
Keesokan harinya, Lein dan Octiorb pergi ke Gedung SID di karena mereka akan bertemu dengan Gran disana sesuai janji.
"Mengapa dia meminta untuk bertemu di sini?" Octiorb melihat gedung SID di depan nya.
"Alasan nya hanya karena dia memiliki urusan juga di sini. Yah, dan aku juga menyetujui nya karena malas untuk pergi ke tempat lain." Jawab Lein.
Mereka berdua kemudian memasuki gedung dan mengatakan kepada petugas kalau mereka memiliki janji temu dengan Gran.
Petugas menelepon Gran dan mengonfirmasi nya, lalu petugas mengantar Lein dan Octiorb ke lantai atas ke tempat Gran berada.
*tok tok tok
"Tuan Gran, kedua tamu anda sudah sampai." Petugas mengetuk pintu.
"Ah ya, masuk." Suara Gran terdengar dari dalam.
Petugas membuka pintu dan mempersilakan Lein dan Octiorb untuk masuk, lalu petugas membungkukkan badan nya sedikit lalu undur diri.
"Haha, silakan duduk, Lein dan Octiorb." Gran tertawa kecil dan mempersilakan Lein dan Octiorb untuk duduk.
"Sepertinya kamu sangat sibuk, Pak Tua." Lein duduk di sofa dan Octiorb duduk di sebelah nya.
Lein melihat kalau di meja Gran terdapat banyak sekali tumpukan kertas-kertas dokumen yang lebih banyak dari Presiden Brynn.
"Yah... Begitulah..." Gran menghela napas panjang.
Gran beranjak dari kursi dan duduk di sofa seberang Lein dan Octiorb. Kemudian ia menuangkan teh hangat untuk tiga cangkir.
"Bagaimana kabar kalian?" Gran menanyakan kabar Lein dan Octiorb.
"Yah, baik kurasa?" Lein menjawab dengan tidak pasti.
"Sebenarnya kami memang selalu baik-baik saja." Jawab Octiorb.
"Haha, kalian ini memang kuat bagaimana bisa kalian kenapa-napa ya..." Gran tertawa.
"Cukup basa-basi nya Pak Tua Gran, sekarang katakan mengapa kamu ingin menemui ku?" Lein berkata dengan nada serius.
"... Langsung ke inti nya ya, baiklah..." Gran mengambil cangkir dan meminum teh nya.
"Sebenarnya, aku penasaran bagaimana cara kalian menemukan dan membunuh banyak sekali anggota Anarchy Order dalam waktu yang singkat."
"Bahkan kami para petugas SID kesulitan untuk menemukan jejak.mereka karena mereka bersembunyi dengan sangat baik."
__ADS_1
"Ah maaf, bukan berarti aku sedang menginterogasi mu, hanya saja kami ingin tahu cara nya agar penuntasan Anarchy Order semakin cepat." Jelas Gran.
"..." Lein dan Octiorb saling memandang.
"Haha, itu mudah..." Lein tertawa kecil.
"Oh?Tolong katakan kepada ku." Gran menjadi lebih penasaran.
"Jadilah target pembunuhan Anarchy Order, mereka sendiri yang akan datang kepada mu. Bahkan jika tidak datang kepada mu, mereka akan datang ke orang-orang terdekat mu." Lein menjawab dengan ekspresi wajah serius.
"...Sial, aku tidak memikirkan hal itu." Gran menyandarkan punggung nya di sofa dengan lemas.
Gran sedikit kecewa dengan jawaban Lein, ia kira ada cara khusus untuk mencari dan membunuh banyak anggota Anarchy Order.
Namun Gran tidak mengira kalau cara nya adalah menjadi target pembunuhan mereka. Lein memang tidak salah karena dengan cara itu SID bisa membunuh banyak anggota Anarchy Order.
Namun tidak mungkin Anarchy Order akan menargetkan petugas SID karena mereka pasti tahu kalau SID sedang merencanakan sesuatu.
"Maaf membuatmu kecewa." Lein tersenyum tipis.
"Hah... Tidak apa-apa." Gran melambaikan tangan nya.
"Lalu, bagaimana caramu membunuh Albir dan bawahan nya? Yang aku lihat ekspresi wajah mereka seperti sangat ketakutan." Gran menanyakan hal yang lain.
