Analysis Eye

Analysis Eye
Pesta setelah Kompetisi : Berangkat


__ADS_3

"Kamu kuat, Lein Sanzio." Ucap Britta.


"Aku tahu, tapi terimakasih." Balas Lein tersenyum juga.


Lein mendarat ke tanah dan mengulurkan tangan nya kepada Britta. Britta tersenyum dan menerima uluran Lein, mereka berdua kemudian berjabat tangan.


"Kalau begitu sekarang..." Lein melihat ke sekeliling.


"Para warga Kota Laville, namaku Lein Sanzio seorang Mahasiswa dari Universitas Dragon Heart dari Negara Easthold."


"Seperti yang kalian lihat, aku baru saja bertarung dengan nona muda kalian, Britta Morais yang mungkin menyebabkan kalian gelisah."


"Tapi tenang saja, kami adalah teman lama, dan kami bertarung karena kami sudah sangat lama bertemu satu sama lain."


"Jadi kalian tidak perlu khawatir, untuk masalah kerusakan akan kami ganti sesuai harganya. Kami akan bertanggung jawab penuh."


"Mungkin kalian tidak percaya kepadaku, tetapi kalian harus percaya kepada nona muda kalian." Lein menenangkan warga sekitar.


"Itu benar. Aku berjanji atas kehormatan ku sebagai anak walikota!" Teriak Britta.


Para warga yang ada di sekitar melihat bahwa Britta tidak membantah kata-kata Lein yang berarti mereka adalah teman lama.


"Karena Nona Britta sudah mengatakannya..."


"Benar, Nona Britta juga sudah berjanji..."


"Kalau begitu, tidak apa-apa kan..."


Setelah beberapa saat berdiskusi kemudian para warga memutuskan untuk percaya dan tidak mempermasalahkan mereka berdua.


Meskipun mereka tidak mengenal Lein, tetapi mereka mengenal Britta. Status Britta sebagai anak Walikota Laville terjamin dan dapat dipercaya.


"Terimakasih semuanya." Angguk Britta.


Kemudian Britta memanggil orang-orang nya untuk mengurus masalah ganti rugi dan untuk memperbaiki kerusakan.


"Biarkan aku yang mengumpulkan puing-puing nya." Ucap Lein.


"Ah, tolong." Angguk Britta.


Lein terbang ke atas dan menggunakan sihir nya untuk mengendalikan puing-puing yah berserakan dan mengumpulkan nya ke satu tempat.


"Ayo pergi." Lein terbang kembali ke kafe.


"Ya." Britta juga mengepakkan sayap nya dan terbang bersama Lein.


"Yo. Kami kembali." Ucap Lein saat sudah berada di dalam kafe.


"Oi bocah. Kamu akan kalah jika di serangan terakhir kamu tidak menggunakan mana." Ucap Octiorb.


"Aku tahu. Oleh karena itu aku menggunakan mana agar aku menang."Lein kembali ke kursi awal dan duduk.


"!! - Apakah itu benar?" Tanya Britta yang sedikit terkejut.


"Itu benar. Namamu Britta kan? Bocah itu akan kalah jika kalian bertarung menggunakan tubuh kalian, maksudnya bertarung tanpa menggunakan mana." Ucap Octiorb.


"Jadi begitu..." Britta mengangguk-anggukkan kepala nya.


"Cih, padahal aku ingin melihat bocah itu akan kalah." Octiorb mendecakkan lidah nya.

__ADS_1


"Sama, aku juga." Jonas mengangguk sependapat dengan Octiorb.


"...." Lein hanya bisa terdiam melihat kelakuan Octiorb dan Jonas.


Mereka kemudian berbincang-bincang sambil memakan makanan ringan yang belum mereka selesaikan tadi karena pertarungan.


Kemudian mereka berpisah karena nanti malam adalah pesta setelah kompetisi untuk menghitung poin dan merayakan selesainya kompetisi.


...----------------...


Malam hari nya.


"Ayo kita berangkat." Ucap Lein kepada Octiorb.


"Ya." Jawab Octiorb.


Mereka berdua keluar dari kamar dan kebetulan Liza juga keluar dari kamar nya. Mereka bertiga kemudian turun ke bawah melewati tangga dan sampai di lobi.


Lein dan Liza mengembalikan kunci kamar kepada resepsionis dan mereka berterima kasih, setelah itu mereka keluar dari penginapan.


Saat keluar, mereka melihat ada sebuah mobil yang diparkir di depan dengan seorang pria yang berdiri di sebelah mobil itu yang mengenakan pakaian formal.


"Mobil siapa?" Tanya Liza yang melihat mobil antik di depan.


