
"Aku bisa menyembuhkan nya." Lein mengangguk.
"!!" Edvart dan Anna mengeluarkan air mata saat mendengar bahwa Lein bisa menyembuhkan Reika.
"Apakah itu benar, Lein!?" Edvart menghampiri Lein dan memegang kedua bahunya.
"Benar tuan Edvart." Lein mengangguk dan menatap mata Edvart tanpa tanda-tanda kebohongan.
Edvart juga bisa melihat Lein tidak berbohong dan karena ia percaya dengan Lein dan juga karena tidak ada yang bisa menyembuhkan Reika lagi.
"Tolong.." Edvart mundur selangkah dan membungkukkan badannya.
Reika, Anna, dan John terkejut dengan tindakan Edvart yang membungkukkan badannya kepada Lein dan meminta tolong.
Reika tidak menyangka bahwa suaminya rela membungkukkan badannya kepada orang lain demi kesembuhan nya.
"Jangan membungkuk paman, beri saja aku imbalan nanti." Ucap Lein.
"Hahaha." Edvart terkejut dengan ucapan Lein dan kemudian ia tertawa.
Edvart semakin suka dengan Lein yang cerdas ini, ia mengatakan bahwa ia hanya perlu imbalan nanti yang berarti ia memang menyembuhkan Reika bukan demi Anna atau John.
Lein akan menyembuhkan Reika demi keuntungan nya sendiri dan tidak memerlukan segala tindakan sopan.
"Apa yang kamu mau sebagai imbalan nya Lein?" Edvart bertanya.
"Aku akan memikirkan nya nanti, untuk sekarang aku akan menyembuhkan Bibi Reika terlebih dahulu." Ucap Lein.
"Baiklah, apa saja bahan obat yang diperlukan?" Edvart berekspresi serius.
"John sudah memberitahu ku bahwa Bibi Reika terkena Icy Illness karena bunga mawar yang aneh, yang berarti cara penyembuhan nya juga berbeda." Ucap Lein
"Yang diperlukan bukanlah bahan obat atau potion, tetapi garam murni dari benua tengah." Ucap Lein memberitahu apa yang diperlukan untuk menyembuhkan Reika.
"Garam murni? Mengapa?" Edvart bertanya karena ia tidak paham mengapa harus menggunakan garam murni.
"Garam murni akan dilarutkan menggunakan air suci dan menghasilkan cairan garam." Ucap Lein menjelaskan.
"Cairan ini digunakan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang, mengoreksi ketidakseimbangan elektrolit, dan menjaga tubuh agar tetap terhidrasi dengan baik." Tambah Lein.
"Jadi begitu, tapi mengapa kelihatan nya sangat mudah?" Tanya Edvart.
"Memang, tapi yang terpenting bukan garam murni atau air suci nya, tapi energi yang dimasukkan ke dalam tubuh Bibi Reika bersamaan dengan saat memasukkan cairan garam." Ucap Lein.
"Energi?" Edvart menyipitkan matanya.
"Ya." Lein mengangguk dan menatap mata Edvart.
".... Baiklah." Edvart tidak bertanya lebih lanjut.
"Anna, ikut dengan ku ke kamar dagang MYRANT, mereka pasti memiliki garam murni dari benua tengah." Ajak Edvart.
__ADS_1
"Mengapa tidak menyuruh kakek Tien saja?" Tanya Anna.
"Ini terkait dengan kesembuhan ibumu, ayah dan kamu yang harus bertindak." Edvart menghela napas.
"Ah! Baiklah!" Anna menyadari.
"John, kamu juga ikut." Ucap Edvart mengajak John juga.
"Baik paman." John mengangguk.
"Apakah kalian ingin tetap disini atau beristirahat di ruang lain?" Edvart bertanya kepada Lein dan Jonas.
"Seharusnya tidak akan lama bukan? Kalau begitu kami akan disini saja." Jawab Lein.
"Baiklah, tunggu kami." Edvart dan yang lain pergi ke kamar dagang MYRANT.
Lein mengangkat tangan kirinya dan menggunakan Divine Power untuk Reika.
"Uh?" Reika menyadari tindakan Lein namun ia tidak tahu untuk apa.
"Ini..." Setelah divine power memasuki tubuh Reika, ia merasakan kehangatan dan sepertinya kondisi tubuhnya sedikit membaik.
"Dengan ini seharusnya anda bisa berbicara dengan bebas, Bibi Reika." Ucap Lein.
Ternyata Lein menggunakan Divine Power untuk Reika agar Reika bisa berbicara.
