
Universitas Dragon Heart Rumah milik Presiden Brynn.
Mereka berdua, Lein dan Presiden Brynn sedang berada di teras rumah lantai dua.
Mereka menikmati ketenangan malam, karena mereka tau bahasa setelah ini akan ada badai yang mungkin mengguncang keadaan.
"Lein, katakan padaku. Antara menjadi orang baik atau orang jahat, mana yang akan kamu pilih?" Presiden Brynn menuangkan minuman dan bertanya.
"Jika soal sifat, tentu saja aku lebih memilih orang baik." Lein menjawab dengan tenang.
"Kalau begitu aku ganti pertanyaan nya. Menjadi pahlawan atau penjahat, mana yang kamu pilih?" Presiden Brynn mengganti pertanyaan nya.
"Penjahat." Lein menjawab tanpa ragu.
"...Alasan nya?" Presiden Brynn menanyakan alasan Lein memilih penjahat.
"Karena pahlawan harus menyelamatkan dunia dan selalu menolong orang-orang tanpa pamrih." Lein juga menuangkan minuman nya.
"Dan penjahat hanya berbuat jahat karena mereka melindungi sesuatu yang berharga bagi mereka. Aku tidak mau menjadi pahlawan, itu merepotkan." Lein mengutarakan alasan nya.
Jujur saja, presiden Brynn terkejut dengan jawaban Lein. Presiden Brynn mengira untuk remaja seperti Lein akan memilih pahlawan.
Namun seketika Presiden Brynn sadar, Lein tidak sama seperti remaja lain. Ia sudah merasakan perasaan menghadapi dunia.
Oleh karena itu wajar saja jika Lein memilih penjahat dibandingkan dengan pahlawan.
"Oh dan kebanyakan penjahat berbuat jahat karena mereka dipaksa oleh keadaan. Mereka hanya korban dari kejamnya dunia ini." Lein mengatakan sesuatu seperti orang dewasa.
"Perkataan mu... dalam juga." Presiden Brynn sedikit memuji perkataan Lein
"Haha, biasa saja." Lein tertawa kecil.
"Kalau begitu mari kita hiasi malam ini dengan beberapa pertanyaan." Presiden Brynn mengajak Lein.
"Oh~ Itu ide yang bagus." Lein menerima ajakan presiden Brynn.
"Apa yang membuat mu bertahan di dalam kesendirian?" Presiden Brynn bertanya dengan wajah tersenyum namun serius
"Apa ya. Biarkan aku berpikir sebentar." Lein meletakan gelas nya dan bersandar di kursi lalu menutup matanya.
"Tentu, silakan." Presiden Brynn dengan tenang menunggu
Tidak lama, Lein membuka matanya dan mengambil gelas tadi lalu meminumnya.
"Sepertinya karena aku belum memiliki tujuan hidup saat itu." Lein mengatakan jawaban nya.
"Maksudmu?" Presiden Brynn agak bingung.
"Ya, aku tidak tau tujuan hidup ku. Aku berpikir aku harus menemukan tujuan hidup ku dulu, baru memikirkan langkah selanjutnya." Lein menjelaskan.
"Meskipun aku pernah bertanya-tanya, seperti 'mengapa aku sendiri?', 'mengapa aku hidup?', mengapa aku lemah?'. Seperti itulah." Lanjut Lein
__ADS_1
"Jadi kamu berpikir, untuk apa menyerah atau mengakhiri hidup karena tujuan hidup saja tidak ada." Presiden Brynn menyimpulkan pendapat nya.
"Benar, tepat sekali." Lein tersenyum.
"Apakah kamu ingin bertanya?" ucap presiden Brynn.
"Tentu, aku penasaran mengapa anda menjadi presiden universitas." Kali ini Lein yang bertanya kepada presiden Brynn.
"Ah itu. Itu karena aku ingin membuktikan bahwa wanita pun bisa menjadi lebih kuat dibandingkan pria. Namun saat aku menjadi presiden, aku memutuskan untuk menyembunyikan identitas ku. Kamu tahu alasan nya." Presiden Brynn menjawab.
"Jadi begitu... Memang, jika wanita menjadi presiden, orang-orang akan mempertanyakan kredibilitas universitas ini." Lein mengangguk.
"Mereka pasti akan berpikir, 'mengapa universitas dragon heart mempekerjakan wanita sebagai presiden? apakah universitas dragon heart melemah?', Seperti itu." Lein mengutarakan pikiran nya.
"Tepat sekali. Orang-orang akan mempertanyakan hal itu." Presiden Brynn setuju dengan jawaban Lein.
"Lalu pertanyaan terakhir." Presiden Brynn minum agar tenggorokan nya tidak kering.