"Dipinjamkan oleh anak Walikota." Ucap Lein.


"Ah, Britta." Liza mengangguk.


Lein sudah diberitahu bahwa Lein tadi siang bertarung dengan Britta, anak Walikota Laville. Namun itu bukanlah pertarungan konflik melainkan hanya bertanding.


"Halo, tuan. Saya Vio, orang yang ditugaskan oleh Nona Britta." Ucap Vio, pria yang berdiri di sebelah mobil.


"Halo, tolong antarkan kami ke kediaman walikota ya..." Angguk Lein.


Lein kemudian membukakan pintu untuk Liza dan ia masuk di pintu yang lain. Octiorb duduk di kursi depan dan Vio duduk di kursi pengemudi.


Vio menyalakan mobil dan mengemudikan mobil nya menuju ke tempat diadakannya pesta yaitu di kediaman walikota.


Saat sampai mereka melihat bahwa kediaman walikota sangat ramai. Dipenuhi oleh kendaraan dan orang-orang yang datang.


Kediaman Walikota Laville adalah sebuah mansion yang sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas di sekitar mansion.


"Kediaman Walikota yang setara dengan kediaman seorang presiden negara." Ucap Octiorb saat ia melihat sekitar.


"Itu wajar. Karena ini adalah kota kuno yang independen." Balas Lein.


"Benar..." Angguk Octiorb.


Vio kemudian mengemudikan mobil nya ke area parkir dan Mereka bertiga berjalan memasuki mansion.


"Liza, apakah kamu sudah menghubungi Presiden Brynn?" Tanya Lein kepada Liza.


"Sudah. Mereka sudah berada di dalam." Jawab Liza.


"Baiklah, ayo kita masuk juga." Ucap Lein.


Saat mereka sudah masuk kedalam mansion, mereka disuguhkan dengan dekorasi mansion yang sangat mewah namun elegan.


Bukan mewah yang berkilauan, tetapi mewah yang menenangkan dan elegan karena tentu saja dekorasi nya di desain kuno.

__ADS_1


"Kita bertemu lagi." Suara seorang pria terdengar di belakang Lein.


"Hm?" Lein menoleh ke belakang.


"Yo." Ternyata itu adalah Enzo dan Eira.


"...Pakaian formal tidak cocok untukmu." Ucap Lein.


"Ugh..!" Enzo memegangi jantung nya berpura-pura kesakitan.


"Benar, aku juga sependapat." Angguk Eira.


"Ugh...!" Enzo membuat ekspresi seperti orang kesakitan.


"Elf?" Eira menyadari bahwa disebelah Lein ada seorang elf.


"Ah, ya. Perkenalkan, dia Liza." Ucap Lein.


"Halo, aku Eira Dementria dan si bodoh itu adalah Enzo Jasper." Ucap Eira.


"Liza, tanpa nama belakangnya." Balas Liza.


"Kalian berdua adalah orang yang bersama Lein saat di akhir bukan? Aku melihat kalian." Ucap Liza.


"Benar. Kami memutuskan untuk mengikuti Lein karena dia adalah orang yang kuat dan menarik." Jawab Eira.


"Dimana tempat duduk Universitas Ocean Blue?" Tanya Lein.


"Disana." Eira menunjuk ke suatu arah.


"Ah, kita berlawanan arah." Ucap Lein yang menunjuk arah yang berlawanan.


"Sayang sekali, kalau begitu kamu duluan." Ucap Eira.


"Tentu." Balas Lein.


"Ayo Enzo." Eira menarik kerah Enzo.


"Oh Lein! Sampaikan salam ku kepada Jonas!" Teriak Enzo.


"Ya..." Angguk Lein.


Eira dan Enzo kemudian pergi ke meja mereka. Lein dan yang lain jug pergi ke meja mereka sendiri.


"Halo pres." Sapa Lein.


"Sudah datang? Duduklah." Jawab Presiden Brynn.


"Sudah lama kalian datang?" Lein dan yang lain duduk.


"Belum, sekitar 15 menit yang lalu." Jawab Presiden Brynn.


"Apa agenda pertama?" Tanya Lein.


"Sambutan Walikota dan makan malam." Jawab Presiden Brynn.


"Lalu penghitungan poin nya?" Kali ini Liza yang bertanya.


"Tentu saja di pertengahan. Penghitungan poin dan pengumuman juara adalah acara utama." Ucap Presiden Brynn.

__ADS_1


"Hm, benar juga." Liza menganggukkan kepala nya.


Setelah itu mereka semua berbincang-bincang karena mereka datang awal dan masih banyak waktu sebelum makan malam dimulai.


__ADS_2