Analysis Eye

Analysis Eye
Menyembuhkan Reika (2)


__ADS_3

"Lein, kami sudah mendapatkan garam murni dari benua tengah sesuai dengan perkataan mu." Edvart membawa sebuah kotak.


Lein mengambil nya dan membuka kotak itu. Didalam nya terdapat garam yang sangat putih dan bersih, saat Lein menyentuh nya garam itu juga sangat halus.


"Analisa." Lein menganalisa garam itu.


[ analisa berlangsung ]


[ Garam Sout


Garam yang diproduksi oleh ras putri duyung di benua tengah yang tingkat kemurnian nya sangat tinggi ]


"Bagus." Lein mengangguk.


Kemudian Lein mengambil gelas dari meja di sebelah tempat tidur dan memasukan sedikit garam di gelas itu.


"Divine Power : Holy Water." Lein mengucapkan mantra di dalam hati nya.


Air suci muncul di dalam gelas itu dan bercampur dengan garam murni. Lein mengambil sendok dan mengaduk nya sampai larut.


Edvart membantu Reika agar bisa duduk namun Lein menghentikan nya.


"Kenapa? Bukankah harus duduk untuk meminum nya?" Edvart bertanya.


"Dan apakah aku mengatakan carian ini perlu diminum?" Lein menghela napas.


"Eh bukan diminum?" Edvart bingung.


"Garam murni yang sangat asin ditambah air suci, apakah lidah manusia bisa tahan dengan itu?" Lein tidak bisa membayangkan rasa nya.


Edvart juga berpikir rasanya akan sangat asin, dan jika menyentuhnya dengan lidah ia tidak akan mau meminumnya.


"Lalu bagaimana?" Anna bertanya.


"Teteskan cairan garam ke setiap bagian tubuhnya." Lein menyerahkan gelas berisi cairan garam itu kepada Anna.


"Ingat, teteskan saja jangan di tuang." Ucap Lein.


"Jonas, John, Ayo keluar." Lein berjalan keluar dari kamar.


"Eh, mengapa?" Tidak disangka John akan bertanya sesuatu yang tidak perlu ditanyakan.


"Jonas." Panggil Lein.


"Ya, bos." Jawab Jonas


"Pukul kepalanya dengan ringan." Ucap Lein.


"Baik." Jonas menghampiri John dan memukul kepala nya dengan ringan.


*Buk


"Aduh! Mengapa kamu memukul ku!?" John memprotes.


"Apakah kamu idiot? bukankah sudah aku katakan untuk meneteskan cairan garam ke seluruh tubuh nya! Apakah kamu tidak bisa memahami perkataan ku!?" Lein berteriak.

__ADS_1


Edvart hanya batuk canggung dan Anna menggeleng-gelengkan kepalanya karena malu dengan tingkah pacar nya.


"Ah! Maafkan aku!" John segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf.


Kemudian mereka bertiga keluar dari kamar tidur.


...----------------...


"Lein, apakah menurut mu Bibi Reika akan sembuh?" Tanya John yang mondar-mandir di depan pintu kamar.


"Tentu saja dia akan sembuh namun itu membutuhkan waktu." Jawab Lein.


"Asalkan Bibi Reika bisa sembuh..." John tersenyum.


"...." Lein melirik John.


...----------------...


Lalu, satu minggu kemudian.


Selama satu minggu ini, Lein berada di kediaman Courbet karena perawatan Reika membutuhkan divine power milik Lein.


Selain merawat Reika, Lein juga berlatih pedang nya di tempat latihan keluarga Courbet, karena Lein selalu melatih mana dan sihir nya, ia berpikir untuk berlatih pedang juga.


Meskipun Lein saat ini hanya bisa menggunakan satu pedang saja, namun itu sudah cukup asalkan ia memahami teknik pedang.


Namun ternyata berlatih pedang lebih mudah dibandingkan sihir karena Lein memiliki teknik gerakan kaki yang mana itu dipadukan dengan gerakan berpedang.


Swordmanship bukan hanya tentang memegang dan menebas, tetapi juga gerakan kaki. Tebasan mu mematikan namun gerakan kaki mu kacau, maka itu akan sia-sia.


Oleh karena itu seorang pendekar pedang akan melatih seluruh tubuh nya dan juga gerakan berpedang mereka.


...----------------...


Di ruang keluarga kediaman Courbet.


"Terimakasih banyak Lein." Edvart membungkukkan badannya lagi.


Dan disebelahnya ada Anna dan juga Reika yang sudah sembuh. Reika saat ini sama seperti orang normal, tidak seperti sebelumnya.


