Analysis Eye

Analysis Eye
Obrolan setelah Pertempuran


__ADS_3

Walikota Kota Els juga dibawa terbang oleh bawahan nya agar lebih cepat.


Walikota Kita Els bernama Rollen Ozal. Dia adalah seorang prajurit yang sangat kuat dan mahir dalam senjata tombak dan sebuah perisai.


Rollen bertubuh kekar seperti binaragawan dengan janggut dan kumis tipis di wajah nya. Bisa dibilang Rollen adalah sekarang pria paruh baya yang tampan.


Karena berbeda dengan penyihir, prajurit selalu melatih fisiknya. Oleh karena itu seorang prajurit akan memiliki tubuh berotot yang bagus.


Dan tubuh itu menambah karisma bagi seorang pria. Dan kebanyakan prajurit bersifat ramah, karena hidup mereka keras.


Oleh karena itu para prajurit akan membahagiakan diri mereka dengan berbuat baik bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi ras lain, bahkan makhluk lain.


Rollen dibantu oleh bawahan nya dan mencari Marcus. Rollen mendarat dan bertanya kepada prajurit lain apakah mereka melihat Marcus.


"Hey, Apakah kalian melihat Marcus?" Tanya Rollen.


"Walikota!?" Para prajurit yang sedang beristirahat terkejut


"Ah, jenderal Marcus ada di hutan sana tuan. Kami melihat tadi ia bertarung bersama dua pria muda." Jawab salah satu prajurit.


"Dua pria muda? Siapa mereka?" Pikir Rollen.


"Baiklah, terimakasih." Rollen mengangguk dan segera menuju arah yang ditunjuk oleh prajurit tadi.


Saat Rollen sedang mencari Marcus, ia mendengar suara Marcus dan seorang pria muda.


...----------------...


"Hey jenderal... Kamu tidak akan mati kan?" Jonas bertanya dengan nada bercanda.


"Bocah, kamu pikir jabatan jenderal adalah lelucon?" Marcus mendengus.


"Hahaha." Jonas tertawa.


Jonas kemudian memapah Marcus yang terluka parah. Mereka berdua berjalan ke arah kota sambil berbicara dan bercanda.


...----------------...


"Marcus...?" Rollen memanggil Marcus yang sedang dipapah oleh Jonas.


"Hm?" Marcus menoleh.


"Walikota!" Marcus terkejut karena Rollen ada di sini.


"Bagaimana bisa keadaan mu seperti ini!" Rollen segera menghampiri mereka saat ia melihat luka di tubuh Marcus.


"Ah Walikota..." Marcus ingin menjelaskan namun ia berpikir bahwa tempat dan waktu nya kurang tepat.


"Walikota, kita akan membicarakan ini nanti. Ada orang yang lebih tahu mengenai penyerangan kali ini." Ucap Marcus dengan serius.


"Baiklah." Rollen juga tahu bahwa tempat dan waktu nya kurang tepat.


Kemudian Marcus mengenalkan Jonas kepada Rollen. Lalu Rollen membantu Jonas memapah Marcus dan mereka bertiga berjalan bersama.

__ADS_1


...----------------...


Liza melihat waktu, karena pertempuran nya dimulai saa sore, sekarang sudah tengah malam.


"Lein, bangun..." Liza membangunkan Lein yang masih tertidur.


"Hm?" Lein membuka matanya.


"Apakah sudah selesai?" Tanya Lein melihat Liza berada di depannya.


"Ya, berkatmu aku juga bisa mengalahkan lich dengan mudah." Angguk Liza.


"Baguslah..." Lein tersenyum.


"Ayo, kita pergi..." Liza berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Ya..." Lein mengangguk dan menerima uluran tangan Liza.


Mereka berdua berjalan menuju ke arah kota. Mereka tidak menggunakan rune teleportasi Liza karena mereka ingin berbincang-bincang.


"Lein, apakah kamu tidak merasa tidak nyaman hanya dengan satu tangan?" Tanya Liza.


"Hm... Jika dipikir memang kurang nyaman." Jawab Lein.


"Mengapa kamu tidak memulihkan nya?" Liza penasaran.


"Kamu sudah berhubungan dengan dewa, pasti kamu tahu mengenai divine power kan?" Lein tidak menjawab pertanyaan Liza namun ia bertanya mengenai divine power.


"Divine power? Ya, aku tahu." Liza mengangguk.