"Kekuatan itu... divine power bukan?" Itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Reika saat ia bisa berbicara.
"Ah! Maafkan aku!" Reika menyadari kesalahannya.
"Terimakasih telah membuat kondisi tubuhku ku membaik, Lein." Reika berterima kasih.
"Tidak masalah Bibi." Lein mengangguk.
"Dan untuk pertanyaan sebelumnya, benar, itu adalah divine power." Lein menjawab pertanyaan Reika.
"Aku menggunakan divine power karena aku bisa merasakan anda juga memiliki nya, Bibi." Lein mengambil kursi dan duduk di sebelah Reika.
"!?" Reika melebarkan matanya karena terkejut.
"Bagaimana kamu tahu?? Hanya pihak gereja dan suamiku saja yang tahu kalau aku memiliki divine power." Reika bertanya kepada Lein.
"Mudah, karena divine power ku lebih besar dibandingkan dengan milik anda." Jawab Lein dengan nada santai.
"Ah, benar juga mengapa aku bisa melupakan hal itu." Reika menghela napas.
"Apakah anda penganut Dewi Ariel? atau siapa?" Lein penasaran.
"Aku penganut Dewi Ariel." Reika menjawab.
"Sudah kuduga, lagipula Dewi Ariel memang yang paling terkenal." Ucap Lein.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan divine power mu yang besar? Apakah kamu penganut Dewi Ariel juga?" Reika bertanya dengan mata berbinar-binar.
"..." Lein memasang ekspresi jijik.
"A-apa? Mengapa kamu memasang ekspresi seperti itu?" Tanya Reika.
"Aku percaya bahwa ada dewa dan dewi, namun aku tidak mempercayai mereka." Jawab Lein.
"Mengapa? Bukankah seharusnya kamu mempercayai mereka?" Tanya Reika bingung.
"Lalu aku akan bertanya juga, mengapa makhluk fana mempercayai dewa dan dewi?" Tanya Lein.
"Apakah karena mereka lebih kuat? lebih cerdas? atau karena mereka lebih superior?"
"Itu..." Reika tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku tidak tahu bagaimana pendapat orang lain, namun alasan aku mempercayai dewa dan dewi adalah karena ibuku sakit setelah melahirkan ku."
"Lalu teman ayahku yang seorang pendeta datang dan menyembuhkan ibuku dengan divine power dan atas nama Dewi Ariel."
"Lalu ayahku selalu menceritakan bahwa ibuku sembuh karena bangunan Dewi Ariel, itulah mengapa aku percaya dengan Dewi Ariel dan menjadi penganut nya." Jawab Reika.
"Jadi begitu, yah memang wajar seseorang percaya karena apa yang mereka lihat dan apa yang mereka rasakan." Ucap Lein.
"Lalu mengapa kamu tidak mempercayai dewa dan dewi?" Kali ini giliran Reika yang bertanya.
"Hidupku sulit, aku tidak memiliki seseorang yang bisa membantuku dan tidak ada orang baik hati yang membantu ku."
"Aku tidak mempercayai dewa karena mempercayai mereka artinya berharap kepada mereka. Berdoa dan berharap itu tidak dibutuhkan di kehidupan ku."
"Dan karena selalu berharap, aku mungkin tidak akan berusaha keras untuk menyelesaikan masalah ku, karena aku percaya pasti dewa akan membantu ku."
Lein mengatakan alasan mengapa ia tidak mempercayai dewa dan dewi. Sebuah alasan yang logis dan juga alasan yang Lein katakan tidak salah.
Reika tidak tahu kehidupan apa yang selama ini Lein jalani sampai-sampai ia tidak mempercayai dewa dan menjadi pribadi yang seperti ini.
"Lalu bagaimana kamu mendapatkan divine power yang besar tanpa mempercayai mereka?" Reika bertanya.
"Karena aku membuat kesepakatan dengan mereka." Jawab Lein jujur.
"Kesepakatan!?" Reika terkejut.
"Ya, kesepakatan." Lein mengangguk.
"Ahh aku tidak percaya... seorang manusia membuat kesepakatan dengan dewa dan dewi." Reika menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yah memang tidak bisa dipercayai." Lein juga tidak peduli Reika percaya atau tidak.
"Lalu, satu pertanyaan lagi, apakah kamu membenci dewa dan dewi?" Tanya Reika.
"Hm, aku tidak membenci mereka namun aku juga tidak menyukai mereka, aku netral." Lein tidak berpihak.
__ADS_1
"Jadi begitu, itu sudah cukup untuk menenangkan ku." Reika tersenyum.