
Perjamuan Makan Malam telah usai, kini Lein, Liza, Jonas dan juga Isolda sedang berada di kamar hotel yang Lein pesan.
Mereka bertiga ingin memeriksa apa saja barang-barang yang didapat dari Draven dan juga hadiah yang diberikan oleh Rollen.
"Pertama, yang mudah dulu. Jonas, gunakan buku skill yang diberikan oleh Walikota." Ucap Lein kepada Jonas.
"Tentu." Jonas menggunakan buku skill Blood Adrenaline.
"Bagaimana perasaan mu?" Tanya Lein.
"Hm..." Jonas menyentuh dagunya.
"Seperti darah yang ada ditubuh ku meluap-luap." Ucap Jonas.
"Tentu saja.." Lein kemudian menjelaskan efek skill Blood Adrenaline kepada Jonas dan yang lain.
"Woah, skill ini sangat berguna di medan tempur." Jonas kagum dengan skill yang ia dapatkan.
"Benar, selanjutnya buku skill waktu yang aku dapatkan akan diberikan untuk Isolda. Karena Isolda kekurangan skill." Ucap Lein.
"Baik!" Jawab Isolda kemudian ia menggunakan buku skill yang Lein berikan.
"Analisa buku skill itu." Ucap Lein karena ia belum sempat menganalisa.
[ analisa berlangsung ]
[ Time Pressure
rank : tinggi
efek skill : membuat target merasakan tekanan dari waktu ]
"Hm..." Lein menjelaskan efek skill Time Pressure.
"Jadi skill ini bisa membuat target merasakan seperti terkikis oleh waktu..." Ucap Liza paham.
"Benar." Angguk Lein.
"Kemampuan waktu dan ruang memang yang paling mengerikan." Ucap Jonas merinding.
"Oh ya Isolda. Makan ini." Lein mengeluarkan cangkang telur naga.
"Wah!" Isolda senang dan segera memakan cangkang telur naga itu.
Cangkang telur naga memiliki efek peningkatan daya tahan tubuh kepada naga yang memakannya.
Oleh karena itu naga yang baru lahir biasanya akan memakan cangkang telur nya sendiri.
"Lalu, haruskah kita memeriksa barang-barang yang kita dapatkan dari pertempuran kemarin?" Ucap Lein.
"Tengi saja." Liza mengeluarkan semua barang-barang yang Draven keluarkan
"Hm.." Mereka bertiga segera memeriksa barang-barang nya karena ada banyak sekali jumlah nya.
"Apa ini..." Lein mengambil sebuah piringan cakram yang terlihat sangat tua.
"Analisa." Lein menganalisa piringan cakram itu.
[ analisa berlangsung ]
[ Cakram Jareth
rank :F
Sebuah piringan cakram yang berfungsi untuk memanggil Iblis Agung Jareth ]
__ADS_1
"!!" Lein melebarkan matanya.
"Ha..Ha..Hahahaha!" Lein tertawa lepas.
"??" Liza dan Jonas saling memandang tidak tahu mengapa Lein tertawa seperti orang gila.
"Lein? Ada apa?" Tanya Liza penasaran.
"Ah tidak. Piringan cakram ini akan sangat berguna untuk ku." Lein menunjukkan piringan cakram yang ia ambil.
"Baiklah, itu bagus." Liza tersenyum.
"Tapi.. banyak barang aneh ya.." Ucap jonas.
Barang-barang milik Draven kebanyakan adalah barang yang aneh dan unik. Jonas menemukan ada mata Cyclops, kayu usang, bulu kucing, tanduk banteng, dan lain-lain.
"Aku tidak tahu mengapa, tapi sepertinya barang-barang ini digunakan untuk memanggil iblis agung itu." Ucap Lein.
"Iblis Agung!?" Liza dan Jonas terkejut.
"Ah, aku belum memberitahu kepada kalian ya?" Tanya Lein.
"Belum." Liza dan Jonas menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Jonas, kamu pasti tau Leviarves bukan?" Tanya Lein kepada Jonas.
"Aku tahu, Leviarves adalah naga jahat yang hidup di zaman kuno." Angguk Jonas.
"Bagus, dan Liza memiliki kemampuan Leviarves." Ucap Lein.
"Eh benarkah?" Jonas melihat ke arah Liza dan Liza mengangguk.
"Kalau begitu apa hubungannya?" Jonas bingung.
"Karena pancaran energi dari fragmen Leviarves yang terus-menerus, Kota Els jadi terpenuhi oleh energi jahat Leviarves."
"Anarchy Order adalah dalang dibalik penyerangan kota Els kemarin dan tujuan mereka adalah untuk memanggil iblis agung bernama Jareth ke dunia ini." Ucap Lein menjelaskan tujuan penyerangan kota Els.
