
"Lein, aku sudah tahu bagaimana perasaan ku saat aku mendapatkan api Fiama." Enya membuka matanya dan berkata kepada Lein yang sedang bermeditasi.
"..." Lein menghentikan meditasi nya dan berjalan menghampiri Enya.
"Bagaimana?" Lein juga duduk bersila di depan Enya.
"Panas namun tidak membakar." Ucap Enya memberitahu perasaan nya saat ia mendapatkan api Fiama.
"Hm, begitu kah.." Lein mengangguk.
Lein mengeluarkan beberapa kertas dari inventory nya dan memberikan nya kepada Enya.
"Cobalah untuk selimuti kertas ini dengan api namun jangan membuat kertasnya terbakar." Lein tersenyum tipis.
Enya mengambil kertas itu dan mencoba apa yang lein katakan, ia menyelimuti kertas itu dengan api dan mencoba untuk tidak membakar nya.
Namun Enya gagal, ia memang berhasil menyelimuti kertas itu dengan api, namun ia membakar nya sampai menjadi abu.
"Sepertinya ini mustahil Lein." Enya mengerutkan kening.
"Tidak, ini hanya sulit." Lein tidak setuju dengan ucapan Enya.
"Dan bukankah sudah kubilang, sulit bukan berarti mustahil." Lein tersenyum.
"Tapi api tidak mungkin tidak bisa membakar sesuatu yang disentuh nya." Enya memprotes.
"Tenang, coba bayangkan saja kamu membuat tembok api untuk teman mu yang memiliki elemen kayu." Lein menenangkan Enya.
"Lalu apa yang dirasakan teman mu itu? dia memiliki elemen kayu namun tepat didepan nya ada sebuah tembok api."
"Panas? Tentu saja panas. Namun yang pasti, teman mu itu akan ikut terbakar..." Ucap Lein.
"Jadi latihan kali ini adalah kamu harus bisa mengendalikan suhu api mu lalu mengendalikan bagian mana yang panas dan merusak dan bagian mana yang tidak panas." Lein memberitahu Enya.
"Hm.. Maksudmu aku harus menyelimuti kertas ini namun mengendalikan agar suhu api nya berada di luar, dan suhu aku di dalam kertas harus dingin agar tidak terbakar." Enya paham.
"Benar, tapi tidak mungkin menggunakan kertas." Lein mengambil kertas nya dan menyimpan nya di dalam inventory nya.
"Eh, kenapa?" Enya bingung dan bertanya kepada Lein.
"Sudah jelas, kertas adalah bahan yang mudah terbakar bahkan hanya dengan percikan api kecil." Ucap Lein.
"Dan akan sangat sulit untuk membuat api dingin karena api adalah elemen panas dan yang dingin adalah air atau es." Tambah Lein.
"Benar juga, lalu aku akan menggunakan apa untuk latihan ku?" Tanya Enya.
"Aku sudah menyiapkan nya." Lein mengeluarkan sesuatu dari inventory nya.
"Batu?" Enya melihat bahwa itu adalah batu biasa berwarna hitam.
"Benar, batu. Namun ini tentu saja bukan batu biasa." Lein menyerahkan batu itu kepada Enya.
"Lalu apa fungsi batu ini?" Enya mengambil nya.
"Tingkatan api ada 5. Dari yang paling panas ada Api putih, biru, kuning, jingga, dan merah." Ucap Lein.
"Iya, aku tahu itu." Enya mengangguk dan mendengarkan Lein.
"Batu itu juga sama, batu itu bisa berubah warnanya sesuai dengan suhu api. Namun batu ini hanya bisa pada tingkatan biru, batu ini tidak bisa menahan api putih." Lein menjelaskan.
"Jadi begitu, apakah karena api putih sangat panas?" Enya paham dengan penjelasan Lein.
"Ya, benar sekali." Lein mengangguk.
"Baiklah, terimakasih Lein!" Enya tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama, berlatih lah dengan giat." Lein juga tersenyum
"Lalu..." Lein berdiri.
"Jonas! Enya!" Lein berteriak memanggil nama mereka berdua.
Enya melihat dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan Lein, Jonas juga menghentikan latihan nya dan mendengarkan Lein.
