Analysis Eye

Analysis Eye
Keluar dari Gua Bawah Tanah


__ADS_3

Bersamaan saat Althea kehilangan nyawanya, portal yang muncul di hampir seluruh kota di Benua Manusia menghilang.


Orang-orang di seluruh Benua Manusia tidak tahu apa yang sedang terjadi namun mereka menganggap kalau ini adalah keajaiban.


Orang-orang segera lebih bersemangat untuk menghabisi semua monster yang tersisa tanpa harus khawatir akan ada monster yang datang.


Kemudian dengan moral yang bertambah, para pasukan berhasil menghabisi semua monster yang tersisa dan berteriak dengan bebas karena mereka menang.


Sebenarnya menghabisi monster-monster yang keluar adalah perkara mudah. Namun para petinggi mengkhawatirkan apakah ada variabel lain yang keluar dari portal


Oleh karena itu para petinggi di masing-masing pemerintahan tidak memerintahkan para pasukan untuk mendekati portal.


Syukurlah kekhawatiran mereka tidak terjadi dan malah portal itu menghilang tiba-tiba secara tidak jelas dan hanya menyisakan monster yang mudah untuk dibunuh.


...----------------...


Lein merasakan perasaan lega saat melihat Althea yang sudah mati di depan nya seperti batu yang mengganjal di hati nya telah terjatuh.


"Maafkan aku, ibu..." Meskipun Lein memanggil Althea ibu, itu hanya sebagai bentuk ucapan formal.


Setelah duduk menenangkan diri sebentar, Lein kembali ke sifat aslinya. Ia segera menyimpan semua barang-barang yang berserakan dimana-mana.


Apalagi barang-barang milik Althea dan Helen yang memiliki beberapa bareng yang sangat langka dan memiliki nilai yang tidak bisa diukur.


"Rencana yang telah kalian susun bahkan sampai menyerang seluruh kota di Benua Manusia malah gagal hanya karena satu orang saja."


"Aku tidak mengerti, mengapa Althea disuruh untuk membunuhku. Althea adalah orang yang membuka portal di seluruh tempat dan memunculkan monster."


"Kalau Althea ikut menyerang, ada kemungkinan bahwa dia akan kalah dan jika dia kalah itu berarti dia mati dan portal yang ia buka akan hilang."


"Aku memang tidak suka dengan pahlawan, tapi aku juga tidak menyukai penjahat yang bodoh."


"Kebanyakan pahlawan adalah orang yang berpikiran naif dan kebanyakan penjahat adalah orang yang selalu meremehkan lawan."


"Jika dari awal Anarchy Order mengerahkan orang yang kuat untuk mengurus ku, maka bisa dipastikan aku sudah mati."


Setelah menyimpan semua barang-barang jarahan, Lein duduk bersandar di dinding gua dan mencoba untuk memulihkan mental nya.


"Ngomong-ngomong, bagaimana cara ku untuk keluar dari sini? Aku mungkin bisa mencoba dengan elemen ruang, namun aku harus tahu lokasi saat ini ada di mana."


"Hm, aku minta tolong Liza saja. Dia kan sudah menaruh rune di tubuh ku dan bisa melacak keberadaan ku sekaligus datang ke sini."


Setelah berpikir sebentar, Lein memutuskan untuk menghubungi Liza dengan sistem karena tidak ada sinyal di dalam gua.


...----------------...

__ADS_1


Di dalam tembok kota, area istirahat.


"Hm? Lein menghubungi ku?" Liza segera membaca pesan yang Lein kirim.


Lein : Liza, bagaimana keadaan disana?


Liza : Syukurlah disini baik-baik saja. Bagaimana dengan mu?


Lein : Yah, aku berhasil mengatasi semua nya.


Liza : Althea?


Lein : Mati.


Liza : Begitukah... Lalu, apa yang kamu perlukan saat ini?


Lein : Bisakah kamu melacak posisi ku? Aku sekarang berada di dalam gua yang tidak memiliki jalan keluar.


Liza : Baik, tunggu sebentar.


Liza segera menggunakan rune nya untuk melacak keberadaan Lein. Namun setelah beberapa menit, Liza tidak bisa menemukan Lein.


...----------------...


"Dia tidak bisa menemukan ku? Apakah mungkin karena jarak antara kita terlalu jauh? Atau karena tempat ini terlalu dalam di bawah tanah?" Lein menyentuh dagunya.


Sebelum Lein membuat lubang, ia menyimpan tubuh Althea ke dalam inventory nya sebagai bukti bahwa ia telah mengalahkan petinggi Anarchy Order.


