
"Jangan melihat kesini!" Liza berteriak saat mereka berdua sudah bangun dan akan berpakaian.
"Mengapa? Aku kan sudah melihat semu-" Ucapan Lein terpotong karena ia dilempar bantal oleh Liza.
"Diam!" Muka Liza saat ini memerah karena malu.
"Baik, baik..." Lein berbalik tidak melihat ke arah Liza.
Liza kemudian mengambil pakaian dan memakai nya dengan cepat agar Lein tidak sempat untuk melihat ke arah nya.
"Sudah selesai. Aku akan membuat sarapan..." Liza kemudian lari keluar kamar.
"..." Lein tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Tapi, aku tidak menyangka kalau aku bisa seperti ini dengan seroang wanita. Aku tidak akan pernah memikirkan hal ini jika aku masih aku yang dulu." Batin Lein.
Lein kemudian memakai pakaiannya juga lalu keluar dari kamar dan melihat kalau Liza sedang membuat sarapan dengan serius.
"Eh, kita sekarang ada di rumah Presiden Brynn!" Lein baru teringat.
"Hah? Untung saja Brynn selalu pergi pagi, jika tidak ia akan menemukan mu dan meremukkan tubuh mu karena berani menyentuh sahabat nya." Liza bereaksi seperti kucing yang marah.
"Hahaha." Lein tertawa dengan keras.
"Jangan tertawa! Bantu aku membuat minuman!" Liza memelototi Lein.
"Baik..." Lein cukup terhibur dengan reaksi Liza.
"Ngomong-ngomong, hari ini berita mengenai dungeon nya sudah tersebar bukan?" Liza tiba-tiba teringat.
"Ya, itu hari ini dan besok adalah hari pembukaan dungeon." Lein mengangguk.
"Sepertinya besok akan sibuk." Liza membawa sarapan yang berupa sandwich ke ruang makan.
"Sangat sibuk." Lein juga telah membuat teh dan membawa nya ke ruang makan.
Mereka berdua memakan sarapan mereka di ruang makan sambil berbincang-bincang mengenai berbagai topik yang acak.
"....Apakah kamu menyukai Brynn?" Liza tiba-tiba bertanya sebuah pertanyaan yang membuat Lein hampir menyemburkan teh yang ia minum.
"... Pertanyaan macam apa itu." Lein tidak menjawab pertanyaan Liza.
__ADS_1
"Jujur saja, lagipula di dunia ini, poligami adalah hal yang legal." Liza menatap Lein.
"Jangan membahas yang aneh-aneh, lanjutkan sarapan mu." Lein memutar matanya.
"..." Liza makan dengan kesal.
...----------------...
Berita mengenai Dungeon Tundra Desert sudah disebarkan ke seluruh negara di Benua Manusia oleh Brynn dan dikonfirmasi oleh Holton.
Dua orang berpengaruh yang terlibat di berita ini membuat orang-orang mempercayai nya dan tidak menyangka kalau ada dungeon kelas dewa.
Brynn membuat berita yang sangat detail dan memberitahu kalau penghuni asli dungeon ingin menjalin hubungan baik dengan orang-orang.
Jadi jika ada orang yang berbuat kacau atau merugikan entah itu dari ras manapun, penghuni asli bisa berbuat semau mereka terhadap orang tersebut.
Biaya masuk nya juga terbilang sangat murah karena biaya nya sama dengan dungeon kelas menengah yang ada disini.
Lein memang sengaja untuk tidak menentukan biaya yang mahal agar tidak hanya orang-orang kaya saja yang masuk ke dalam dungeon.
Ia ingin memberikan kesempatan bagi semua orang untuk bisa merasakan bagaimana rasanya Dungeon Tundra Desert.
Alhasil, berita ini menuai banyak respon positif dari berbagai kalangan meskipun masih ada beberapa konglomerat yang memprotes.
...----------------...
"Beristirahatlah sejenak..." Ucap Lein yang melihat Brynn sedang memegangi kepala nya
Lein saat ini sedang berada di dalam kantor presiden bersama dengan Brynn membahas mengenai pembukaan Dungeon Tundra Desert besok.