"Kamu menyiksa mereka namun kamu mengatakan nya seolah-olah itu bukan perbuatan yang kejam." Gran tidak tahu harus bereaksi apa.
"Kejam? Hm, apakah itu termasuk kejam karena aku menyiksa pembunuh yang notabene nya adalah orang kejam?" Lein mengedipkan mata nya.
"...Yah, kamu tidak salah juga..." Sekali lagi, Gran tidak tahu harus bereaksi apa.
"Lalu untuk Albir, kamu pasti melihat kalau tubuh nya rusak karena ada banyak sekali lubang di tubuh nya bukan?"
"Aku membunuh Albir dengan cara menusukkan pedang yang tak terhitung jumlahnya sampai membuat tubuh nya seperti itu."
"Sebenarnya aku ingin menyiksa nya seperti apa yang sudah aku lakukan kepada para bawahan nya namun aku langsung membunuh nya karena Albir sudah kabur dua kali." Lein mengangkat bahu nya.
"Hm, jadi begitu..." Gran menganggukkan kepala nya.
*tok tok tok
Tiba-tiba saja pintu ruangan diketuk dan sebelum Gran bertanya siapa yang mengetuk, pintu terbuka dan masuk lah dua orang pria dan satu orang wanita.
Mereka adalah keluarga dimana satu orang paruh baya, satu wanita dewasa yang cantik, dan satu pria dewasa yang terlihat arogan.
__ADS_1
Lein menyipitkan mata nya karena ia mengetahui siapa mereka. Bahkan Lein ingat dengan jelas di otak nya wajah-wajah mereka bertiga.
"Apa yang kalian lakukan disini?" Gran mengerutkan kening nya.
"Haha, kami langsung datang kesini karena mendengar kalau kamu datang, Gran." Si pria paruh baya tertawa.
"...Aku sedang berbicara dengan tamu ku, tolong tinggalkan kami." Ucap Gran.
"Haha, baiklah." Pria paruh baya melirik ke arah tamu Gran.
"Ho? Sepertinya aku mengenal seseorang diantara tamu mu." Pria paruh baya mengangkat alis nya.
"Lama tidak bertemu Hagas, sepertinya kamu masih sehat?" Lein menyapa pria paruh baya itu dengan nada sembrono.
"Sepertinya kamu masih belum berubah, Lein." Hagas menyipitkan mata nya.
"Haha aku bersikap seperti ini khusus untuk mu dan dua orang dibelakang mu, berterimakasih lah." Lein tersenyum sinis.
"Kamu! Apakah kamu tahu sedang berbicara dengan siapa!?" Pria dewasa di belakang Hagas berteriak ke arah Lein.
"Tentu saja tahu, Hagas Bira, salah satu petinggi Organisasi SID di Negara Easthold yang memiliki status yang sangat tinggi."
"Lalu wanita di belakang sana adalah istri Hagas, Elin Bira. Aku bahkan sampai terkejut kalau kamu bertambah cantik, Elin."
"Dan kamu, anak dari Hagas dan Elin, Elwin Bira. Aku sangat mengingatmu karena kamu lah yang menyebabkan kakek dan nenek ku mati."
Setelah Lein berbicara, Lein mengeluarkan aura yang menekan seisi ruangan kecuali Octiorb dan aura yang Lein keluarkan sangat dingin dan mencekam.
"Benar, aku sampai lupa kalau dia memiliki dendam terhadap salah satu petinggi di sini!" Batin Gran.
Benar, ketiga orang yang datang adalah orang-orang yang Lein benci. Mereka bertiga membuat Lein juga membenci SID.
Namun yang paling Lein benci adalah Hagas. Karena dia adalah orang yang memanipulasi media dan tidak mempertanggungjawabkan perbuatan anak nya.
"Sepertinya kalian bertugas bertambah tidak sopan ya..." Lein menatap tajam mereka bertiga
"Apakah kamu akan membuat masalah disini?" Hagas juga mengeluarkan aura nya.
"Kamu kita aku akan peduli dengan hal seperti itu?" Lein tersenyum meremehkan.
Lein sama sekali tidak takut dengan konsekuensi nya, selama dia tidak bergerak duluan, maka tidak ada alasan untuk Lein takut.
Juga, Hagas adalah orang yang korup. Jika Lein membunuh Hagas dan menyerahkan bukti-bukti korupsi nya, maka Lein malah dipuji oleh petinggi lain.
__ADS_1