Analysis Eye

Analysis Eye
Pembukaan Kompetisi antar Negara


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, sudah waktunya untuk memulai Kompetisi Universitas antar Negara di Benua Manusia.


Untuk pembukaan, akan diadakan di alun-alun kota yang terletak di pusat Kota Laville.


Karena ini disiarkan langsung di seluruh benua manusia, para pemerintah membuat kompetisi ini menjadi menarik agar para penonton bersemangat.


Diatas alun-alun kota juga ada beberapa layar hologram yang akan menampilkan siaran langsung agar orang-orang di sekitar bisa menonton nya.


Presiden Brynn juga datang bersama Anna dan yang lain dengan mobil khusus untuk peserta yang disediakan oleh para pemerintah.


Lein tidak ikut bersama mereka karena Lein berada di penginapan bukan di hotel yang disediakan untuk para peserta.


...----------------...


"Siap untuk kompetisi?" Tanya Octiorb bersiap-siap.


"Siap, ah lebih tepatnya aku siap untuk membunuh Harac." Lein menyeringai.


"Hahaha!" Octiorb hanya tertawa keras.


Mereka menyimpan barang-barang ke dalam inventory milik Lein karena Octiorb adalah roh dan tidak memilik sistem.


Mereka berdua keluar dan sudah ada pelayan yang sama yang siap mengantar mereka berdua.


"Halo tuan." Pelayan itu membungkukkan badannya.


"Ya, halo." Lein menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih telah menginap disini, mari saya antar tuan." Pelayan itu mengantar Lein dan Octiorb keluar.


"Terimakasih." Balas Lein.


Lein dan Octiorb kemudian berjalan mengikuti pelayan dan saat mereka berada di lobi, mereka bertemu dengan Gulja yang sedang mengobrol dengan resepsionis.


"Oh tuan Lein, apakah sudah mau pergi?" Gulja menyapa Lein.


"Ya, sudah waktunya untuk berkompetisi, madam." Lein mengangguk.


"Oh iya, aku sampai lupa." Gulja tertawa kecil.


"Kalau begitu terimakasih karena telah menginap dan semoga beruntung dalam kompetisi nya tuan." Ucap Gulja.


"Haha, terimakasih madam." Lein tertawa.


"Meskipun aku tidak membutuhkan keberuntungan." pikir Lein.


Lein dan Octiorb kemudian keluar dan memasuki mobil yang Lein sewa dari penginapan dan setelah beberapa menit, mereka sampai di dekat alun-alun.


Karena tidak boleh ada kendaraan di alun-alun, oleh karena itu Lein dan Octiorb harus berjalan saat menuju ke alun-alun nya.


"Ramai ya." Ucap Octiorb melihat ada banyak orang di alun-alun.


"Ramai sekali." Angguk Lein.

__ADS_1


Meskipun ramai, tapi mereka berdua dapat dengan mudah berjalan karena orang-orang tidak memenuhi jalan untuk para peserta.


Saat Lein dan Octiorb sudah berada di tengah jalan, orang-orang di sekitar heboh dan berteriak menunjuk ke suatu arah.


"Oh lihat! Itu adalah Universitas Black Turtle!"


"Mana!? Wah benar!"


"Wah!! Aku penggemar Black Turtle!!"


Lein dan Octiorb berhenti, mereka berbalik dan melihat sebuah mobil yang berbeda dari mobil yang disediakan oleh para pemerintah.


Pintu mobil terbuka dan beberapa orang keluar. Mereka adalah satu pria dewasa yang sepertinya adalah guru mereka.


Lalu 5 orang yang merupakan 3 pria muda dan 2 wanita muda yang sepertinya adalah mahasiswa dari Universitas Black Turtle.


"Black Turtle bukankah..." Ucap Octiorb.


"Benar, sang juara di kompetisi sebelumnya." Jawab Lein.


Orang-orang Black Turtle melambaikan tangan nya kearah pada penonton dengan senyum di wajah mereka.


"Ugh, senyuman mereka terlihat menjijikan."Keluh Octiorb.


"Haha, benar." Lein juga setuju.


Orang yang pintar mengamati emosi seseorang pasti akan menyadari nya bahwa senyuman yang diberikan oleh orang-orang Black Turtle adalah senyuman sinis.


