
"Bagus! Lanjutkan!" Lein menyeringai.
Lein maju dengan kedua katana nya ia pegang dengan erat. Kemudian Lein melompat dan memutar tubuh nya agar bisa melakukan serangan berputar.
"Cih." Daniel terpaksa mundur karena ia tidak bisa menangkis serangan berputar Lein dengan rapier nya.
Kemudian saat Lein mendarat, Daniel mengambil kesempatan itu dan segera menyerang Lein dengan tusukan cepat.
"Ups." Ucap Lein menghindari semua tusukan Daniel.
Lein juga membelokkan tusukan Daniel dan menyerang balik dengan langsung menyerang leher nya.
"!!" Daniel segera mundur menjauhi Lein lagi.
"Kenapa? Kamu takut kematian?" Tanya Lein dengan nada mengejek.
"Simpson Technique : Butterfly Step." Ucap Daniel.
Daniel menggunakan teknik langkah kaki yang membuat tubuh nya ringan yang memungkinkan dia bergerak sangat cepat.
"Simpson Technique : Extreme Speed Stab." Teriak Daniel.
Pergerakan yang cepat ditambah kecepatan serangan yang juga sangat cepat membuat Daniel bisa melancarkan banyak serangan kepada Lein.
"Ho? Lebih cepat ya..." Lein menghindar dan menangkis semua tusukan Daniel dengan mudah.
Bahkan Lein tidak mengubah wajahnya dan tetap memasang ekspresi santai saat ia berada di tengah-tengah serangan Daniel.
"Bagaimana bisa!?" Daniel melebarkan matanya tidak percaya.
"Tentu saja bisa!" Lein menggerakkan tangan kanan nya.
Lein melihat celah dan segera melancarkan serangan yang berupa tebasan ke arah perut bagian kiri Daniel.
Daniel terkena tebasan Lein membuat perut nya terluka dan mengeluarkan darah yang lumayan.
Daniel mundur menjauhi Lein kemudian ia meminum sebuah potion penyembuh yang membuat ia bisa menghentikan pendarahan di perut nya.
"Bisakah aku bertanya satu hal?" Ucap Daniel kepada Lein.
"Hm? Tentu, silakan." Lein mengangguk mempersilakan.
"Mengapa kamu bisa mengeluarkan niat membunuh yang sangat memberikan saat itu?" Tanya Daniel kepada Lein.
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja karena aku sering bertarung dengan orang kuat." Lein mengangkat kedua bahu nya.
"Bertarung? Maksudmu membunuh kan?" Danie menyipitkan matanya.
"Benar." Jawab Lein dengan senyum cerah.
"Pasti enak ya, bisa bertarung dengan bebas..." Ucap Daniel dengan nada kurang mengenakkan.
"Hm?" Lein mendengar nya namun ia abaikan.
"Aku lahir di keluarga terpandang dan selalu hidup dalam harapan orang-orang bahwa aku bisa menjadi kepala keluarga selanjutnya."
"Hidup ku telah diatur oleh para tetua keluarga agar aku bisa menjadi kepala keluarga selanjutnya tanpa masalah apapun."
"Aku - !!" Daniel tidak bisa menyelesaikan ucapan nya karena Lein menyerang.
__ADS_1
"Diamlah, kamu membuat semangat bertarung ku hilang..." Ucap Lein dengan nada suram.
Lein benar-benar kesal dengan ucapan Daniel ini yang membuat semangat bertarung nya menjadi hilang.
Sekarang Lein berpikir untuk menyelesaikan pertarungan nya melawan Daniel dengan secepat mungkin tanpa membuang banyak waktu lagi.
"Kenapa!?" Teriak Daniel.
"Mengapa kamu bilang?" Balas Lein.
Lein menghentikan serangan nya kemudian ia mundur menjauhi Daniel. Sekarang mereka sedang saling menatap mata dengan intens.
"Hidup di keluarga terpandang membuatmu bisa merasakan semua hal istimewa yang tidak dimiliki oleh orang lain."
"Kamu hidup dengan semua hal yang istimewa yang membuat hidup mu menjadi mudah namun kamu masih mengeluh!?"
"Kamu mendapatkan bakat yang bagus, pelatihan dari orang yang ahli, diberikan obat atau ramuan yang membuat tubuh mu kuat..."
"Perlengkapan yang luar biasa, skill hebat yang diturunkan generasi ke generasi, memiliki perlindungan karena keluarga mu terpandang..."
"Sialan!! Kamu mau aku bunuh hah!?" Teriak Lein.
