
Malam hari tiba.
Lein sudah berpakaian rapi dan saat ini ia sedang melihat berita sambil menunggu Liza berpakaian dan berdandan.
*tap tap
Suara sepatu hak tinggi berbunyi di ruangan. Liza keluar dari kamar dan muncul dengan pakaian yang ia pilih tadi siang saat di toko.
"Sudah siap?" Lein mematikan televisi dan beranjak dari kursi.
"Sudah, ayo!" Liza berjalan menghampiri Lein dan memegang lengan kirinya.
"Bagus..." Lein dan Liza keluar dari kamar hotel.
"Ah sial, aku harus lebih cepat memulihkan lengan kanan ku." Pikir Lein.
Lein berpikir untuk meniru skill lich yang memanipulasi tulang nya sendiri namun ia tidak bisa, yang mungkin karena pengaruh divine power frederic.
Lalu Lein akhirnya membeli sebuah lengan palsu yang dipasang dan dikendalikan menggunakan mana agar bisa bergerak bebas.
Lein juga berpikir jika hanya memiliki satu lengan akan mengganggu pemandangan.
Karena memakai jas rapi dan juga ditemani wanita cantik, namun ia hanya memiliki satu lengan. Itu akan sangat merusak dan mengganggu penampilan.
Mereka berdua turun lewat lift dan saat mereka keluar dari hotel, sebuah mobil bisnis mewah sudah menunggu mereka dengan seorang supir.
"Mari tuan dan nona." Supir mengangguk ke arah Lein dan Liza.
"Ya." Angguk Lein.
Supir memahami dengan cepat, ia berjalan ke pintu belakang mobil bagian kiri. Karena ia tahu Lein akan membukakan pintu bagian kanan untuk Liza.
Dan benar saja apa yang supir pikirkan. Lein membukakan pintu belakang mobil bagian kanan untuk Liza.
"Terimakasih..." Liza tersenyum.
"Dengan senang hati.." Balas Lein tersenyum.
Lalu Lein berjalan ke pintu seberang, dimana sang supir sudah membukakan pintu untuk nya.
Setelah Lein masuk, supir berjalan ke pintu mengemudi dan memasuki mobil. Lalu supir menyalakan mobil dan melaju ke kediaman walikota Rollen.
...----------------...
Di aula kediaman walikota.
"Yo Jonas!" Marcus menghampiri Jonas yang sedang melihat bintang malam dari jendela.
"Ah, jenderal." Balas Jonas.
"Kamu datang sendiri?" Tanya Marcus.
"Ya." Angguk Jonas.
__ADS_1
"Tidak bersama Lein?" Marcus penasaran.
"Tidak, karena aku tahu ia akan datang ke perjamuan dengan seorang wanita." Jonas tertawa kecil.
"Oh? Seorang wanita?" Marcus jadi tambah penasaran.
"Haha, tunggu saja." Jonas tertawa.
...----------------...
"Kita sampai tuan Lein, nona Liza." Supir menghentikan mobilnya di dekan pintu kediaman.
"Ya, terimakasih." Lein berterima kasih dan menghentikan sang supir untuk membukakan pintu.
Lein keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu mobil Liza. Kemudian Lein membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangan nya.
Liza tersenyum dan ia menerima uluran tangan Lein. Liza lalu keluar dari mobil dengan elegan.
Tamu-tamu lain yang kebetulan melihat Lein dan Liza datang menjadi terkejut. Karena Liza adalah seorang elf dan jarang sekali elf ada di kota Els.
Karena memang kota Els adalah kota yang termasuk kecil jika dibandingkan dengan ibukota negara, yaitu Kota Dragon Tide.
"Sepertinya kamu menjadi pusat perhatian, nona muda?" Lein berkata dengan nada bercanda.
"Fufu, aku tahu bahwa aku ini cantik." Liza menjawab dengan nada sombong namun bercanda.
"Hahaha." Lein tertawa.
Liza memegang lengan kiri Lein, dan mereka berdua berjalan masuk kedalam kediaman walikota.
Dengan wajah Lein yang tampan dan keren, lalu dengan wajah Liza yang cantik dan juga seorang elf, sudah jelas menjadi pusat perhatian.
...----------------...
"Ah, itu dia." Jonas melihat Lein dan ia berjalan menghampiri Lein
"Tunggu aku." Marcus juga penasaran dan mengikuti Jonas menghampiri Lein.
"Yo, bos!" Jonas menyapa Lein.
