
"Bersiap! Tembak!" Lein menirukan gaya bicara seorang tentara.
"Tembak!" Enya menembak bola api itu ke arah Arben.
Bola api menuju ke arah Arben dengan kecepatan tinggi, Arben yang tidak bisa bergerak terkena bola api itu.
"Argh!!! Arben berteriak kesakitan karena ia tersiksa dengan panas nya api Enya.
Lalu selanjutnya Lein mengeluarkan kubah Gravitasi lagi dan mengurung Arben di dalam nya sama seperti sebelumnya.
"Ada pelajaran yang dapat diambil dari pertarungan kali ini." Ucap Lein.
"Jangan terpaku dengan level musuh, tapi analisa semua informasi tentang musuh mu. Bahkan jika hanya satu informasi, bisa jadi itu akan membuat mu menang." Lein tersenyum tipis.
Enya dan Jonas mendengarkan ucapan Lein, terutama Jonas yang memasukkan ucapan Lein di hati nya.
Karena Jonas selalu berpikir ia adalah ras raksasa, dan ciri khas ras raksasa adalah bertubuh besar dan memiliki pertahanan yang keras.
Sekarang ia mengubah pikiran nya, ia tidak peduli ia berasal dari ras mana, ia hanya berpikir bahwa ia hanya perlu menjadi diri sendiri.
"Sekarang..." Lein mengubah wajahnya menjadi serius.
Enya dan Jonas berpikir bahwa ada sesuatu yang sangat penting, mereka berdua segera menjadi waspada dan melihat ke sekeliling.
"...Mari kita ambil barang-barang nya!" Lein berlari dengan bahagia ke arah tubuh Arben.
"...." Enya dan Jonas mematung.
Mereka mengira bahwa wajah serius Lein adalah tanda akan ada bahaya, namun mereka tidak menyangka bahwa itu untuk barang-barang Arben.
...----------------...
"Sepertinya pertarungan di depan sudah selesai." Ucap petugas Zaff melihat tidak ada fluktuasi mana yang terpancar dari desa.
"Ayo maju, kita harus melihat situasi nya." Ucap petugas Zaff kepada petugas SID lain.
Mereka semua lalu maju perlahan ke arah desa.
...----------------...
"Oh, ini...!? Kartu bank tanpa nama!!!!" Lein mengangkat tinggi sebuah kartu bank berwarna hitam.
Enya dan Jonas juga mengumpulkan barang-barang milik Arben.
"Siapa disana!?" Lein menoleh ke arah semak-semak di dekatnya.
Enya dan Jonas juga waspada dan bersiap untuk segala kemungkinan.
"Ah maaf kan kami, kami bukanlah musuh." Petugas Zaff keluar diikuti oleh yang lainnya.
"SID." wajah Lein menjadi suram.
"Katakan, mengapa kalian disini." Lein membuat sebuah Mana Bomb.
"Lein!?" Enya terkejut dengan sikap Lein.
__ADS_1
"!??" Petugas Zaff dan petugas SID lainnya bingung.
"Katakan, mengapa organisasi pemerintah yang sangat terhormat berada di wilayah desa yang kecil ini...." Ucap Lein dengan wajah suram.
"Jonas tolong tenangkan Lein." Enya berkata kepada Jonas.
"Um." Jonas mengangguk.
"Halo, petugas SID, apakah perlu sesuatu?" Enya menghampiri petugas Zaff dan mengulurkan tangan nya.
"Halo, namaku Zaff." Petugas Zaff bersalaman dengan Enya.
"Enya." Enya memberitahu nama nya.
"Kami disini sebenarnya akan memberantas markas Anarchy Order yang kalian lawan, karena kami menerima informasi bahwa ada anggota Anarchy Order di sini." Petugas Zaff menjelaskan tujuan nya.
"Jadi begitu, apakah penyerangan kali ini disiarkan secara langsung?" Enya bertanya karena ia melihat ada reporter dan kameraman di belakang petugas Zaff.
"Ya, pemerintah mengizinkan nya." Petugas Zaff mengangguk.
"Sejak kapan kalian menyiarkan kami?" Enya bertanya.
"Ah maaf, kami mulai merekam saat kalian bertarung dengan Arben Atvo." Ucap petugas Zaff.
"Ah, sejak saat itu. Kalau begitu apakah ada yang perlu dilakukan para petugas?" Enya tersenyum.
"Jika tidak keberatan, maukah kalian kami wawancarai?" Petugas Zaff meminta dengan sopan.
"Aku menolak, Jonas, ayo pergi." Lein menolak dan pergi meninggalkan desa.