"!!" Daniel mundur selangkah karena ia takut dengan tatapan mata Lein.
"Mari hentikan bermain-main nya." Lein menghembuskan napas.
"Dragon Dance : Double Gravity Slash." Ucap Lein.
Lein menggunakan tebasan gravitasi seperti biasa namun sekarang ia menggunakan tebasan gravitasi ganda dari kedua katana nya.
"Sihir!?" Daniel berlari menghindari serangan Lein.
"Kapan aku mengatakan nya?" Tanya Lein.
"Itu..." Daniel tidak bisa menjawab nya.
"Sudah kukatakan, hentikan bermain-main nya!" Lein menggunakan teknik gerakan kaki nya.
Tiba-tiba Lein berada di depan Daniel dan menyerang bahu kanan Daniel.
"Argh!" Daniel berteriak kesakitan dan memegangi bahu kanan nya.
"Haruskah aku potong saja tangan mu?" Ucap Lein.
"Ja-Jangan!" Teriak Daniel ketakutan.
"Yah karena kamu berasal dari keluarga terpandang, maka memulihkan lengan yang putus akan mudah." Ucap Lein.
"To-tolong jangan.." Daniel memohon.
"Berisik." Lein mengangkat tangan kiri nya dan mengayunkan katana nya dengan cepat.
Darah terciprat ke wajah Daniel dan pakaian Lein. Darah itu berasal dari tangan kanan Daniel yang Lein potong dengan cepat.
"Arghh!!" Daniel berteriak kesakitan bahkan ia sampai menangis.
...****************...
"Ini... Terlalu kejam bukan..."
__ADS_1
"Kejam? Kurasa tidak."
"Aku bahkan juga merasa marah saat mendengar ucapa Daniel mengenai keluarga nya..."
"Benar, padahal hidup nya sungguh nyaman..."
...****************...
Daniel sekarang benar-benar merasakan takut. Ia bahkan meminta tolong kepada siapapun berharap ada orang yang akan menyelamatkan nya.
"To-tolong!"
"Selamatkan aku!"
"Siapapun tolong!"
...----------------...
"...." Penonton di alun-alun tidak berbicara sama sekali.
Suasana di alun-alun menjadi hening setelah mereka melihat tindakan Lein yang tidak mereka pikirkan karena ini adalah kompetisi antar negara.
Ada beberapa orang yang berpikir bahwa Lein kejam namun ada juga yang berpikir Lein membuat keputusan yang tepat.
...----------------...
Di suatu vila mewah
"Anakku!!" Teriak seorang pria paruh baya saat melihat siaran langsung.
Bahkan wanita paruh baya disampingnya sudah pingsan dan sekarang sedang berada dalam perawatan pada pelayan.
...----------------...
"Hahaha!" Lein tertawa puas.
"Sekarang bagaimana!? Apakah kamu berpikir bahwa hidup di keluarga terpandang tidak nyaman!?"
"Berteriak lah! Berteriak meminta tolong kepada para tetua keluarga mu yang kamu keluhkan tadi!"
Lein meluapkan semua emosi nya kepada Daniel. Lein sudah muak mendengarkan ocehan pria muda yang belum melihat dunia.
Inilah alasan nya mengapa Lein membenci keluarga terpandang seperti mereka yang selalu saja membuat masalah.
Banyak keluarga terpandang yang menghasilkan anak muda dengan tubuh yang kuat namun mental lemah.
"Sekuat apapun kamu bahkan jika dihadapan kematian, kamu akan merasakan ketakutan yang berlebihan dan menjadi panik bukan?" Ucap Lein kepada dirinya sendiri.
"Baiklah, aku merasa kasihan padamu, menghilanglah" Lein menusuk perut Daniel.
Daniel memuntahkan seteguk darah dari mulutnya dan ia pingsan karena kehilangan banyak darah.
"Ups, ambil tas penyimpanan nya dulu." Pikir Lein.
Lein mengambil tas penyimpanan milik Daniel dan selang beberapa detik, tubuh Daniel menghilang tanda bahwa ia kembali ke alun-alun Kota Laville.
Lein menutup matanya dan mengobservasi lingkungan sekitar untuk mengetahui bagaimana pertarungan yang lain.
"Tentu saja mereka menang." Lein tersenyum saat mengetahui bahwa teman-teman nya berhasil mengalahkan lawan mereka.
__ADS_1
"Baiklah, mari kita rawat mereka. Mereka sudah berusaha keras." Pikir Lein mulai bergerak.