juga aku dibantu oleh Oct." Lein berkata setengah benar dan setengah bohong
Lein tidak memberitahu Liza bahwa ia bisa menganalisa segala nya sesuai dengan level nya. Alasannya karena ia takut hal itu akan menyebabkan masalah yang berlebih.
Lein memang tidak takut dengan masalah yang akan datang, namun ia tidak mau membuat masalah untuk dirinya karena itu tidak berguna.
"Ah seperti itu, dengan kepintaran mu itu ditambah kemampuan dan bantuan roh mu. Kamu bisa menjadi kuat seperti sekarang ya." Liza sedikit rileks dengan ucapan Lein
"Ya, begitulah." ucap Lein
"Kalau begitu, aku istirahat dulu. Besok aku akan pergi ke ibu kota, untuk mengikuti ujian." Lein berdiri dan menuju kamar tidur nya.
"Ya, selamat istirahat" ucap Liza
"Kamu juga." balas Lein
Liza yang melihat punggung Lein merasa bahwa manusia muda didepan nya akan terus bertambah kuat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
__ADS_1
Karena Liza tahu bahwa Lein sangat pintar dan selalu bersikap dewasa. Ditambah kemampuan yang bisa menganalisa sesuatu dan dengan bantuan Roh pemandu nya itu.
"Fufu, aku menantikan saat kamu bertambah kuat, Lein."