
Lein tidak melupakan wajah wanita itu, karena wanita itu adalah...
Ibunya!
"Ibu..." Lein tanpa sadar berkata.
"Hm?" Wanita itu menoleh dan melihat Lein.
"Apakah kamu sudah terkena sihir pikiran? Aku bukan ibumu." Wanita itu kembali menoleh ke tubuh Maya.
Kemudian wanita itu menyimpan tubuh Maya ke dalam sebuah cincin yang sepertinya cincin ruang yang memiliki efek khusus.
"Althea Evanthe..." Lein mengucapkan nama wanita itu.
"Bagaimana kamu mengetahui namaku?" Althea menyipitkan matanya.
"Hahaha, jadi kamu memang tidak mengenali ku ya.." Lein tertawa namun ada rasa kesedihan di dalam tawa nya.
"Apakah kita pernah bertemu?" Althea bingung mengapa Lein tertawa sedih.
"Namaku Lein Sanzio, Sanzio adalah nama ku yang telah ku ganti. Nama keluarga ku yang sebelumnya adalah Kanoute." Ucap Lein tersenyum tipis.
"!!" Althea membelalakkan matanya.
"Tidak, tidak mungkin." Althea mundur satu langkah.
"Jadi kamu juga petinggi Anarchy Order ya ..." Lein tidak tahu bagaimana perasaan nya sekarang.
Perasaan Lein terhadap Frederic adalah marah dan benci, karena ia masih ingat bahwa Frederic yang mengusulkan untuk membuang Lein.
Namun Althea sempat menolak dan bertengkar dengan Frederic meskipun pada akhirnya Althea juga menyetujui usulan Frederic.
Karena perasaan kepada seorang ibu lebih besar dibandingkan dengan kepada ayah, dan dalam masa kecil Lein, Frederic jarang mengurus Lein.
Ia selalu berada di ruang kerja nya tidak tahu apa yang dilakukan nya, dan ia hampir tidak pernah bermain dengan Lein.
"Ahhh..." Althea juga tidak tahu bagaimana perasaan nya saat ini.
Anak yang telah ia dan suami nya buang sekarang sudah remaja dan juga menjadi sangat kuat, althea juga tidak menyangka Lein masih hidup dan sehat.
Sebagai seorang ibu, tentu saja Althea senang, namun ia juga tau identitas nya yang merupakan petinggi Anarchy Order.
Dan dari tindakan Lein sebelumnya, sepertinya Lein membenci Anarchy Order, oleh karena itu saat ini perasaan yang dirasakan Althea sangat kacau.
Sekarang, Althea sangat ingin memeluk dan berbicara panjang lebar dengan Lein sebagai seorang ibu, namun ia tahu itu tidak mungkin terjadi.
"Bagaimana kabarmu?" Lein bertanya kepada Althea.
"....." Althea membuka dan menutup mulutnya tidak tahu harus berkata apa.
"....Aku baik." Althea hanya menjawab secara singkat.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu baik, semoga kamu bahagia dengan kehidupan sekarang." Lein tersenyum tulus.
"Tolong keluarkan aku dari tempat ini..." Ucap Lein kepada Althea.
"..." Althea tidak menjawab.
"Apakah tidak bisa? Kalau begitu bunuh saja aku disini..." Ucap Lein.
Karena Lein sudah sangat lelah sejak menggunakan Dragon Language dan Divine Power, saat ini ia hanya memiliki sedikit mana dan sedikit divine power.
".... Silakan." Althea membuat portal dan menyuruh Lein untuk pergi lewat portal.
Althea tentu saja tidak bisa membunuh Lein meskipun ia adalah petinggi Anarchy Order dan terlihat jelas bahwa Lein adalah musuh Anarchy Order.
"Terimakasih..." Lein mengucapkan terimakasih dan berjalan menuju portal sambil memegangi pinggang kanan nya yang tadi tertusuk jarum darah.
"Tunggu!" Ucap althea menghentikan Lein.
"Ada apa?" Lein berhenti dan menoleh.
"Siapa... yang melukai lengan mu?" Althea memberanikan diri untuk bertanya.
"Suami mu." Ucap Lein dengan tenang.
"!!" Althea merasa ingin menangis saat ini.
"Mengapa... tida dipulihkan?" Tanya althea.
"Haha, aku ini miskin, bagaimana bisa aku membeli potion yang bisa meregenerasi lengan ku ini." Lein melihat lengan kanan nya.