"Orang yang tidak berbakat hanya bisa berkerja keras untuk bertambah kuat, Namun! Meskipun progres mereka akan lambat, mereka tetap berada di depan orang-orang yang tidak melakukan apapun!"
"Kalian berdua memiliki bakat yang hebat dan potensi yang tidak terbatas! Kalian sudah memiliki keunggulan di garis awal, mana bisa kalian bermalas-malasan!"
"Tentukan tujuan mengapa kalian harus bertambah kuat! Tanpa tujuan, usaha kalian akan menjadi sia-sia dan berhenti ditengah jalan."
"Apakah kalian sudah memiliki tujuan untuk menjadi kuat!?" Lein bertanya kepada mereka berdua.
"Heh.. Aku sudah bos." Jonas tersenyum dan menjawab sambil meletakan tangan kanan nya di dada kirinya.
"Aku juga!" Enya menyeringai bersemangat.
"Bagus sekali!" Lein juga tersenyum.
"Dan yang terakhir, kekuatan tidak akan menentukan apakah kalian bisa memenangkan pertarungan."
"Orang yang memenangkan pertarungan bukanlah mereka yang memiliki bakat super, orang yang berkemampuan hebat, ataupun orang yang memiliki kecerdasan tinggi..."
"Orang yang memenangkan pertarungan adalah mereka yang memiliki tekad kuat dan akan tetap berdiri sampai akhir tidak peduli berapa banyak serangan yang diterima!"
"Tentu saja, jangan jadi orang bodoh yang hanya mengandalkan tekad, kalian hanya akan diperalat oleh musuh."
"Tapi! yang terpenting adalah tekad dan kemauan untuk menang yang lebih besar dan lebih kuat dibandingkan dengan tekad dan kemauan musuh!" Lein mengucapkan kalimat yang bagus.
"Orang yang berdiri terakhir adalah pemenang nya..." Jonas bergumam.
"Sekarang! Lanjutkan latihan kalian!" Lein menyuruh mereka untuk melanjutkan latihan mereka.
"Baik!" Jonas dan Enya menjawab.
Setelah mendengarkan apa yang Lein katakan, semangat mereka jadi meluap-luap dan mereka lebih berusaha keras untuk bertambah kuat.
Karena mereka memiliki tujuannya masing-masing untuk bertambah kuat dan mereka harus memenuhi tujuan nya.
"Ketika ambisi mu lebih besar dari rasa takut mu, hidupmu akan menjadi lebih baik dibandingkan dengan mimpi mu." Lein berkata kepada dirinya sendiri.
"Frederic Kanoute..." Lein menyebut nama ayahnya dengan nada suram.
"Hah..." Lein menghela napas.
"Aku ingin tahu mengapa kamu mengusulkan untuk membuang ku saat itu." Lein menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya.
"Baiklah, aku juga perlu berlatih. Bagaimana bisa aku kalah dengan mereka berdua." Lein melihat Jonas dan Enya yang berlatih keras.
"Tapi pertama-tama, aku sudah lupa dengan level ku. Sistem, status." Lein memanggil sistem dan memeriksa level nya.
Nama : Lein Sanzio
Usia : 18 tahun
Level : 50
STR : 37
AGL : 37
__ADS_1
VIT : 37
INT : 41
poin kosong: 18
Kemampuan : Analysis Eye
Deskripsi kemampuan :
Analysis Eye, sebuah mata yang bisa menganalisa segala sesuatu yang ada
skill : ...
"Level 50!? aku tidak menyangka akan naik 6 level semenjak kompetisi bertarung universitas." Lein tidak menyangka ia sekarang level 50.
"Hm, aku akan menyeimbangkan stat ku saja." Ucap Lein setelah berpikir untuk mengalokasikan stat nya kemana.
"Bagus, seperti ini." Lein tersenyum dan mengangguk.
Nama : Lein Sanzio
Usia : 18 tahun
Level : 50
STR : 42
AGL : 42
VIT : 42
INT : 44
poin kosong: -
Kemampuan : Analysis Eye
Deskripsi kemampuan :
Analysis Eye, sebuah mata yang bisa menganalisa segala sesuatu yang ada
skill : ...
"Baiklah, ayo kita lanjutkan meditasi nya." Lein pergi ke pojok ruangan dan duduk bersila.
Kemudian ia mulai melanjutkan meditasi nya.
__ADS_1