"Oleh karena itu potion ataupun sihir penyembuh biasa tidak akan bisa memulihkan lengan ku ini." Ucap Lein.


"Ah, jadi begitu..." Angguk Liza.


"Tapi, Jika dia memiliki divine power yang lebih kuat darimu, bukankah seharusnya dia membunuh mu?" Liza mengerutkan kening.


"Benar, tapi itu karena ia memiliki urusan yang lebih penting. Oleh karena itu dia membiarkan ku lolos." Jawab Lein.


"Oh ya Liza.."


"Ya? Kenapa Lein?" Tanya Liza.


"Hm, aku ingin memberitahu mu mengenai masa lalu ku. Tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat." Lein menggaruk-garuk kepalanya.


"Ah?" Liza sedikit terkejut.


Karena Lein selalu diam mengenai masa lalunya. Dan Liza juga penasaran bagaimana masa lalu dan kehidupan yang dilalui Lein hingga saat ini.


Karena Lein sudah bersikap dewasa diumur nya yang masih remaja. Sikap dewasa itu pasti karena ia sudah mengalami kehidupan yang sulit.


Liza berpikir bahwa Lein ingin memberitahu masa lalu nya kepada dirinya, yang berarti Lein sudah sangat percaya kepada dirinya.


"Tidak apa-apa Lein..." Liza tersenyum manis dan berjalan lebih cepat sambil menyenandungkan lagu.

__ADS_1


"!!" Lein menghentikan langkah nya karena ia terpesona dengan senyuman yang Liza tunjukkan barusan.


"Ah, sial. Bagaimana bisa aku lupa bahwa ada hal yang indah di dekatku." Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Lein? Hey!?" Liza yang sudah jauh menyadari bahwa Lein berhenti.


"Ah, segera." Lein berjalan cepat menghampiri Liza.


"Omong-omong Liza, cambuk api mu sangat keren tadi." Lein mengatakan hal yang sebenarnya.


Karena api Leviarves berwarna hitam dan mengeluarkan aura yang mengerikan. Saat Liza menggunakan cambuk nya, ia terlihat sangat mendominasi.


Dan Liza mengeluarkan aura yang unik. Karena elf yang mencintai hutan memiliki aura baik dan lembut. Namun Liza adalah seorang elf yang memiliki aura jahat.


Oleh karena itu Lein yang melihat Liza bertarung menjadi terpesona dan terpukau. Lein seperti mendapat pandangan baru mengenai ras elf.


"Ah? Iyakah?" Liza berkata dengan malu-malu.


"Benar." Lein mengangguk.


"hehe, terimaka- !!" Liza tidak bisa menyelesaikan ucapan nya karena tiba-tiba saja tangan kanan nya dipegang.


"Hm? Mengapa?" Lein melihat Liza dan tersenyum.


"Ah..." Liza hanya membuka mulutnya namun tidak bisa berkata apa-apa.


"Perasaan ini... membahagiakan.." Pikir Liza.


Liza tidak pernah berhubungan dengan seorang pria karena ia selalu berkelana ke berbagai tempat di dunia.


Liza tidak memiliki waktu untuk mencintai seseorang dan ia juga tidak ingin memiliki hubungan tetap dengan seseorang.


Karena ia memiliki aura jahat Leviarves. Liza takut orang-orang takut dengan nya karena aura ini. Oleh karena itu saat Lein memegangi tangan nya, ia merasa bahagia.


"Liza..." Lein memanggil Liza.


"Ya?"


"Maafkan aku, tapi aku belum pernah kencan dengan seseorang sebelum nya. Jadi mungkin akan sedikit kaku dan gugup." Lein tersenyum canggung.


"Pfft- Hahahaha...." Liza tertawa dengan lepas.


"Eh? Mengapa?" Lein bertanya mengapa Liza tertawa.


"Tidak, tidak apa-apa.." Liza menyelesaikan tawa nya.


"Sebenarnya, aku juga tidak pernah berkencan. Kencan besok adalah kencan ku yang pertama." Ucap Liza.


"Benarkah!?" Lein tidak menyangka.


"Benar.." Liza mengangguk.


"Jadi jangan khawatir, mari kita lakukan kencan kita dengan senang hati." Lagi-lagi, Liza menunjukkan senyum yang sangat indah.

__ADS_1


"Baiklah..." Lein menutup matanya sebentar dan tersenyum.


Mereka berdua berjalan bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Meskipun mereka belum memiliki hubungan yang resmi.


__ADS_2