Analysis Eye

Analysis Eye
John Sedang Jatuh Cinta?


__ADS_3

Karena tidak ada kelas teori, Lein mengisi hari-hari nya dengan berlatih. Lein latihan bertarung dengan Isolda dan terkadang Liza juga sesekali mengoreksi kesalahan Lein dan Isolda.


Lein juga melatih teknik gerakan kaki nya. Karena Lein sudah memahami makna elemen cahaya di dalam teknik nya, Lein hanya tinggal melatih langkah nya.


Liza juga selalu di universitas. Ia sedang membiasakan diri dengan kekuatan Leviarves karena saat ini Liza diizinkan untuk menggunakan semua kekuatan Leviarves.


...----------------...


"Hey, Lein." Liza memanggil Lein yang sedang berlatih teknik gerakan kaki.


"Ada apa Liza?" Lein menghentikan latihan nya.


"Kamu ingin bergerak cepat seperti teleportasi yang langsung sampai ke tujuan atau bergerak cepat namun konstan dan teratur?" Liza bertanya mengenai gerakan kaki yang Lein mau.


"Eh, aku tidak memikirkan nya namun aku lebih memilih gerakan kaki yang cepat namun teratur." Lein menjawab.


"Kalau begitu cobalah melangkah dengan elemen cahaya yang sedikit. Karena jika kamu menggunakan semua elemen cahaya maka akan seperti teleportasi." Liza memberi saran.


"Hm... baiklah, akan ku coba." Lein menerima saran Liza.


Lein kemudian menempatkan sedikit elemen cahaya di kaki nya. Lalu Lein mencoba melangkah bukan berlari atau berjalan.


*Wusshh (suara angin berhembus)


"Wah!" Lein terjatuh.


"Bagaimana?" Liza tersenyum.


"Terimakasih Liza!!" Lein berdiri dan mengucapkan terima kasih.


Saran dari Liza sungguh berguna. Meskipun Lein terjatuh, namun ia bisa mengendalikan kecepatan nya berbeda dari sebelumnya yang sampai menabrak tembok.


Lein terjatuh karena memang belum terbiasa ketika menghentikan langkah nya yang membuat pijakan nya goyah.


"Fufufu, sama-sama." Liza kemudian pergi ke pojok ruangan untuk bermeditasi.


"Dengan sedikit elemen cahaya dan melangkah bukan berlari atau berjalan." Lein menyesuaikan napas nya.


Lein mencoba sekali lagi sesuai saran dari Liza. Sama seperti sebelumnya, Lein terjatuh. Namun Lein berhasil membuat sedikit kemajuan.


Lein bisa mengendalikan langkah nya lebih tepat sesuai keinginan nya. Hanya saja yang menjadi masalah adalah ketika berhenti.


"Hm, karena terlalu cepat aku jadi terjatuh." Lein mencoba memikirkan solusi.


"Kalau begitu, saat aku ingin berhenti aku harus berhenti meringankan massa tubuh ku, aku coba saja." Lein mencoba ide nya.


Sama seperti sebelumnya, Lein meringankan massa tubuhnya dengan mana lalu melangkah seperti tadi.


Saat Lein ingin berhenti, ia berhenti menyalurkan mana dan massa tubuh nya kembali normal. Lalu benar saja, Lein hanya goyah namun tidak terjatuh.


"Berhasil." Lein tidak menyangka ide simpel nya akan berhasil.


"Lalu aku akan mencoba bagaimana jika aku bergerak sangat cepat seperti teleportasi." Lein ingin mencoba nya.

__ADS_1


Lein menggunakan mana untuk meringankan massa tubuhnya dan menggunakan banyak elemen cahaya di kaki nya lalu ia berlari, bukan melangkah.


*Brak (suara terjatuh)


Lein terjatuh, namun wajah nya menunjukkan ekspresi terkejut. Karena Lein mengira ia akan menabrak tembok seperti sebelumnya.


"Saran Liza sungguh berguna!" Lein berpikir seperti itu.


"Hm, aku akan menggunakan kecepatan yang teratur jika untuk pertarungan. Lalu kecepatan tinggi jika aku dalam situasi tidak memungkinkan." Lein memutuskan untuk memakai kecepatan yang mana sesuai situasi.


*Ding (suara notifikasi)


Lein membuka sistem nya dan mengklik opsi obrolan. Ternyata yang mengirimkan pesan adalah John.


John : Lein, bisakah kamu ke rumah ku?


Lein : Apakah ada sesuatu?