Bukan senyuman palsu, namun sinis yang terkesan mereka sedang merendahkan para penonton dan orang yang melihat.


"Hm?" Guru Black Turtle mengangkat alisnya saat ia melihat Lein dan Octiorb di depan mereka.


Para mahasiswa Black Turtle juga mengerutkan kening mereka saat mereka melihat Lein dan Octiorb.


"Hm? Minggir." Mahasiswa yang paling tampan menyuruh Lein dan Octiorb menyingkir.


"Jalan nya masih luas..." Balas Lein dengan tenang.


Lein tidak aka termakan emosi karena provokasi lemah yang orang itu berikan.


"Minggir dari jalan mereka!"


"Kalian berdua menghalangi jalan mereka!"


"Benar! Menyingkir!"


"Kalian dengar itu?" Mahasiswa itu tersenyum sinis.


"Kompetisi nya belum dimulai, tetapi sepertinya akan ada pertumpahan darah disini..." Lein mengeluarkan niat membunuh nya.


Lein adalah orang yang sudah berkali-kali mengalami keputusasaan dan bahkan ia pernah merasakan apa itu kematian.


Lein juga sudah membunuh banyak orang dengan tangannya. Lein bukanlah orang yang naif, ia akan membunuh orang yang dirasa perlu dibunuh.

__ADS_1


"!!" Bukan hanya orang-orang Black Turtle yang merasakan niat membunuh Lein. Para penonton juga bisa merasakan nya.


Orang-orang yang merasakan niat membunuh Lein menjadi takut dan tubuh mereka gemetar tidak terkendali dan bahkan ada yang langsung jatuh.


Para penonton merasa mereka akan pingsan kapan saja bahkan jika niat membunuh Lein tidak ditunjukkan kepada mereka.


Orang-orang Black Turtle adalah yang paling menderita karena Lein mengarahkan niat membunuh yang pekat kepada mereka.


"Sial, monster macam apa dia!?" Guru Black Turtle mengumpat.


Bahkan seorang guru dari Universitas Black Turtle merasakan bahwa niat membunuh yang Lein keluarkan sangat mengerikan.


"Berhenti!" Suara pria yang agung terdengar.


Kemudian muncul lah seorang pria berjanggut panjang berwarna putih di tengah-tengah antara Lein dan mahasiswa Black Turtle.


"Aku bilang berhenti!" Pria itu menatap Lein.


"Apa?" Lein bertanya.


"Apakah kamu ingin menodai kompetisi ini?" Pria itu marah.


"Menodai?" Wajah Lein berubah menjadi suram.


"Tanya dulu kepada para saksi apa yang terjadi. Jangan langsung menuduh seseorang, atau... apakah kamu teman mereka." Ucap Lein dengan nada sinis.


"Hah..." Pria itu menghembuskan napas.


"Semuanya, tolong katakan apa yang sedang terjadi..." Ucap pria itu kepada para penonton.


Namun para penonton masih diam dan tidak menanggapi pertanyaan pria itu.


"Ah, maaf." Lein menarik kembali niat membunuh nya.


Baru setelah Lein menarik niat membunuh nya, para penonton bisa bernapas lega dan tubuh mereka basah karena keringat.


"Permisi tuan. Izinkan aku menjelaskan..." Ucap seorang penonton.


"Silakan..." Angguk pria itu.


"Jadi begini..." Penonton itu menjelaskan masalah nya dari awal sampa akhir.


"Jadi begitu..." Pria itu paham.


"Bagaimana? Apakah aku bersalah?" Lein bertanya dengan nada sinis.


"..." Pria itu tidak menjawab.


"Membosankan, kalian semua lemah. Bahkan tidak bisa bertahan dihadapan niat membunuh ku. Kalian bisa dipastikan akan mati jika ini adalah medan pertempuran."


"Dan kalian para Black Turtle, bukankah kalian menempati posisi nomor satu di kompetisi sebelumnya? Mengapa sekarang kalian seperti pengecut?"


"Aku sangat kecewa, padahal aku ingin melawan mahasiswa dari Black Turtle karena kalian kuat, tapi sepertinya aku akan menang dengan mudah."

__ADS_1


"Ayo Oct. Tidak ada gunanya kita meladeni para orang lemah ini." Lein berbalik dan berjalan menuju alun-alun.


"...." Pria itu hanya menatap punggung Lein dengan dalam.


__ADS_2