
Beberapa hari kemudian, di ruang latihan pribadi milik presiden Brynn.
Lein meminjam ruangan latihan milik presiden Brynn karena ia ingin melatih Jonas dan Enya, dan karena ruangan latihan milik nya sangat kecil.
Saat ini Lein bukan berada di ruang latihan di rumah presiden Brynn, tapi di gedung latihan milik universitas.
Universitas Dragon Heart memiliki gedung untuk latihan para muridnya, karena hanya murid kelas S saja yang memiliki ruangan latihan pribadi.
Dan ruangan latihan di gedung latihan memiliki bermacam-macam ukuran, ada yang untuk pribadi ada juga yang untuk kelompok.
"Enya, karena kamu sudah bisa mengendalikan api milik Fiama, maka kamu sekarang memiliki dua pilihan." Ucap Lein kepada Enya.
"Dua? Apa saja itu?" Tanya Enya.
"Pertama adalah melatih jangkauan api Fiama, dan yang kedua adalah melatih suhu dan kerusakan api Fiama." Jawab Lein.
"Hm... Biarkan aku berpikir sebentar." Enya tidak langsung memilih.
"Tentu." Lein mengangguk.
"Jonas, kalau kamu tidak memiliki pilihan untuk berlatih, tapi kamu harus berlatih dua hal yang sangat penting." Ucap Lein kepada Jonas.
"Pertama, latih daya tahan tubuh mu, kedua, latih kekerasan Diamond Rhino mu." Ucap Lein.
"Baiklah!" Jonas bersemangat.
"Lein, aku memutuskan untuk melatih suhu dan kerusakan api Fiama ku dulu." Enya sudah memutuskan pilihan nya.
"Bisakah aku tahu alasan nya?" Lein bertanya.
"Karena aku ingin menghabisi lawan dengan cepat." Mata Enya berbinar-binar.
"ugh.." Lein tidak tahu harus berbuat apa dengan alasan Enya yang sederhana namun memang benar.
"Yah bagus, Jonas, tolong latihan seperti biasa dulu, aku akan membimbing Enya sebentar." Lein berkata kepada Jonas.
"Siap, bos." Jonas mengangguk dan segera berlatih seperti biasa.
"Enya, sekarang berkonsentrasi lah, bayangkan apa arti api di benak mu." Lein mulai membimbing Enya.
"Baik." Ucap Enya mengangguk.
"Tidak perlu menjawab nya, dengarkan saja kata-kata ku." Ucap Lein.
Kemudian Enya duduk bersila dan menutup matanya. Ia mulai berpikir dan membayangkan apa arti sebuah api di benak nya.
"Aku sudah menemukan nya." Enya membuka matanya.
__ADS_1
"Dan apa itu?" Tanya Lein.
"Menurut ku, api adalah elemen yang merusak namun juga bisa digunakan untuk membuat sesuatu. Elemen api membawa kehancuran dan kesedihan bagi masyarakat." Enya mulai menjelaskan
"Karena api merenggut banyak harta benda orang-orang dan juga merenggut nyawa orang yang mereka sayangi dan cintai."
"Namun api juga membawa kehangatan dan kenyamanan bagi orang-orang, dengan api mereka bisa menghangatkan tubuh saat musim dingin."
"Bisa memasak makanan dengan api untuk mengisi perut yang lapar, membawa kebahagiaan juga untuk anak-anak yang senang dengan masakan ibunya."
"Api adalah sebuah elemen yang netral, api bisa menjadi jahat dan juga baik tergantung bagaimana orang menggunakan api itu." Jelas Enya.
Lein yang mendengarkan ucapan Enya tersenyum tipis, Enya bisa memikirkan apa itu api di benaknya dengan cepat dan rasional.
Enya juga memikirkan bagaimana api membawa kehancuran dan kesedihan atau juga membawa kehangatan dan kebahagiaan.
"Bagus sekali.." Lein tersenyum.
"Lalu, untuk apa kamu menggunakan api mu di masa depan?" Lein bertanya dengan serius.
"Aku ingin melindungi sesuatu atau seseorang yang berharga bagi ku dan membakar habis musuh-musuh ku!" Enya menjawab dengan tegas tanpa ragu-ragu.
"Bagus! Sikap tegas dan tidak ragu-ragu adalah hal yang sangat penting!" Lein tersenyum puas dengan jawaban Enya.
"Kalau begitu mari kita mulai latihan nya..." Lein menjadi serius.