Aura Reika juga menjadi positif dan kulitnya tidak lagi pucat sehingga ia memancarkan aura wanita dewasa yang sesungguhnya.


"Sama-sama, lagipula aku melakukan tidak melakukan ini dengan gratis." Lein mengangkat bahu nya.


"Hahaha, benar." Edvart tertawa.


"Apakah kamu sudah mengetahui apa yang kamu inginkan sebagai imbalan atas menyembuhkan istri ku?" Tanya Edvart.


"Sisik naga dan cangkang telur naga." Lein tersenyum dan merentangkan tangannya.


"... Bukankah itu terlalu banyak?" Edvart menyipitkan matanya.


"Terlalu banyak? Tuan, bukankah aku juga sudah menyelamatkan istri mu?" Lein mengubah wajahnya menjadi suram.


"Apakah kepala keluarga Courbet tidak bisa menepati janjinya?" Tanya Lein dengan nada suram.

__ADS_1


Suasana ruangan menjadi hening dan suram. Edvart hanya diam tidak menjawab dan Lein juga tidak peduli, ia sudah melakukan hal yang dijanjikan.


"Suamiku, berikan saja..." Reika berkata kepada Edvart.


"... Baiklah." Edvart akhirnya menyetujui nya.


Edvart memanggil Pelayan Tien dan menyuruhnya untuk pergi ke gudang penyimpanan keluarga dan mengambil sisik naga dan cangkang telur naga.


Beberapa saat kemudian Tien menyerahkan sebuah cincin kepada Edvart, Edvart memeriksa nya kemudian ia menyerahkan cincin itu kepada Lein.


Lein tidak perlu memeriksa apa isi di dalam cincin ini, ia sudah tahu bahwa Edvart tidak akan menipunya dengan menaruh barang palsu.


"Terimakasih Tuan Edvart." Lein kembali ke wajah tersenyum nya.


"Kalau begitu, kami pamit undur diri terlebih dahulu." Lein dan Jonas berdiri dan membungkukkan badan mereka sedikit.


"Ya. Pelayan Tien, tolong antarkan mereka." Edvart menyuruh pelayan Tien.


"Oh tidak perlu tuan, kami tidak ingin merepotkan mu." Lein tersenyum.


"Ayo, Jonas." Lein dan Jonas kemudian berjalan keluar dari mansion dan menggunakan sihir terbang untuk keluar dari hutan.


"Bos, kemana kita akan pergi sekarang?" Tanya Jonas.


"Kota Els. Tuan, tolong ke gereja Ariel." Jawab Lein memanggil taksi.


"Kota Els? Untuk apa kita kesana?" Karena Jonas pikir tidak ada urusan untuk ke kota Els.


"Membuat Armor mu." Jawab Lein.


"Oh begitu! Baiklah." Jonas mengangguk tanda bahwa ia mengerti.


Sesampainya mereka di Gereja Ariel, mereka menghampiri Priest dan meminta nya untuk menteleportasi mereka berdua ke kota Els.


Priest setuju karena Lein adalah orang yang diberi wahyu oleh Dewi mereka, Dewi Ariel. Lein dan Jonas lalu berpindah tempat ke Gereja Ariel di Kota Els.


Mereka disambut oleh Priest lain dan ia bertanya apakah Lein dan Jonas ingin bermalam di gereja. Lein menjawab tidak karena ia memiliki urusan yang penting.


"Kekeke, lihat itu Jonas. Kita bisa bepergian dengan gratis!" Lein tertawa jahat.


"...." Jonas hanya diam karena sudah terbiasa dengan sifat Lein.


Lein dan Jonas pergi ke pinggiran kota Els dan menuju ke Toko Bee Hive.


"Tuan Thogal! Aku datang kembali!" Lein membuka pintu tanpa mengetuk nya.


"Dasar bocah! setidaknya ketuk pintu terlebih dahulu!" Thogal datang dan memarahi Lein.


"Hahaha, maaf maaf." Lein meminta maaf namun tidak ada rasa bersalah di wajah nya.


"Hah..." Thogal menghembuskan napas nya mencoba untuk tenang.


"Apa yang kamu inginkan?" Tanya Thogal.


"Membuat Armor dada dan Gauntlet." Jawab Lein.

__ADS_1


"Baiklah, ayo kedalam." Ucap Thogal.


Mereka bertiga kemudian memasuki ruangan di dalam toko yang mana itu adalah bengkel milik Thogal untuk menempa sesuatu.


__ADS_2