
"Calamity Fire." Liza mengubah medan yang lich buat menjadi medan kematian menjadi medan api yang kekuatannya seperti bencana.
Liza membuat api Leviarves menjadi sebuah cambuk. Karena api Leviarves bukanlah skill Liza, tetapi seperti api yang dimiliki Liza.
Konsep nya sama seperti Enya, bedanya api yang dikendalikan oleh Enya adalah api milik roh tingkat atas, Fiama.
"Lich Magic : Bone Spike." Tanah di sekitar Liza bergemuruh dan mengeluarkan paku tulang yang sangat tajam.
Liza hanya melirik paku tulang dan mencambuk semua nya sampai hancur dalam sekali serangan saja.
"!!" Lich tidak menyangka bahwa Liza akan sangat kuat.
"Lich Magic : Bone Golem." Lich membuat beberapa golem kerangka yang ukuran nya sama seperti Cyclops.
Liza berlari ke depan mencambuk kaki kiri salah satu Bone Golem dan menghancurkan nya. Golem itu terjatuh dan Liza melompat.
Saat di udara, Liza mencambuk dan mengikat kepala Bone Golem. Lalu Liza menarik nya dengan keras sampai kepala Bone Golem terputus.
Liza turun dan ia mengarahkan tangan kirinya ke bawah. Liza mengeluarkan api Leviarves dari telapak tangan nya dan menyemburkan api Leviarves kepada Bone Golem di bawah.
Liza mendarat di tengah-tengah api Leviarves yang membara. Liza menatap Lich yang panik di depan sana.
...----------------...
"!!" Lein merasakan hawa keberadaan yang busuk.
"Analisa..." Gumam Lein.
[ analisa berlangsung ]
[ hawa busuk yang host rasakan adalah hawa keberadaan manusia yang memiliki hubungan dengan iblis agung ]
"!!" Lein terkejut.
"Apakah orang itu adalah kunci untuk membangkitkan iblis agung yang dikatakan oleh Dewi Ariel?" Pikir Lein.
"Liza, aku menemukan seseorang yang menjadi kunci dalam penyerangan ini. Tolong urus lich sedangkan aku akan menangkap orang itu." Ucap Lein melalui transmisi suara.
"Tentu, berhati-hatilah." Jawab Liza.
Lein segera menggunakan mana untuk mencari hawa keberadaan yang baru saja ia rasakan.
"Ketemu." Lein segera bergegas ke suatu arah.
Lein menggunakan teknik gerakan kaki cahaya yang sangat cepat, dan ia melihat seorang pria berjubah hitam yang sedang tertawa.
"Analisa." Gumam Lein menganalisa pria berjubah hitam
[ analisa berlangsung ]
[ Draven Forry
__ADS_1
Level : 31
Seorang pria aneh berlevel rendah ]
"Level rendah? Mengapa?" Lein berhenti dan bersembunyi untuk mengamati Draven.
"Hahaha, Oh Iblis Agung Jareth! Tunggulah sebentar lagi! Aku akan segera memanggil mu!" Ucap Draven sambil tertawa seperti orang gila.
"Jadi begitu, Draven adalah media untuk memanggil iblis agung Jareth. Yang artinya Draven hanyalah tumbal ya..." Lein menyadari mengapa Draven yang lemah menjadi kunci untuk memanggil iblis agung.
"Tapi firasat ku buruk, apakah itu karena asap gelap yang ada di sekitar nya?" Lein melihat ada asap berwarna hitam di sekitar tubuh Draven.
"Analisa asap itu." Lein menganalisa.
[ analisa berlangsung ]
[ Asap perlindungan Jareth ]
"Ah, jadi Jareth melindungi Draven ya..." Lein paham.
"Tapi! Dengan divine power yang tersisa, aku bisa membunuh Draven." Lein menyeringai.
"Dragon Language : Heavenly Punishment." Lein menggunakan semua divine power yang tersisa.
Sebuah pedang raksasa berwarna emas yang mengandung kekuatan ilahi dan kekuatan suci muncul diatas kepala Draven.
Draven melihat bahwa sekitarnya menjadi gelap, ia mendongak ke atas dan membelalakkan matanya melihat pedang raksasa.
Draven sangat panik saat ini karena ia bisa merasakan ada kekuatan yang sangat kuat yang terpancar dari pedang raksasa diatasnya.
Draven ingin kabur namun kakinya tidak bisa digerakkan. Draven tersungkur dan tubuhnya gemetar karena ketakutan.
