Analysis Eye

Analysis Eye
Gedo yang Membuat Masalah


__ADS_3

Lein mengendalikan pria botak itu agar tidak terjatuh ke tanah dengan keras dan memindahkan nya ke danau lalu menonaktifkan sihir terbang nya.


"Fufufu, kamu sungguh kejam." Liza tertawa kecil melihat perbuatan Lein.


"Kejam? Tentu saja tidak, aku hanya membantu pria botak itu agar tidak terluka parah, kekeke." Lein juga tertawa.


Enzo segera turun ke bawah dan menggeleng-gelengkan kepala nya saat melihat Lein dan Liza tertawa seperti orang jahat.


"Kamu benar Enzo, orang itu sangat lemah." Ucap Lein.


"..Yah, jika dibandingkan dengan mu tentu saja dia lemah." Enzo tidak tahu harus berkata apa.


Karena pria botak itu merupakan salah satu orang yang kuat diantara mahasiswa tahun ketiga Universitas Ocean Blue.


Namun Lein mengucapkan bahwa pria botak itu sangat lemah. Tentu saja, itu karena Lein tidak bisa dibandingkan dengan orang normal.


"Hah...Hah..." Pria botak itu berenang ke tepi.


"Enzo!! Berani-beraninya kamu meminta bantuan orang lain!?" Teriak pria botak itu.


"Gedo, dari awal, kamu lah yang curang karena menyerang ku dengan item berkualitas." Enzo melihat ke arah sarung tangan yang dipakai oleh Gedo, si pria botak.


"Cih!' Gedo mendecakkan lidah nya.


"Gedo, kamu kalah lagi.." Tiba-tiba banyak sekali orang yang datang ke taman.


"Diam!" Teriak Gedo.


"Sepertinya...Ini semakin merepotkan ya.." Ucap Liza lirih.


"Benar, padahal kita sudah menemukan tempat yang bagus." Angguk Lein.


"Enzo, sepertinya kami datang di waktu yang salah." Lein berdiri.


Liza juga berdiri sambil menghela napas karena waktu yang digunakan untuk menikmati pemandangan menjadi berantakan.


"...Maafkan aku." Enzo meminta maaf dengan tulus.


"Tidak perlu meminta maaf, ini bukan salah mu. Tapi, kami akan pergi dulu karena ini bukan waktu yang tepat untuk berbincang-bincang." Lein berbalik.


"Baik, ma-" Ucapan Enzo terpotong.


"Kamu! Pria sialan yang membantu Enzo!" Teriak Gedo memanggil Lein.


"Hm? Apa yang kamu bilang barusan?" Lein menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah Gedo.


"Apa? Kamu memang pria sialan, seenaknya saja mengganggu pertarungan seseorang, dasar tidak sopan." Ucap Gedo dengan nada arogan.

__ADS_1


"Enzo, bolehkah aku bunuh orang ini?" Lein mengatakan kalimat yang mengerikan sambil tersenyum.


"Uh.. Tidak boleh Lein." Enzo segera menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hah..." Lein kecewa.


"Mengapa kamu kecewa!?" Batin Enzo.


"Apa!? Kamu ingin membunuh ku? Seperti nya memang benar ya, kamu adalah pria sialan!" Teriak Gedo yang sedang memancing orang-orang untuk menghina Lein.


"Tamat sudah riwayat mu, meskipun aku sudah mengucap tidak boleh membunuh, tetapi Lein pasti akan membuat mu merasakan hal yang lebih buruk dari kematian." Batin Enzo.


"Hm, dilihat dari sikap nya, sepertinya dia belum memasuki dunia masyarakat yang kejam ya.." Pikir Liza.


Dunia masyarakat adalah sebuah dunia yang kejam, di masyarakat seperti hutan rimba dimana yang kuat yang akan bertahan.


Di masyarakat, jika kamu kuat, memiliki uang banyak, memiliki status yang tinggi, kamu akan dihormati oleh banyak orang.


Jika kamu lemah dan tidak memiliki apapun, maka jangan mengharapkan dunia untuk bersikap lembut kepadamu.


Ada dua tipe orang yang bisa bertindak arogan di masyarakat, yang pertama adalah orang yang memiliki sesuatu di belakang nya entah itu kekuatan, uang, atau status.