"Hm? Sepertinya setelah pertempuran kamu lebih bisa mengekspresikan emosi mu ya..." Ucap Lein.
Karena sebelum pertempuran, Jonas hanya menjawab dan bertanya dengan nada datar dan kaku. Jonas juga jarang berinisiatif untuk memulai pembicaraan.
Oleh karena itu Lein juga senang dengan perubahan Jonas yang lebih bisa mengekspresikan emosi nya dengan lancar.
"Ah, iya bos." Jonas menggaruk-garuk kepalanya.
"Oh? Jenderal Marcus?" Lein melihat Marcus yang berada di belakang Jonas.
"Ah, halo Lein." Marcus tersenyum canggung.
"Halo jenderal." Angguk Lein.
__ADS_1
Alasan Marcus canggung karena aura Lein berbeda dibandingkan saat bertempur. Saat pertempuran, Lein seperti seorang pemberani dan mengeluarkan aura yang sama seperti prajurit.
Dan saat ini Lein seperti seorang bangsawan kelas tinggi yang mengeluarkan aura elegan dan superior yang membuat orang disekitarnya menjadi rendah diri.
Lein lalu memperkenalkan Liza kepada Marcus. Lagi-lagi Marcus merasa canggung, karena Liza sangat cantik dan juga seorang elf.
"Ah, tempat yang cocok untukku adalah medan pertempuran." Pikir Marcus.
Lein lalu berbincang-bincang dengan mereka. Sesekali ada juga orang dari keluarga di kota Els datang dan menyapa Lein dan Liza.
Mereka yang sudah terkejut karena Lein dan Liza tambah terkejut karena Lein dan Liza akrab dengan Jenderal Marcus.
Orang-orang yang hadir berpikir identitas apa yang dimiliki oleh Lein dan Liza sampai-sampai Jenderal Marcus bersikap sopan.
Setelah menunggu beberapa saat, perjamuan makan malam akan dimulai. Walikota Rollen datang dan pergi ke tengah-tengah aula.
"Selamat datang semuanya!"
"Pertama-tama saya sebagai walikota mewakili seluruh kota Els berduka cita atas prajurit dan relawan yang berkorban dalam pertempuran lalu."
Walikota Rollen dan orang-orang di perjamuan termasuk Lein dan yang lain menundukkan kepala mereka sebentar untuk menghormati mereka yang telah gugur.
"Lalu sekarang, untuk merayakan kemenangan melawan musuh-musuh yang menyerang Kota Els. Aku sebagai Walikota Els mengumumkan dimulainya perjamuan makan malam!"
Orang-orang di perjamuan bertepuk tangan setelah Rollen menyelesaikan ucapan nya.
"Silakan dinikmati makanan dan minuman yang dihidangkan dengan bebas!" Rollen kemudian berjalan dan menyapa para tamu yang hadir.
...----------------...
"Jadi dia walikota Els?" Karena Lein memang tidak pernah melihat Rollen entah itu di berita atau langsung.
"Apakah kamu ingin menyapa?" Tanya Liza.
"Malas..." Jawab Lein seperti biasa dengan sikap sembrono nya.
"Yah sudah kuduga kamu akan menjawab seperti itu." Liza memang sudah terbiasa dengan sikap Lein yang unik ini.
Orang normal mungkin akan menyanjung mereka yang memiliki status yang lebih tinggi atau kekayaan yang lebih banyak dari mereka.
Orang normal akan berusaha membuat hubungan atau setidaknya kesan baik ke mereka yang lebih superior.
Tapi Lein berbeda.
Lein sama sekali tidak peduli dengan mereka yang statusnya lebih tinggi atau kekayaan yang lebih melimpah dari dirinya.
Lein menganggap semua hal yang tidak ada kaitan dengan dirinya adalah hal yang tidak berguna dan tidak perlu diladeni.
Lein juga tidak peduli dengan pandangan orang-orang tentang dirinya. Bahkan jika Lein dibenci oleh seluruh dunia, Lein masih tetap berdiri acuh tak acuh.
Liza mengagumi sifat Lein yang ini karena dengan sifatnya yang seperti ini bisa menghindari dari banyak masalah.
Didunia dimana orang yang kuat dihormati, menjadi orang baik justru akan mendapatkan banyak masala untuk hidupmu.
__ADS_1
Oleh karena itu bersikaplah rasional dan jangan hidup dengan mengandalkan modal emosi dan perasaan saja.