"Sama seperti sebelumnya, bayangkan sebuah api. Bedanya apa pengaruh api di hidupmu, apakah api penting, apakah api membawa kenangan baik dan buruk, ingat lah..." Lein mulai pelatihan Enya.
"Api di dalam hidup ku..." Enya menutup matanya.
"Pengaruh api dalam hidup ku yang paling aku ingat adalah saat Fiama memasuki tubuhku." Enya membuka matanya.
"Kalau begitu sekarang ingat bagaimana perasaan mu saat Fiama memasuki tubuhmu, ingat bagaimana api yang bergejolak, ingat wujud dan suhu apinya saat itu." Lein membimbing Enya lagi.
"Baiklah, tapi mungkin akan memakan beberapa waktu karena aku kurang ingat bagaimana suhu api nya karena aku langsung pingsan." Ucap Enya
"Tidak apa-apa, tidak perlu buru-buru. Tenang dan perlahan-lahan namun pasti." Lein tersenyum.
...----------------...
"Jonas, sekarang giliran mu." Lein menghampiri Jonas.
"Ya, bos." Jonas menghentikan latihan nya dan menjawab.
"Daya tahan mu masih kurang untuk mengimbangi kekuatan dan ketahanan Diamond Rhino." Lein menjelaskan.
"Oleh karena itu potensi Diamond Rhino tidak keluar semua karena terbatas nya daya tahan mu itu." Tambah Lein.
__ADS_1
"Ya, aku juga menyadari nya bos." Jonas mengangguk.
"Bagus kalau kamu menyadari nya, apakah kamu siap untuk langsung berlatih?" Lein bertanya.
"Siap bos, apakah ada sesuatu yang khusus dalam latihan ku?" Jonas menjawab dan bertanya.
"Tidak ada, lakukan seperti biasanya..." Lein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak ada, jadi-" Jonas bingung.
"Namun... dua kali gravitasi." Lein menjentikkan jarinya.
"!!" Jonas merasakan tubuhnya berat.
"Yang kamu rasakan saat ini adalah dua kali gravitasi bumi, kamu akan berlatih seperti biasanya namun bedanya akan menggunakan tekanan gravitasi." Ucap Lein.
"Jadi begitu! Aku paham bos!" Jonas terlihat bersemangat.
"Bagaimana rasanya? aku tahu dua kali gravitasi tidaklah cukup." Lein tersenyum dengan semangat yang ditunjukkan Jonas.
"Benar bos, untuk awalan kurasa aku bisa sekitar tiga kali lipat gravitasi." Jonas mengangguk.
"Bagus, tapi bagaimana dengan ini?" Lein menjentikkan jarinya lagi.
Sebuah kubah berbentuk kubus menyelimuti arena di sekitar Lein dan Jonas.
"!?" Jonas merasakan bahwa udara, atau lebih tepatnya oksigen di sekitarnya berkurang.
"Kamu akan berlatih dengan tekanan gravitasi dan dengan oksigen yang terbatas. Ini bisa melatih daya tahan tubuh luar dan dalam mu." Lein tersenyum.
Jonas yang mendengar tentang itu bukannya mengeluh atau gentar, ia justru semakin bersemangat dengan metode latihan yang Lein gunakan.
Seperti yang dikatakan oleh Lein, tekanan gravitasi hanya akan melatih daya tahan tubuh bagian luar saja dan hanya berefek sedikit untuk bagian dalam.
Namun dengan oksigen yang terbatas, Jonas akan dipaksa untuk menggunakan oksigen dengan seefisien mungkin tanpa ada oksigen yang terbuang sia-sia.
"Bagaimana? Dengan latihan kombinasi ini, apakah kamu sanggup dengan tiga kali gravitasi?" Lein bertanya dengan wajah tersenyum.
"Haha, kurasa aku tidak bisa bos." Jonas tertawa.
"Tidak masalah, ini baru permulaan." Lein menepuk bahu Jonas dan kemudian ia keluar dari kubah.
Lein melihat bahwa Enya masih duduk bersila dan menutup matanya, ia kemudian berjalan ke pojok ruangan latihan untuk bermeditasi.
Lein merasa bahwa yang ia butuhkan sekarang bukankah kekuatan namun ketenangan, ia perlu melatih ketenangan dan fokus nya.
Karena jika Lein bisa tenang dan fokus di pertarungan nya melawan Maya sebelumnya, maka ia tidak perlu menggunakan skill dengan kekuatan iblis itu.
__ADS_1