
15 menit kemudian, mereka sampai di lokasi dimana pertunjukan orkestra diadakan. Yaitu di gedung musik yang bernama Piper Oktaf.
Lein dan Liza memasuki gedung musik dengan mudah karena gratis sama sekali tidak perlu membayar biaya masuk.
Di lobi gedung disajikan berbagai lukisan seorang musisi yang terkenal dengan alat musik yang digunakan masing-masing musisi.
"Apakah kamu menyukai orkestra?" Tanya Lein saat mereka berdua sedang melihat-lihat lukisan.
"Aku tidak tahu." Liza menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ini pertama kalinya aku akan melihat pertunjukan orkestra. Namun kurasa aku akan menyukainya karena kamu juga tahu bahwa aku menyukai hal yang klasik." Jawab Liza.
"Benar. Kamu menyukai hal yang berhubungan dengan klasikal." Lein mengangguk.
"Bagaimana dengan mu? Apakah kamu menyukai Orkestra?" Tanya Liza.
"Aku juga tidak tahu. Tapi aku menyukai musik karena musik adalah teman saat aku sendirian." Ucap Lein dengan sedikit kesedihan.
"..." Liza yang melihat ekspresi Lein menjadi ikut sedih.
Kemudian Liza memegang telapak tangan Lein dan menunjukkan senyuman yang cerah seolah-olah berkata untuk jangan bersedih.
"Aku tahu..." Lein paham dengan apa yang ingin disampaikan oleh Liza.
"Kalau begitu ayo pergi. Pertunjukan orkestra nya akan segera dimulai." Lein memegang erat tangan Liza.
"Tentu." Liza tersenyum bahagia.
Tempat untuk pertunjukan orkestra ada di lantai 3 gedung. Lein dan Liza menuju ke lantai 3 dengan menggunakan lift.
Saat mereka berada di lantai 3, mereka bertanya kepada pegawai gedung musik ini dimana ruangan pertunjukan orkestra diadakan.
Setelah pegawai menjawab dan mereka berterima kasih dan menuju ke tempat yang sudah dikatakan oleh pegawai itu.
Mereka masuk dan melihat sudah ada banyak orang yang menempati kursi. Lein mencari kursi yang nyaman dan mereka duduk di kursi tengah.
Pertunjukan orkestra biasanya diadakan di gedung orkestra yang memiliki ukuran tempat yang sangat luas yang bisa menampung banyak penonton.
Namun di gedung musik ini ruangan untuk pertunjukan orkestra seperti sebuah ruangan bioskop.
Karena yang diadakan oleh gedung musik ini adalah untuk hiburan semata bukan sebuah pertunjukan yang spektakuler.
"Hm, apakah hanya aku saja yang merasa bahwa semua orang yang hadir adalah orang tua?" Ucap Liza melihat sekeliling.
__ADS_1
"Tidak. Aku juga berpikir seperti itu." Jawab Lein.
Memang, semua orang yang ada di ruangan ini adalah orang-orang yang sudah tua dan berumur. Lein dan Liza tidak melihat orang dewasa atau remaja yang datang.
"Ohoho, sepertinya kalian heran ya?" Suara pria paruh baya terdengar di kursi depan mereka.
"Ah, iya.." Ucap Lein sopan.
"Itu wajar, karena para anak muda zaman sekarang tidak begitu menyukai orkestra dan hanya menyukai musik yang populer saja." Ucap seorang wanita tua yang berada di sebelah pria tua.
"Benar. Bahkan aku terkejut melihat kalian berdua akan menonton pertunjukan orkestra ini." Ucap pria tua.
"Haha, kami memang menyukai sesuatu yang seperti ini. Kami menyukai ketenangan dan kedamaian..." Jawab Lein.
"Jadi begitu... Apakah kalian berdua sedang berkencan?" Tanya wanita tua.
"Ah, benar nyonya." Angguk Lein.
"Baiklah, nikmati kencan kalian dan jangan mempedulikan orang tua seperti kami.. ohoho..." Ucap wanita tua.
"Hahaha..." Lein hanya bisa tertawa canggung.
