Analysis Eye

Analysis Eye
Desa Nadir yang Mengalami Kerusakan


__ADS_3

Sekitar tiga jam kemudian, Lein dan Liza melihat sawah didepan mereka tanda bahwa mereka sudah berada di wilayah Desa Nadir.


Namun, Lein dan Liza mengerutkan kening mereka saat melihat keadaan sawah di depan mereka.


Karena semua sawah nya mengalami kerusakan seperti bekas terinjak-injak dan beberapa bagian juga terlihat hangus karena terbakar.


"Apakah ada pertarungan di desa ini?" Ucap Liza.


"Sepertinya pertarungan antara Daerol dan para bandit." Jawab Lein.


"Bisa jadi." Angguk Liza.


Mereka berdua berjalan sambil melihat ke sekeliling mengamati kondisi dan situasi Desa Nadir.


Setelah beberapa saat berjalan mereka sampai di gerbang masuk Desa Nadir yang gerbang nya saja sudah hancur karena dampak yang besar.


Lein dan Liza saling memandang kemudian mengangguk. Mereka berdua memasuki Desa Nadir sambil mencari warga nya.


"Ah Lein, disana ada banyak orang." Liza menunjuk ke arah depan.


"Benar. Ayo kita kesana." Lein dan Liza kemudian berjalan cepat.


"Hm? SID." Lein menyipitkan matanya.


"SID? Ketiga orang itu?" Tanya Liza.


"Ya, benar." Angguk Lein.


Ketiga orang yang Lein lihat adalah orang yang sama saat SID datang setelah Lein mengalahkan petinggi Anarchy Order Arben Atvo.


Ketiga orang itu adalah Enver Glastin, Zayn Carolus, dan Hasley Emerilda.


"Analisa mereka." Lein penasaran berapa level mereka sekarang.


[ analisa berlangsung ]


[ Enver Glastin


level : 97


kemampuan : pengerasan kulit (A)


Seorang petugas SID yang sudah berpengalaman ]


[ Zayn Carolus


level : 81


kemampuan : Tangan Racun (A)


Seorang petugas SID muda yang berpotensi ]


[ Hasley Emerilda


level : 85


kemampuan : tubuh air (A)


Seorang petugas SID muda yang berpotensi ]


"Hm, lumayan. Tetapi masih sama seperti dulu, mereka bukan tandingan ku." Pikir Lein.


Lein dan Liza mendekat ke arah mereka. Ternyata ketiga orang itu sedang membagi-bagikan makanan dan minuman untuk para warga yang kesusahan.

__ADS_1


"Yo!" Lein mengapa ketiga orang juga.


"Lein!?" Enver terkejut dengan kedatangan Lein.


"Kamu!?" Tampaknya Zayn masih menyimpan dendam.


"Tolong jelaskan situasi saat ini." Lein berkata dengan nada serius.


"Tidak akan! Memangnya siapa kamu! Barus aja datang sudah meminta semau mu!" Teriak Zayn.


"Yasudah lah." Lein tidak terlalu peduli.


Lein berbalik dan kemudian bersama Liza ia berjalan menjauh dari Enver dan yang lain nya.


"Lein, apakah ini tidak apa-apa? Bukankah kita seharusnya tetap bertanya kepada mereka?" Tanya Liza.


"Yang paling tahu mengenai kejadian sebelumnya adalah orang yang mengalami kejadian tersebut." Ucap Lein.


"Ah, jadi maksudmu..." Liza paham dengan ucapan Lein.


"Benar, warga Desa Nadir." Angguk Lein.


Lein kemudian menghampiri keluarga empat orang yang sedang duduk berpelukan di sudut bangunan dengan selimut tebal yang penuh lubang.


"Permisi." Ucap Lein dengan sopan.


"Ah iya, kamu siapa?" Tanya pria dewasa.


"Namaku Lein, dan ini teman ku Liza. Kami ingin bertanya sesuatu mengenai kejadian sebelumnya."


"Ah tentu saja kami akan memberikan kalian imbalan jika kalian menjawab dengan jujur." Ucap Lein.


"Bisakah kamu memberikan kami makan? Anak-anak ku sudah tidak bisa menahan lapar..." Ucap pria itu dengan nada memohon.


"Tentu, tunggu sebentar ya." Angguk Liza.


Liza kemudian memasuki toko sistem dan membeli sesuai dengan ucapan Lein dengan cepat.


Karena toko sistem menjual barang-barang sederhana dan perlengkapan sehari-hari banyak sekali yang menjual nya.


"Ini." Liza memberikan semua barang yang ia beli kepada keluarga itu.