"Jadi begitu..." Liza dan Jonas paham dengan situasi nya.
"Ya, jika tidak ada kita bertiga, bukan, jika tidak ada Liza, akan terjadi pembantaian di kota Els dan Jareth mungkin berhasil dipanggil." Ucap Lein.
"Benar, karena meskipun aku dan bos bersama jenderal Marcus menghentikan para monster yang keluar dari Dark Mist, kami masih tidak bisa mengalahkan lich." Jonas setuju dengan ucapan Lein.
"Tapi...apakah tidak ada barang yang berguna!?" Lein mengeluh dengan barang-barang milik Draven ini.
"Hm, hanya ada beberapa jimat sederhana dan sisanya memang tidak berguna..." Ucap Liza.
"Yah terserah lah, mari tidur." Lein pergi ke kasur.
"Baik." Liza dan Jonas mengangguk.
Jonas kemudian berjalan keluar kamar dan pergi ke kamar nya sendiri yang telah ia pesan.
Lalu Liza juga pergi ke kasur di sebelah kasur Lein, karena didalam kamar terdapat dua kasur.
Untuk Isolda, ia masih tetap memakan cangkang telur naga dan sepertinya ia sangat menikmati nya.
...----------------...
"...Lein..." Ucap seorang wanita.
"Hm?" Lein membuka matanya.
"Dimana ini..." Lein melihat sekeliling.
__ADS_1
Lein sedang berada di sebua ruangan yang serba putih yang bahkan Lein tidak bisa melihat ujung nya.
"Lein.." terdengar suara wanita di belakang nya.
"Siapa!?" Lein menjadi waspada dan menoleh ke arah belakang nya.
"Ini aku.." Ternyata Dewi Ariel yang memanggil Lein..
"Kamu? Mengapa kamu disini?" Tanya Lein.
"Ini adalah ruangan yang aku ciptakan. Dan Kesadaran mu saat ini berada di ruangan ini, bukan tubuh asli mu." Jawab Dewi Ariel.
"Baiklah aku paham. Lalu apa tujuan mu memanggil ku?" Lein paham dengan ucapan Dewi Ariel.
"Tolong berikan pada kami piringan cakram itu." Ucap Dewi Ariel.
"Sudah kuduga..." Lein menyeringai.
"Tidak bisa Dewi, aku tidak bisa memberikan piringan cakram ini kepada kalian secara gratis." Ucap Lein.
Lein memang sudah tahu bahwa pasti dewa dan dewi akan meminta piringan cakram ini. Lein memang berencana menyerahkan piringan cakram ini dengan ganti kekuatan baru atau yang lain.
"Kami tahu itu. Jadi tolong katakan apa yang kamu mau Lein." Dewi Ariel mengangguk.
"Dua pilihan." Lein menunjuk dua jari.
"Pertama, berikan aku otoritas untuk menggunakan divine power yang setara dengan dewa."
"Kedua, buka segel Dragon Language."
"..." Dewi Ariel mengerutkan keningnya.
"Itu tidak mungkin, tolong berikan permintaan yang masuk akal." Dewi Ariel menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maaf Dewi." Ucap Lein dengan senyuman.
"Kamu..!" Dewi Ariel sedikit kesal dengan sikap Lein yang sembrono.
Lein hanya mengangkat bahu tidak peduli.
"Biar ku tanya terlebih dahulu, untuk apa kamu menggunakan salah satu dari kemampuan itu?" Dewi Ariel menenangkan diri.
"Jika divine power, aku berencana untuk memulihkan lengan ku. Jika Dragon Language, aku membutuhkan nya untuk skill yang lebih besar." Jawab Lein.
"Mengapa kamu tidak memintaku untuk memulihkan lengan mu saja? Itu lebih mudah." Tanya Dewi Ariel.
"Bukannya kamu sudah tahu? Aku membutuhkan salah satu kemampuan itu untuk membunuh Frederic." Jawab Lein.
"..." Dewi Ariel tidak mengatakan apa-apa.
Setelah beberapa waktu diam...
"Baiklah, kami setuju bahwa dengan memberikan otoritas untuk menggunakan divine power yang setara dengan dewa." Dewi Ariel menghela napas.
"Terimakasih Dewi!" Ucap Lein tersenyum cerah.
Dewi Ariel mengulurkan kedua tangan nya ke arah Lein dan mengucapkan sesuatu yang tidak Lein pahami.
Kemudian cahaya emas bersinar dari kedua telapak tangan Dewi Ariel dan menuju ke arah Lein dan memasuki tubuhnya.
Lein menutup mata dan merasakan kekuatan yang memasuki tubuhnya.
Lalu ia kembali ke kamar nya dan memeriksa inventory nya. Dan benar saja piringan cakram itu telah menghilang.
Kemudian Lein tertidur dengan senyuman.
__ADS_1