Tiba-tiba lampu ruangan mati dan ruangan menjadi gelap gulita. Lalu lampu menyoroti area di depan tempat para Orkestra memainkan musik.
Orang-orang itu duduk di kursi yang sudah ditempatkan dan mulai bersiap-siap untuk memulai pertunjukan Orkestra nya.
Beberapa detik kemudian, sang dirigen mulai menggerakkan tangan nya untuk memimpin jalannya orkestra.
Dimulai dengan pemain Harpa yang memetik senar harpa dengan pelan, diikuti oleh pemain biola dan cello yang menggesek dengan alat penggesek.
Lalu pemain klarinet, flute, dan saksofon yang membunyikan alat musik masing-masing dengan cara ditiup.
Setelah itu pemain drum memainkan drum nya menggunakan stik drum dengan perlahan-lahan setelah itu dimulailah orkestra nya.
Musik yang dimainkan oleh para orkestra didepan adalah musik klasik yang bernada elegan dan menenangkan pikiran para pendengar.
"Musik yang bagus..." Liza menikmati musik yang dimainkan oleh para orkestra.
"Benar. Aku baru saja memeriksa judul musik nya, itu bernama Wind for Tonight." Ucap Lein.
"Wind for Tonight? Tapi mengapa dimainkan saat sore hari?" Tanya Liza memiringkan kepalanya.
"Yah dilihat saja dari artinya, angin untuk malam ini. Oleh karena itu musik nya dimainkan pada saat sore hari menjelang malam." Lein menjawab.
__ADS_1
"Ah, benar juga." Liza mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Musik ini biasanya dimainkan oleh para bangsawan pada zaman dulu sebelum makan malam penting. Seperti perjamuan, perayaan, kepercayaan, atau yang lain." Ucap Lein menjelaskan.
"Hm.. pantas saja alunan musik nya menenangkan pikiran yang mendengar ya..." Ucap Liza menutup matanya.
"Benar..." Jawab Lein.
Orkestra memainkan Wind for Tonight selama sekitar 10 menit. Kemudian dilanjutkan dengan musik klasik lainnya yang tidak kalah menarik.
Lein dan Liza tidak berbicara saat orkestra memainkan musik. Mereka berdua sedang menikmati alunan musik klasik yang indah itu.
Lalu para Orkestra menyelesaikan musik terakhir mereka. Kemudian mereka semuanya berdiri menghadap ke arah para penonton.
Lalu para Orkestra membungkukkan badan mereka sebagai tanda berakhirnya orkestra dan sebagai tanda terimakasih karena telah menonton.
Para penonton termasuk Lein dan Liza juga berdiri dari tempat duduk dan bertepuk tangan karena orkestra telah memainkan musik yang sangat indah.
Kemudian para penonton pergi keluar dari ruangan satu persatu. Mereka masih membicarakan musik-musik yang dimainkan oleh para orkestra saat mereka berjalan.
"Sudah hampir malam." Ucap Lein melihat jam tangan nya.
"Benar..." Angguk Liza.
Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir dimana mobil mereka parkir disana dan memasuki mobil mereka.
"Apakah kamu memiliki tempat khusus yang kamu inginkan untuk makan malam?" Tanya Lein menyalakan mobil.
"Hm..Tidak." Liza menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Baiklah, kalau begitu bisakah aku yang menentukan nya?" Tanya Lein.
"Tentu saja." Angguk Liza.
Lein mengangguk dan mengemudikan mobilnya menuju ke tempat tujuan yang ia pilih. Setelah 15 menit berkendara, mereka sampai di sebuah area yang tinggi.
Lein membawa Liza ke area tinggi lebih tepatnya bukit yang ada di kota Els ini. Bukit ini berada di barat daya dekat dari gedung musik.
Ada banyak orang yang mengunjungi tempat ini. Entah itu bersama keluarga, kekasih, teman atau sahabat, bahkan ada yang sendiri.
"Tempat yang ramai..." Ucap Liza melihat ada banyak orang disini.
"Benar, tapi kita tidak berhenti disini. Kita akan makan malam di area yang lebih tinggi." Ucap Lein mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Oh baiklah..." Liza tidak sabar dengan tempat yang Lein pilih.