Analysis Eye

Analysis Eye
Keluarga Lauren : Obrolan Ringan


__ADS_3

"Apakah ini kediaman Keluarga Lauren?" Tanya Lein melihat sebuah gedung tinggi.


Gedung yang Lein lihat adalah sebuah Penthouse yang sangat mewah yang memiliki memiliki puluhan lantai.


"Benar, keluarga ku ada di lantai 23." Angguk Linda.


Lein lalu mengemudikan mobilnya ke tempat parkir penthouse yang ada di bawah tanah. Bahkan tempat parkir nya saja mewah.


Lein memperkirakan mobil di tempat parkir milik Keluarga Lauren. Karena pemilik penthouse bisa membeli lahan parkir untuk mereka.


"Baiklah. Apakah kamu siap?" Linda bertanya setelah mereka keluar dari mobil.


"Tentu saja aku siap." Lein merapikan pakaian nya dan berkata dengan percaya diri.


"Bagus!" Lein memegang lengan kiri Lein dan mereka berdua berjalan menuju lift.


Mereka masuk dan menekan tombol untuk menuju ke lantai 23 di atas karena keluarga Lauren menempati lantai 23 penthouse.


Saat berada di lift, Lein segera mengeluarkan barang-barang yang akan diberikan kepada keluarga Lauren sebagai hadiah pertemuan.


Lein memegang ketiga barang yang dibuat Octiorb dan menaruh Brisc Nectar Tea ke dalam sebuah tas kecil.


"Hm? Tunggu dulu, barang-barang yang kamu pegang..." Linda melihat barang-barang yang Ken pegang.


"Ya, ini semua untuk hadiah pertemuan yang akan diberikan kepada keluarga mu." Jawab Lein.


"Jadi kamu sudah menyiapkan semuanya?" Linda bertanya dengan nada bingung.


"Haha..." Lein hanya tertawa.


Linda tidak puas karena Lein tidak menjawab, Linda hanya memutarkan matanya.


*ding


Lift berbunyi menandakan bahwa mereka sudah sampa di lantai yang mereka tuju. Saat mereka keluar dari lift, mereka melihat sebuah pintu.


"Pintu? Jadi setiap lantai hanya ada satu rumah?" Tanya Lein.


"Benar. Bisa dibilang penthouse ini untuk orang kaya yang membutuhkan privasi lebih." Angguk Linda.


Jadi saat pengunjung mengunjungi penthouse mereka hanya akan menuju ke lantai tujuan dengan lift saja lalu langsung sampai.


Tidak perlu mencari ruangan atau rumah yang akan dituju seperti di apartemen.


*ting tong


Linda menekan bel pintu dan bel pintu berbunyi.


Setelah beberapa detik menunggu, terbukalah pintu kediaman dan terlihat seorang wanita dewasa yang mirip dengan Linda.


"Ibu!" Linda berteriak dan segera memeluk wanita dewasa yang sepertinya adalah ibu Linda.


"Wah anakku!" Ibu Linda juga memeluk Linda dengan erat.

__ADS_1


Lein hanya tersenyum datar melihat keharmonisan ibu dan anak didepannya itu.


"Hm? Siapa ini?" Ibu Linda menyadari bahwa ada pria lain yang dibawa oleh Linda.


"Ah, biar aku perkenalkan." Linda melepas pelukannya.


"Namanya Lein, dia adalah pacarku!" Linda tersenyum cerah dan memperkenalkan Lein kepada ibunya.


"Pacar!?" Ibu Linda melebarkan matanya saat ia mendengar Linda mengatakan bahwa Lein adalah pacarnya.


"Halo bibi, namaku Lein Sanzio." Lein tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Wah halo! Nama saja bibi adalah Addea Fancy, panggil saja bibi Addea.." Addea memperkenalkan dirinya kepada Lein.


"Baik bibi Addea." Lein mengangguk.


"Ah... Masuk masuk.." Ibu Linda senang dan mempersilahkan Lein masuk.


"Terimakasih bibi." Ucap Lein lalu masuk ke dalam rumah.


"Hey! Kamu tidak mengatakan bahwa akan membawa pacar dan juga sejak kapan kamu punya pacar!?" Ibu Linda berbisik kepada Linda.


"Ibu juga tidak bertanya." Linda mengangkat bahu.


"Kamu ini...!" Adde menepuk kepala Linda dan masuk kedalam rumah.


"Aduh!" Linda mengusap-usap kepala yang kena pukul.