Yang kedua adalah orang yang bodoh yang hanya bisa menindas yang lemah. Dan contoh tipe kedua ini adalah Gedo yang sedang memprovokasi Lein.


"Hah..." Lein menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya.


"Ugh!" Tubuh Gedo tiba-tiba terasa berat.


Lein menggunakan sihir tekanan gravitasi ke Gedo dan terus-menerus menambah berat tekanan nya sampai Gedo berteriak.


"Arghh!!" Gedo berteriak histeris.


Kemudian Lein menggunakan mana nya untuk membuat sebuah kubah setengah lingkaran yang mengurung Gedo di dalam nya.


Kubah mana itu berfungsi agar udara tidak keluar masuk, yang artinya semua oksigen yang ada di dalam kubah lama-kelamaan akan habis dan berubah menjadi karbondioksida.


"Ugh!" Gedo merasa bahwa oksigen di sekitarnya menipis.


Orang-orang yang ada di sekitar melebarkan mata mereka saat Gedo sedang berlutut di tanah karena tekanan gravitasi.


Wajah Gedo juga menjadi panik karena ia merasa oksigen yang bisa ia hirup semakin berkurang dan malah berubah menjadi karbondioksida.


Namun meskipun begitu, tidak ada satu orang pun yang menghentikan Lein dan membantu Gedo, mereka hanya menonton dari jauh.


"Baru sebentar namun sepertinya kamu sudah mencapai batasmu?" Lein berjongkok di depan Gedo.


"Tapi, perkataan mu yang sebelumnya itu kasar, jadi haruskah aku membuat mulutmu agar tidak bisa berbicara?"

__ADS_1


"Atau haruskah aku menghilangkan pita suara mu agar kamu tidak bisa mengeluarkan suara apapun? Atau keduanya?"


Lein menatap Gedo dengan tatapan tajam dan mengucapkan kalimat yang mengerikan seolah-olah ia akan mencabut nyawa Gedo.


"A..a..ampuni aku.." Ucap Gedo lirih.


"Hm? Apa? Aku tidak bisa mendengar mu." Lein berpura-pura tidak mendengar apa yang Gedo ucapkan.


"Ma..maafkan aku...Tolong..a..ampuni aku..." Ucap Gedo dengan suara yang lebih keras.


"Mengampuni mu ya, bagaimana ini..." Lein menyentuh dagunya.


"Mana Absorb." Lein mengulurkan tangan nya menyentuh tubuh Gedo.


Kemudian Lein menyerap mana yang ada di tubuh Gedo ke dalam dirinya sampai Gedo terlihat kelelahan seperti mayat hidup.


"Arghh!!" Gedo berteriak dengan keras saat mana nya diserap oleh Lein.


"Seharusnya ini cukup." Lein berdiri kemudian berjalan pergi meninggalkan kerumunan.


"Oh, tunggu aku..." Liza mengikuti Lein.


Enzo ingin ikut juga namun tidak bisa karena ia adalah orang yang menyebabkan semua ini dan ia harus bertanggung jawab untuk membereskan nya.


"Daripada kalian berdiam diri disana, sebaiknya bantu teman kalian yang sedang terkapar. Mungkin saja nyawanya dalam bahaya?" Ucap Enzo.


"!!" Teman-teman Gedo segera menghampiri Gedo dan menggendong nya.


Kemudian mereka berlari ke ruang medis Universitas Ocean Blue yang letaknya sedikit jauh dari taman.


...----------------...


"Aku tahu kamu menahan diri..." Ucap Liza


"Tentu saja, kita sedang berada di Universitas Ocean Blue." Balas Lein sambil mengangkat kedua bahu nya.


"Benar juga, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika situasi tadi ada di alam liar." Ucap Liza sambil membayangkan nya.


"Tentu saja aku akan langsung membunuh nya." Lein langsung menjawab nya.


"Fufufu~ Aku tahu kamu akan menjawab seperti itu." Liza tertawa kecil.


Mereka berdua kemudian berjalan-jalan sambil mencari tempat yang nyaman untuk duduk dan bersantai.


Karena tidak ada suasana yang nyaman seperti taman tadi, Lein dan Liza akhirnya pergi ke kafetaria Universitas Ocean Blue.


Dan disana juga banyak mahasiswa yang sedang mengantre untuk mengambil makanan.

__ADS_1


__ADS_2