"Maafkan aku, Petugas." Jonas menganggukkan kepalanya kepada para petugas. Kemudian Jonas mengikuti Lein pergi meninggalkan desa
"Maafkan kedua temanku, jika tidak keberatan apakah tidak apa-apa jika hanya aku saja?" Enya menunjukkan senyum sopan.
...****************...
"Woah senyum yang indah nona!!!"
"Ada apa dengan pria bertangan satu itu!?"
"Benar! Dia sangat tidak sopan kepada SID."
"Abaikan mereka! Wawancarai saja nona muda itu!
...****************...
"Ah tidak apa-apa, nona Enya." Petugas Zaff mengangguk.
"Kalau begitu mari aku kenalkan, ini adalah reporter dari Dragon Tide News, Ella Hosia."
"Halo, aku Ella." Ucap Ella dengan tersenyum.
"Halo, aku Enya." Balas Enya tersenyum.
"Nona Enya, bisakah anda memperkenalkan diri secara resmi?" Ella menyerahkan microphone kepada Enya.
__ADS_1
"Halo semua, aku Enya Lauren. Aku seorang mahasiswa tahun ketiga dari Universitas Dragon Heart." Enya memperkenalkan diri.
"Oh, jadi anda berasal dari Universitas Dragon Heart, aku tidak menyangka." Ella memang terkejut dengan identitas Enya.
"Ya, aku sedang dalam misi bersama dengan kedua teman ku." Jawab Enya.
"Namun bagaimana universitas bisa mendapatkan informasi mengenai Anarchy Order sedangkan SID baru saja menerima informasi nya kemarin." Elle menanyakan pertanyaan yang kritis.
"Mudah saja, itu kebetulan." Enya menjawab dengan ringan.
"Kebetulan? Namun anda mengatakan kalau anda sedang berada dalam misi." Elle mengerutkan kening.
"Dan aku tidak mengatakan bahwa misi itu terkait dengan Anarchy Order bukan?" Enya tersenyum.
"Ah, kalau begitu apa misi kalian, nona." Ella mencoba menggali beberapa informasi.
"Memburu binatang buas." Ucap Enya.
"Tapi monster di bukit ini kebanyakan adalah monster lemah, dan kalian sepertinya adalah mahasiswa yang kuat." Ucap Ella.
"Benar sekali, karena kami sedang memerlukan poin secara cepat, dan meskipun misi sulit akan banyak imbalan, namun itu memakan waktu lama." Enya tersenyum.
"Lalu mengapa teman anda sepertinya tidak menerima petugas SID?" Ella akhirnya menanyakan pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan.
"Maaf, itu adalah urusan pribadi nya, aku tidak berhak untuk memberitahukan nya kepada kalian." Enya meminta maaf dengan sopan.
"Lalu--" Ella ingin bertanya lagi.
"Maaf reporter Ella, waktu ku sudah habis. Aku harus menyusul teman-teman ku." Enya memotong ucapan Ella.
"Aku permisi, petugas Zaff." Enya tersenyum sopan lalu ia pergi meninggalkan desa.
Petugas Zaff belum sempat menjawab, namun Enya sudah pergi meninggalkan desa. Mereka hanya bisa saling pandang dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.
...----------------...
"Lein!" Enya memanggil Lein.
Lein dan Jonas saat ini berada di sebuah ruangan pribadi di restoran kota, mereka sedang makan siang di sini.
"Mengapa kamu bersikap seperti itu? Mereka adalah organisasi pemerintah." Ucap Enya lalu Ia duduk.
"Maaf, tapi aku tidak bisa mengendalikan nya." Meskipun begitu wajah Lein tetap saja suram.
"..." Meskipun sedikit kesal, namun Enya tetap tidak bertanya lebih lanjut mengenai masalah ini.
Enya tahu pasti ada sesuatu diantara Lein dan SID dan itu bukanlah hal yang baik melihat sikap Lein yang membenci SID.
"Jadi? Kemana kita akan pergi selanjutnya?" Enya memakan makanan yang sudah Lein pesan untuk nya.
"Ada di sebuah rumah orang kaya di pinggiran kota juga." Jawab Lein.
"Baiklah." Enya mengangguk.
"Namun aku penasaran, mengapa tidak ada markas besar disini? Bukankah biasanya organisasi jahat membuat markas besar nya di kota besar?" Enya penasaran.
__ADS_1
"Mereka itu selalu mengacau, jadi tidak mungkin mereka membuat markas besar di Ibukota, yang mana banyak sekali orang kuat." Lein menjelaskan.
"Oleh karena itu di ibukota atau kota-kota besar lainnya, hanya ditemukan sejumlah markas-markas kecil Anarchy Order." Tambah Lein