"Bagaimana bisa iblis agung memilih tumbal yang penakut?" Lein mencemooh Draven dan Jareth.
"Sudahlah, bunuh dia." Ucap Lein dengan nada dingin.
Pedang raksasa yang ukurannya tidak masuk akal bergerak. Pedang itu bergerak ke bawah dengan lambat, namun Draven yang takut tidak bisa lari.
Bahkan saat pedang raksasa mendekat, Draven malah pingsan. Lalu Draven mati karena pedang raksasa dan asap perlindungan Jareth tidak bisa melindungi nya.
Pedang raksasa memang besar, namun tidak menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar nya. Karena ini adalah hukuman Surgawi yang hanya menyerang target.
Lein menghembuskan napas, ia lalu duduk bersandar di pohon untuk beristirahat karena ia juga tidak memiliki tenaga untuk bergerak.
"Aku serahkan padamu... Liza..." Lein menutup matanya.
...----------------...
"Tidak mungkin!" Lich merasakan bahwa hubungan dia dengan Draven terputus.
"Yang artinya...Draven mati!?" Lich berteriak
__ADS_1
"Hm? Mengapa dia marah?" Liza di kejauhan bingung mengapa lich tiba-tiba marah.
"Oh! Apakah karena Lein?" Liza sadar bahwa mengatakan ingin menangkap seseorang.
"Hm.. tapi mengapa lich marah? jangan bilang karena Lein membunuh orang itu?" Pikir Liza.
"Yah, aku juga tidak peduli." Liza tersenyum acuh tak acuh.
Liza memperpanjang ukuran cambuk nya dan menyerang lich dari jarak jauh.
Lich yang dikendalikan oleh amarah menjadi tidak bisa berpikir jernih. Lich mengeluarkan sihir secara terus-menerus tanpa arah.
"Fufu, terimakasih Lein. Aku jadi lebih mudah untuk mengalahkan nya." Liza tertawa kecil.
Liza menggunakan cambuk nya untuk menangkis dan menghancurkan semua serangan yang dikerahkan oleh lich dengan mudah.
Saat serangan lich habis, Liza mengubah cambuk nya menjadi api. Kemudian Liza membentuk kedua telapak tangan nya seperti sebuah mangkuk.
Liza memposisikan kedua tangan nya di samping pinggang kirinya. Lalu ia memfokuskan api Leviarves diantara telapak tangan nya.
"Calamity Fire Cannon." Teriak Liza mendorong kedua tangannya ke depan.
Api Leviarves yang memiliki aura mengerikan keluar dari kedua telapak tangan Liza seperti sebuah meriam.
"Lich Magic : Super Bone Wall." Lich tersadar dari amarah nya saat merasakan perasaan yang sangat mengerikan yang dipancarkan api Leviarves.
Lich membuat Bone Wall yang berlapis-lapis di depannya untuk menahan serangan Liza. Namun karena api Leviarves sangat kuat, Bone Wall yang berlapis-lapis tidak bisa menahan nya.
Serangan Liza menembus Bone Wall satu persatu dan mengenai lich yang sangat terkejut dengan kekuatan api Leviarves.
"Arghh!!" Lich berteriak kesakitan karena panas nya api Leviarves.
Tidak sampai satu menit lich terbakar, tubuhnya atau lebih tepatnya kerangka nya menjadi abu dan menghilang di udara.
"Selesai..." Liza menyeka keringat di dahi nya.
"Oh ya! Lein!" Liza segera mencari koordinat Lein dan membuat rune ruang.
Saat sampai, ia melihat Lein yang sedang bersandar di pohon dan menutup matanya.
"Ah.." Liza ingin memanggil Lein namun ia urungkan karena melihat wajah Lein yang kelelahan.
"Pastinya ia kelelahan, ia baru saja menghadapi lich dengan perbedaan level yah sangat besar." Liza tersenyum.
Lalu Liza melihat mayat Draven dan barang-barang yang keluar dari inventory nya.
"Fufufu, Lein selalu menyukai barang-barang gratis. Sepertinya aku harus membantu nya menyimpan barang-barang ini." Liza menyimpan barang-barang Draven di inventory nya.
Lalu karena Draven dan Lich sudah mati. Tirai pelindung yang menghalangi komunikasi Kota Els dengan kota lain menghilang.
Lalu orang-orang yang berada di luar pelindung segera bergegas menuju ke bekas medan pertempuran.
__ADS_1