Analysis Eye

Analysis Eye
Kompetisi antar Negara : Universitas Greenville


__ADS_3

"Serang!" Teriak Shika.


Lina menembakan anak panah nya namun saat di udara, satu anak panah itu menjadi puluhan anak panah yang mengincar Lein.


"Dragon Dance : Gravity Blast." Lein meninju udara.


Saat Lein meninju, hempasan gravitasi yang kuat muncul dan mengarah ke mereka berlima.


"Giant Shield." Gongyo maju ke depan mereka.


Perisai satu tangan Gongyo berubah ukuran menjadi sangat besar dan perisai itu mampu menangkis hempasan gravitasi milik Lein.


"Water Jet." Rika menggunakan sihir.


Peluru air yang sangat cepat datang dari staff milik Rika. Namun Lein dengan mudahnya menghindari peluru air itu hanya dengan memiringkan kepalanya.


"Blessing : Air Walk." Fumi memberkahi Shika.


"Bagus!" Shika menghilang dari pandangan.


Tiba-tiba saja, Shika muncul di belakang Lein dan akan menyerang nya dengan pisau ganda nya.


"Klise." Ucap Lein yang menghilang juga.


Shika segera menoleh kebelakang namun ia tidak menemukan Lein dibelakang nya.


"Sudah kukatakan, itu klise." Suara Lein datang dari atas.


Shika mendongak dan ia melihat Lein mengarahkan kedua tangan nya ke dirinya.


"Dragon Dance : Twin Fire Cannon." Ucap Lein.


"Sial, jaraknya terlalu dekat!" Shika hanya bisa menyilangkan kedua tangan nya untuk meminimalisir dampak.


"Apakah kamu bodoh?" Ucap Lein melihat respon Shika.


"Holy Magic : Holy Barrier." Fumi menggunakan perisai suci untuk melindungi Shika.


"Ah, jadi begitu." Lein kembali mengarahkan kedua tangan nya ke arah Shika.


"Dragon Dance : Twin Fire Cannon." Lein menggunakan sihir yang sama.


Holy Barrier yang sudah retak karena serangan pertama Lein langsung hancur saat menerima serangan kedua yang baru saja Lein lancarkan.


"Sial..." Shika berpikir bahwa ia bisa berlindung di balik Holy Barrier.


Oleh karena itu Shika tidak berpindah tempat. Namun ia tidak berpikir bahwa Lein akan melancarkan serangan kedua.


Shika terkena serangan Lein dan seluruh tubuhnya terbakar.


"Arghh...!!!" Shika berteriak kesakitan.

__ADS_1


"Shika..!!" Rekan-rekan nya berteriak khawatir.


Lein tidak memperdulikan Shika yang terbakar, ia segera terbang ke arah Gongyo karena Gonggo telah lama membuat ia kesal.


Gongyo yang melihat Lein datang segera mengayunkan kapaknya untuk menyerang Lein.


"Red Axe Slash." Teriak Gongyo.


"Dragon Dance : Gravity Wall." Lein membuat dinding gravitasi di depannya.


Serangan Gongyo mengenai dinding gravitasi namun tidak menyebabkan kerusakan apapun.


"Tidak mungkin..!!" Gongyo melebarkan matanya tidak percaya.


"Itu mungkin." Balas Lein.


"Dragon Dance : Gravity Puncture." Lein merapatkan telapak tangan kanan nya.


Kemudian Lein datang ke depan Gongyo dan menusuk perut Gongyo tanpa ragu-ragu sampai menembus tubuh Gongyo.


"Kugh..!!" Gongyo muntah darah.


"Gongyo!" Rekan-rekan nya berteriak dan mulai menyerang Lein.


Lein menarik tangan kanan nya, memegang leher Gongyo dan melemparkannya ke arah mereka bertiga.


Mereka bertiga yang melihat tubuh Gongyo datang segera membatalkan serangan mereka dan berusaha untuk menyelamatkan Gongyo.


"Satu saja yang menyelamatkan nya, sisanya tetap menyerang." Ucap Lein.


Lein muncul dari samping dan memukul tengkuk leher Fumi si Priestess agar membuatnya pingsan.


"Aku tidak peduli dengan jenis kelamin, tapi setidaknya aku menghormati Dewi Ariel." Ucap Lein.


Karena Lein bisa merasakan energi Dewi Ariel di dalam tubuh Fumi. Lein menghormati Dewi Ariel karena ia telah memberikan kekuatan yang berguna.