...----------------...


"Ah? Halo paman." Lein mengapa pria itu yang sepertinya adalah Ayah Linda.


"Suamiku! Ini Lein, pacar Linda!" Addea berkata dengan wajah bahagia.


"!!" Pria itu membelalakkan matanya karena sangat terkejut.


"Pacar!? Hahaha..." Pria itu tertawa dengan keras.


"Halo halo!" Pria itu bangkit dan menepuk-nepuk punggung Lein.


Pria paruh baya itu adalah ayah Linda yang bernama Gino Lauren, seorang penyihir hebat dari keluarga Lauren.


"Duduklah, masih ada waktu sebelum waktu malam. Ayah juga belum datang." Kata ayah yang dimaksud Gino adalah kakek Linda.


"Baik." Lein lalu duduk disofa ruang tamu dan Linda duduk disebelah nya


"Kamu terlihat muda, berapa umur mu?" Addea menanyakan pertanyaan yang kritis.


"18 setengah." Lein berkata dengan nada tenang tanpa gugup.


"18? Yah itu tidak apa-apa. Kami tidak mempersalahkan nya." Addea mengangguk.


"Ah, aku kira mereka tidak akan setuju dan membuat masalah." Pikir Lein

__ADS_1


"Bagaimana kamu bertemu dengan anakku?" Gino sangat penasaran.


"Ah, sebelum itu paman. Tolong terima ini..." Lein memberikan hadiah untuk Gino dan Addea.


"Kamu bahkan membawakan kami hadiah? Haha." Gino dan Addea dengan senang hati menerima nya.


Kesan Lein di mata mereka berdua juga semakin meningkat.


"Haha, silakan dibuka paman, bibi." Lein tersenyum.


Gino dan Addea membuka kotak kayu mereka masing-masing. Mereka terkejut bahwa Lein memberi hadiah berupa barang berkualitas.


Mereka memang tidak bisa mengetahui rank apa barang yang diberikan oleh Lein. Namun mereka bisa tahu dengan sekali lihat bahwa itu adalah barang berkualitas.


"Ini terlalu berlebihan, Lein..." Ucap Gino.


"Benar..." Tambah Addea.


"Tidak apa-apa, meskipun itu berkualitas tapi tidak mahal karena barang sehari-hari." Ucap Lein dengan sedikit bumbu kebohongan.


Karena memang Lein tidak membeli barang-barang itu, tetapi Octiorb yang membuatnya.


Tapi jika Lein mengatakan bahwa ia tidak membeli namun membuat kepada orang tua Linda maka mereka tidak akan percaya.


Karena memang tidak ada orang yang membuat item berkualitas kecuali Alkemis, Pandai Besi, dan Pembuat Kerajinan.


Dan Lein masih muda dan tidak terlihat seperti seorang dari ketiga pekerjaan tersebut.


"Baiklah, kami senang karena Linda mempunyai pacar, sekarang kami tambah senang karena pacar nya sangat baik." Gino menerima pemberian Lein.


"Benar, kami sebagai orang tua sangat bahagia." Addea juga menerima pemberian Lein.


"Terimakasih ya..." Gino dan Addea berterima kasih kepada Lein atas pemberian nya.


"Sama-sama paman, bibi." Ucap Lein tersenyum rendah hati.


Mereka bertiga lalu berbincang-bincang mengenai hubungan Lein dan Linda. Linda tersenyum melihat Lein akrab dengan orang tua nya.


*ting tong


"Oh itu pasti kakek Linda." Ucap Addea.


Addea beranjak dari sofa dan berjalan menuju pintu ruang untuk membukakan pintu.


"Santai saja, kakek ku adalah orang yang ramah." Linda memegang tangan kanan Lein.


"Ramah!?" Lein tidak berpikir seperti itu.


Karena ia sudah bisa merasakan aura yang kuat meskipun posisi ada beberapa jarak antara posisi nya dan posisi kakek Linda.


Dan kakek Linda sepertinya sudah mengetahui bahwa Lein adalah pacar Linda diberitahu oleh Addea.


Dan itulah yang membuat kakek Linda mengincar Lein dengan mengeluarkan aura yang memiliki tekanan yang sangat berat.

__ADS_1


Meskipun Lein aura itu tidak ada apa-apa nya dihadapan Lein.


"Hm, tapi aku belum pernah melihat kakek Linda secara langsung atau di berita." Pikir Lein.


__ADS_2