Lalu, Lein mendongak dan membuka mulutnya lebar-lebar bersiap untuk menembak meriam mana.


"Dragon Language : Mana Cannon." Lein menggunakan banyak sekali mana.


Lein menembakkan meriam mana ke atas namun Lein masih belum bisa melihat ada nya cahaya yang masuk.


"Hm, padahal meriam mana ku sudah membuat lubang yang cukup panjang. Sepertinya gua ini berada jauh di bawah tanah ya..." Pikir Lein.


Lein terbang ke atas memasuki lubang yang ia buat. Di tangan kirinya Lein menciptakan api sebagai penerangan nya


Lalu tangan kanan nya Lein arahkan ke atas dan menembakkan meriam mana yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya.


Lein terus-menerus menembakkan meriam mana dari tangan kanan nya namun ia tetap masih belum melihat adanya cahaya.


Baru setelah sekitar setengah jam, Lein akhirnya bisa menembus tanah dan cahaya matahari menerangi penglihatan Lein.


Lein naik ke permukaan dan melihat bahwa lingkungan sekitar nya adalah perkebunan apel karena ia melihat ada banyak sekali pohon apel yang sedang berbuah.

__ADS_1


"Perkebunan ini tampak nya terawat, itu berarti ini milik seseorang dan aku bisa bertemu dengan orang disini, syukurlah..." Lein menghela napas lega.


Lein takut muncul di tempat yang entah berantah yang bahkan Analysis Eye akan kesulitan untuk menganalisa lingkungan nya.


Lein segera terbang dan melihat ada pemukiman di dekat perkebunan apel dan ia melihat bahwa banyak orang sedang istirahat di perkebunan.


Lein segera terbang ke arah sana dan melihat bahwa orang-orang disana adalah manusia yang berarti Lein masih berada di Benua Manusia.


"Halo." Lein menyapa mereka dengan sopan.


"Eh? Siapa kamu anak muda? Tidak seharusnya orang asing memasuki perkebunan ini." Ucap seorang kakek tua.


"Halo kakek, maaf bila aku sedikit lancang. Tetapi aku tersesat saat terbang, tujuan ku adalah Negara Easthold." Jawab Lein dengan sopan.


"Negara Easthold? Tidak, disini adalah Negara Easthold." Ucap si kakek tua.


"Eh, benarkah tuan?" Lein mengedipkan mata nya karena tidak menyangka ia masih berada di Negara Easthold.


"Benar, dan saat ini kamu sedang berada di Kota Applesy." Angguk si kakek tua.


"Kota Applesy? Ini adalah kota yang memiliki pohon apel yang melimpah bukan?" Tanya Lein.


"Benar seperti itu." Jawab si kakek tua.


"Apa yang dipikirkan Althea? Kota Applesy hanya berjarak setengah hari jika menggunakan kereta dari dan beberapa jam saja jika menggunakan pesawat dari ibukota." Batin Lein.


"Terimakasih tuan, aku sangat terbantu." Lein menundukkan kepala nya sedikit.


"Sama-sama, lagipula kamu ini memang sedang tersesat." Kakek tua itu tersenyum.


"Sepertinya kalian sedang beristirahat ya, ini ada beberapa makanan dan minuman sebagai tanda terimakasih ku. Kalau begitu, aku pergi dulu." Lein mengeluarkan banyak makanan dan minuman dari inventory kemudian ia terbang.


"Oi anak muda!" Kakek tua itu berteriak dan melambaikan tangan nya.


"Yah, padahal aku hanya menjawab pertanyaan sederhana namun ia malah memberikan banyak sekali makanan dan minuman..."


"Karena jumlah nya yang sangat banyak, kalau begitu masing-masing ambillah lalu bagikan ke keluarga atau teman kalian."


"Bahkan jika semua pekerja yang ada disini memakan nya, itu tidak akan habis." Ucap kakek tua kepada yang lain.


"Baiklah." Orang-orang yang ada disana setuju.


...----------------...


"Liza, sekarang lacak lokasi ku dan tolong pindahkan aku ke sana." Lein saat ini berada di bawah pohon apel di pinggir jalan dan sedang menelepon Liza.

__ADS_1


"Baiklah." Liza menjawab.


"Woah, sangat cepat." Lein merasakan ada kekuatan misterius yang menyelimuti tubuh nya kemudian Lein menghilang dari tempat nya dan muncul di Ibukota.


__ADS_2