"Tidak bisa, aku harus bekerja dengan sungguh-sungguh karena besok adalah hari pembukaan." Brynn menggeleng-gelengkan kepala nya.
Brynn saat ini mengenakan pakaian kerja formal dengan rok, ia tidak mengenakan jubah nya jika hanya bersama Lein atau Liza.
Ia juga sedikit tidak menyukai pada saat ia harus menyembunyikan identitas nya namun itu perlu dilakukan oleh nya.
Agar tidak ada orang yang akan meremehkan nya saat mereka tahu kalau dirinya adalah seorang wanita yang menjabat sebagai Presiden Universitas.
"Baiklah, berikan aku dokumen yang bisa aku tangani. Aku akan membantu mu..." Lein berdiri dan berjalan menghampiri Brynn.
"Ambil semua dokumen itu, baca dan amati, lalu jika kamu rasa itu sesuai atau menguntungkan, berikan padaku untuk ditandatangani." Brynn menunjuk tumpukan dokumen di sebelah kiri nya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika tidak sesuai atau tidak menguntungkan?" Lein mengambil semua dokumen itu dan bertanya.
"Terserah, buang atau bakar." Jawab Brynn dengan asal-asalan namun Lein tahu kalau itu serius.
"...Jangan khawatir, memang seperti ini. Jika dokumen tidak ada kabar selama tiga hari, maka artinya dokumen itu ditolak." Ucap Brynn yang melihat ekspresi Lein.
"Oh begitu." Lein paham mengapa Brynn tadi menjawab untuk dibuang atau dibakar.
Lein membawa tumpukan dokumen itu ke meja, ia duduk bersandar di sofa dan mulai mengambil satu dokumen dan membacanya.
Karena ia ingin membantu Brynn dengan sungguh-sungguh, ia juga menggunakan Analysis Eye nya agar ia tidak membuat satu kesalahan kecil.
"Analysis Eye ini berguna di segala situasi ya. Jika aku bekerja kantoran, bisa dibilang aku akan langsung dipromosikan." Batin Lein.
Lein menaruh dokumen yang akan ditandatangani oleh Brynn di atas meja sebelah kanan sedangkan yang ditolak di atas meja sebelah kiri.
Ia melakukan hal itu dengan serius bahkan tidak menyadari kalau sudah membaca banyak sekali dokumen dalam waktu singkat.
"... Sepertinya aku harus mempekerjakan anak ini sebagai asisten ku." Pikir Brynn yang melihat Lein melakukan nya dengan cepat.
Brynn mempercayai Lein, jadi ia tidak akan berpikir kalau Lein melakukan nya dengan asal-asalan melihat kecepatan membacanya yang tidak masuk akal.
Satu jam sudah berlalu, Lein mengambil tumpukan dokumen yang ada di sebelah kanan dan memberikan nya kepada Brynn untuk ditandatangani.
Lalu seperti yang Brynn katakan tadi, Lein menggunakan sihir api untuk membakar tumpukan dokumen yang ada di sebelah kiri.
"Kamu benar-benar membakar nya ya..." Ucap Brynn yang melihat nyala api di depan nya.
"Hm? Tentu saja. Aku melakukan nya sesuai apa yang kamu katakan tadi." Jawab Lein dengan wajah polos.
"Yah, kamu tidak salah." Brynn memang tidak peduli akan hal itu.
Brynn lalu memberikan tumpukan dokumen lagi kepada Lein dan Lein melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
Pekerjaan yang akan memakan waktu beberapa hari bisa diselesaikan hanya dalam waktu beberapa jam saja hanya dengan dua orang.
Yang paling utama bagaimana bisa pekerjaan nya selesai dengan celah adalah karena Lein yang menggunakan Analysis Eye nya.
Berkat Analysis Eye, Lein bisa mempertimbangkan semua keuntungan dan kerugian yang akan diakibatkan jika dokumen nya disetujui.
Sesuai dengan ucapan Brynn, bahkan jika hanya mendapatkan sedikit keuntungan, dokumen nya tetap harus disetujui.
__ADS_1
Kecuali jika dokumen nya tidak menghasilkan keuntungan apapun atau jika itu merugikan, bakar saja dokumen nya sampai hangus.