"Ini sungguhan?" Pria dewasa itu tidak percaya.


"Ambil saja. Setelah memberi makan kedua anak mu, datanglah kepada ku." Angguk Lein.


"Terimakasih..." Pria dan wanita dewasa itu berterima kasih sambil menangis.


"Berikan kami informasi yang tepat jika kalian ingin berterima kasih." Lein dan Liza pergi sedikit menjauh.


"Kamu sungguh baik, Lein." Liza tersenyum.


"Terimakasih atas pujian nya." Lein juga tersenyum.


Lein sebenarnya memang bisa mendapatkan informasi jika ia menunjukkan identitas nya, atau jika ia mengeluarkan uang.


Namun Lein tidak melakukan hal itu karena Lein dulu pernah diposisi putus asa namun tidak ada orang yang membantu nya.


Oleh karena itu Lein tidak ingin melihat kejadian yang sama seperti masa lalu nya, jadi ia memutuskan untuk membantu mereka.


...----------------...


"Istriku, cepat buka makan nya. Aku akan menyiapkan selimut nya." Ucap Pria itu.

__ADS_1


"Baik!" Balas istri nya.


Sang suami kemudian menaruh selimut tebal di atas tanah dan menyuruh kedua anak nya yang masih kecil untuk duduk diatas nya.


Kemudian sang istri sudah menyiapkan makanan darurat yang Liza beli dan menyuapi kedua anak nya itu dengan perasaan bersyukur.


Makanan darurat yang Lein suruh Liza beli mirip seperti makanan tentara yang sudah komplit dalam satu kemasan.


Lein tidak menyuruh Liza untuk membeli makanan enak karena itu akan mengundang warga lain, dan Lein nanti akan kerepotan.


Lein memang ingin membantu semua warga yang sedang kesusahan ini, namun prioritas nya sekarang adalah mencari Daerol.


Setelah setengah jam, sang suami merasa bahwa kondisi kedua anak nya sudah membaik dan kemudian ia berdiri.


"Istriku, tolong jaga mereka. Aku akan menemui tuan dan nona dermawan itu." Ucap pria itu.


"Baik, tenanglah, akan ku jaga mereka." Angguk wanita itu.


...----------------...


"Permisi, Tuan Lein." Ucap pria itu saat menghampiri Lein dan Liza.


"Sudah selesai?"Tanya Lein.


"Sudah Tuan." Angguk pria itu.


"Baiklah, duduk. Pertama-tama katakan namamu terlebih dahulu." Lein mempersilakan pria itu duduk.


"Baik. Nama saya adalah Willie, saya akan menjawab semua pertanyaan yang tuan tanyakan." Ucap Willie.


"Jadi Tuan Willie..." Ucapan Lein terpotong.


"Tolong panggil saja nama saya langsung tuan. Karena anda sudah membantu kami dan tentu saja kekuatan akan selalu dihormati bukan..." Ucap Willie.


"Haha, kamu pintar. Baiklah, akan aku panggil kamu Willie." Angguk Lein.


"Apakah kamu mengenal Daerol Myrant?" Tanya Lein.


"Saya kenal, tidak, semua warga disini mengenal nya. Karena dia adalah orang yang menyelamatkan kami dari pada bandit." Jawab Willie.


"Bagus, sekarang ceritakan mengapa Desa Nadir menjadi seperti ini." Tanya Lein.


"Baik, akan saya ceritakan tuan." Willie mulai bercerita.


...----------------...


Jadi, saat Daerol akan pergi dari Desa Nadir dengan pasukan nya menuju tempat asal nya yaitu Kota Laville, ia tiba-tiba diserang oleh bandit di depan gerbang desa.


Daerol kuat, namun musuh nya lebih kuat dan lebih banyak.


Daerol kalah karena salah satu bandit menyandera warga Desa Nadir.


Sang pemimpin, orang yang paling kuat, menyuruh Daerol menyerah dan ikut pergi ke markas nya.


Daerol menurut karena nyawa warga Desa Nadir bisa terancam jika ia menolak atau membuat gerakan sedikit saja.


Warga Desa Nadir memang tidak ada yang terbunuh, namun pada bandit membakar sawah dan ladang, menghancurkan bangunan, dan merusak semua nya.


Kemudian para bandit juga menjarah semua uang dan makanan milik para warga dan juga dari penyimpanan desa.


Itulah mengapa semua warga desa sekarang terlihat sangat kelaparan karena sudah empat hari tidak makan.


...----------------...

__ADS_1


"Jadi begitu...." Lein paham dengan keseluruhan cerita.


__ADS_2