Lein juga mengetahui bahwa ia tidak bisa menggunakan Dragon Language dan Divine Power untuk memulihkan lengan nya.
Lein berpikir itu mungkin karena Dragon Language yang tersegel setengah kekuatan nya, dan Divine Power nya yang hanya setara dengan setengah dewa.
Lein juga berpikir pasti Frederic menyerang Lein dengan Divine Power juga yang kekuatannya sama seperti dengan nya atau lebih kuat.
Saat itu ia tidak tahu dan berpikir bahwa Frederic hanya menyerang dengan kekuatan aneh, karena Lein juga belum memiliki divine power dan tidak bisa merasakan Divine Power.
"...." althea yang mendengar ucapan Lein mulai mengeluarkan air mata.
Jika ada petinggi Anarchy Order lainnya yang melihat Thea mengeluarkan air mata, maka mereka akan terkejut setengah mati.
Karena Althea adalah seorang wanita yang tegas dan sangat mendominasi. Ia selalu berwajah tenang dan orang-orang menganggap dirinya sebagai orang yang dingin.
"Mengapa kamu menangis? Bukankah hubungan kita sudah pudar?" Ucap Lein.
"Itu..." Althea tidak tahu harus berkata apa.
"Aku tahu kita tidak bisa memiliki hubungan seperti dulu, namun bisakah kamu memberiku kesempatan?" Althea memohon.
"Hah..." Lein menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan napasnya secara perlahan-lahan.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku memutuskan untuk membunuh Frederic." Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, jadi kamu takut melukai perasaan ku?" Tanya Althea.
"...." Lein tidak menjawab.
"Sebenarnya, hubungan ku dengan Frederic sangat buruk. Dia adalah orang yang sangat ambisius, dan selalu mementingkan Anarchy Order." Ucap Althea.
"Dia juga berbicara dengan ku dengan nada formal karena dia anggota Anarchy Order, bukan dengan nada seperti seorang suami." Tambah Althea.
"Jadi...Jika kamu ingin membunuh Frederic, maka tidak apa-apa." Althea tersenyum.
"Kalau apa yang kamu katakan benar, maka aku menyetujui nya..." Lein memutuskan untuk menyetujui nya.
Karena Lein tahu bagaimana sifat Althea dari ingatan masa kecil nya, Meskipun ia memang sangat dingin dan mendominasi, namun itu hanya untuk orang lain.
Dengan keluarga atau orang terdekatnya, ia akan menunjukkan sosok wanita yang lembut dan berhati hangat.
Lein saat ini sedang berpikir secara naif, karena meskipun Althea adalah ibunya ia juga seorang petinggi Anarchy Order.
Namun Lein juga ingin mendapatkan kasih sayang lagi, ia ingin merasakan perasaan yang sama saat ia masih kecil dulu.
Oleh karena itu Lein mengambil keputusan setuju untuk memperbaiki hubungan nya dengan Althea yang telah rusak.
"!!" Althea tersenyum.
"Terimakasih..." Althea menangis bahagia.
"Apakah aku perlu memulihkan lengan kanan mu?" Ucap Althea.
"Apakah kamu bisa?" Tanya Lein.
"Bisa." Althea mengangguk.
"Tidak usah." Lein tersenyum.
"Mengapa??" Althea tidak mengerti mengapa Lein menolak lengan kanan nya untuk dipulihkan.
"Kekeke, karena ini adalah ulah Frederic, aku ingin memulihkan kan nya dengan usahaku sendiri." Lein tersenyum.
"...Baiklah." Althea juga paham dengan keputusan Lein.
"Kalau begitu, ambil ini." Althea melempar sebuah benda.
Benda itu adalah giok hitam dengan bentuk persegi panjang dan terdapat ukiran. Ukiran itu adalah nama Althea yaitu, Althea Evanthe.
"Itu adalah alat komunikasi, kamu bisa berkomunikasi dengan ku. Kita tidak bisa berkomunikasi dengan sistem karena Anarchy Order terhubung, kecuali pemimpin." Althea menjelaskan.
"Baiklah, terimakasih." Lein mengangguk dan menyimpan Giok Komunikasi ke dalam inventory nya.
"Kalau begitu, aku pergi dulu." Lein berbalik dan berjalan menuju portal.
__ADS_1
"Hati-hati, dan terimakasih." Althea tersenyum dengan tulus.
Lein tidak menjawab, ia hanya melambaikan tangannya.