"Silakan." Lein mempersilakan pertanyaan presiden Brynn.
"Apa...tujuan hidup mu saat ini?" Presiden Brynn bertanya dengan sangat serius.
"Tujuan hidup ku?" Lein tidak menyangka presiden akan menanyakan hal itu.
"Iya, tujuan hidup mu." Presiden Brynn mengangguk.
"Baiklah, aku merasa sedikit nostalgia..." Lein bersandar dan melihat indahnya langit malam yang dihiasi dengan bintang-bintang.
Presiden Brynn tersenyum, sepertinya tujuan hidup Lein sangat menarik melihat bagaimana Lein bereaksi seperti itu.
"!!" Presiden Brynn tidak menyangka itu akan menjadi tujuan hidup Lein.
"Hahahaha." Presiden Brynn tertawa lepas untuk pertama kalinya dihadapan Lein.
Lein terpesona, dengan tawa indah presiden Brynn dan dengan latar belakang langit malam yang dihiasi oleh banyak bintang yang bersinar terang.
"Tujuan hidup mu itu... sungguh menarik." Presiden Brynn menunjukkan senyum indah nya.
"Terimakasih, pres." Lein merasa sedikit tersanjung.
"Ngomong-ngomong, aku akan membantu mu menghadapi keluarga Barqi, meski aku tidak bisa membantu mu secara langsung." Presiden Brynn berkata.
"!!" Lein terkejut.
"Apakah anda serius pres?" Lein bertanya untuk memastikan.
"Ya, berani-beraninya mereka membuat kekacauan di universitas dragon heart ini!" Presiden Brynn menunjukkan kemarahan.
"Aku tidak akan mengecewakan mu, pres." Lein menyeringai.
...----------------...
__ADS_1
Disebuah tempat di kota Dragon Tide, Kediaman keluarga Barqi.
"Apa! mereka gagal!" Seorang pria paruh baya berteriak dan melempar gelas ke tanah.
Pria itu adalah Ayah Kiva Barqi, Nolan Barqi yang sekarang menjabat sebagai patriark keluarga Barqi.
Nolan sangat marah karena assassin yang disewa nya gagal membunuh target, malahan mereka para assassin terbunuh oleh target.
Ya, Nolan saat ini sedang membicarakan assassin yang menyerang Lein. Dan tentu saja 'target' yang sedang dibicarakan adalah Lein.
"Orang-orang Universitas pasti akan segera tau tentang kekacauan kali ini." Nolan menahan amarah nya.
"Sewa assassin lagi! Berapapun harganya kita harus membunuh Lein!" Nolan memberikan perintah.
"Tapi patriark... kita akan kekurangan dana untuk menjalani rencana kita." Seorang pria tua disamping Nolan berbicara.
"Tidak, jika Lein tidak mati, ia akan menimbulkan masalah yang besar bagi kita. Lein sudah membuat kita rugi dan ia sepertinya dekat dengan anak keluarga Courbet itu." Nolan mengutarakan pikiran nya.
"Dan hubungan Lein dengan anak keluarga Courbet akan menjadi masalah di masa depan." Lanjut Nolan.
"Apa yang anda katakan benar sekali patriark." Pria tua tadi mengangguk.
"Ya. Kalau begitu laksanakan perintah ku yang tadi!" Nolan memberikan perintah.
"Ya!" Pria tua itu menerima perintah Nolan kemudian ia menghilang.
...----------------...
Universitas Dragon Heart, Rumah milik Presiden Brynn.
"Menginap lah disini. Kamu tidak akan bisa tidur di rumah mu yang penuh darah itu." Presiden Brynn berdiri.
"Baiklah, terimakasih pres." Lein juga berdiri.
Kemudian presiden Brynn menunjukkan kamar tidur tamu di lantai satu.
"Ini kamar mu, beristirahat lah dengan baik. Besok mungkin keluarga Barqi akan bergerak." Presiden Brynn mengatakan tebakan nya.
"Ya, aku juga berpikir seperti itu." Lein mengangguk setuju
"Baiklah, selamat malam Lein." Presiden Brynn berkata.
"Selamat malam juga pres." Lein membalas
Kemudian presiden Brynn berjalan menuju lantai dua, ke arah kamar tidur nya sendiri.
Lein melihat presiden Brynn sudah naik ke atas, lalu ia juga memasuki kamar nya.
"Kamu pasti bisa, bocah." Octiorb muncul dan menyemangati Lein.
"Ci~" Isolda juga ikut menyemangati.
__ADS_1
"Haha, terimakasih kalian berdua. Aku tidak akan kalah" Lein menunjukkan tekad yang kuat di matanya.
Kemudian Lein pergi tidur, dan ia tidur dengan nyenyak.