"Lalu selanjutnya!" Lein bergegas menuju yang terdekat yaitu Rika si penyihir.


"Sihir mu kurang efisien." Lein menendang perut Rika sampai terhempas jauh.


Tubuh penyihir sangat lemah dan Rika juga seorang wanita. Saat ia ditendang oleh Lein sampai terhempas dan menabrak pohon, ia langsung pingsan.


"Lalu kamu yang menyerang ku saat aku tidur." Lein menatap Lina.


"Ja-jangan mendekat!" Lina megambil anak panah dan membidik Lein.


"Dalam pertarungan yang dibutuhkan adalah ketenangan. Apakah universitas mu tidak mengajari hal sederhana ini?" Lein berjalan langkah demi langkah.


"Ah..! Jangan mendekat..!!" Lina menembakan beberapa anak panah ke arah Lein.


Lein hanya memiringkan kepalanya beberapa kali untuk menghindari anak panah Lina.

__ADS_1


Saat Lein sudah mendekat, Lein mengepalkan tinju kanan nya dan meninju perut Lina dengan keras.


Tidak seperti Rika yang terhempas, Lina tetap berdiri namun tetap saja ia langsung pingsan. Saat Lein menarik tinju nya, tubuh Lina segera jatuh ke depan.


"Ups, aku harus mengambil senjata kalian." Lein menyeringai kembali ke sifat aslinya.


Lein segera mengambil senjata dan tas penyimpanan mereka sebelum mereka menghilang karena token putih.


"Kukatakan ini pada seluruh penonton." Lein berbicara kepada penonton setelah ia menyimpan semua senjata dan tas penyimpanan mereka.


"Alasan mengapa aku bisa menang dengan mudah adalah karena mereka semua tidak memiliki banyak pengalaman bertarung dengan manusia."


"Aku bisa menebak bahwa level mereka tinggi, namun mereka hanya fokus menaikkan level mereka tanpa berlatih teknik atau skill apapun."


"Mungkin ada beberapa orang yang mengenal ku lewat berita. Aku sudah pernah melawan Organisasi Anarchy Order."


"Aku juga pernah membunuh anggota-anggotanya bahkan petinggi nya."


"Ingat hal ini, Satu orang kuat lebih berharga dari pada seribu orang lemah."


"Jangan terlalu fokus untuk menaikkan level kalian. Tapi kalian juga perlu melatih teknik dan skill yang cocok dengan kalian."


"Lalu ambil lah misi yang melawan makhluk cerdas. Melawan makhluk cerdas akan membuat kalian berpikir bagaimana cara mengalahkan mereka."


"Dan disana, pikiran dan kemampuan kalian akan diasah dan kalian akan mendapatkan pengalaman yang sangat berguna."


"Sekian."


...----------------...


"Fufu, sepertinya dia mengatakan hal yang menarik." Ucap Presiden Brynn.


"Yah, dia mengatakan hal itu karena kecewa dengan kekuatan mahasiswa Greenville." Balas Octiorb.


"Benar. Untuk melawan Lein tidak dibutuhkan level yang tinggi. Tetapi harus dengan teknik dan skill yang telah diasah sampai mahir."


"Alasan level Lein masih terbilang rendah adalah karena Lein fokus melatih teknik dan skill nya. Dia juga selalu berlatih tanding dengan Jonas dan Enya." Ucap Presiden Brynn.


"Benar." Angguk Octiorb setuju dengan ucapan Presiden Brynn.


...----------------...


Lein kemudian berjalan-jalan menelusuri Hutan Oxtara. Sesekali ia bertemu dengan monster namun berhasil ia kalahkan dengan mudah.


Namun Lein tidak bertemu dengan peserta dari universitas lain. Lein hanya membunuh monster dan mengambil tumbuhan berharga.


Dan begitulah kegiatan membosankan yang Lein lakukan. Hari kedua berakhir namun Lein terlihat lesu karena bosan.


Dan karena Lein bosan, ia malah membuat pertunjukan makan malam dengan membuat hidangan yang sangat lezat.


Kemudian Lein memakannya dengan ratapan para penonton yang sangat iri dengan Lein. Lein kemudian memanjat Pohon Oxtara dan tidur di dahan nya yang tebal.

__ADS_1


Alasan Lein tidur di dahan Pohon Oxtara adalah karena keamanan nya terjamin dibandingkan dengan tidur di bawah.


Dahan Pohon Oxtara juga tebal dan lebar. Lein tidak akan jatuh saat ia bergerak dalam tidur.


__ADS_2