John : Aku sudah bisa mengendalikan sekitar 60% jantung racun ini.


Lein : Baiklah, aku akan segera kesana.


...----------------...


Universitas Dragon Heart, Rumah milik John.


*tok tok tok (suara ketukan pintu)


"Lein! Silakan masuk." John membukakan pintu dan mempersilakan Lein masuk.


Setelah itu mereka duduk dan membahas mengenai kemajuan John dalam mengendalikan jantung racun miliknya.


Lalu John juga memberikan satu kotak yang berisi botol-botol racun sama seperti sebelumnya. Bedanya efek racun ini lebih mematikan.


Lein menyimpan kotak itu ke dalam inventory nya dan berterima kasih kepada John.


"Ngomong-ngomong Lein, kamu dan Anna berasal dari sekolah yang sama kan?" John tiba-tiba bertanya.


"Eh, iya. Mengapa?" Lein mengambil minuman lalu meminum nya.


"Haha, kurasa... aku jatuh cinta dengan Anna." Ucap John sambil menggaruk kepalanya.


*pfft (suara menyemburkan air)


*cough cough (suara batuk)


"Apa.. yang kamu katakan?" Lein terkejut dengan ucapan John


"Aku jatuh cinta dengan Anna." John berkata dengan tegas.


"Tunggu... apa yang kalian lakukan saat aku tidak ada?" Lein mengelap mulut nya dengan tisu.


"Yah, karena kami duduk bersebelahan saat kelas teori kami jadi sering berbincang-bincang." John mengingat-ingat.

__ADS_1


"Lalu kami belajar bersama, berlatih bersama, lalu... terkadang kami makan diluar bersama." John mengatakan apa yang ia ingat.


"Astaga... Hubungan kalian menjadi semakin dekat ya. Padahal kalian baru kenal saat selesai ujian praktek." Lein menepuk dahi nya.


"Ah iya, hehehe." John menjadi malu.


"Yah, kami memang satu sekolah." Lein kembali meminum minuman nya.


"Namun kami berbeda dunia. Dia adalah primadona sekolah sedangkan aku adalah siswa dengan kasta terendah." Lein mencoba mengingat kenangan pahit.


"Ah, maafkan aku." John tidak menyangka keadaan Lein akan buruk di SMA .


"Santai. Nah, aku tidak bisa membantu mu jika kamu ingin tau soal Anna." Lein mengangkat bahu nya.


"Ah tapi, aku ingat dia menyukai mawar putih." Lein memegang dagunya.


"Benarkah!?" John nampak bersemangat.


"Benar." Lein mengangguk.


"Baiklah! Terimakasih Lein, itu sudah cukup." John memegang tangan Lein.


"Lepaskan, aku pria lurus." Lein melepaskan genggaman tangan John.


Setelah itu mereka berbincang-bincang mengenai hubungan percintaan. Meskipun Lein belum pernah jatuh cinta, namun ia tahu mengenai emosi manusia.


Oleh karena itu Lein berusaha membantu John meskipun sedikit karena John juga merupakan teman sekaligus orang yang memproduksi racun untuk nya.


...----------------...


Lein kemudian kembali ke rumah presiden.


"Oh kamu sudah pulang? Kemari." Liza melihat Lein datang dan menepuk-nepuk sofa di sebelah nya.


Lein lalu duduk disebelah Liza dan Liza menawari apel yang sudah dipotong oleh nya.


"Makan ini, buah bagus untuk kesehatan mu." Liza memberikan potongan apel.


"Apakah kamu memang menyukai buah?" Lein memakan potongan apel itu.


"Yah, tentu saja. Karena aku elf." Liza mengangguk.


"Oh iya, aku lupa." Lein lupa kalau Liza elf


Karena Liza selalu meminta hidangan daging saat makan sampai Lein lupa bahwa ia adalah seorang elf yang notabene nya memakan buah dan sayur saja.


"Oh ngomong-ngomong, apakah kamu akan hadir saat turnamen?" Lein bertanya.


"Hadir. Pekerjaan ku sebelum nya juga sebagai pengawal Brynn, oleh karena itu aku juga akan datang." Liza mengangguk.


"Begitu. Perhatikan aku ya, aku akan sering menggunakan kontrol mana yang kamu ajarkan padaku." Lein tersenyum.


"Tentu saja aku akan." Liza membalas tersenyum.

__ADS_1


Kemudian mereka berdua berbincang-bincang sambil memakan buah dan menonton televisi. Lalu presiden Brynn pulang dan ikut bersantai.


__ADS_2